Bab 6

1013 Kata
"Raut wajah Bapak." Ana pun duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Ia tak kuat berdiri lama-lama mengenakan sepatu tinggi itu. "Memangnya salah kalau saya pergi liburan di saat ada masalah? Memang seharusnya begitu kan?"balas Randy."Lagi pula ini bukan masalah kantor." "Ya...tidak salah...." Ana membuang pandangannya ke hamparan pepohonan di depan mereka. Angin berhembus, membuat tubuhnya terasa kedinginan. Terasa aneh, saat mereka sedang berada di daerah pegunungan tetapi ia diharuskan memakai gaun terbuka seperti ini. "Kamu kedinginan?" "Iya." Randy membuka jasnya."Pakai ini." "Sebenarnya kita perlu masuk saja ke dalam, Pak. Pasti hangat...." Ana menerima jas Randy, lalu memakainya. Randy tersenyum, lantas ia duduk di sebelah Ana."Mau di luar atau pun di dalam...akan sama-sama hangat jika ada kau dan aku." Ana tertawa kecil."Saya bingung maksudnya apa, Pak." "Begini..." Randy memeluk pundak Ana dan merapatkan tubuh mereka. Wajah dan telinga Ana terasa panas, ia merasa sangat aneh dengan posisi ini. Berdekatan dengan mantan bos yang ia benci dulu. Tapi, kali ini rasa kebenciannya hilang seketika saat melihat setiap inchi wajah Randy. Pesona seorang pria dewasa memang sangat berbeda. "Sekarang mulai terasa hangat kan?" "Tapi, Pak...saya...." Ana berusaha menggeser duduknya. Randy mengeratkan pelukannya."Jangan menjauh... kemana pun kamu pergi saat ini, kamu adalah milikku bukan?" "Milik Bapak?" "Iya, bukankah kamu bekerja memang untuk menemaniku? Jadi, saat ini kamu milikku kan?" Ana tertunduk malu."Iya, Pak." "Baiklah, kita lupakan sejenak urusan pekerjaan. Lupakan kalau aku adalah mantan bosmu. Sekarang kita adalah teman." "Baik, Pak." "Berarti kamu harus ubah juga panggilanmu itu,"bisik Randy. "Tapi, saya harus panggil apa?" "Panggil saja Randy." "Baiklah, Randy." Ana merasa sangat aneh memanggil lelaki itu dengan sebutan nama. Tapi, memang ada benarnya juga. Di sini mereka bukanlah sebagai atasan dan bawahan. Mereka sekarang adalah teman. "Ana...." Ana menoleh."Iya, Ran?" Randy mendekatkan wajahnya."Kamu punya pacar?" Ana menggeleng."Enggak." "Berarti tidak akan ada yang marah bukan?" "Tidak ada yang marah untuk apa?"tanya Ana tidak paham. Perlahan Randy mendekatkan wajahnya, lalu ia mencium bibir Ana. Tubuh wanita itu menegang seketika. Randy melepaskan ciumannya lalu menatap Ana. "Balas ciumanku." Ana meneguk salivanya. Ia memejamkan mata dan menggeleng. Randy memeluk Ana, tangannya menurunkan jas yang dipakai Ana tadi. Ia melumat bibir Ana dengan lembut. Wanita itu tidak bisa berkutik, tubuhnya bergetar merasakan lidah Randy menyapu bibirnya. Lalu, tangan Randy menyentuh lehernya, membuat Ana seperti b*******h. Dan secara spontan, Ia membalas ciuman Randy. Sekarang, kedua tangannya memeluk pinggang lelaki itu. Ciuman Randy turun ke leher Ana, lalu tangannya mengusap punggung serta b****g wanita itu."Enggg...,Pak...." Napas Ana mulai tak teratur. "Hei, jangan panggil aku Bapak. Randy...,please." "Ehmm...Randy maksudku. Jangan terlalu jauh karena nanti ada orang yang datang." Ana menjauhkan tangan nakal Randy. "Tidak akan ada yang datang, karena aku sudah menyewa tempat ini. Mereka akan datang ketika aku memanggilnya,"kata Randy lagi. "Oh...." Ana tersenyum malu. Ia mulai merapikan rambut dan dressnya yang naik sedikit karena ulah Randy. Randy tersenyum geli, lalu ia mengeluarkan rokok dari saku celananya. Ia menyalakan rokoknya, lalu menatap langit yang bertabur bintang. Suasana menjadi hening, sepertinya ia butuh waktu beberapa menit sebelum ia mengeluarkan suara. "Aku punya seorang anak...tetapi, aku tidak bisa bertemu dengan bebas." Randy mulai mengeluarkan isi hatinya. "Kenapa?" "Mantan isteriku melarangku bertemu dengan anakku." Ana tersenyum."Aku...turut bersedih, semoga segera ada solusi terbaik untuk semuanya." "Seharusnya sekarang aku berlibur dengan anakku, dia sudah besar sekarang,"lanjut Randy. "Anggap saja aku ini anakmu,"kata Ana. Randy menoleh cepat."Apa?" Ia tertawa."Masa sih anakku sebesar ini." "Ya...kan aku masih muda dibandingkan kamu.... Masih dua puluh delapan tahun dan...ya, masih muda." Ana sangat bangga pada dirinya sendiri. Randy menyeringai ke arah Ana. Ia mematikan rokoknya, lalu mendekatkan wajahnya pada gadis itu."Masih muda ya? Sepertinya sangat menarik." "Menarik?" Randy berdiri, lalu membopong Ana."Iya ...sangat menarik!" "Kita mau kemana?" Jantung Ana berdegup kencang. "Ke kamar. Kita lihat seberapa menariknya gadis muda ini,"jawab Randy sambil membopong Ana ke dalam kamar. Randy menurunkan Ana ke atas ranjangnya. Ia tampak bersemangat melepaskan kemeja miliknya. Ana menahan napasnya beberapa detik, ia bingung harus bagaimana. Apakah mungkin saat ini Randy akan menidurinya seperti kemungkinan-kemungkinan yang diceritakan Thea. Ana meneguk salivanya, ia menatap Randy yang kini sudah menindih tubuhnya. "Randy...." "Iya, Ana?" Randy mengusap pipi Ana. "Apa kita akan melakukan sesuatu?"tanyanya. Randy tertawa."Menurutmu bagaimana?" "Aku tidak tahu...." "Kenapa kamu takut, An? Bukankah kamu sudah tahu resiko dari pekerjaan kamu ini?"tatap Randy. "I...iya, aku tahu...aku deg-degan saja." Ana mulai berbohong. Ia bukan hanya deg-degan, melainkan takut menyerahkan miliknya dengan cara seperti ini. Tapi, semuanya sudah terlanjur basah. Tidak ada jalan untuk mundur. "Santai saja." Randy menurunkan gaun Ana. Ia terkesima melihat buah d**a wanita itu. Ia pun menurunkannya sampai gaun itu benar-benar lolos dari tubuh Ana. Ana menutup gundukan kenyal miliknya itu dengan tangan. Randy menyingkirkan tangan Ana dengan pelan, lalu ia mulai meninggalkan jejak-jejak basah di atasnya. Tubuh Ana menggeliat, rasa geli, nikmat, serta takut bercampur menjadi satu. "R...Ran!"desah Ana. Wanita itu sudah sangat terangsang. Miliknya di bawah sudah basah. Randy terus menghisap buah d**a Ana secara perlahan. Satu tangannya turun ke bawah, mencari titik sensitif Ana, lalu menekan dan menggesekkannya pelan. Ana memekik, terkejut dengan rasanya. Randy menurunkan celana dalam Ana, lalu menelanjangi dirinya sendiri. Wajah Ana merona saat melihat milik Randy. Ia membuang pandangannya karena malu. Randy kembali menindih tubuh Ana, kemudian menciuminya. Randy merasakan miliknya sudah sangat keras dan menginginkan pelepasan. Ia bersiap, mengarahkan miliknya pada milik Ana. Randy melihat wajah Ana begitu panik saat miliknya menekan milik Ana. Sulit sekali untuk masuk ke dalam. Ana terlihat kesakitan dan  mendorong tubuh Randy dengan cepat. Mata gadis itu berkaca-kaca. Randy menatap Ana dengan serius."Kamu...masih virgin?" Ana mengangguk, air matanya menetes perlahan. Randy memejamkan matanya, lalu ia merengkuh tubuh gadis itu. Ana terisak di dalam pelukan. "Kenapa kamu enggak bilang sejak awal?" Ana menggeleng saja sambil terus terisak. "Kalau kamu masih virgin, kenapa kamu bekerja seperti ini, Ana? Untunglah klien pertamamu adalah aku." Randy mengusap punggung Ana dengan lembut. Ada sedikit rasa penyesalan sudah membuat wanita itu menangis. Miliknya yang tadi sudah menegang pun melembek perlahan. "Aku sudah kehilangan pekerjaanku. Mencari pekerjaan baru di zaman sekarang ini susah! Apa lagi aku harus melanjutkan hidupku. Lalu kamu tanya kenapa aku malah cari pekerjaan seperti ini? b******k sekali pertanyaanmu!"isak Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN