PART 12

1029 Kata
Bau harum pizza yang dihangatkan di dekat bara api yang dengan cepat dibuat oleh Ethan membuat Hazel menghela napas. Dia menatap Ethan yang sekarang membelakangi nya dan terlihat sibuk mengaduk sesuatu dalam dua buah mug. Coklat panas untuk Hazel dan untuk dirinya sendiri. Dan Ethan berbalik membuat Hazel menunduk. Mug berisi coklat panas yang masih mengepul berpindah ke depan Hazel. Hazel menatap kepulan yang melambung melewati kepalanya dan berpendar menghilang tertelan cahaya lampu dapur bersih. Lalu satu loyang pizza yang dipotong membentuk persegi ada di hadapannya disusul suara Ethan yang menyusul duduk di sampingnya. "Makanlah." "Terimakasih." Hazel meraih mug dan menyesap coklat panasnya. Mengabaikan panas yang membuat lidahnya sedikit terbakar, Hazel merasakan hangat melewati tenggorokan nya. Tubuhnya seketika menghangat. Dia meraih sepotong pizza dan memakannya pelan. Sambil mengunyah dia melirik Ethan yang menggenggam mug dan menyesap coklat panasnya. Wajah pria itu sangat tenang. Juga gestur tubuhnya. Rahang yang ditumbuhi rambut halus yang sedikit tebal itu terlihat berkali lipat lebih tegas ketika pria itu sedang terdiam. Pundak pria itu? Rasanya, Hazel seperti melihat sebuah tempat dimana dia bisa meletakkan seluruh dunianya dan memiliki harapan untuk yang pertama kalinya. Tapi, Hazel merasa dia tidak berhak. Apa yang dipikirkan Ethan? Hazel bertanya dalam hatinya sendiri. Apa pendapat Ethan tentang dia yang memutuskan untuk kembali? Kunyahan slice pertama sudah Hazel habiskan dan dia kembali menyesap coklat panasnya. Sekali lagi dia melirik Ethan sambil meletakkan mug yang menyisakan setengah lagi isinya. Jari Hazel terulur. Kukunya yang tidak tajam menyentuh pergelangan tangan Ethan, membuat pria itu terpaku. Hazel tidak tahan ingin melakukannya. Memecah lamunan Ethan... Ethan menoleh. Hazel menaikkan satu alis nya ketika Ethan dengan gerakan tenang merunduk ke arahnya dan... Menjilat sudut bibir Hazel dengan lidahnya. Hazel terpaku sementara Ethan tetap terdiam. Kembali mendongak dan menekuri pemandangan di depan. Tungku pemanggang pizza. Hazel menghela napas perlahan. Dia masih merasakan hatinya begitu biru. Dia bingung harus melakukan apa? Lalu apa keputusan Ethan tentang perasaannya? "Ethan..." Akhirnya. Hazel merasa dia harus memulai pembicaraan. Ethan menoleh dan tersenyum. "Ya? Kau masih lapar? Atau mau makan sesuatu yang lain?" Hazel menggeleng. "Bagaimana...denganmu?" Ethan menghela napas perlahan. "Ayahku benar. Wanita adalah makhluk super membingungkan. Kau juga. Kau masih bertanya bagaimana denganku?" "Aku..." "Tadi pagi, aku mengatakan bahwa aku akan menuliskan kisahmu di sini..." Ethan meraih tangan Hazel dan membawanya menyentuh dadanya. "...dan menyimpannya tanpa pernah sekalipun akan mengingatnya." Hazel menatap manik mata Ethan dan dalam sekejap dia merasa kalah. "Apa yang akan dikatakan orang tuamu tentang...perbedaan umur..." Ethan tertawa pelan. "Apakah kau berpikir karena aku lebih muda darimu, maka aku...tidak hebat di ranjang?" "Tentu saja aku tidak sedang berpikir seperti itu. Tuhaaaan...kau! Apakah di otakmu itu isinya hanya..." "Ranjang? Setiap pria seperti itu, Haz." "Tidak lucu, Ethan!" Ethan tertawa lagi. "Aku takut! Bagian itu. Pengalamanku begitu...buruk." Ethan terpaku. "Aku hanya ingin menghiburmu. Maaf kalau aku konyol. Aku tidak bermaksud apapun. Aku bisa menunggu." "Itu sama saja!" Hazel memukul lengan Ethan lembut dan tertawa sumbang. Ethan terdiam. Menatap Hazel lembut dan mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Aku serius tentang jatuh cinta padamu. Kejadian buruk itu tidak mengurangi kadarnya." Suara Ethan terdengar serius dan dia tidak melepaskan tatapan nya pada Hazel. "Menjadi sepasang kekasih bukan saja tentang kita, Ethan. Akan banyak sekali perasaan yang harus kita jaga." "Mengangguk lah dan aku akan menyelesaikan sisanya?" Hazel menggeleng. Dan Ethan menjadi gemas karenanya. Dia meraih kepala Hazel dengan kedua tangannya dan mengangguk-anggukkan kepala Hazel. "Kau memaksaku..." "Akan terus aku lakukan sampai kau bilang iya." "Ooh...Tuan pemaksa." Hazel mencoba menggeleng dan tidak bisa. "Suatu hari...apakah kau akan mengatakan sesuatu yang buruk saat kau marah padaku? Sangat marah dan aku tidak termaafkan?" Hazel bertanya dengan serius. "Aku sering mengumpat." "Bukan itu..." "Aku sudah berjanji Haz. Tidak akan. Dan aku adalah pria yang menjunjung sebuah janji di kepalaku." Sangat serius. Nada suara Ethan sangat serius. Dan Hazel bergidik mendengarnya. Rasanya Hazel tidak mungkin bisa menemukan sebuah celah untuk tidak percaya. Ethan menutup semua akses ke perasaan itu. Tangan Hazel terulur. Mengusap rahang Ethan dan mendesah putus asa. "Kau sangat tampan, kau tahu?" "Aku tahu. Dan kau akan mengatakan bahwa aku berhak mendapatkan yang lebih baik darimu." "Tepat seperti itulah yang ingin aku katakan..." "Kau tidak bisa berbuat banyak karena aku hanya menginginkanmu, Haz. Aku memaksa." "Oooh..." "Banyak sekali wanita yang lebih baik darimu. Banyak. Tapi aku hanya menginginkanmu. Mau bilang apa?" Bahu Hazel luruh. Sifat keras kepala sepertinya sudah mendarah daging dalam diri Ethan. "Kau mengantuk? Ayo kita tidur." Ethan mengajukan sebuah pertanyaan dan ajakan yang bernada ambigu. Hazel mengenyit. "Kau tidak ingin mendengar jawabanku?" "Tidak. Aku sudah tahu." "Percaya diri sekali." Ethan tertawa dan meraih tangan Hazel lalu menariknya pelan. Mereka melangkah masuk dan meniti tangga menuju lantai teratas. "Aku akan menceritakan padamu, sebuah kisah tentang seorang pria yang menjebak seorang wanita untuk tinggal di apartemen nya." "Adakah yang seperti itu? Model manusia seperti apa dia?" Hazel bertanya dengan heran. Adakah pria seperti itu? Apakah dia tidak punya hati untuk merasa kasihan pada wanita yang di jebak nya? "Aku belajar banyak dari cerita itu." "..." Ethan menarik tangan Hazel untuk duduk di sebuah sofa. Dia juga meraih sebuah selimut dan menyelimuti Hazel yang bersandar di sandaran sofa. Ethan menyusul masuk ke dalam selimut dan Hazel berjenggit. "Apakah kita tidak terlalu mesra?" "Mau bagaimana lagi Haz? Ini salah satu yang dilakukan pasangan kekasih." "Pasangan kekasih?" "Kita Haz." "Aku belum mengangguk." Ethan meraih kepala Hazel dan menganggukkan nya berulang kali. Hazel tertawa pelan. Ethan sangat konyol. Ethan merangkul Hazel dan mereka sama-sama bersandar di sofa. Hazel, tentu saja masih merasa canggung. Tubuhnya bergerak kaku dan Ethan mengusap bahunya. Berusaha menenangkan dan mengatakan bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi sekarang atau pun nanti. "Ethan..." "Hmm...' "Bisa kau mulai ceritanya?" "Sampai kau tenang baru aku kan memulai." Hazel terdiam. Dia menatap Ethan yang menatap ke angkasa sembari terus mengusap bahunya. Oooh...dia benar-benar terjebak bersama daun muda. Hazel merasa sangat aneh! Tiba-tiba Ethan menoleh dan menatap Hazel putus asa. "Ini sulit dipercaya Haz. Perasaanku padamu adalah sebuah kombinasi yang menyulitkan aku. Cinta, ingin melindungi, ingin membahagiakan dan...nafsu. Sesuatu yang menerjang terlampau cepat dan dalam sekejap aku merasa aku tidak mungkin bisa kehilangan. I do love you Haz..." Hazel terpaku. "Oooh...itu...aku tidak percaya itu. Aku...bukan siapa-siapa." Terpenjara. Dalam sebuah ciuman putus asa. Itu yang dirasakan oleh Hazel ketika bibir Ethan merangkum nya dalam sebuah gerakan tergesa. Terpaku. Dalam kebingungan antara rasa bangga dan tak percaya diri. Itu yang Hazel rasakan ketika dia memejamkan mata dan membalas ciuman Ethan. Menari. Dalam gelisah tentang masa depan yang belum bisa dibayangkan akan seperti apa nantinya. Menyerah. Dalam pesona tak terbantah salah satu pria Leandro dengan garis Jefferson mengalir dalam darahnya. "Aku jatuh cinta dan ini akan sangat menyulitkanku." Hazel berbisik lirih di sela ciuman mereka di malam menjelang dini hari itu. Ethan tertawa pelan. ------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN