Ana mengigit bibirnya. Uang yang ia terima sudah ia serahkan pada sang Ibu . Andai uang itu masih utuh, ia akan langsung membatalkan kontrak. Ia terlihat memejamkan mata,lalu mengembuskan napas perlahan. Lagi pula, ia tidak pernah menyangka kalau mantan bosnya itu berlibur lalu menyewa seorang wanita. Maksudnya, ia memang tidak tahu menahu mengenai sisi lain dari Randy. Tapi, ia cukup terkejut bahwa orang yang harus ia temani adalah pria yang saat ini paling tidak ingin ia temui.
"Baiklah, karena ini urusan pekerjaan...saya akan profesional." Ana terlihat berusaha menenangkan diri. Ia berusaha meyakinkan hati bahwa ini adalah tentang mendapatkan uang. Ia harus berjuang, untuk keluarga.
Randy mengangguk."Baiklah...kamu paham kan kalau kamu harus menemani saya kemana pun!" Randy menekankan kata 'kemana pun'.
Ana melirik, ia mulai panik. Namun, ia berusaha bersikap santai agar mantan bosnya itu tidak merendahkannya."Baik. Saya bekerja sesuai dengan kontrak."
"Kalau begitu, bersikaplah yang manis!" Randy menyeringai.
Ana meneguk salivanya."Baiklah, sebaiknya Anda juga bersikap yang baik. Agar semuanya berjalan dengan lancar. Mari saya antar ke kamar."
Randy sampai di kamarnya yang cukup luas, bersih, dan nyaman. Ia membuka jendela dan langsung mendapat pemandangan yang indah. Benar&benar sesuai dengan yang ia harapkan. Sebenarnya, ia ingin liburan dengan Rachel. Tapi, Rein menolaknya dengan keras. Alhasil, Randy liburan sendiri dan memutuskan untuk menyewa seorang wanita untuk menjadi temannya selama di sini. Tapi, wanita itu ternyata adalah Ana, mantan karyawannya. Ia melirik ke arah Ana yang tampak sibuk merapikan barang-barangnya. Sepertinya Ana melaksanakan tugas dengan baik.
"Semua barang-barang Anda sudah saya masukkan ke dalam lemari. Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?"
Randy berjalan mendekat. Ia menatap tubuh Ana dengan intens."Pakai baju kamu!"
Ana melihat dirinya sendiri, lalu ia tersadar bahwa sedari tadi ia hanya memakai bikini."Permisi, Pak. Nanti saya kembali.
"Ana...masih aja teledor! Terkadang...polos dan bego itu hanya beda sedikit." Randy tertawa. Ia menuju balkon dan menikmati pemandangan indah di hadapannya.
Ini sudah lima belas menit waktu berlalu, Randy melihat jam tangan berkali-kali. Ia menunggu Ana dengan kesal. Ia tidak suka jika ada yang bermain-main dengan waktu. Lima belas menit kemudian, Ana muncul dengan gaunnya yang cukup terbuka.
"Selamat malam, Pak,"sapa Ana dengan manis. Terlalu manis untuk diberikan pada lelaki seperti Randy
"Sudah jam berapa ini? Kamu terlambat setengah jam!"kata Randy
Ana tersenyum, lalu berjalan menghampiri Randy. Diusapnya d**a Randy dengan lembut."Enggak ada kata terlambat, ini kan bukan kantor. Santai saja...."
"Saya itu cuma nyuruh kamu ganti baju, bukan ganti muka. Lama banget!"omel Randy.
"Waduh, Pak...saya kan harus tampil menawan jadi,ya...harap maklum kalau lama."
"Enggak ada yang berubah. Biasa aja penampilannya. Ayo...saya lapar." Randy berjalan, ia mengabaikan Ana yang terkesan sedang menggodanya.
Ana mendengus sebal, lalu ia menghentakkan kakinya saat Randy sudah berjalan duluan. Randy memutar tubuhnya melihat ke arah Ana, lalu Ana berpura-pura sedang menari.
"Kamu ngapain?"
"Ngggg....saya nari, Pak. Belajar nari." Ana tersenyum polos, lalu ia berdiri di sebelah Randy.
"Belajar nari untuk apa?"
"Saya...akan menari striptis di depan Bapak,"kata Ana.
Randy terdiam, ia menatap tubuh Ana, lalu membuang wajahnya saat menyadari Ana tengah menatapnya juga."Oke...nanti kamu harus menari di atas saya."
"Hah?" Ana melongo. Ia masih mencerna kalimat Randy barusan. Apa maksud Randy, pikirnya.
Sementara itu, Randy tertawa di dalam hati. Ia tahu, Ana itu masih polos berdasarkan apa yang ia lihat selama ini. Tapi, entah kenapa wanita itu malah memilih pekerjaan seperti ini setelah keluar dari kantor. Untung tubuh wanita itu seksi, kalau untuk menjadi penggoda sepertinya Ana tidak ahli dalam hal tersebut.
"Pak, maksudnya menari di atas Bapak itu...apa?"
Randy mendekatkan wajahnya ke arah Ana."Enggak tahu?" Randy menggeleng-gelengkan kepalanya."Kasihan sekali! Ganti pekerjaan sana!" Randy pun berjalan duluan.
Ana menarik napas panjang, ia menatap Randy yang semakin menjauh."Udah enggak karyawannya pun masih disepelekan? Enggak punya hati lu, Ran. Pengen aku ulek muka lu pakai kaki kuda."
"Sabar, Ana...profesional, anggap aja Randyan Radana itu Nick Bateman. Dan kamu Maria Corrigan,"ucap Ana menghibur diri. Ia menarik napas panjang, mengeluarkannya perlahan. Lalu, ia tersenyum. Ia harus menyiapkan hati, pikiran, dan tenaganya untuk melaksanakan pekerjaan ini. Ia sudah menerima uangnya, oleh karena itu harus bekerja secara maksimal agar Thea dan Boy yang sudah membantunya tidak kecewa. Ia harus stok kesabaran banyak-banyak.
"Baiklah, aku harus makan sekarang. Karena pura-pura bahagia di depan Pak Randy itu butuh tenaga." Ana melangkah menyusul Randy yang sudah duluan.
"Selalu aja terlambat,"kata Randy yang sudah duduk di kursi makan. Beberapa pramu saji ada di sekitar meja menyajikan makanan spesial untuk tamu kehormatan, yaitu Randy.
Ana hanya tersenyum manis, lalu duduk di depan Randy."Jadi, bagaimana kabar Bapak?"
"Baik."
Ana menarik napas, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Lalu ia tersenyum kembali."Syukurlah kalau begitu."
"Ya memang begitu, memangnya aku akan bagaimana tanpa kamu di kantor?"kata Randy tanpa menatap Ana. Matanya sibuk menatap tenderloin yang sedang ia potong.
Hati Ana seperti sedang ditancapkan pisau tajam. Lelaki itu masih saja bicara padanya dengan bahasa dan istilah-istilah seperti ketika ia masih bekerja di kantor Randy."Iya, Pak. Tentu saja seorang Pak Randy akan baik-baik saja. Tanpa karyawan pun, usaha Bapak akan tetap berjalan dengan lancar."
Kali ini, Ana tidak perlu ragu atau takut membalas ucapan Randy seperti dulu.
"Tidak juga."
"Ya seperti itulah, Bapak...sepertinya belum bisa move on dari saya,ya?"
Gerakan Randy terhenti, kini ia menatap mantan karyawannya itu."Maksud kamu?"
Ana tersenyum penuh arti,"cara bicara Bapak...seperti seolah-olah saya ini masih karyawan Bapak. Masih membahas masalah pekerjaan juga. Apa...sebenarnya Bapak masih terbayang-bayang bahwa saya adalah karyawan Bapak?"
Randy terdiam, bingung, dan tidak tahu harus bicara apa. Ia memilih melanjutkan makan malamnya. Tidak ada pembicaraan lanjutan di saat makan malam berlangsung, hal itu terjadi sampai selesai. Ana terdiam, menatap Randy yang sepertinya sedang larut dalam pemikirannya sendiri. Karena bosan, Ana mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu memainkannya. Randy melirik gadis itu, lalu mengambil ponselnya.
"Jangan bermain hape kalau sedang bersamaku."
Ana mendengus."Baiklah."
Randy menyimpan ponsel Ana di kantong jasnya."Ayo!”Ia berdiri lalu berjalan ke arah luar.
Ana menurunkan dress ketat yang ia pakai, lalu berjalan cepat, mensejajarkan langkahnya dengan Randy. Ternyata lelaki itu pergi ke balkon. Tatapannya menjurus ke depan, terlihat dari raut wajahnya. Seperti sedang menyimpan banyak masalah.
"Jadi, Bapak pergi berlibur karena banyak masalah?"tanya Ana tiba-tiba.
Randy menoleh."Darimana kamu menyimpulkan seperti itu?"