Kenyataannya...
Menjadi karyawan biasa itu sangat sulit. Pekerjaan mereka tidak semudah yang terlihat.
Gemma Kessinger.
Berulang kali menatap Ethan dengan tatapan prihatin. Wanita itu jelas terlihat menahan dirinya agar tidak meluap. Semua karena Ethan, bahkan kesulitan melaksanakan tugasnya melipat handuk.
"Well...Mr Watts--Ethan memakai nama Christopher Watts dalam penyamarannya kali ini-- ini adalah lipatan paling sederhana dan kau terlihat kesulitan? Baiklah. Aku akan mengajarimu dengan..." Gemma meraih sebuah plester berwarna hitam dan merobek nya sepanjang kurang lebih tiga puluh sentimeter.
"Bentangkan satu handuk di meja." Gemma memberi perintah dan Ethan mengikutinya.
Handuk putih terbentang di atas meja.
"Aku akan memberi tanda di sini." Gemma merekatkan plester ke handuk. Dua plester berwarna hitam kini membentuk tanda silang.
"Kita akan melipat ujung handuk ke arah tanda silang ini. Tepat di tengah tanda. Seperti ini..." Gemma melipat satu ujung handuk ke arah dalam. Dua ujung handuk itu tidak bertemu di tengah tanda silang, tapi ujung satunya lagi ditangkupkan melewati lipatan yang pertama dan dilebihkan sepanjang lima sentimeter.
"Lalu kita akan menangkupkannya menjadi satu bagian dan menggulung nya. Pastikan, garis hitam terlihat dan ujung handuk dengan brand hotel ini berada di sebelah kanan atas."
"Bagian ini aku mengerti."
Gemma mendesis.
"Kau benar. Tapi kau menggulung handuk tidak sama rata karena kau melipatnya tidak simetris. Kau tidak melebihkan lima centimeter ke depan hingga garis hitam tertutup dan brand hotel tak terlihat. Maka aku memberimu tanda silang itu. Supaya lebih mudah mengukurnya."
Dahi Ethan mengernyit.
"Perlukah hal seperti ini? Orang tak akan terlalu memperhatikan lipatan handuk..."
"Kau salah anak muda. Kau lihat hotel Leandro yang megah dan mewah ini? Mereka istimewa di setiap sudut dan lini. Termasuk urusan handuk yang kau anggap kecil itu. Kau pasti tahu, sesuatu yang besar terdiri atas sesuatu yang kecil. Kebesaran itu terlihat istimewa karena di dalamnya ada bagian-bagian kecil yang istimewa pula."
Ethan terpaku. Gemma benar. Sesuatu yang besar dan hebat tentu saja karena ada penopang hebat di belakang atau di dalamnya.
"Cobalah tanpa memakai plester. Kau harus memakai...rasamu." Gemma mengarahkan.
Gagal.
Dan gagal.
Lalu gagal lagi.
Sampai kemudian Gemma berteriak senang karena Ethan berhasil melakukan pekerjaannya dengan benar.
Setelah lebih dari 11 kali mencoba. Pada lipatan kedua belas mereka berdua menunduk menatap lipatan handuk hasil karya Ethan bagaikan menatap hidangan karya master chef ternama. Cukup rapi walaupun belum sesuai dengan standar Gemma.
"Dan kau harus cekatan. Dan cepat. Limapuluh handuk dalam 10 menit. Kau mau lihat bagaimana aku melakukannya?"
Tak perlu menunggu jawaban Ethan, Gemma membuktikan ucapannya. Tangannya bergerak lincah. Cepat dan cekatan. Ethan menatapnya kagum. Dan benar saja. Limapuluh handuk dalam sepuluh menit saja.
"Kau hebat Gemma. I appreciate that."
"Aku menyukai pekerjaanku Chris. Aku sudah 30 tahun mengabdi pada keluarga Leandro. Pekerjaanku ini adalah gairahku. Aku ingin melakukan yang terbaik sebelum mereka membuatku pensiun enam bulan lagi. Oh...aku ingin bertahan di tempat ini sampai aku tidak sanggup melakukan apapun Chris...tapi...umur ku tidak memungkinkan. Waktuku sudah tiba. Pensiun."
Gemma menatap ruangan perlengkapan itu. Matanya menjelajah penuh bahagia. Ethan bisa merasakan koneksi kuat terjadi antara Gemma dan ruangan itu. Tentu saja. Tiga puluh tahun bukan waktu yang sedikit bukan? Kau akan menjadi satu keluarga dalam rentang waktu selama itu dan menciptakan banyak sekali kenangan.
"Berapa umurmu Gemma?"
"Aku 50 tahun sekarang. Mereka akan menggantikan ku dengan tenaga-tenaga muda yang lebih kuat dan produktif."
"Kau sangat hebat, Gemma. Tidak seharusnya mereka menggantimu begitu saja."
"Aku ingin seperti itu. Tapi...kebijakan perusahaan membuatku tidak sanggup melakukan apapun selain menerima. Aku harus pensiun 6 bulan lagi."
"Kalau kau bisa meminta Gemma, apa yang akan kau minta pada perusahaan keluarga Leandro atas pengabdianmu yang begitu lama?"
"Aku tidak ingin pensiun. Aku ingin berada di sini sampai aku tidak sanggup. Posisi kepala ruang perlengkapan sepertinya tak memakan banyak tenaga, kalau tentang tenaga yang mereka khawatirkan tentangku. Posisi itu sudah kosong selama 3 bulan lebih..."
Gemma berbisik dan tertawa. Ethan juga ikut tertawa. Tanpa sadar mereka melakukan pekerjaan mereka sambil mencurahkan hati masing-masing. Tentang Ethan yang bangkrut dan tentang Gemma dan kekhawatirannya.
Dan tentang Gemma yang harus menyekolahkan cucunya ke universitas tahun ini. Dan dia belum menemukan biayanya.
Ethan menyesap jusnya. Mereka berdua tengah beristirahat di antara lalu lalang karyawan yang keluar masuk mengambil perlengkapan. Seperti halnya di kota lain, bersama dengan orang-orang seperti Gemma, Ethan nyatanya adalah seorang good listener, yang mampu membuat seseorang yang tengah dalam kondisi kalut seperti Gemma, menjadi nyaman berbicara dengannya. Ethan mendengarkan Gemma dengan teliti tanpa melepaskan tatapan matanya pada Gemma. Genggaman tangan Ethan layaknya seorang anak pada Gemma mengantarkan mereka pada sore yang sedikit melelahkan namun terasa ringan. Bagi Gemma dan Ethan.
Ethan melangkah keluar dari lift dan menghampiri mobilnya di basement. Begitu masuk ke dalam mobil, Ethan tak lantas melajukan mobilnya. Dia berdiam diri cukup lama. Pikirannya berkecamuk. Dia menyukai sifatnya yang seorang pemikir. Namun sifat itu juga sedikit membuatnya kesulitan karena dia menjadi memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Apa yang harus dilakukannya untuk memberikan penghargaannya pada Gemma. Atau...dia harus mengetahui dengan segera, kenapa manajemen hotel membiarkan sebuah posisi penting seperti kepala bagian perlengkapan kosong begitu lama sedangkan posisi itu sangat krusial dalam sebuah perusahaan perhotelan.
Ethan melajukan mobilnya perlahan. Dia menunduk saat dia keluar dari basement dan melewati sebuah portal lalu menyusuri halaman samping hotel dan keluar dari gerbang samping.
Ethan tersenyum saat melihat Gemma berdiri di pedestrian dengan seorang pemuda berkacamata yang terlihat sangat menyayangi nya. Mungkin saja itu cucunya yang Gemma ceritakan dengan penuh kebanggaan tadi.
Ethan melanjutkan perjalanannya untuk sekedar makan di tempat yang tidak terlalu mencolok, lalu pulang ke losmen dan memikirkan sebentar akan seperti apa esok pagi, lalu beristirahat. Dia berpikir untuk menghubungi Brenda, kekasihnya yang tak terlalu menyetujui langkah penyamarannya. Ethan mengingat kembali, sudah berapa lama dia tidak menemui Brenda? Ooh...dua minggu terakhir ini dia tak menemukan Brenda membalas satupun pesannya. Ethan berpikir, mungkin Brenda membutuhkan waktu sendiri agar dia mengerti apa yang Ethan lakukan sekarang.
Ethan membelokkan mobilnya ke sebuah kafe dengan nuansa kebun di sisi kiri jalan. Sesaat kemudian dia sudah masuk dan memilih tempat di sudut kafe. Dia tidak bisa berhenti memikirkan, apa yang harus dia lakukan besok. Waktu enam hari penyamaran pastilah sangat sempit untuk mengetahui seluruh seluk beluk bisnis keluarganya, tapi dia akan menarik sebuah benang merah untuk menjadi sebuah garis besar, agar dia bisa melakukan sesuatu yang tepat untuk hotel Leandro di Delaware.
--------------------------------