"Tugasmu adalah memasukkan semua data ini ke komputer."
Debbie Scott menunjuk komputer yang bagi Ethan terlihat sedikit kuno.
"Kenapa? Kau heran kenapa komputer ini masih bertahan di tempat ini? Well...karena hanya ada 'dia' sejak bertahun lalu, Daniel. Aku mendengarnya dari orang-orang sebelum diriku."
Ethan mengangguk-angguk. Dia menggeser kursinya dan menghadap ke arah komputer.
"Kau bisa? Kau harus cepat karena aku harus mencetaknya dan meminta tanda tangan Hazel setelah kau selesai."
"Ini adalah daftar barang-barang yang rusak dan pondok yang membutuhkan perbaikan." Ethan menoleh pada Debbie yang mengangguk-angguk.
"Benar."
"Banyak sekali..." Ethan mulai membuka jaringan komputer dengan beberapa arahan dari Debbie. Setelahnya, Debbie bahkan mengernyit dalam karena Ethan sangat cekatan memasukkan semua data. Dia terlihat profesional.
"Memang banyak dan harus disegerakan. Dan setelah itu, kita harus menunggu sangat lama."
"Menunggu sangat lama?" Ethan bertanya tanpa menoleh.
"Ya. Seperti menunggu jodoh yang tak kunjung datang. Itu...terasa lama. Sangat lama."
Debbie tergelak mendengar perkataannya sendiri. Ethan juga tertawa geli. Dia merasa Debbie sangat lucu.
"Bukankah jodoh tidak harus dicari? Tuhan sudah mempersiapkan masing-masing jodoh kita."
"Itu buatmu. Dan Hazel, mungkin? Kalian cantik dan tampan. Pasti sangat mudah menemukan jodoh kalian. Tapi aku? Oh...semua adalah tentang penilaian pada pandangan pertama."
"Jangan berpikir seperti itu. Tidak semua orang berpikiran seperti yang kau katakan tadi. Menilik seseorang dari tampilan dan rupa. Well, setidaknya aku tidak seperti itu, Deb."
"Jadi, apakah ada kemungkinan kita berjodoh."
"Tentu saja, siapa yang tahu jalan takdir bukan?"
Ethan menoleh pada Debbie dan mereka tertawa. Sungguh pembicaraan tak penting dan terdengar konyol.
Ethan mendongak saat melihat kelebat Nona Muller berjalan di depan meja yang dia tempati. Wanita itu melirik cepat ke arah Ethan dan sebuah senyum kecil terbit di bibirnya yang pagi itu dipoles dengan liptick berwarna nude. Wanita itu terlihat dewasa. Baju seragamnya yang sederhana tak mengurangi cantiknya.
Sebuah ballroom.
Dan Ethan yang mulai membayangkan Nona Muller dengan gaun merah. Menari. Berdansa dalam sebuah pesta.
"Kau mau kerja atau melamun?"
Lamunan Ethan terputus dengan bunyi berdecit yang riuh di kepalanya. Seketika Ethan menoleh ke arah Debbie yang bahkan tidak menghadap ke arahnya.
"Non Muller...dia tinggal di mana?"
"Oh...sedikit ke pinggiran. Dia tinggal dekat dengan lapangan berkemah di ujung barat area ini. Dalam sebuah trailer."
"Trailer?"
"Semacam itu. Kenapa? Kau heran? Dulu aku juga begitu sebelum tahu asal-usul Miss Muller."
"Memang dia berasal dari mana?"
"Kau tertarik padanya?" Debbie menjawab tak sesuai dengan pertanyaan Ethan.
"Hanya ingin tahu." Ethan menjawab singkat sambil meneruskan ketikannya.
"Dia lebih tua 3 tahun darimu, Daniel. Dan dia bukan tipe wanita yang menikah. Hazel sangat mandiri dan...menyukai dirinya menjadi seorang pendominasi. Dan itu membuat tempat ini sukses luar biasa. Kau akan tahu."
"Kau mengenalnya dengan baik?"
"Semua mengenalnya. Dia adalah seorang wanita yang akan ada di waktu dan tempat yang tepat saat kami membutuhkan."
"Hmm..."
"Dua tahun lalu, pimpinan Camp ini mengajaknya menghadiri sebuah pesta atas undangan keluarga Leandro. Dan dia menggeleng. Seperti ada sesuatu yang mengganjal...oh...aku terlalu banyak bicara. Aku akan mengambil air putih kita." Debbie memutus ucapannya dan berjalan meninggalkan Ethan.
Bersamaan dengan Ethan yang membalik kertas pada lembaran ketiga, dia melihat Hazel yang kembali masuk bersama dengan seseorang. Polisi hutan yang kemarin bersamanya di kafetaria. Kali ini Hazel melakukan hal yang sama. Melangkah panjang dengan melirik sekilas pada Ethan.
Ethan kembali menunduk dan menekuri komputernya. Dia menyelesaikan dengan cepat laporan sesuai dengan petunjuk Debbie. Ethan meregangkan jemarinya saat dia menyelesaikan semua tugasnya bersamaan dengan Debbie yang kembali.
"Maaf lama sekali. Ada rak yang rubuh di swalayan. Aku membantu mereka sebentar." Debbie mengulurkan sebotol sedang air mineral pada Ethan.
"Apa semua baik-baik saja?"
"Tentu saja. Semua baik."
"Daniel, kau pergi dengan David ke tempat ini. Ada komplain tentang pendingin ruangan. Periksalah sementara menunggu petugas perbaikan. Kau juga bisa sekalian menghafal rute.Ethan menoleh saat mendengar suara merdu Hazel memanggil namanya. Wanita itu mengulurkan sebuah map. Ethan beranjak.
"Baiklah." Ethan melayangkan pandangan pada seorang pria di kejauhan yang melambai ke arahnya.
Ethan melaju langkahnya menghampiri pria yang sudah keluar dari bangunan itu. Dan yang terakhir dia lihat kemudian adalah polisi hutan yang menghampiri Hazel yang terlihat berbincang dengan Debbie.
***
Pengunjung, penyewa ibarat kata adalah raja. Semua komplain mereka harus diatasi dengan baik. Begitu juga dengan komplain sebuah anggota keluarga yang menyewa sebuah pondok kayu di Leandro Camp. Pendingin ruangan? Ethan berpikir bahwa pendingin ruangan bahkan tidak terlalu diperlukan di tempat ini, mengingat udara lumayan dingin saat malam hari. Tapi David, membawa Ethan kepada sebuah totalitas pelayanan bagi para raja itu.
Mereka baru saja memberikan pemeriksaan tahap satu sambil menunggu bagian perbaikan datang. Dan sekarang, setelah bagian perbaikan datang, David mengajak Ethan menikmati limun di sebuah kedai yang ada di dekat pondok. Mereka berbincang saling mengenal. Sebuah rutinitas yang biasa akan tetapi Ethan melakukannya bagaikan sambil menyelam minum air. Dia mengorek informasi dan menyimpannya dalam hati untuk ditulis dalam jurnalnya setelah dia mengakhiri pekerjaannya hari ini.
***
"Pekerjaanmu sangat rapi. Aku sudah menerimanya dari Debbie. Pertahankan Daniel."
Ethan mengangguk. Lalu mendongak menatap wanita di depannya yang sekarang tengah menumpukan telapak tangan pada dagunya. Ethan bisa melihat dengan jelas, bahwa Hazel bukan tipe wanita yang menyukai memelihara kuku yang panjang seperti Brenda. Dan entah mengapa Ethan sangat menyukai perbedaan itu. Hazel dengan kuku pendeknya, memperlihatkan dia adalah pekerja yang biasa bergerak cekatan tanpa perlu memikirkan kuku mereka akan rusak. Dan make up yang Hazel sapukan ke wajahnya?
Kecantikan khas dari mana kah milik Hazel Ann Muller itu...
"Aku memiliki darah Persia dari garis Ayahku. Itulah mengapa aku cantik."
Ethan menelan ludah kelu. Dia serasa ditohok dan tertangkap basah. Dia tersenyum canggung.
"Aku seperti melihat seseorang saat melihatmu." Hazel masih pada posisinya. Mengamati Ethan dengan menumpu tangan ke dagunya.
"Siapa? Apakah aktor terkenal?"
"Leandro Family."
"No way..."
"Garis rahangmu sangat mencirikan kau adalah satu dari mereka. Aku memang belum pernah melihat dan mengenal mereka secara keseluruhan, tapi aku pernah bertemu dengan Tuan Dave Jefferson...hmm...setahun lalu saat seminar."
Tuan Dave Jefferson, dia Ayahku.
Ethan kembali menelan ludah. Dia membatin kata-katanya dan terus berdoa agar Hazel tidak mengetahui penyamarannya.
"Tidak mungkin. Aku hanya orang biasa. Mana bisa dibandingkan dengan mereka?"
"Hmm...Tuhan menciptakan 7 manusia yang mempunyai kemiripan di dunia ini."
Hazel terlihat merubah posisi tangannya.
"Bagaimana pendapatmu tentang keluarga itu?" Ethan bertanya dengan sangat hati-hati.
"Mungkin sedikit berbeda dengan orang kebanyakan yang melihat mereka dengan berbinar."
"Oh ya?"
"Sebuah sentimen yang seharusnya tidak ada kalau melihat betapa idealnya keluarga itu. Semua istimewa dengan caranya sendiri. Bahkan hingga ke para menantu keluarga itu..haha..." Hazel tertawa perlahan.
"Kesimpulannya?"
"Semua sempurna. Bisnis mereka sukses besar. Mereka stabil. Tapi...karena kami bahkan harus menunggu lama hanya untuk sebuah urusan perbaikan pondok yang rusak, kurasa aku tidak akan pernah melihat keluarga itu seperti orang lain memandang mereka. Membayangkan seseorang duduk di kursi kebesarannya dan tidak mengetahui langsung betapa berpengaruhnya keterlambatannya menandatangani berkas membuat semua yang kami kerjakan menjadi kacau! Kurasa, sebuah kewenangan khusus oleh orang yang mereka percaya harus berada di sini agar kami tidak harus menunggu dan menunggu."
Hazel terlihat menghela napas.
"Dan seandainya saja orang yang berjuluk Boss Besar itu tahu...aku mendedikasikan hidupku untuk pekerjaanku. Aku mencintai pekerjaanku. All of these things...they are totally my crush. Aku tidak ingin merusak semuanya dengan sebab apapun. Tapi...membayangkan sebuah kenyataan bahwa, seseorang di New York sana mengangkat kaki ke atas meja kebesarannya dan tidak mengetahui betapa kami di bawah sini menderita, itu...cukup membuat hari-hariku buruk!"
Ethan terpaku menatap Hazel yang terlihat begitu kesal.
"Tuan Besar Ethan William Jefferson--Leandro itu, aku berharap dia ada di sini dan mengerti betapa semua akan kacau kalau dia tidak gesit menggerakkan penanya untuk sebuah tanda tangan! Damn! Kenapa aku harus menceritakan semua ini padamu, Daniel. Ayo kita...hmm..." Hazel menyambar kertas di samping meja kerjanya dan membacanya cepat.
"Memeriksa lapangan di sebelah timur. Di sana penuh dengan para penyewa tenda. Kalau memungkinkan kita akan membujuk mereka berpindah ke lapangan sebelah selatan kalau di sana terlalu penuh."
Hazel beranjak dan berjalan keluar dari ruangannya. Ethan mengikuti langkah panjang Hazel yang setengah berlari.
"Tidak gesit menggerakkan penanya?"
Ethan terbahak dalam hati. Hazel jelas sekali kesal akan hal kecil yang berpengaruh besar itu. Ethan mengingat suatu hari, dia memang menunda hingga keesokan harinya hanya untuk sebuah tanda tangan untuk Camp di Wyoming itu, hanya karena Brenda datang saat jam kerja dan mereka menghabiskan waktu dengan b******u!
Apakah Hazel akan murka kalau tahu apa alasan sebenarnya tanda tangan itu terlambat hingga berhari-hari?
Ethan enggan membayangkannya.
Ethan enggan membayangkan seseorang yang seperti seekor singa betina cantik murka dan mencakarnya dengan kuku tajamnya. Melupakan kenyataan bahwa Hazel bahkan sepertinya tidak menyukai memelihara kuku panjang.
***