PART 10

1323 Kata
Hazel melongok dari pintu kamarnya dan berjalan setengah berlari menuruni tangga. Kenyataan bahwa Ethan menolak permintaannya untuk membuka pintu, membuatnya menyerah. Tapi untuk sementara saja. Sambil dia memikirkan cara untuk bisa keluar. Hazel berjalan ke arah dapur. Dia berjingkat dan berdiri di balik tembok. "Mereka punya pemanggang pizza tradisional? Apa yang tidak mereka punya?" Hazel membatin kata-katanya saat sekilas melihat seorang koki mengeluarkan pizza dari tungku pemanggang tradisional yang terbuat dari batu dan tanah liat. Tungku itu terletak di sebelah dapur utama. Aroma harum keju yang meleleh bercampur dengan bau sedikit gosong terasa begitu menggoda. Hazel merapatkan tubuhnya saat mendengar dua orang berbicara. Lalu dia beringsut ke arah sebuah lemari. Dia bersembunyi di belakang lemari dan menahan napas. Dua orang pelayan melewatinya. Salah satu pelayan itu mendorong sebuah tempat sampah dan mereka berjalan keluar. Hazel menunggu hingga pelayan itu keluar dari pintu dapur dan melangkah ke halaman belakang. Berulang kali Hazel bersembunyi di balik rerumputan rapat, bahkan hingga berjongkok agar dua orang pelayan itu tidak memergoki nya. Hazel tersenyum senang ketika salah satu pelayan membuka pintu pagar belakang rumah. Hazel menatap aktivitas dua orang pelayan itu dan menunggu. Pintu kembali tertutup saat dua orang itu keluar. Dan Hazel berjingkat menuju pintu itu. Menarik gagang pintu berbentuk lingkaran besi dan...nihil! Berulang kali dia mencoba menarik gagang pintu itu hingga kesal. Apa yang salah dengannya? Kenapa dia tidak bisa membuka pintu itu sementara salah seorang dari pelayan itu bisa? Hazel menendang pintu itu dan meringis kesakitan. Suara deheman membuat Hazel menoleh. Dan mendapati Ethan yang bersedekap menatapnya. Juga Nobel Heinz yang melongok dari balik tubuh Ethan dengan tatapan prihatin. "Kau hanya harus menariknya..." "Diamlah!" Hazel menjerit gemas dan berjalan cepat hingga menyenggol bahu Ethan dengan keras. Hazel melangkah panjang menyusuri halaman belakang dan kembali masuk ke rumah. Hazel masih bisa mendengar Ethan tertawa. Bayangkan saja! Ini sudah seminggu dan dia masih terjebak di rumah besar itu. Hazel lelah membujuk. Hazel mengatakan bahwa dia harus bekerja, tapi Ethan mengatakan bahwa dia sudah menandatangani surat cuti nya. Lalu kapan Hazel mengajukan surat itu? Dia bahkan tidak pernah merasa mengajukannya. Dia benci cuti. Lalu berhari-hari dia mencoba mencari celah. Memeriksa satu persatu pintu dan jendela di rumah itu dan hasilnya nihil. Semua memakai kode rahasia dan...kalaupun dia berhasil keluar, kemungkinan dia lolos dari gerbang utama rumah adalah nol persen. Bagaimana tidak? Penjaga bahkan mungkin tidak pernah tidur! Semalam Hazel berpikir. Satu-satunya cara untuk keluar dari rumah tanpa melewati gerbang utama yang bertuliskan kemustahilan itu adalah dengan melewati pintu belakang yang langsung mengarah ke jalan di sepanjang bibir pantai. Dan Hazel merasa, dia menemukan jalan. Dan dia salah besar. Bahkan untuk sebuah pintu belakang, Ethan memasang kode rahasia. Hazel berjalan keluar lagi dan memilih untuk duduk di gazebo. Dia menghela napas panjang dan menghembuskan nya. Dia bingung harus bagaimana? Mengikuti permainan Ethan? Ethan memang melakukan banyak hal. Hampir selalu memanjakan nya dengan kemudahan. Semua pelayan baik padanya dan selalu menanyakan apakah dia menginginkan sesuatu? Hazel selalu melakukan hal yang sama ketika dia mendengar deru mobil Ethan keluar dari halaman. Dia menyibak tirai dan melihat pria itu pergi. Dadanya selalu berdebar saat mobil Ethan menjauh. Dua hari lalu, Hazel lupa menutup pintu kamar. Dan Ethan menghampirinya. Memberinya ciuman di kepala yang sangat lama tanpa mengatakan apapun. Lalu dia pergi dan tidak kembali hingga tengah malam. "Kau ingin bicara banyak?" Hazel mendongak dan menatap Ethan yang mengulurkan tangannya. Hazel menatap tangan Ethan lama. Lalu wajah pria itu. Ooh...bukankah dia lebih pantas menjadi adiknya? Tangan Hazel terulur menyambut tangan Ethan. Dan Ethan menariknya lembut lalu membawa Hazel berjalan ke arah halaman belakang. Ke arah pintu belakang yang membuat Hazel merasa t***l. Ethan menekan sebuah tombol dan sebuah kotak yang menempel di dinding terbuka. Ethan meletakkan ibu jarinya dan sepertinya, mesin itu memindai. Pintu mengeluarkan bunyi klik yang samar dan Ethan menarik gagangnya. Hazel menelan ludahnya kelu ketika pintu itu terbuka dan Ethan menariknya lembut. Udara hangat yang sedikit basah langsung menerpa tubuh Hazel. Dan dia segera menyadari bahwa dia salah. Di balik pintu belakang memang tersedia sebuah tempat sampah yang besar yang langsung mendaur ulang, tapi pintu itu sama sekali bukan mengarah ke jalan raya di sepanjang pantai. Tapi pintu itu mengarah langsung ke tepian pantai. Ethan membawa Hazel turun meniti tangga batu. Kaki Hazel yang bertelanjang, membuatnya sesekali meringis saat batu di tangga itu ada yang menonjol dan dia menginjak nya. Mereka sampai di tepian pantai dan Hazel yakin, Ethan lah satu-satunya pemilik garis pantai sepanjang 1,5 kilometer itu. Hazel yakin dan dia merasa ngeri. Mereka berdiri. Menatap pantai dengan ombak kecilnya. "Kau ingin bicara?" Ethan berdehem. Hazel terdiam. "Ayahku bilang, aku tidak bijaksana menyekapmu di rumahku." "Thank's Lord." Hazel menghela napas lega. Setidaknya, Tuan Jefferson adalah pria yang waras sekalipun dia mempunyai seorang putra yang... "Aku benar-benar menyukaimu. Tidak bisakah kau mencobanya? Mempertimbangkan aku?" "Apa yang kau lakukan? Berdiri, Ethan." Hazel mencoba menarik tubuh Ethan yang tiba-tiba bertumpu pada kedua lututnya. Pria itu bergeming. Ethan menatapnya putus asa. "Apa yang membuatmu selalu menggeleng, Haz?" Hazel terpaku. Ethan memainkan jemari tangannya. Menciumnya lembut dan pria itu menatapnya sangat putus asa. "Aku...tidak bisa, Ethan..." "Give me one reason." Hazel menggeleng. "Kita baru saja saling mengenal. Dan kita lebih pantas disebut kakak beradik." Ethan menggeleng. "Aku tidak bisa menerima alasan itu." "Kita berbeda." "Aku cukup kaya dan aku tidak membutuhkan kekayaan lagi hingga harus mendekati gadis kaya, kalau itu yang kau maksud dengan...bahwa kita berbeda." "Masalahnya bukan ada pada dirimu Ethan. Tapi padaku." "Ada apa?" Ethan mengusap pipi Hazel dengan jangkauan tangannya. "Aku tahu keluargamu walaupun aku tidak mengenal mereka satu persatu." "Okay...so?" "Kau berasal dari keluarga yang baik. Sempurna. Dan kau harus mendapatkan seseorang yang baik. Karena...berumah tangga itu...harus selamanya." "Aku setuju tentang berumah tangga harus selamanya. Tapi tidak dengan bahwa kami sempurna. Tidak ada yang seperti itu Haz..." "Dan...aku bukan gadis dalam garis itu Ethan. I'm not on that line. Aku jauh dari kriteria itu. Gadis baik." "Apa kau tidak baik?" Hazel menghela napas. "Takdir membuatku mempunyai nilai yang sangat rendah, Ethan..." "Apa maksudmu?" Hazel terdiam. "Aku harus jujur padamu. Dan tolong setelah ini kau biarkan aku pergi." Ethan menggeleng. "Kau akan membiarkan aku pergi, aku yakin." "Ada apa? Apa yang tidak aku tahu?" "Kau ingat polisi hutan yang sering berada di camp?" "Aku cemburu dengannya...saat aku menyadari satu hal bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama." "Oooh..." Hazel tertawa sumbang. Itu terdengar sangat manis saat Ethan yang mengatakannya. "Ada apa?" "Dia berusaha membujuk ku untuk membuka kembali sebuah sebuah kasus. Kasus yang terjadi lima tahun lalu." "Kasus?" "Kasus yang membuatku tidak pantas untuk siapapun. Apalagi untukmu." "Katakan." Ombak kecil menghantam kaki Hazel. Dan dia meresapi sunyi yang menemaninya dan Ethan saat ini. Dia sudah menutup rapat lembaran hitam itu dan tidak berniat membuka nya. Dia menutupnya dengan sikap tegas dan gila kerja. Dia ingin melupakan walau sejatinya dia tahu, sampai kapanpun dia tidak akan bisa. Tapi paling tidak, dia ingin semua orang mengira, tidak pernah terjadi apa-apa dengannya. Kejadian itu, hanya mimpi yang terlupakan atau bahkan tidak bisa diingat seiring Hazel terbangun dari tidur. 1825 hari. Waktu yang sangat lama. Dan semua baik-baik saja. Sampai hari ini. Sebuah pengakuan harus diucapkan nya pada Ethan. Semata karena Hazel tahu, terlepas Ethan benar-benar jatuh cinta padanya atau tidak, Hazel ingin jujur pada pria itu. Lalu memintanya berhenti. Atau...pengakuannya akan membuat Ethan berhenti mengejarnya tanpa dia minta. Itu lebih baik dan mudah. Hazel menarik napas dalam. "Anak seorang pemimpin mafia memperkosaku ketika aku berlibur ke Karibia." Lalu helaan napas lega terdengar. Dan satu lagi helaan napas...entah apa maknanya. Milik Ethan yang menatap Hazel dengan tatapan mata yang sama hancur dengan Hazel. Hazel tidak menangis. Tapi matanya memancarkan itu. Sebuah tangisan tertahan. Sebuah duka berkarat yang tak akan bisa hilang. "Dan aku sempat hamil dan kehilangan bayiku." Satu kenyataan lagi yang membuat Ethan bagai tersambar petir di siang bolong. Hatinya terasa sakit. Lebih sakit lagi manakala dia melihat bening luruh di sudut mata Hazel. Dan Hazel tidak ingin menunggu. Dia ingin pergi. Kejujuran yang selalu membuatnya merasa nista. Dari tatapan mata Ethan, dia bisa tahu. Ethan akan berhenti. Dan Hazel kembali ke titik awal lagi. Titik dimana dia hanya seorang wanita yang tidak menginginkan apa-apa. Dia hanya ingin bekerja. Sampai tua. Sendiri di trailernya yang sunyi. Tanpa pengharapan apapun. Dan dia tidak akan pernah melakukannya. Mengharap. Dia sudah berhenti berharap. Dan sekali lagi kesadaran menyentak nya. Dia ingin pergi. Sekarang juga. Tepat di saat Hazel menyadari satu hal. Bahwa hatinya mulai menyukai Ethan Jefferson--Leandro. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN