Randy berpikir sejenak."Oke. Tapi, kita mandi dulu terus sarapan ya...mandi air panasnya ntar aja..."
"Baiklah." Ana melepaskan dekapan Randy.
"Hei...." Randy menahan tubuh Ana.
"Kenapa?"
"Kamu cantik!"
"Dan kamu baru menyadarinya sekarang." Ana tersenyum lalu menggulungkan selimut ke tubuhnya. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi.
"Sial!" Randy menepuk jidatnya.
"Randy!"panggil Ana dari balik pintu kamar mandi.
"Iya kenapa?"Randy menoleh ke arah kamar mandi.
"Mau mandi bareng?"
Randy langsung melompat dari tempat tidur dan segera menyusul Ana."Serius mau ngajak mandi bareng?"
"Iya,"balas Ana.
"Enggak takut bakalan terjadi sesuatu?"
Ana mengangkat kedua bahunya. Ia menyalakan air hangat di bathup. Kemudian menyikat giginya. Randy menatap aktivitas Ana, ia tengah mengagumi sisi kecantikan Ana yang tidak pernah ia sadari selama ini.
Ana melirik."Kenapa? Suka ya?"
Randy tersenyum, ia berjalan mendekat. Kemudian meraih sikat gigi lainnya. Ana sudah selesai, lalu masuk ke dalam bathup. Ana menenggelamkan tubuhnya di sana, merilekskan tubuh dan memejamkan mata.
Randy sudah selesai, ia ikut masuk ke dalam bathup, mereka duduk berhadapan. "Kenapa mau mandi bareng? Nanti enggak selesai-selesai loh."
Ana tidak menjawab, ia memejamkan matanya lagi. Lalu ia merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya. Lelaki itu kini ada di hadapannya.
Randy mengerlingkan matanya."Sudah kubilang kan...bisa aja terjadi sesuatu pada kita di sini."
"Hmmm...ya, aku tahu. Enggak apa-apa,"kata Ana santai.
"Baik, kalau kamu tidak keberatan!" Randy memegang dagu Ana, lalu perlahan ia melumat bibir wanita itu dengan lembut. Perlahan tapi pasti, keduanya mulai terbawa suasana, Ana pun tak segan lagi memeluk dan mengusap tubuh Randy.
Milik Randy menegang, ia tidak tahu apakah kali ini akan berakhir dengan menembus milik Ana atau tidak. Tapi, yang pasti adalah ia memang sedang tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk bercinta.
Uap panas dari air menusuk ke dalam pori-pori mereka. Tapi, panas itu tidak sebanding dengan pergumulan mereka di dalamnya. Tubuh dan rambut mereka basah akibat pergerakan yang begitu liar di dalam bathup. Ana melenguh panjang saat jari tengah Randy menelusup ke bagian bawah tubuhnya. Menggelitik klitorisnya hingga membengkak. Gadis itu langsung memeluk leher Randy dengan erat. Kini, jari itu masuk ke dalam milik Ana dan menggerakkannya dengan cepat. Tubuh Ana menggeliat, pinggulnya dinaikkan agar jari Randy bisa memasukinya lebih dalam lagi.
"Kamu...kayaknya pengen ini terjadi ya?"bisik Randy sambil terus menggerakkan jarinya.
Ana tidak menjawab, wajahnya sudah merah akibat uap air panas dan juga karena ulah duda satu anak itu. Mulutnya hanya mengeluarkan suara desahan yang begitu seksi dan menggoda. Randy berpindah ke d**a Ana. Dihisapnya tonjolan kecil bewarna cokelat tua dengan kuat. Ia merasakan hatinya terasa hangat oleh cairan milik Ana.
"Sorry...,"ucap Randy parau.
Ana menatap Randy dengan bingung di sela-sela orgasmenya yang pertama. Randy berdiri dan keluar dari Bathup. Lelaki itu menarik tangan Ana agar wanita itu keluar dari sana. Ana menurut saja. Tiba-tiba Randy membopong Ana dan membawanya ke tempat tidur.
Keduanya terbaring di atas tempat tidur, saling bertatapan mesra."Maaf...,"ucap Randy lagi. Lalu mengarahkan miliknya pada milik Ana.
Mata Ana terpejam, benda tumpul dan keras itu menembus miliknya yang belum pernah disentuh oleh siapa pun. Ana menatap langit-langit dengan kosong, tubuhnya terasa begitu kaku dan tiba-tiba mati rasa saat milik Randy sudah berada di dalam dirinya. Randy menciumi wajah Ana sambil menggerakkan miliknya di bawah sana dengan cepat. Ana tidak bereaksi apa pun, ia hanya memerhatikan gerakan serta ekspresi Randy yang terlihat begitu menikmati semua ini.
Randy mengerang, lalu menghentakkan miliknya secara perlahan. Kemudian, tubuhnya terkulai lemas di atas tubuh Ana. Suasana menjadi hening, Randy sedang mengatur napasnya, sementara Ana mematung saja.
Randy mengusap pipi Ana."Aku sudah mengambil milikmu...."
"Iya,"balas Ana datar.
Randy mengecup kening, mata, kedua pipi dan bibir Ana. Miliknya yang tadi keras kini perlahan melemah. Ia segera menarik miliknya. Cairan miliknya menetes, ia segera ke toilet untuk membersihkannya. Ia kembali ke tempat tidur dengan berbalut handuk di pinggang.
"Ana, ayo mandi lagi. Habis ini kita sarapan,"kata Randy lembut.
Ana menoleh, lalu mengangguk. Ia bangkit perlahan. Diliriknya ada sedikit bercak darah di atas sprei bewarna putih itu.
"Nanti aku suruh petugasnya ganti,"kata Randy.
Ana mengangguk, ia berjalan perlahan, menahan rasa sakit di pangkal pahanya.
"Buang air kecil,"perintah Randy.
"Kenapa?"
"Sehabis berhubungan intim, kamu harus buang air kecil!"
Ana berjongkok di lantai, lalu buang air kecil. Wajahnya begitu panik, kemudian meringis sambil merapatkan pahanya.
Randy mengusap pundak Ana."Sakit?"
Air mata Ana mengalir."Iya..." Air kencingnya mengalir dengan paha yang dirapatkan. Luka bercampur dengan air seni, begitu sakit ia rasakan. Setelah selesai, ia membasuhnya dengan air dingin. Lalu, ia terisak-isak. Randy segera merengkuh tubuh Ana dengan erat.
Tangisan itu terhenti ketika Randy memandikan Ana. Persis seperti seorang Ayah memandikan anaknya yang masih kecil. Setelah itu, ia memakaikan handuk di tubuh Ana.
"Aku ambilkan barang-barang di kamar kamu?"Randy menatap Ana.
"Aku ke kamar aja, pakai baju di sana." Ana melangkah keluar toilet.
Randy tersenyum, ia pun segera mandi dan berpakaian. Setelah yakin penampilannya cukup keren di depan Ana, ia segera keluar mencari Ana. Ternyata wanita itu masih di dalam kamarnya.
"Ana? Sudah selesai?" Randy membuka pintu kamar Ana. Wanita itu tengah memoleskan lisptik ke bibirnya.
"Iya sudah." Wanita itu tersenyum malu-malu.
Randy menghampiri Ana, memeluk tubuhnya dari belakang."Cantik...."
"Terima kasih,"balas Ana.
Randy membalikkan tubuh Ana, lalu mengecup keningnya. "Ayo kita sarapan."
Ana merasakan tangannya digenggam dengan begitu hangat oleh Randy. Mereka berdua berjalan beriringan seperti sepasang kekasih. Randy menarik kan kursi untuk Ana. Wanita itu merasa tersanjung diperlakukan seperti itu oleh Randy.
"Terima kasih."
Randy melayangkan kecupan di pipi Ana."your welcome, Honey."
Ana berdehem, lalu melihat meja di hadapannya sudah penuh dengan menu sarapan pagi ini. Ia sudah sangat lapar, apa lagi tenaganya sudah habis terkuras setelah bercinta tadi.
"Selamat makan." Randy melahap sarapan paginya. Suasana pun hening, sesekali terdengar suara dentingan sendok dan desau angin dari arah luar memasuki jendela.
"Gerimis,"ucap Ana ketika mendengar suara rintik hujan. Piring di hadapannya pun sudah kosong berpindah ke dalam perutnya.
"Iya, daerah ini memang memiliki curah hujan yang tinggi. Aku suka udara dingin, suka hujan, dan aroma tanah basah."
"Oleh karena itu memilih tempat ini?"
Randy mengangguk."Ya. Saat hujan, aroma tanah basahnya sangat kuat di sini. Aku suka itu."
"Kenapa suka hujan?"tanya Ana.
"Karena dingin...." Randy menyeka mulutnya. Kemudian ia berdiri dan meraih jemari Ana, mengajak wanita itu beranjak dari meja makan. Ia menuntun Ana pergi ke balkon, dimana ia bisa menatap hamparan pepohonan pinus.