PART 5

1062 Kata
Wanita bernama Nona Muller itu mendongak. Mendapati Ethan yang sekarang menggunakan nama Daniel Walsh menatapnya dengan canggung. "Oh...Mr Walsh. Bisa bantu aku...ini sedikit...sulit..." Ethan terpaku namun segera bergerak melihat Nona Muller terlihat kesulitan mengancingkan satu sisi kancing bra--nya. Tangan Ethan terulur mengaitkan bra Nona Muller dalam sekali kait begitu wanita itu berbalik membelakanginya. Lalu Ethan bergerak menjauh dan berdiri di depan meja kerja Nona Muller sambil menekuri ujung sepatunya. "Maafkan aku. Ini sedikit canggung. Aku agak terlambat bangun. Kau tak apa-apa?" Ethan mendongak dan merutuk dalam hati. Bagaimana mungkin wanita itu bertanya apakah dia tidak apa-apa? Jelas Ethan merasa ada apa-apa dengan dirinya sekarang. Dan...apa maksud wanita itu sekarang? Nona Muller berdiri di belakang meja dan gerakan tangannya terhenti. Dia menatap Ethan dan urung mengancingkan baju seragamnya. Pemandangan paling canggung menyapa Ethan dan seketika otak Ethan pada akhirnya melakukan sebuah pekerjaan mengira, berapa ukuran... "Mr Walsh..." "Oh...saya Miss." Ethan bergerak maju dan mengulurkan tangannya. Nona Muller mengangguk dan membalas uluran tangan Ethan. Dan tentu saja semua menjadi terhenti. Gerakan Nona Muller yang urung mengancingkan bajunya dan berakhir menyuguhkan pemandangan paling menggoda sepanjang hidup Ethan. Dan Ethan yang ingin waktu berhenti saat itu juga. Selama waktu itu ingin berhenti. Terserah... Namun tidak. Seiring Nona Muller yang menarik tangannya, waktu kembali bergerak. Bahkan Ethan yakin dia bisa mendengar detik suara jam dinding di ruang kerja Nona Muller itu. Atau bukan? Mungkinkah itu suara detak jantungnya? Ethan menggeleng samar. Sepanjang sejarah hidupnya. Dialah pemimpin. Sang pengendali. Bahkan untuk Brenda, kekasihnya yang pandai merajuk dan sekarang bagai hilang ditelan bumi, Ethan adalah pendominasi. Dan sekarang? Dia merasa kerdil. Sikap percaya diri dan acuh tak acuh wanita di hadapannya itu, membuat dirinya bagaikan harus mendongak. Mendongak menatap sesuatu yang sanggup membuatnya...kehilangan sedikit nyalinya. Sedikit saja. Ethan tak melepaskan tatapan matanya. Dia bukan sengaja. Tapi itu terjadi begitu saja. "Kau menyukai apa yang kau lihat Mr Walsh?" Ethan mendongak menatap wajah Miss Muller. Tunggu dulu! Seharusnya pertanyaan itu diucapkan oleh seorang pria pada wanita yang menatapnya hingga berliur-liur. Dan sekarang, dunia rasanya terbalik untuk Ethan. Dia mendengar pertanyaan itu dari seorang...wanita. Ethan berdehem dan memilih tak menjawab. Lalu dia berpikir. See? Nyalinya hilang setengahnya! Ethan merutuk dalam hati. "Silahkan duduk Mr Walsh." Ethan menarik kursinya dan duduk. Sementara itu, Nona Muller yang sudah selesai mengancingkan bajunya, duduk dan menarik sebuah map lalu membukanya. "Daniel Walsh, 23 tahun. Lulusan Columbia University, dengan nilai memuaskan. Bangkrut dan mencoba mencari peruntungan di Leandro Camp sebagai pegawai magang. Well...tidak ada staff HRD di tempat ini dan aku mengerjakan semua. Karena alasanmu mencari pekerjaan adalah untuk mencari uang, maka...kau resmi bekerja di tempat ini. Ambilah seragammu. Cari gadis bernama Debbie di ruang peralatan dan bawa kertas ini." Nona Muller menarik kertas di samping kanan mejanya dan mendorongnya ke arah Ethan. "Terimakasih Nona Muller." "Tidak ada yang memanggilku Nona Muller di tempat ini..." Nona Muller tertawa pelan. "Kami berpikir kami satu keluarga di sini. Kami saling memanggil nama depan, Daniel." Nona Muller beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya. "Selamat bergabung dan maaf atas kejadian tadi." "Terimakasih dan...tidak apa-apa." "Kata siapa kau tidak apa-apa? Wajahmu seperti anak perjaka yang baru saja melihat dunia! Ayo kita keluar." Ethan mengumpat dalam hati. Benarkah wajahnya terlihat seperti yang Nona Muller katakan barusan? Mana mungkin? Dia...Casanova! "Itu bukan apa-apa Daniel. Banyak sekali wanita malu saat seseorang melihat sedikit saja bagian tubuh mereka sementara mereka berpakaian lengkap. Tapi mereka tidak malu sama sekali mengenakan bikini two pieces di area publik? Jadi dimana rasa malu itu berada? Tapi...bagaimanapun, aku minta maaf." Nona Muller menepuk bahu Ethan dan Ethan membukakan pintu untuk Nona Muller. "Pergilah ke arah sana..." Nona Muller menunjuk ke arah kanan. "Terimakasih Nona..." "Hazel. Mereka semua memanggilku Hazel, Daniel. Dan sama-sama." Ethan tersenyum canggung. Dia menatap Nona Muller...Hazel? Berjalan ke arah kafetaria. Ethan menelengkan kepalanya dan berpikir, Hazel adalah wanita dengan segala sesuatu yang pas. Pas ukurannya. Sesuatu yang serasi untuk tubuhnya. "Daniel Walsh...aku Debbie Scott. Aku menunggumu di ruang peralatan. Kau ini. Lambat sekali. Aku harus minum kopi dulu tapi tertunda karena aku belum beres denganmu." Ethan menoleh. Dan menemukan seseorang yang bernama Debbie. Wanita pendek gemuk yang memberinya tampang kesal. "Maafkan aku." "Sudah-lah. Aku mempunyai sekarung maklum. Semua pria yang akan bekerja di tempat ini selalu begitu saat pertama bertemu Hazel. Mereka tidak sanggup bangun dari mimpi! Andai mereka tahu bahwa mengharap-kan Hazel sama saja mengharap hujan turun di padang gurun. Kau perlu membujuk Tuhan untuk bermurah hati memberi mukjizat." Ethan mengikuti Debbie yang terus nyerocos. Sebesar itukah pesona Hazel di mata para pria? Dan...perumpamaan yang dikatakan oleh Debbie jelas menggambarkan betapa istimewanya seorang Hazel Ann Muller. "Ini seragam--mu. Tidak ada tempat ganti di ruang ini. Kau harus ke kamar mandi dan itu ada di bagian luar bangunan ini..." "Tidak masalah." Ethan melepaskan kaosnya dan sedikit meregangkan tubuhnya. "Wow...kau yakin mau bekerja di sini? Kau seharusnya menjadi model...hmm...pakaian dalam pria." Debbie dengan senonoh mengitari Ethan yang sedang membuka kotak dan menarik baju seragamnya. "Aku tidak keren, Debbie." "Oh...oh...oh...Tiba-tiba aku menjadi buta." Ethan tertawa dan memakai seragamnya. Sebuah kaos berwarna hijau sangat tua. Ethan lalu menurunkan celananya, bermaksud mengganti dengan celana seragam yang berwarna coklat muda. "Wow...wow...wow...Bunda Maria anak perawan. Begitu juga aku. Aku perawan. Tidak seharusnya aku menatap pemandangan seperti ini!" Ethan terbahak dan mengancingkan celananya sementara Debby terus berbicara sesuatu yang tak penting. "Apakah ada yang bilang kau sangat manis dan lucu Debbie?" "Hanya orang tuaku yang bilang begitu..." "Kalau begitu aku orang ketiga setelah orang tuamu yang bilang kau manis dan lucu." "Kau orang kedua. Aku hanya punya Ayah. Ibuku meninggal saat melahirkan aku." Ethan tertegun. "Berapa umurmu Deb?" "Sembilan belas." "Well...so sorry to hear that. Tapi, kau bisa mencariku kalau kau rindu Ibumu. Aku punya lengan dan bahu yang kuat untuk menopangmu." Dan Debbie tertawa sambil memukul bahu Ethan pelan. "Kita minum kopi dulu. Jam 10 baru kita memulai semuanya. Aku tidak mengerti, apakah para penyewa tidak membaca papan pengumuman di depan pintu? Bahwa semua kegiatan dimulai jam 10. Dan mereka sudah mengantri dari jam 6. Oh..." Ethan tertawa pelan sambil mengikuti Debbie yang semakin banyak bicara mengeluarkan keluhannya. Tapi Ethan justru bersyukur, dia tak perlu bertanya apapun pada Debbie untuk mengetahui bagaimana situasi di tempat itu. Mereka masuk ke dalam kafetaria. Ethan mengikuti Debbie dan berdiri di belakang antrian yang cukup panjang di gerai kopi. Ethan menoleh dan menemukan Miss Hazel Ann Muller sedang berbicara dengan seorang polisi hutan. Pria yang sangat tampan walau sudah berumur. Mereka terlihat serius. Lalu tertawa. Dan Ethan menemukan kenyataan bahwa...Hazel mempunyai lesung pipi yang sangat cantik. Ethan tertegun saat Hazel tiba-tiba melayangkan pandangan ke arahnya. Seketika mata besar dan bersinar wanita 26 tahun itu membuatnya kehilangan 1/4 nyalinya lagi. Dan dia hanya menyisakan 1/4 nyali lagi untuk bertahan sampai di penghujung hari ini. "Kau pesan apa?" Suara cempreng Debbie membuat Ethan menoleh. "Oh...aku...macchiato."   *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN