Mendominasi.
Ethan tertawa berulang kali. Hazel selalu mengangkat tangannya memperingatkan agar Ethan menutup mulutnya dan tidak menjawab apapun yang dikatakannya.
Hazel bahkan menolak mati-matian tawaran menginap agar tidak terlalu lelah.
"Aku ada di sini, di saat seharusnya tubuhku mendapatkan haknya untuk beristirahat, hanya demi sebuah alasan konyol bahwa Tuan Besar ingin mencium ku! Kau tahu, Sir? Aku menyukai saat kau menjadi Daniel Walsh, bukan dirimu yang sekarang."
Ethan mengernyit. Dia bahkan rela menghabiskan akhir minggu nya dengan melihat Hazel mondar-mandir dan...
Bukankah Hazel berbicara terlalu cepat? Dia bawel sekali!
Ethan tertawa lagi.
Sudah lebih dari tiga puluh menit dia duduk bersandar pada sandaran sofa dan tidak melakukan aktivitas lain selain mengikuti kemana pun Hazel bergerak melalui pandangan matanya. Melihat bagaimana Hazel mengomel, lalu duduk, lalu berdiri lagi. Berjalan kesana kemari dengan bingung.
"Say something, Sir?!"
"Aku menyukaimu. Aku akan menyekapmu disini."
"Kau gila."
"Apakah ada yang pernah bilang bahwa kau cocok menjadi seorang model? Pakaian dalam..."
"Tutup mulutmu! Jangan pernah berani membayangkan segala sesuatu yang bersifat m***m tentang ku you dirty brain!" Hazel menunjuk Ethan dengan telunjuknya. Wajahnya menyiratkan bahwa dia murka.
Ethan tergelak.
Dia bahkan sudah membayangkan lebih dari yang Hazel katakan. Bagaimana mencumbu gadis dewasa yang sekarang terlihat kekanakan karena kesal itu.
"Tolonglah...katakan padaku bagaimana cara membuka pintu itu? Aku bahkan tidak mempercayai penglihatanku sendiri. Kau memasang pintu yang sangat besar dan tinggi...dengan kode rahasia. Untuk apa?" Hazel berjalan ke arah pintu penghubung dan menatap pintu ruang tamu di kejauhan. Hazel terlihat menggeleng
"Seperti pintu biasa. Kau hanya harus menariknya..."
"Oh, kau pikir aku bodoh atau apa? Aku sudah melakukan kebodohan itu! Aku sudah menarik hampir semua gagang pintu di sini dan aku tahu, setiap pintu mempunyai kode rahasia. Come on..." Hazel berjalan lagi ke arah Ethan.
Hazel menatap Ethan dengan tatapan memohon. Ethan menelengkan kepalanya dan tersenyum. Hazel akan sangat cocok memakai baju berwarna biru muda. Kulitnya...
"Kau dapat dari mana sifat m***m itu? Dan jangan menatapku seperti itu. Ooh..ini konyol sekali!" Hazel mengangkat tangan dan menyibak rambutnya ke belakang.
"Ayahku. Dan dia bangga akan hal itu. Dia bisa mendapatkan ibuku karena sifatnya itu." Ethan berkata ringan.
"No way...tidak mungkin Tuan Jefferson seperti itu."
"Tidak pada semua wanita. Hanya pada ibuku. Dan...ngomong-ngomong...kau sama dengan ibuku. Cerewet sekali." Ethan mengusap dagunya perlahan dan matanya jeli memindai. Oh...Hazel sangat menarik.
"Haaah...pertimbangkan itu sebagai alasan kau mau membuka pintu untukku. Aku akan sangat mengganggu bukan?"
"Siapa bilang? Aku bahkan merindukan kecerewetan ibuku kalau seminggu saja aku tidak mendengarnya."
"Jangan menjadi keras kepala. Tolonglah..."
"Tapi aku mau membuka..."
Hazel mengerjap dan tersenyum. Akhirnya. Ethan pasti tidak tahan dengan suara berisik nya hingga mau membuka...
"...kedua tanganku untuk memelukmu. Kemari lah..."
Bahu Hazel luruh seketika. Dan semakin luruh ketika Ethan justru merentangkan kedua tangannya.
"Aku bahkan sudah tua. Tiga tahun bukan waktu yang sedikit. Aku sudah berjalan dan berlarian di taman saat kau masih mengompol di kasur."
Ethan menurunkan tangannya.
"Tidak masalah. Lihat aku sekarang. Aku sudah besar."
Hazel duduk di sofa. Menyerah.
"Tetap saja. Orang akan melihat dengan aneh."
"Jadi masalahnya karena itu? Perbedaan usia? Bagaimana kalau tidak usah memikirkan pendapat orang lain?"
"Tidak bisa seperti itu."
"Jadi...sebenarnya kau juga menyukaiku?"
"Bukan begitu. Kau terlalu cepat menyimpulkan."
"Aku akan membuatmu menyukaiku."
"Come on Ethan...please. Jangan membuatku berada dalam kesulitan."
"Tentu saja tidak. Selamanya, aku tidak akan pernah menempatkanmu dalam posisi itu."
"Kenapa kau sangat keras kepala? Ayolah...kau pasti juga sudah mempunyai kekasih."
"Memang. Tapi aku tidak menyukai...the woman who's sleeping around." Ethan beranjak dan melangkah mendekati Hazel. Dia merunduk dan mencium puncak kepala Hazel dalam. Hati Hazel berdesir. Dia menoleh menatap Ethan yang melangkah menjauh dari ruang tengah itu. Ethan berjalan sambil membuka kaos yang dia pakai. Hazel menghela napas perlahan. Pemuda 23 tahun itu bahkan mempunyai tubuh dan penampilan yang menawan. Dia juga cerdas. Sangat istimewa dan mempunyai segala kriteria untuk menjerat hati gadis manapun. Dia terlihat sangat dewasa untuk pemuda berusia 23 tahun. Hazel bahkan menyukai kerutan di dahi Ethan yang begitu dalam saat dia sedang berpikir serius.
Menyukai.
Oh, tidak. Tentu saja tidak boleh.
Dia punya kekasih walaupun Hazel tidak mengerti apa yang Ethan katakan tentang the girl who sleeping around?
Tapi...tetap saja. Tidak seharusnya pemuda itu berakhir dengannya.
Hazel termenung.
Dia yakin Ethan akan berlari menjauh setelah tahu masa lalunya.
Hazel menghela napasnya lagi. Dia beranjak dan melangkah ke belakang. Dia belum akan menyerah. Dia akan mencari pria bernama Nobel Heinz, sang kepala pelayan dan meminta tolong padanya untuk membukakan nya pintu.
Hazel berjalan semakin ke belakang dan menyusuri koridor menuju halaman belakang. Hazel menyentuh setiap pelapis tirai dengan tangannya. Sangat halus. Lambang kemakmuran yang seharusnya diisi oleh orang-orang baik. Seperti Ethan yang harus mendapatkan seseorang yang baik. Sama baiknya dengan dirinya yang bahkan mau menolong siapapun. Hazel pada akhirnya sudah mendengar banyak dari seorang sahabatnya yang bekerja di salah satu hotel Leandro di Delaware. Ethan yang sedang dalam penyamaran, dengan tulus mengangkat semua beban mereka yang membutuhkan.
Hazel baru akan menjangkau gagang pintu yang tertutup rapat ketika dia memutuskan untuk berhenti dan mendengarkan percakapan dua orang pelayan yang sedang membersihkan jendela.
"Tuan muda bahkan tidak mengajak Nona Brenda menginap di sini."
"Aku yakin Nona Brenda bahkan tidak tahu kalau Tuan muda membeli rumah ini."
"Syukurlah. Aku masih ingat benar pernah bertemu Nona Brenda di supermarket waktu itu. Dia berciuman dengan pria lain. Oh...seandainya Tuan muda tahu."
"Tentu saja dia tahu. Aku yakin. Dan aku juga ingat saat Nona Pita memintaku mengantar tasnya ke sasana olahraga? Aku berpapasan dengan Nona Brenda dan dia bersama pria lain. Sangat mesra. Aku bahkan memotret mereka diam-diam. Suatu hari aku akan memberitahu Tuan muda."
"Aku juga mengingatnya. Dan pria itu lain dari yang aku lihat di supermarket. Oh...keterlaluan sekali bukan?"
"Nona yang baru datang itu...dia terlihat baik bukan? Tapi dia sedikit berisik."
"Siapapun akan berisik kalau menghadapi Tuan muda yang sedang bersikap seperti itu. Kita sangat tahu kalau dia sedang keras kepala. Nyonya Betty saja dibuat jengkel kalau dia sedang seperti itu."
Kedua pelayan itu tertawa. Mereka terlihat meneruskan pekerjaan mereka.
"Aku tidak habis pikir. Nona Brenda masih menghadiri makan malam keluarga, seminggu yang lalu."
"Tidak tahu diri. Wanita itu selalu bersikap manis saat semua orang hadir, tapi dia galak sekali saat tidak ada orang."
"Sudahlah. Kuharap Nona Hazel tidak seperti itu. Tuan tidak pernah membawa gadis ke rumah ini. Jadi kalau seorang gadis diperbolehkan kemari...tuan pasti tahu dia baik."
Lalu dua pelayan itu diam. Pergerakan mereka semakin menjauh mengikuti jendela yang harus mereka bersihkan.
Hazel membeku.
"Nona...kau membutuhkan sesuatu?"
Hazel berbalik dan menemukan Nobel Heinz di belakangnya.
"Tuan Heinz. Bagaimana cara membuka pintu depan?" Hazel langsung bertanya. Dia tidak ingin membuang waktu.
Tuan Heinz terdiam.
"Sebaiknya Nona aku buatkan jus mangga. Bagaimana?"
"Tuan Heinz..."
"Nobel saja, Nona."
Bahu Hazel luruh.
"Pintu..."
"Tidak Nona. Aku takut Tuan muda akan menggorokku. Lihatlah...aku sudah tua."
"Ooh...tolonglah Nobel."
"Ayo kita minum jus. Aku juga membuat kue. Dan sebaiknya kau memakai sandal rumah. Lantainya sangat dingin..."
Nobel Heinz meraih tangan Hazel dan menggenggamnya. Pria tua itu menepuk punggung tangan Hazel menenangkan dan menarik Hazel untuk mengikutinya ke arah dapur.
Hazel nyaris menangis.
Dia terpenjara.
***