"Kamu selalu punya jawaban untukku, ya..." Randy menarik b****g Ana, tubuh mereka merapat. Ditatapnya leher jenjang yang penuh dengan tetesan hujan. Ditenggelamkan wajahnya di sana, memberikan sedikit hisapan yang meninggalkan jejak kemerahan. Ia tersenyum seolah bangga atas karyanya barusan. "Ayo...." Randy menarik Ana kembali keluar, lalu berlarian di atas rumput tanpa alas kaki. Ana terpaksa ikut. Mereka berlari cukup jauh sampai di dekat air terjun yang dimaksud oleh Ana semalam. "Jangan terlalu dekat ke sana, sedang licin,"kata Ana memperingatkan. "Pelan-pelan saja. Kita enggak akan turun ke airnya. Kita hanya di bebatuan kecil di pinggir sungai." Randy menuntun Ana dengan hati-hati saat menuruni anak tangga. Mereka berhasil turun, lalu tiba-tiba Randy membuka kaus yang ia pakai.

