PART 11

1052 Kata
Hazel menggeleng. Memutus keterpakuan nya dan dia merasa dia ditarik oleh Ethan. Dengan terseok Hazel mengikuti langkah Ethan meniti tangga. Bukankah seharusnya Ethan tetap diam di tempat ini dan dia yang kabur? Lalu mengapa justru dia yang harus mengikuti pria itu melangkah cepat? Mereka masuk ke dalam rumah. Hazel bisa melihat para pelayan digiring oleh Nobel Heinz untuk keluar dari bangunan utama. Nobel seakan sudah mengerti. Tuan mudanya membutuhkan ruang yang sangat luas. Langkah mereka berakhir di depan pintu utama. Sebuah pintu yang kata Hazel terlalu besar dan tinggi. Masih dengan menggenggam tangan Hazel erat, Ethan sekali lagi menekan sebuah tombol di dekat pintu dan sebuah layar dengan nomor terlihat. Ethan menekan beberapa nomor dengan cepat dan layar monitor kecil menyala. Ethan menarik tangan Hazel keras dan alat itu seperti memindai sidik jari Hazel yang Ethan tempelkan ke atas sebuah lingkaran kecil yang memancarkan cahaya biru. Lalu Ethan menekan lagi sebuah kombinasi dan memindai sidik jarinya Hazel mendongak. Ethan dengan sekali tarik membuka pintu dan pintu terbuka lebar. Hazel melihat sebuah kebebasan. Kebebasan yang dia minta pada Ethan beberapa hari ini. Tapi entah mengapa, kebebasan itu tidak lagi penting untuknya. "Melangkah lah keluar dan pergi kemana pun kau mau Haz...kalau dalam waktu 24 jam kau tidak kembali, aku tidak akan menahanmu sekalipun aku sungguh jatuh cinta padamu." Hazel membeku. Lalu tanpa menatap Ethan, kaki telanjang Hazel melangkah menjemput kebebasannya. Dia terus melangkah tanpa menoleh lagi. Semakin menjauh dan menghampiri gerbang utama rumah. Perlahan. "Nona. Sepatumu." Hazel berhenti. Dia menemukan Nobel Heinz sudah menyusul nya dengan membawa sepasang sepatu nya. "Terimakasih, Tuan Heinz." Hazel menerima sepatunya dan segera memakainya. Dia melirik ke arah pintu utama. Pada akhirnya pintu itu sudah tertutup kembali. Ethan tidak akan pernah berusaha memperjuangkannya. Karena, Ethan pasti menilainya tidak pantas untuk diperjuangkan. "Aku...pamit, Tuan Heinz." "Tuan muda hanya ingin kau berpikir tanpa dia merecoki dirimu dengan apa yang dia inginkan darimu, Nona. Dia tidak pernah bermaksud mengusirmu." "Aku tahu, Tuan Heinz." "Semoga kau bisa berpikir sepertiku, Nona. Keluarga ini penuh kebaikan. Mereka menilai dengan hati." Hazel mengangguk. Dia berbalik dan kembali melangkah menuju gerbang rumah yang sudah terbuka lebar secara otomatis. Kebebasan. Hazel menarik napas kuat. Dia merasa sesak ketika gerbang besar di belakangnya mengeluarkan bunyi derit yang sangat halus dan tertutup. Kakinya melangkah menyusuri trotoar. Lalu dia menemukan jalanan sepi yang terlihat sangat panjang. Tentu saja. Properti Ethan berada jauh di pinggiran New York. Sangat luas hingga memiliki jalan masuk sendiri. Hazel terus melangkah. Dia tahu dia tidak akan menemukan siapapun di tempat itu untuk meminta tumpangan. Jarak tetangga Ethan sangat jauh. Dan Hazel merasa dia begitu kecil saat dia melangkah di tempat seluas itu. Pohon palem berjajar rapi. Hazel mengulurkan tangannya untuk menyentuh setiap pokok pohon itu. Dan terus melangkah. Matahari berada di tengah kepala ketika Hazel berhenti di tepi jalan dan kebingungan. Dia duduk dan merasa bodoh. Dia haus sekali. Dan dia melupakan tasnya. Dompet. Dan ponsel. Dan dia tidak mungkin kembali. Hazel menahan tangis. Dia merasa dia gadis yang cukup pintar dalam akademik. Tapi dia bodoh untuk urusan hati. Kebodohannya benar-benar maksimal hingga dia akan menyulitkan dirinya sendiri. Hazel menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya terasa berat... --------------- "Tidak perlu mengikutinya. Daerah ini aman. Dan dia akan aman." "Bagaimana kalau Nona Hazel sakit? Atau...lapar?" "Dia akan kembali, Paman. Tenanglah." Ethan menaiki tangga menuju lantai atas. Dia mendorong pintu kamar yang ditempati Hazel dan menemukan tas ransel yang Hazel bawa. Dompet dan juga ponsel nya. Ethan duduk di kursi di dekat jendela. Sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan. Sangat berat untuk di dengar. Dan Ethan tahu, sangat berat untuk diucapkan oleh Hazel. Apakah ada bentuk luka lain yang sanggup mengalahkan luka yang dirasakan Hazel? Being rape? Hamil dan kehilangan. Tidak ada luka lain yang lebih dari itu sakitnya untuk seorang wanita. Dan orang akan melihat bahwa Ethan sangat kejam membuat Hazel pergi. Tapi, sekali lagi. Dia mempunyai alasan mengapa dia melakukan hal itu. Dia ingin Hazel berpikir dan mengambil keputusannya sendiri. Semua bukan karena Hazel sudah tidak perawan. Atau karena Hazel mempunyai masa lalu yang buruk dan membuat malu. Semua karena, demi sebuah kejujuran. Kalau Hazel kembali, maka itu karena dia berpikir bahwa hatinya ingin kembali. Dan karena pada akhirnya, Hazel menyadari bahwa Ethan tidak pernah memberikan nilai yang sangat rendah seperti yang kebanyakan orang lakukan. Ethan menghela napas dan mengusap wajahnya. Dia beranjak dan memutuskan untuk mandi ketika hari beranjak sore. Rumah kembali sunyi. Semua menutup mulut karena prihatin dengan apa yang terjadi. Para pelayan yang beristirahat di bangunan lain menutup rapat pintu kamar mereka. Dan mendoakan semoga ada hal baik terjadi. Hari merangkak menjadi malam yang gelap. Tak urung, Ethan menyelipkan segumpal rasa khawatir akan kondisi Hazel sekarang. Dia memutuskan untuk mematikan lampu dan duduk di ruang tamu. Ethan menyisakan nyala sebuah lampu meja di dekat pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah. Berulang kali Ethan menghela napas dan menatap nanar pintu utama. Tidak ada tanda-tanda Hazel datang. Apakah dia tidak akan datang? Apakah dia memutuskan tetap pada pemikirannya yang bodoh? Bahwa dia tidak pantas untuknya? Ethan menggeleng. Jam tua berdentang dua belas kali dari bangunan belakang rumah utama. Dan Ethan merasa waktu sudah habis. Hazel tidak kembali dan berarti dia harus merelakan dirinya patah hati. Patah hati karena wanita yang dia jatuhi cinta berpikiran kebalikan dengannya. Hazel dan seluruh prasangka nya. Mata Ethan sudah menjadi sangat berat ketika pintu utama berbunyi klik dan selanjutnya berderit halus. Lalu menutup pelan. Dan bunyi tombol ditekan dengan ritme sangat pelan. Seakan seseorang yang menekan tombol itu berusaha meminimalisir kesalahan yang mungkin terjadi. Ethan menajamkan pandangannya. Sesosok tubuh melangkah perlahan menghampirinya. Sosok itu terpaku dan tak meneruskan langkahnya saat menyisakan lima langkah saja darinya. Hazel Ann. Tak perlu menunggu apapun. Dalam dua kali langkah panjang, tubuh lelah itu terengkuh dalam pelukan Ethan yang berusaha mengatakan bahwa dialah pria yang mampu membuatnya nyaman. Yang tidak akan mengungkit apapun. Yang akan menuliskan kisah pilu itu hanya di dalam hatinya dan tidak akan pernah terucapkan secara lisan. Sebuah pembelaan telah Ethan ucapkan. Ketika dunia menjadi pengadil yang sangat kejam, Ethan berjanji, dialah yang akan menjadi pembela bagi Hazel. Tubuh lelah itu bergetar. Dan menangis. Ethan tidak merasakan balasan pelukan nya. Dan dia dapat merasakan kehancuran itu. Dia mencium puncak kepala Hazel lama. Selama gadis itu menangis. Tetap seperti itu selama beberapa menit. "Aku lapar..." Degup jantung bahkan terdengar sangat jelas meningkahi sunyi setelah pernyataan itu. "Aku akan menghangatkan pizza untukmu." Ethan menggandeng tangan Hazel ke arah dapur dengan perasaan luar biasa tenang. Karena...dia meyakini satu hal. Seseorang yang tertekan dan sedih berada dalam kondisi baik-baik saja ketika seseorang itu masih bisa merasakan lapar. ----------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN