PART 7

1108 Kata
Hazel dengan cekatan memeriksa kabin sewaan yang masih kosong. Ini sudah kabin ke sekian dan Ethan merasa, Hazel tidak tampak lelah. Dia bahkan baru saja mengeluarkan banyak suara untuk meminta orang-orang yang akan mendirikan tenda untuk lebih tertib. Ethan masih memikirkan ucapan Hazel kemarin. Tidak seperti biasanya. Walaupun seseorang tidak mengetahui penyamarannya, seseorang dari Leandro atau bahkan keluarga besar itu sendiri, selalu banjir pujian dari siapapun. Tapi tidak ketika bersama Hazel. Wanita itu, terang-terangan dengan tulus mengatakan sesuatu yang seharusnya memang tidak terjadi. Sesuatu tentang tidak lincah menggerakkan pena yang berakibat fatal pada pekerjaan di bawahnya! Bagi Ethan, kata-kata Hazel sangat menohoknya. Tepat di ulu hati dan dia merasa bahwa kesalahannya itu karena sebuah alasan yang tidak seharusnya terjadi. b******u di jam kerja. Sungguh sebuah tindakan yang tidak bijaksana. "Baiklah. Kita istirahat dulu." Hazel mengusap peluh di dahinya. Dan dengan gerakan tak acuh mengusap peluh yang mengalir di belahan dadanya. "Apa? Kau heran? Kau harus membiasakan dirimu, Daniel. Anggap aku sama dengan pria." Hazel tertawa menatap wajah Ethan yang pias. Mana bisa seperti itu? Menganggapnya sama dengan pria? Bisa saja kalau itu berkaitan dengan pekerjaannya. Tapi itu tadi? Ethan bahkan...entahlah. Hazel melompat ke arah mobil camp dengan lincah. Ethan yang terpaku segera menyadari bahwa dia harus bergerak cepat. Ethan masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan nya pelan. Dia melirik Hazel yang tengah menekuri kertas di pangkuannya sambil menggigit ujung pensil di tangannya. Ooh...jangan gerakan seperti itu. Itu terlalu seksi. Hazel membetulkan letak kacamatanya. Damn s**t! Ethan merutuk dalam hati. "Ambil kanan Daniel." Ethan membelokkan mobil sesuai permintaan Hazel. Mobil melaju di jalanan yang lebih sepi dengan pepohonan yang rapat hingga sampai di pinggiran camp sebelah timur. Mobil melambat dan berbelok ke kiri. Sebuah trailer terlihat dan mobil sepenuhnya berhenti tepat di depan trailer itu. Hazel turun dan mengajak Ethan mengikutinya. Ethan menatap sekelilingnya. Trailer dimana Hazel tinggal berada di lapangan yang cukup luas. Di sana ada beberapa trailer lain. "Duduklah. Aku akan mengambil minuman." Ethan duduk di sebuah kursi kayu di depan trailer. Dia menatap sekeliling. "Aku belum berbelanja." Hazel meletakkan air mineral di meja. Ethan meraih air mineral itu dan mengucapkan terimakasih. Hazel dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Kaki jenjang dan lengan semulus... "Kau baik-baik saja?" "Haaah...oh...tentu." "Tunggu sebentar. Aku akan membuat burger untuk kita. Kau tidak keberatan makan burger?" "It's okay." Ethan melirik Hazel yang masuk ke dalam trailernya. Dia bukan pria yang baik. Dia mengakui hal itu. Dia menyukai pemandangan itu. Saat Hazel melangkah dan bokongnya... Ethan terbatuk. Dia mencoba menguasai pikirannya yang sudah tidak beres. Dia menyesap air putihnya hingga tandas. Dia mendadak merasa kacau. Lima belas menit kemudian terdengar suara Hazel memanggil dan Ethan masuk ke dalam trailer. Ethan mengerjap tak percaya. Kalau ada julukan trailer paling nyaman di dunia, mungkin trailer milik Hazel pantas untuk julukan itu. "Aku membuat tempat ini senyaman mungkin. Semoga kau juga bisa merasa nyaman. Ayo kita makan." Dua buah burger di piring porselen. Dua gelas jus jeruk dalam jar. Tempat yang nyaman. Gadis cantik. No...wanita cantik. Rasanya, seperti menemukan mata air di gurun yang gersang. "Kau berasal dari daerah ini?" Pertanyaan sederhana yang diajukan oleh Ethan nyatanya mampu membuat Hazel mendongak dan wajahnya segera tertutup mendung. "Iowa." Hanya itu. Lalu Hazel mengulas senyum. Yang terbersit di benak Ethan adalah, di Iowa, bisnis keluarganya juga berbasis camp seperti di Wyoming. Dan Hazel berada di tempat ini? Kenapa harus jauh-jauh dari kampung halamannya sementara di Iowa keahliannya bisa terpakai juga? "Terimakasih makan siangnya." Ethan meminum jus jeruknya hingga tandas, sementara Hazel membereskan meja dan piring bekas makan mereka. "Selain keterlambatan penanganan kabin dan sebagainya, apakah ada masalah serius lain di camp ini?" "Kau tertarik dengan bisnis ini? Baiklah. Aku akan menceritakan sedikit pengalaman." Hazel mengajak Ethan berpindah tempat. Mereka duduk di sofa dan Hazel membuka tirai jendela. "Tidak ada yang serius. Tapi yang berawal dari sesuatu yang tidak serius akan menjadi serius ketika tidak mendapatkan penanganan yang serius, Daniel." Ethan terpaku. Dia mencoba meresapi ucapan Hazel. Dan dia mengerti. "Masalah gaji juga menjadi sebuah isu, Daniel. Kurasa, mereka berhak mendapatkan lebih dari apa yang mereka terima sekarang. Kalkulasinya mencakup bahwa medan di sini sedikit sulit. Jadi mereka yang bertempat tinggal sedikit jauh, membutuhkan lebih banyak bahan bakar bukan? Lalu sebuah jaminan perbaikan alat transportasi. Mereka tidak menuntut banyak. Sesederhana itu Daniel." Ethan mengangguk-angguk. Sesuatu yang sangat penting dan terlewat begitu saja olehnya. Lalu dimana otaknya selama ini? "Semoga ada jalan keluarnya. Segera." Terdengar suara tawa sumbang Hazel. Sedikit bercampur dengan nada putus asa. "Aku bahkan ingin sekali bertemu Tuan Besar Ethan Jefferson dan memukul kepalanya agar dia segera sadar, bahwa banyak sekali yang perlu diperhatikan di tempat terpencil ini." Ethan tertawa. "Well, aku tidak sabar kau datang menemuiku, Haz…" Ethan membatin kata-katanya. Ethan menatap manik mata Hazel yang nyatanya sewarna hazel itu. Coklat sedikit terang. Bening dan sangat cantik. Dari matanya Ethan melihat kecerdasan. Bukan kekosongan seperti milik Brenda. Brenda. Di mana dia? Ethan memutuskan tatapannya pada Hazel ketika Hazel mengulas senyum canggung ke arahnya. Ternyata gadis dengan super power seperti Hazel bisa juga canggung dengan situasi yang Ethan ciptakan. Ethan merunduk menatap keluar dari jendela. "Kau akan kembali ke kantor?" "Tidak. Ini Jum'at. Jadwalku sudah selesai." "Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa." "Ini hari terakhirmu bukan?" "Rasanya aku betah di sini." "Mereka akan menempatkanmu di tempat yang lebih baik. Kau berhak karena kinerjamu sangat bagus. Aku akan membuat surat rekomendasi." "Terimakasih." Ethan melangkah keluar dan menuju ke mobil camp. "Tentu saja ini bukan ucapan selamat tinggal karena kita akan bertemu lagi." Ethan kembali membatin kata-katanya. Dia melambai ke arah Hazel dan melajukan mobilnya menjauh. *** "Silahkan Nona Muller. Tuan muda sudah menunggu di teras atas." Seorang pria setengah baya dengan pin kebesaran keluarga Jefferson--Leandro mempersilahkan Hazel yang bahkan masih belum bisa menghentikan sumpah serapah di hatinya, karena harus melakukan penerbangan tengah malam dari Wyoming ke New York. Semua semata karena titah Tuan Besar Ethan Jefferson--Leandro yang meminta Hazel datang ke kediamannya. Dalam kebingungannya. Apa seseorang mengadu pada Tuan Besar dan dia memanggilnya? Ini bahkan masih pagi buta. Kabut saja masih enggan menanjak. Mereka masih terbang sangat rendah menjangkau tanah. Rumput-rumput bahkan masih basah karena embun belum tersapu matahari. Dan damn! Ini hari Minggu! Hazel bahkan sudah merencanakan tidur hingga tengah hari. Dan realitanya, dia sekarang justru terdampar di rumah mewah bergaya modern milik Tuan Muda Jefferson. Rumah mewah yang bahkan mempunyai teras di atas! Hazel mengikuti pria yang membukakan nya pintu tadi. Mereka melangkah meniti tangga untuk pergi  di lantai 3 setelah melewati ruang tamu yang membuat Hazel menelan ludah kelu. Mereka tiba di lantai 3. Lantai paling atas dengan pemandangan alam terbuka. Sangat sunyi. Hanya gemericik air dari sebuah pancuran di sudut teras yang sangat luas itu. Dan kolam renang. Dan meja makan untuk enam orang. Satu ruangan besar berisi alat-alat olahraga. Bahu Hazel luruh. Apapun itu. Dia kesal! Tas ransel yang Hazel bawa jatuh ke lantai. Dia menegang. Tangannya terkepal sempurna. Tuan bilyuner yang terhormat itu sekalipun, seharusnya mengerti. Bahwa ini hari Minggu dan dia berhak tidur sampai pu... "Selamat pagi." Hazel berbalik cepat saat mendengar seseorang menyapa dan menepuk bahunya. Mengagetkan dan... Plaaak! Hazel reflek menampar seseorang di depannya. Kaget! "Daniel!" "Hazel...ini...sakit..." Awkward moment. Gemericik air. -----------------  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN