"Iya, Bu. Nanti...Ana usahakan Minggu depan bisa kebeli ya. Tapi, maaf kalau...nanti Ana enggak bisa wujudinnya."
"Enggak apa-apa, lagi pula sudah ada yang nawarin kontrakan di dekat sini kok. Harganya juga murah pertahunnya. Ibu cuma kasih kabar aja supaya kamu enggak kaget."
"Iya, Bu."
"Ya sudah, kamu lanjut kerja aja."
"Iya, Bu."
Ana menimang ponselnya, ia mulai resah memikirkan kondisi keluarganya di rumah. Ana menarik napas panjang, lalu ia bangkit dan melihat ke sekeliling kamarnya. Terlihat seperti kapal pecah. Ia pun segera membersihkannya. Setelah bersih, rapi, dan wangi, ia segera mandi. Setelah itu, ia membuka pintu kamarnya lebar-lebar agar udara berganti.
Thea terkejut melihat pintu kamar Ana yang terbuka. Ia segera menghampiri. "Wah, bersih banget kamar kamu. Udah semangat nih kayaknya."
"Iya, Thea..."
"Gitu dong!" Thea duduk di sisi tempat tidur.
"Aku butuh kerjaan baru, Thea, secepatnya."
"Wah, cari dimana ya?" Thea berpikir.Nanti deh aku tanyakan sama Boy, dia lumayan banyak relasi. Siapa tahu bisa bantu kamu cari kerja."
"Aku ikut kamu kerja ya?"
"Nanti kamu mabok lagi. Jangan ya."
"Aku janji deh enggak bakalan minum. Aku mau nanya langsung sama Boy. Biar enak aja." Ana memberikan tatapan memohon pada Thea.
Thea menghela napas panjang."Ya ampun, Ana...oke deh, kamu ikut. Janji ya enggak minum lagi!"
"Oke janji!" Ana bersorak senang.
Sesuai dengan kesepakatan, Ana ikut Thea ke tempat kerjaannya untuk menemui Boy. Saat itu masih sore, semua pegawai sedang bersiap-siap.
"Hai, Boy!" Ana menyapa Boy yang tengah membersihkan meja bartender.
"Hai, An, selamat datang kembali." Boy tersenyum ramah.
Thea duduk di kursi."Boy, punya informasi lowongan kerja enggak?"
"Lowongan kerja apa, nih? Kalau aku banyak sih,"ucap Boy ragu-ragu.
"Wah syukurlah kalau gitu." Ana memekik senang.
"Ada sih kerjaan, Ana...tapi berdasarkan cerita Thea,kayaknya kamu bukan tipe wanita yang bisa kerja gitu deh."
"Kerja apa, Boy?" Thea melotot ke arah Boy.
"Iya, kerja apaan?" Ana penasaran.
"Nemenin tamu yang liburan."
"Maksud lo?" Thea memukul meja dengan keras."Jangan aneh-aneh lu, Boy!"
"Ya ampun, Thea, kan aku cuma ngasih tahu aja ada pekerjaan. Namanya juga lowongan kerja dari aku, ya begitu. Tapi, gajinya lumayan gede. Nah, semua itu balik ke Ana, mau apa enggak. Kalau nolak, ya juga enggak apa-apa."
"Kerjanya ngapain aja, Boy?"
"Jadi, temenku punya resort, biasanya banyak yang liburan di sana. Misal seorang pria single, lalu...tugas kamu adalah menemani tamu itu sampai liburannya selesai. Tapi, konteks 'nemenin' ini luas loh, An. Bisa aja dia minta temeni makan, jalan-jalan, bahkan tidur."
Thea menggeleng kuat."Wah...wah, jangan, An...kamu kan bukan orang begitu."
"Tapi, aku mau coba, Thea."
"Tapi, bisa aja kamu disentuh laki-laki di sana, Ana, bisa jadi kamu ditidurin juga. Kamu mau? Jangan ngikutin kehidupan aku, Ana." Thea terlihat khawatir."Kamu bisa cari kerjaan lain, kamu kan punya pengalaman di perkantoran. Kamu bisa lamar kerjaan di kantor-kantor juga."
Ana menggeleng."Aku enggak mau lagi, Thea, rasanya masih sakit."
"Ana, kamu yakin? Nanti kamu nyesel loh?"
"Aku butuh uang, Thea, aku akan berusaha menjaga diri sebaik mungkin." Ana tertunduk sedih.
"Kalau ini sudah jadi keputusan kamu, An,aku hanya bisa dukung. Yang penting kalau ada apa-apa kasih kabar ke kita secepatnya ya."
"Iya, Thea."
"Jadi gimana nih? Setuju ya?"tanya Boy memastikan.
"Iya, Boy, aku mau,"jawab Ana.
Boy mengangguk, kemudian mengambil ponselnya. "Aku hubungi temen aku itu ya."
"Iya."
Thea mengusap lengan Ana. Sebenarnya ia tidak ingin temannya itu bekerja seperti itu, tapi ia sendiri tidak bisa memberikan solusi lain. Biarlah sementara seperti ini, yang terpenting sebagai teman mereka akan saling menguatkan.
"Besok kita ketemu sama temen aku itu ya, An. Soalnya Dia lagi butuh cepet juga tuh."
"Dimana, Boy?"
"Di resortnya."
"Aku ikut!"kata Thea cepat.
"Iya...iya."
Ana menghela napas lega. Entah ini jalan yang benar atau tidak. Yang terpenting sekarang adalah, ia sudah mendapatkan pekerjaan. Semoga semua baik-baik saja.
**
Ana mendekap ponselnya dengan haru. Ia baru saja mengabarkan pada sang Ibu bahwa ia sudah mentransfer sejumlah uang untuk membayar rumah yang mereka tinggali dan menyelesaikan semua urusan surat-suratnya. Setelah ini, tidak akan ada masalah mengenai rumah warisan itu lagi. Ana sudah menandatangani sebuah kontrak, ia akan menemani salah seorang tamu yang akan datang sore ini. Ia bersyukur bisa mendapatkan uang di muka. Dan katanya, nanti setelah kontaknya berakhir, ia juga akan mendapatkan uang. Setiap, tamu, maka ia mendapatkan satu surat kontrak. Tapi, Ana juga memberikan persyaratan, ia hanya mau menjadi 'teman' dari pria mana pun, asalkan bukan berstatus suami orang. Pihak pemilik resort menyetujuinya.
Ana diberi fasilitas penunjang, seperti pakaian, makan, dan tempat tinggal. Kini, Ana mematut dirinya di depan cermin besar. Ia tampak seksi dengan bikini two pieces bewarna merah. Ia akan bertemu dengan 'tamunya' sore ini. Tapi, ia berniat berenang terlebih dahulu karena sepertinya tamunya yang bernama Randy itu belum datang. Baru saja ia hendak menceburkan diri ke kolam, ia mendengar suara ketukan sepatu mendekat ke arahnya. Ana mengurungkan niatnya untuk berenang lalu menoleh. Mereka sama-sama kaget.
"Loh?"
"Ba...Bapak!" Ana beringsut mundur. Ia benar-benar kaget saat bertemu dengan orang yang saat ini sangat ia benci.
Randy meneguk salivanya. Sementara pandangannya tak bisa lepas dari lekukan tubuh gadis itu."Ana...."
Mata gadis itu memancarkan aura kebencian pada Randy. Ia tidak akan pernah bisa lupa bagaimana perilaku Randy padanya beberapa waktu yang lalu.
"Kenapa anda ada di sini?"tanya Ana, ia masih belum sadar seutuhnya bahwa ia tengah memakai bikini.
Randy berdehem, berusaha mengalihkan pandangannya sejenak dari tubuh sintal Ana. "Saya...liburan."
"Liburan?" Ana tertawa sinis.
"Memangnya kenapa? Saya tidak boleh liburan?"tanya Randy.
"Maksudnya kenapa Bapak masuk ke sini?"
"Ini ...adalah tempat yang saya sewa dan...saya mencari seorang wanita yang katanya akan menjadi teman saya selama liburan di sini. Namanya...Ana."
"Itu ...saya."
Randy tertawa geli."Jadi...kamu wanita yang diberikan pada saya? Ya ampun! Kebetulan sekali."
"Seharusnya saya tidak menerima tamu atas nama Randy,"kata Ana menyesal.
Randy menyeringai,"lalu kenapa kamu menerimanya?"
"Bukankah nama Randy itu begitu banyak. Tapi, saya lupa kalau dunia ini begitu sempit. Ternyata saya harus bertemu dengan Anda lagi!" Ana melipat kedua tangan di d**a. Hal tersebut membuat payudaranya semakin memadat dan mencuat keluar.
Tubuh Randy menegang seketika. Ia tahu, sikap Ana yang seperti ini adalah bentuk dari rasa sakit hati. Ia sudah memecat gadis itu."Lalu...bagaimana? Kamu sudah menandatangani kontrak bukan? Saya juga sudah bayar. Artinya...kamu harus tetap menemani saya liburan selama di sini."