Masih dalam keadaan bertelanjang, mereka saling berpelukan. Ana dengan kekesalan serta kesedihannya, sementara Randy kini terpaku mendengarkan ucapan Ana barusan. Apa yang sudah ia lakukan?
Randy menarik napas panjang."Sebentar...." Ia langsung pergi mengambil handuk untuk menutupi miliknya. Setelah itu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Ana.
Gadis itu masih terisak, ia menatap Randy."Maafkan aku...."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan dan memaafkan, An."
"Aku...tidak profesional."
"Tidak...tidak, jangan dipikirkan. Ehmm..." Randy mulai terlihat serba salah.
Di saat bersamaan, ponselnya berbunyi. "Sebentar ya." Randy mengambil ponselnya.
"Halo?"
"Dimana, Ran?"
Randy menggaruk-garuk kepalanya."Liburan."
Terdengar suara tawa Reno di seberang sana."Jadi yang Rion bilang bener. Kau liburan dan katanya menyewa seorang wanita ya?"
Randy sedikit menjauh dari Ana."Iya benar. Tapi, ternyata...wanita itu adalah mantan karyawanku." Randy mengusap wajahnya dengan stres.
"Memangnya kenapa? Kayak khawatir gitu?"
"Dia itu kupecat kemarin. Setelah itu dia bekerja beginian. Masih ingat enggak karyawan yang aku marah-marahin pas kau datang ke kantor."
Reno terdiam, ia berusaha mengingat-ingat ketika ia berkunjung ke kantor Randy."Ehmm...yang kau marahi karena apa ya,ada yang hamil itu?"
"Iya. Namanya Ana."
"Kau pecat Ana?"
"Iya."
"Sudah berapa lama dia bekerja di kantormu?"
"Tujuh tahun!"
"Bodoh!"
Randy tersentak."Apa maksudmu?"
"Memecat karyawan yang sudah bekerja selama tujuh tahun. Kau bayangkan betapa ia setia pada perusahaan dan kau dengan mudah membuang aset seperti itu? Dia itu aset perusahaan, Ran. Baru kali ini dia melakukan kesalahan kan?"
"Ya, tapi sangat fatal."
"Ayolah, Randy, itu bukan kesalahan fatal. Tidak membuat perusahaan bangkrut atau pun kehilangan mitra bisnis. Memecatnya sama dengan membuang aset perusahaanmu. Ayolah, kau ini bos yang payah!"ucap Reno.
Randy terdiam, ia berdiri kaku.
"Lalu, setelah kau pecat dia...maka cari karyawan baru? Semua mengulang dari nol dan dia pasti tidak sepintar dan cekatan seperti Ana. Kau harus membuang 'uang'mu untuk karyawan baru yang kinerjanya belum jelas."
Randy memejamkan matanya. Ia benar-benar sudah melakukan kesalahan demi rasa bersalahnya pada seorang teman. Hanya seorang teman yang tidak begitu dekat dengannya. Mungkin, hanya demi sebuah gengsi dan nama baik. Keputusan sepihak yang ia ambil tentu saja membuat Ana tak berdaya. Wanita itu hanya karyawan, tidak punya kuasa untuk melawan. Ia tidak pernah berpikir kalau kehidupan wanita itu akan semakin memburuk setelah itu.
"Bapak Direktur, harap bijak...kalau enggak, lebih baik kaulepaskan saja jabatanmu itu!"
Kata-kata Reno barusan begitu menohok. Randy tersenyum pahit."Oke, Ren, akan kuperbaiki semuanya jikalau masih bisa."
"Oke...pikirkan semuanya dengan matang."
"Kau ada apa menghubungi?"
"Mau ngajak liburan sih, tapi ternyata kau sudah liburan duluan,"kata Reno.
Randy tertawa kecil."Kau nyusul saja ke sini ajak Rion juga."
"Isteriku enggak tahan dengan udara dingin, dia lagi hamil, isteri Rion juga kan. Bisa-bisa kami berdua malah repot ngurusin isteri daripada liburan."
"Ya ya ya...pria-pria beristeri mulai payah!"
"Bukan payah, kami melakukan ini karena sayang dan demi buah hati kami."
Randy melirik ke arah Ana."Okelah, tapi kalau seandainya kalian berubah pikiran, datang saja ke sini. Kita liburan bersama."
"Oke. Nanti Kami diskusikan lagi. Oke, bye!" Reno memutuskan sambungan telepon.
Randy menghampiri Ana."Kamu...baik-baik aja?"
Ana mengangguk."Iya...maaf beri aku waktu beberapa menit lagi."
"Untuk apa?"
"Untuk melakukan yang tertunda tadi,"balas Ana.
Randy menggeleng."Lupakan yang tadi. Aku...ah, maafkan aku."
"Tidak, Randy, aku harus profesional. Apa lagi aku sudah menerima uangnya. Aku harus tetap bekerja,"kata Ana.
"Kamu sadar enggak sih? Itu artinya kamu menyerahkan keperawanan kamu untukku?" Randy menatap Ana dengan heran.
"Aku sadar...tapi...aku memang bekerja untuk itu. Itu adalah bagian dari pekerjaanku sebagai wanita yang menemani seorang pria. Suka atau tidak suka, aku sudah sepakat. Suka tidak suka...aku harus tetap melaksanakan pekerjaanku meski itu salah,"jelas Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Ana...stop!" Randy tertunduk."Maafkan saya...maaf."
"Untuk apa, Pak?" tanya Ana dengan suara yang dibuat senormal mungkin.
"Aku...sudah memecatmu."
"Sudah tidak bisa diulang lagi, Pak. Saya sudah keluar dari kantor dan memiliki pekerjaan baru. Saya sudah memaafkannya." Air mata Ana terus mengalir.
"Maafkan aku..."
"Bapak...saya mohon jangan dibahas,"isak Ana."Saya sudah lupakan itu dalam satu Minggu yang menyakitkan. Saya mohon jangan dibahas lagi, itu membuka luka saya."
Rasa bersalah Randy semakin besar pada Ana. Ia hanya bisa memeluk gadis itu sampai benar-benar berhenti menangis dan tertidur karena kelelahan.
**
Ana mengerjapkan matanya berkali-kali. Terasa berat dan juga perih karena ia menangis cukup lama semalam. Ia melihat ke sekeliling, lalu menyadari ia tengah berada dalam pelukan Randy. Ia cukup kaget karena ia tidak memakai apa pun di badannya.
"Hei,"sapa Randy yang ikut terbangun karena terusik oleh gerakan Ana.
Ana menggeser tubuhnya menjauhi Randy. Tetapi, lelaki itu kembali menarik Ana ke dalam pelukannya."Enggak apa-apa. Jangan takut."
"Apa sudah terjadi sesuatu saat aku tidur?"
"Enggak. Kita hanya tidur sambil berpelukan." Randy mengecup pundak Ana. Posisinya sekarang Randy tengah memeluknya dari belakang dalam keadaan polos. Ana bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bokongnya.
"Sudah pagi...mungkin aku harus siap-siap,"kata Ana.
Randy menggeleng."enggak perlu. Begini aja ya...lebih nyaman." Tangan Randy mengusap perut Ana.
"Tapi...."Ucapannya terhenti saat ia merasakan tangan Randy menangkup buah dadanya.
"Dadamu begitu besar....aku suka."
Ana tidak merespon, ia meneguk salivanya saat tangan besar itu mulai meremas dadanya. Ia mengigit bibirnya saat remasan itu semakin intens. Miliknya di bawah sana berkedut, putingnya juga mengeras. Ana memegang punggung tangan Randy.
"Aku tidak akan berbuat lebih jauh seperti semalam,"kata Randy. Ia pikir Ana sedang menghalanginya untuk berbuat lebih jauh lagi.
"Sekali pun berbuat lebih jauh, enggak apa-apa kok. Itu memang tugasku sekarang,"jawab Ana.
Ditantang seperti itu, Randy malah tidak berani berbuat lebih dari ini. Ia justru teringat dengan anak perempuannya.
"Ah, baiklah...." Ia melepaskan remasannya."Aku ingin menebus kesalahanku, Ana."
Ana menoleh ke arah Randy."Bagaimana caranya?"
"Ya ...aku bertanya padamu, bagaimana caranya agar kamu memaafkanku?"
"Sudah kumaafkan."
"Apa kamu mau bekerja lagi di kantorku?"tanya Randy.
Ana tertawa geli."Tentu aja enggak." Penawaran yang bagus tetapi ia sungguh tidak mungkin kembali ke sana. Ia keluar dari kantor dengan cara yang tidak terhormat menurutnya. Tentu ia malu jika kembali lagi.
"Apa?" Randy membalikkan tubuh Ana."Enggak mau? Kenapa?"
Ana menggeleng."Sudah ...jangan bicarakan pekerjaan yang dulu lagi. Kamu sudah janji kan untuk enggak bahas lagi? Aku capek nangis terus, Randy."
"Oke." Randy mendekap Ana."Baiklah, ini terakhir kalinya aku membahas masalah pekerjaan."
Ana mengangguk dalam dekapan Randy."Hari ini kita ngapain?"
"Entahlah, mungkin berkeliling?"
"Gimana kalau kita mandi air panas aja?"