"God! Aku minta maaf. Tapi...aku benar-benar kaget. Apa yang kau lakukan di sini, Daniel. Apakah, Tuan Besar memanggilmu juga?" Hazel mendekat ke arah Ethan dan berbisik sangat lirih. Udara hangat menerpa cuping telinga Ethan dan dia merasa ada yang tidak beres dengan peredaran darahnya yang tiba-tiba melaju lebih cepat. Hazel dan penampilan seadanya. Dia pasti terburu-buru.
"Tidak."
Hazel menjauhkan kepalanya dan berdiri tegak di hadapan Ethan.
"Tidak? Apa maksudmu dengan tidak? Lalu...kenapa kau di sini?"
"Karena tidak ada yang salah kalau aku di sini, Haz..."
"Memang. But wait! Ini rumah Tuan Besar, Daniel. Yang tidak berkepentingan pasti dilarang ada di sini."
Hazel kembali berbisik ke arah telinga Ethan. Dan matanya jelas melihat ke sana-sini. Memindai seseorang yang akan mengamuk seandainya tahu ada orang asing di tempat itu tanpa di panggil. Wajahnya terlihat khawatir. Dan itu membuat Ethan tertawa dalam hati.
"Aku butuh tidur. Butuh istirahat. Di sini."
"Apa maksudmu di sini? Apakah dia mengundangmu?"
"Karena ini rumahku."
"..."
Krik...krik...krik...krik...
Another...
Krik...krik...krik...krik...
Lalu.
Gemericik air yang pada akhirnya Hazel sadari, berasal dari dalam kolam renang yang airnya mengalir ke sisi yang lebih rendah.
Hazel membeku. Mulutnya yang terbuka mengatup perlahan. Lalu seperti sebuah batu besar menghantam kepalanya, dia menyadari sesuatu. Dan dia berbalik. Berniat mengambil seribu langkah untuk meninggalkan tempat itu.
Langkah Hazel sangat panjang. Tapi entah mengapa dia tidak bisa menjangkau tangga menuju ke lantai bawah. Bahkan...tangga itu terlihat jelas di ujung sana.
Sebuah tarikan tangan besar membawanya mundur ke belakang, dan dengan keras membentur d**a seseorang.
Daniel Walsh.
Bukan!
Tuan Besar Ethan William Jefferson--Leandro!
Dia!
Hazel yakin. Seratus persen Daniel Walsh itu adalah Ethan Jefferson.
Hazel menggeleng keras.
"Aku mempunyai penjelasan untuk ini Haz..."
Dan pria itu memanggilnya Haz. Terdengar sangat akrab dan...membuai. Hazel bahkan tidak berani menatap pria itu. Yang melingkarkan tangan ke pinggang dan memeluknya. Yang terbayang adalah semua kekonyolannya. Berganti baju ketika Daniel...maksudnya...Tuan Besar masuk ke ruangannya. Lalu, tatapan anehnya pada Daniel...bukan! Maksudnya, Ethan Jefferson. Lalu dia sembarangan mengusap peluhnya. Di d**a. Hazel yakin wajahnya merah padam sekarang.
Dan dia mengatai pria itu. Sesuatu tentang tidak lincah menggerakkan pena. Lalu, tentang niatnya memukul kepala pria itu. Dan...dia sudah menamparnya tadi.
"Haz...are you okay?"
Dan pria itu bertanya apakah dia baik-baik saja? Dia dungu atau apa? Tentu saja tidak ada yang baik-baik saja setelah semua kejadian itu.
Hazel mengangguk. Lalu menggeleng keras.
Ethan tertawa pelan.
"Ini aku. Ethan. Bukan Tuan Besar."
"Maafkan aku. Sungguh. Tapi ini semua salahmu. Aku tidak tahu kau menyamar, Sir."
"Tentu saja semua salahku. Wanita selalu benar." Ethan tertawa geli. Karena terlalu shock, bahkan Hazel tidak sadar bahwa Ethan masih memeluk dan menahan beban tubuhnya.
"Bukan seperti itu maksudku. Tapi...aku sungguh tidak tahu. Dan maaf..."
"Tidak perlu minta maaf."
Lalu Hazel sepertinya tersadar, ketika tangan Ethan bergerak tidak sewajarnya. Sekali lagi. Kali ini bukan terhantam batu besar puluhan kilo, tapi, tersengat arus listrik 1000 volt.
"Kau meremas bokongku! Itu...untuk apa?"
"Aku tidak tahan ingin melakukannya."
"Oh..." Hazel mundur dan melepaskan diri dari pelukan Ethan.
Tidak tahan ingin melakukannya? Jawaban macam apa itu?!
"Aku bukan perempuan seperti itu..." Tangan Hazel membuat pola tanda kutip di udara.
"Aku tidak menganggapmu seperti itu. Jangan marah."
"Kesan pertama yang buruk sekali."
"Kau marah?"
"Kau pikir saja sendiri."
"Kau masih ingin memukul kepalaku?"
Hazel mendongak.
"Tentu saja. Karena kau meremas bokongku tanpa alasan, you bastard!"
Buuugh...
Ethan tersungkur saat Hazel tiba-tiba melayangkan tinjunya keras. Ethan terkapar di lantai dan tak berniat bangkit dari sana. Dia tertawa keras. Dalam sejarah hidupnya, Hazel lah wanita pertama yang berani memukulnya disertai sebuah dorongan keras!
Ethan memakai tangannya sebagai alas kepala. Dia menatap Hazel yang terengah. Gadis itu terlihat kesal. Napasnya memburu. Kaki jenjangnya bergerak-gerak gelisah. Dia terlihat tengah mengelola amarahnya. Pemandangan yang sangat menarik.
Sampai kemudian Ethan bangkit dan dengan gerakan cepat menarik tangan Hazel dan tubuh gadis itu terjerembab ke atasnya. Tangan Ethan dengan gesit menahan pinggang Hazel dan menarik tengkuk Hazel dengan tangannya yang lain.
Lalu sebuah erangan keluar.
Rasa bibir Hazel sangat luar biasa. Ethan mendecapnya dengan rakus. Tidak memperdulikan gadis itu yang meronta dan memaki kesal.
Tanpa ijin. Ethan terus mendecap. Mengusap punggung Hazel dan...
Bibir mereka yang menari. Ethan menikmati kemenangannya. Hazel menyerah dan memilih membalas ciumannya.
Dan...
"Aaaauch..." Ethan mengaduh kesakitan saat Hazel menggigit bibir Ethan kuat.
"Rasakan!"
Hazel bangkit dari atas Ethan dan berdiri menjulang.
Ethan tertawa keras. Sudut bibirnya terasa perih. Dia menumpu tubuhnya dengan satu tangan dan bersiap dengan kemungkinan bahwa Hazel akan menyerangnya lagi.
"Kau sama sekali tidak sopan, Tuan Besar. Apa maksud semua ini? Kau memanggilku untuk apa?"
"Untuk menciummu tentu saja. Aku bahkan sudah berusaha menahan diri. Tapi aku tidak bisa."
"Pria sinting!"
Ethan tergelak.
"Jangan berpikir karena kau punya kuasa kau bisa melakukan apapun yang kau mau."
"Karena aku tahu, kau tidak akan menyukai pendekatan manis yang bertele-tele. Kau bukan gadis seperti itu. Aku tahu..."
Hazel menarik napas panjang. Dia memang tepat seperti yang Ethan katakan barusan. Dia gadis yang tidak suka bertele-tele. Dia adalah gadis yang cerdas menilai kesan pertama.
"Tapi tidak seperti ini...juga..."
"Karena aku menyukaimu."
"Suka bukan berarti boleh mencium seenak kerja otak m***m-mu itu!" Hazel menjerit kesal. Sedari tadi dia mengamati tingkah Ethan yang masih setia rebah di lantai. Dan Hazel...bukan semakin tenang tapi justru semakin kesal. Ethan jelas menatapnya dengan geli. Pria itu meledeknya. Menikmati setiap detik kekesalannya.
"Kau harus menjadi kekasihku." Ethan mengulurkan tangannya dan Hazel menepisnya keras. Ethan kembali tertawa.
Hazel berteriak keras. Dia menangis. Dan dia merasa malu. Dia merasa seperti gadis dewasa 26 tahun yang tengah dipermainkan oleh pemuda kencur 23 tahun. Harga diri Hazel hancur berkeping. Dan dia tidak tahu harus bersikap seperti apa? Dia kesal. Sangat kesal.
Hazel kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Baiklah."
"Good. Jadi kau setuju menjadi kekasihku."
"Oh Hazel. Bersabarlah menghadapi bebal satu ini..." Hazel berbisik pada dirinya sendiri.
"Bukan seperti itu. Maksudku, kau pasti memanggilku untuk hal yang penting bukan? Cepat katakan dan aku akan segera mengerjakannya."
"Semua sudah beres kalau yang kau pikirkan adalah segala segala sesuatu tentang Camp Leandro di Wyoming. Aku memintamu kemari bukan untuk itu."
"..."
"Kita sarapan?"
Bahu Hazel luruh. Dia menyerah. Ethan benar-benar bebal kelas kakap. Lihat saja. Mereka sedang serius dan Ethan dengan seenak hatinya, mengajak sarapan.
"Aku tidak suka daun muda." Hazel berterus terang. Memperjelas kenyataan, bahwa Ethan tiga tahun lebih muda darinya.
"Sayangnya, aku menyukai wanita yang lebih dewasa."
Lalu Hazel merasa pundaknya bagai dibebani batu puluhan ton.
"Aku tidak menyukaimu."
"Aku akan membuatmu menyukaiku."
Oh baiklah. Ini akan jadi sesi saling membantah yang panjang. Hazel melirik Ethan yang beranjak dan mengulurkan tangannya. Hazel mendengus pelan. Dia berjalan ke arah meja makan tanpa menerima tangan Ethan.
Mereka duduk bersebelahan.
Hazel mendengus. Ada lima kursi lagi dan Ethan memilih duduk begitu dekat dengannya.
"Aku bahkan alergi pria muda."
"Aku b*******h dengan wanita dewasa."
"Tutup mulutmu!"
Ethan tergelak.
Dia menatap Hazel yang membuang pandangannya ke arah lautan. Ethan merasa dia bersalah. Tapi dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk membawa Hazel kemari.
Alasannya?
Karena dia tahu perasaannya.
Karena tidak ada satupun pria Leandro yang bertele-tele.
***