Aurora terlihat mondar mandir di depan ruang ICU dengan wajah cemas. Ayahnya terguncang setelah mendengar pernikahan putri semata wayangnya di batalkan hingga mengalami serangan jantung. Ibunya terlihat duduk di kursi tunggu pasien sambil menangis. Seorang perawat menghampirinya.
"Maaf Nona! ada beberapa obat yang harus Nona beli. Silahkan lakukan pembayarannya di bagian administrasi rumah sakit!" ucapnya sambil menyodorkan selembar kertas.
Soraya pun bergegas menuju ruang administrasi rumah sakit. Dia memberikan kartu debitnya petugas administrasi menggesek kartunya di mesin EDC.
"Kenapa?" tanya Soraya karena petugas itu beberapa kali menggesek kartunya.
"Maaf Nona ada kartu yang lain?" tanyanya sambil menyodorkan kartunya.
"Apa kartunya bermasalah?" tanya Soraya sembari mengambil kartunya.
"Keterangan di sini decline," jawabnya sambil menunjuk layar di mesin EDC.
Petugas itu terlihat tidak enak hati mengatakan kartunya ditolak apalagi di belakangnya mengantri beberapa keluarga pasien yang hendak membayar.
"Kok bisa padahal saldo di dalamnya...?" Jawab Aurora sambil mengerutkan keningnya. "Coba yang ini!"
Aurora memberikan kartu kredit yang biasa dia gunakan belanja bulanan sambil berpikir keras alasan kartu debitnya tidak bisa digunakan. Padahal saldonya berisi nominal yang cukup besar.
Petugas administrasi menggesek kartu kreditnya lagi, seperti tadi menggeseknya berkali-kali. Petugas itu menatapnya lagi berhenti menggesek kartunya.
"Tidak bisa juga?" tanya Aurora.
"Maaf nona kartu kredit anda di blokir," ucapnya dengan nada pelan.
"Di blokir?" dengan mata membulat.
Aurora pun memberikan kartu kreditnya yang lain dan hasilnya sama. Aurora curiga semua kartunya diblokir Matthew. Dia pun menghubungi Matthew.
"Kenapa kamu memblokir semua kartuku?" tanya Aurora setelah Matthew menerima panggilannya.
"Karena kamu sudah bukan lagi karyawan di perusahaan ku," jawabnya.
"Kamu tidak bisa sembarangan memecat ku, aku memiliki saham 40 % di perusahaan," tepis Aurora.
"Apa kamu lupa jika saham itu atas namaku?"
"Jadi karena atas namamu kamu berhak memilikinya?"
"Tentu saja, itu balasan setimpal dengan pengkhianatanmu," balas Matthew.
"Masalah pribadi kita berbeda dengan bisnis Matthew! kamu harus mengembalikan uangku! suka ataupun tidak suka!" bantah Aurora.
Terdengar tawa lepas Matthew. "Apa lelaki itu sangat berkesan hingga kamu lupa memanggilku dengan panggilan yang biasa kamu ucapkan?"
"Aku hanya ingin kamu mengembalikan semua uangku! aku membutuhkannya untuk biaya pengobatan..."
"tut tut tut tut"
"Hallo hallo, Matthew! Matthew...!" panggil Aurora karena Matthew memutuskan panggilannya. Aurora marah dan kesal. Dia melakukan panggilan lagi.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi!"
Ponsel Matthew tidak aktif. Aurora melakukan kembali panggilan dan ponselnya masih tidak aktip.
"Dasar br*ngs*k!" teriaknya membuat beberapa keluarga pasien yang duduk di depan ruang pembayaran administrasi menatapnya tak terkecuali bagian keamanan.
Aurora meninggalkan area itu dengan langkah lunglai. Dia berpikir keras mencari cara mendapatkan uang untuk membayar obat yang harus diberikan pada ayahnya.
"Hais! kenapa aku baru menyadarinya. Kenapa tidak menaruh sebagian uangku di bank tanpa sepengetahuan Matthew? kau gadis bodoh Aurora!" gumamnya mengumpat dirinya sendiri. "Apa yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan uang untuk pengobatan ayahku?"
"Aurora!" terdengar seseorang memanggilnya.
Aurora tentu mengenal dengan baik orang yang memanggilnya, Stella.
"Dari siapa kamu tahu aku di sini?"
"Bukannya hari ini seharusnya kalian menikah? teman macam apa yang tidak meluangkan waktunya untuk menghadiri pernikahan teman baiknya? meskipun aku mendapatkan kabar jika pernikahan kalian dibatalkan," balasnya dan Aurora menatap Stella dengan mata berkaca-kaca."Aku mengetahui mu di sini dari pelayan di rumahmu."
"Mereka bergosip saat majikannya tidak ada di rumah," balas Aurora dengan bibir cemberut.
"Mereka bukan bergosip tapi memberitahuku kejadian yang kamu alami tadi pagi," bela Stella.
Aurora menundukkan kepalanya, ingin sekali dia menangis sekerasnya di depan Stella. Tapi, dia tidak ingin membebaninya.
"Aku curiga Crystal pelaku dibalik foto-foto syur mu dengan lelaki itu. Setelah minum mojito pemberiannya aku tak sadarkan diri. Crystal mencampurkan obat tidur agar rencananya berjalan lancar. Dasar ular betina," terang Stella dengan bibir gemas.
"Dia bahkan memfitnahku berselingkuh dan Matthew menganggap mu bersekongkol denganku menutupi perselingkuhanku dengan lelaki yang bersamaku di foto itu," terangnya.
"Ingin sekali aku mencakar wajahnya. Selama ini semua kebutuhannya dari mu, adik tak tahu diri. Dasar ular betina," umpatnya lagi. "Tapi, kamu jangan bersedih! masih ada aku. Sejak awal aku sudah memintamu jangan terlalu dekat dan percaya pada Crystal! dia tidak bisa dijadikan saudari mu."
Aurora hanya menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Dia tidak bisa memberitahu Stella sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ayahnya.
"Kamu kenapa? apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" selidiknya karena melihat kesedihan wajahnya.
"Aku baik-baik saja," balas Aurora sambil memalingkan wajahnya.
"Jangan segan-segan meminta bantuanku jika mengalami kesulitan!" bujuk Stella.
"Hmmmmm," balas Aurora.
Tanpa diduga perawat yang tadi meminta menebus obat menghampirinya.
"Apa obatnya sudah Nona tebus? Tuan Jordan harus segera diberi obat," tanyanya. Aurora terlihat kebingungan, dia tidak bisa menjawabnya.
"Apa kamu belum menebus obatnya?" tanya Stella dibalas gelengan kepala.
"Matthew memblokir semua kartuku," ucapnya dengan wajah sedih. "Dan bodohnya aku tidak menyimpan uang untuk sekedar dana darurat tanpa sepengetahuan Matthew."
"Berikan kertas resepnya!" pinta Stella.
"Tapi, Stella?"
"Aku sudah menganggap mu seperti saudariku sendiri, ayah mu sudah seperti orang tuaku juga. Jika kamu tidak bisa membiayai mereka saat sakit maka aku yang akan membiayai mereka," balas Stella.
"Ya Tuhan, aku sangat beruntung memiliki teman baik sepertimu," balas Aurora sambil memeluknya.
Drama kesulitan menebus obat juga seluruh biaya perawatan ayahnya terselesaikan dengan bantuan Stella.
Keesokan harinya,
Aurora bergegas ke kantor, dia langsung menuju lantai paling atas ke ruangan Matthew. Meskipun Matthew memecatnya tapi dia tidak bisa menganggapnya bukan lagi bagian dari perusahan karena belum ada pemecatan resmi tertulis.
Ditambah lagi, Aurora harus mengambil kembali dana yang dimilikinya di perusahaan itu. Meskipun atas nama Matthew. Dulu, Aurora membiarkan sahamnya atas nama Matthew agar kekasihnya itu memiliki posisi tertinggi di perusahaan.
Kebodohannya yang berpikir positif jika masa depannya akan selalu bersamanya.
"tring"
Setelah lift berdering,
Aurora melangkah dengan cepat ke luar lift menuju ruangan Matthew. Tetapi, salah satu sekretarisnya dengan cepat menghalanginya.
"Maaf Nona! anda tidak bisa masuk ke dalam," ucapnya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Memangnya kenapa?" tanya Aurora dengan kedua rahang mengeras.
"Pak Matthew sedang menerima tamu penting," balasnya.
Aurora melangkah ke meja sekretaris, dia memeriksa catatan kegiatan harian Matthew. Aurora tidak melihat Crystal di meja kerjanya. Sejak ayahnya di rumah sakit. Diapun tidak menampakkan diri. mungkin saja takut pertemuannya membuahkan pertengkaran yang sama seperti kemarin.
Sebenarnya Aurora malas bertemu dengannya tapi dia harus mengabaikan gadis tak tahu diri itu. Dia hanya ingin bertemu Matthew.
Di catatan jadwal kegiatan Matthew tidak terdapat catatan jadwal adanya pertemuan dengan rekan bisnisnya.
"Katakan padaku! siapa yang sedang bertemu dengan Matthew?"
"Anu Nona... " jawab sekretaris itu kebingungan.
"Anu apa?!" bentaknya.
"Saya hanya menjalankan tugas saja Nona. Pak Matthew berpesan jika ada yang ingin menemuinya termasuk Nona agar memberitahu bahwa Pak Matthew sedang bersama tamu penting," jawabnya terlihat ketakutan.
"Lantas, di mana Crystal? bukankah seharusnya dia ada di tempatnya?"
"A-anu Nona... "
Aurora langsung membulatkan matanya kemudian menatap pintu yang tertutup rapat. Aurora membuang curiganya dan berharap Matthew sedang bersama tamu penting yang merupakan rekan bisnisnya.
Aurora menendang pintu yang terkunci, hanya dengan beberapa tendangan pintu pun terlihat membuka. Aurora memiliki ilmu bela diri yang diajarkan ayahnya, mendobrak pintu baginya tidaklah sulit.
"brak!"
Aurora menendang pintu sekali lagi hingga terbuka dengan lebar selebar matanya yang tertuju ke pemandangan menjijikan di depannya.
"Dasar ular berbisa!" teriaknya membuat Crystal yang sedang berjongkok di depan Matthew berdiri kaget. "Jadi ini yang sering kalian lakukan di belakangku? atasan m***m dengan sekretaris murahan yang merupakan calon adik iparnya !"
Aurora berjalan cepat ke arah Matthew yang terburu-buru membetulkan resleting celananya. Darahnya langsung mendidih membayangkan mereka sedang melakukan sesuatu yang menjijikan.
Wajah Crystal terlihat memucat, sebelum Matthew selesai membetulkan resleting celananya. Pukulan dari kepalan tangan Aurora mendarat di pipinya.
"Aaaa!" teriak Matthew dengan tubuh oleng ke mejanya.
Aurora tak puas menghajarnya hanya dengan satu pukulan. Dia menarik dasinya kemudian menghadiahkan pukulan lagi ke wajahnya.
"Hentikan Aurora. Aku akan menuntut mu sudah melakukan kekerasan!" teriak Matthew sambil menangkis pukulan tambahan yang mengarah ke pipinya lagi.
Aurora tidak banyak bicara, dia lebih banyak bertindak. Aurora menendang perut Matthew yang hendak berdiri hingga terjungkal ke lantai. Setelah puas menghajarnya. Aurora menoleh ke arah Crystal.
"Setelah dia tunggu giliranmu!" teriak Aurora sambil berjalan cepat ke arah Crystal yang mundur menjauhinya.
Crystal mengetahui Aurora memiliki keahlian bela diri, dia menutup kedua pipinya dengan tangannya sebelum Aurora menghadiahkan tamparan keras. Tamparan bertubi-tubi melayang ke pipi kanan dan kirinya dengan keras membuat Crystal menjerit-jerit kesakitan.
Sementara sekretarisnya yang tadi di luar terlihat bingung, panik dan ketakutan.
Aurora mendorong d**a Crystal hingga jatuh terlentang ke atas sofa yang ada di ruangan itu. Aurora kehilangan kendali, dia mengangkat kursi kayu kecil hendak dijatuhkan ke tubuh adik tirinya.
Tidak banyak kenangan indah saat dia remaja dengan adik tirinya itu karena Crystal lebih banyak menyulitkannya, tepatnya mengganggunya. Aurora selalu mengalah mau bermain dengannya karena permintaan ayahnya.
Yang tak habis pikir baginya, sejahat-jahatnya Crystal. Dia tidak menyangka akan merebutnya calon suaminya. Darah yang mengalir sama dari sang ayah tak membuatnya merasa iba, sedikitpun.
Selama ini bahkan dia menanggung semua kebutuhan hidupnya dengan mewah dan menjadi tulang punggung keluarga. Meskipun ibu tirinya kadang bersikap menyebalkan tapi demi sang ayah Aurora selalu mengalah.
Tapi, tidak dengan merebutnya Matthew. Bagi Aurora itu perbuatan yang tidak termaafkan. Apalagi Crystal menggunakan cara kotor untuk mendapatkan Matthew.
"Sadar Nona sadarlah! anda bisa membunuhnya," ucap sekretaris yang dia temui di luar.
"Hentikan Aurora! jika kamu menyakitinya. Aku tidak akan segan-segan melaporkanmu," teriak Matthew menambah rasa sakit dalam hatinya.
"Apa kamu bilang? akan melaporkanku?"
"Ya, aku akan melaporkanmu karena sudah bersikap anarkis," jawab Matthew sambil mundur menjauhi Aurora yang mendekatinya.
Aurora melempar kursi ke arah Matthew yang terlihat kaget padahal tidak berniat mengenainya.
"Bukannya merasa bersalah, kau malah berniat melaporkanku," balas Aurora dengan napas ngos-ngosan.
"Bukannya kamu yang memulai duluan? kamu seharusnya yang merasa bersalah dan meminta maaf padaku karena sudah berselingkuh dengan lelaki itu," balas balik Matthew. "Tak hanya foto-foto saja bukti yang aku dapatkan tapi video lelaki itu saat mencumbui mu."
"Apa kamu tidak tahu jika semua foto itu hasil dari rencana ular betina itu!" sanggah Aurora sambil menunjuk Crystal yang terlihat ketakutan. "Juga video yang kamu katakan tadi. Aku tidak mengenal lelaki itu."
"Jangan melemparkan kesalahanmu pada orang lain! aku memiliki bukti pembayaran bookingan ruang VVIP di club malam untuk acara pesta lajang malam tadi juga tagihan bookingan kamar hotel yang kamu gunakan untuk memadu kasih dengan lelaki itu," balasnya sambil mengambil sebuah berkas yang tergeletak di atas mejanya kemudian melemparkannya ke depan Aurora.
Aurora memeriksanya terdapat bukti pembayaran bookingan di kelab malam juga hotel menggunakan kartunya. Aurora menutup kedua matanya dengan bibir menggeram, dia menyesal karena terlalu terbuka pada adiknya semua hal yang dimilikinya termasuk pin kartunya.
"Katakan dengan jujur! kau menggunakan kartuku saat kondisiku mabuk!" bentak Aurora pada Crystal.
"Aku tidak melakukannya, aku sama denganmu dalam kondisi mabuk berat," bela Crystal membuat kening Aurora mengerut.
"Apa yang dikatakannya benar, tadi malam dia menghubungiku agar membantunya mencarimu. Stella sudah mabuk berat dia pingsan begitu juga Crystal. Tapi kamu meninggalkan teman-temanmu dan bersenang-senang dengan lelaki itu di hotel sementara aku mencari mu semalaman," terang Matthew.
"Aku tidak mengenal lelaki itu Matthew!" bantah Aurora.
Beberapa saat kemudian beberapa petugas keamanan datang.
"Bawa dia ke kantor polisi!" perintah Matthew. Kedua petugas keamanan terlihat kaget. mereka malah menatapnya."Kenapa? apa kalian ingin aku pecat?" ancam Matthew.
"Dasar lelaki b*jing*n!" umpat Aurora hendak menyerangnya lagi. Tapi, kedua petugas itu dengan cepat menahannya.
"Maafkan kami Nona! tapi kami harus membawa Nona ke kantor polisi seperti yang diperintahkan Pak Matthew," ucap salah satu petugas keamanan.
"Apa kalian lupa siapa sesungguhnya pemilik terbesar saham perusahaan ini? bukan dia tapi aku," bantah Aurora sambil berusaha melepaskan diri.
"Maaf Nona, kami hanya melakukan tugas," jawabnya kemudian kedua petugas keamanan itu membawa paksa Aurora ke luar hendak di bawa kantor polisi.
"Dasar b*jing*n!" teriak Aurora.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Matthew sambil menarik tubuh Crystal yang langsung memeluknya dan menangis.
"Tolong aku, Aurora pasti membunuhku setelah mengetahui hubungan kita. Aku tidak mau pulang," rengeknya di sela tangisannya. Crystal berakting.
"Aku akan memberinya pelajaran agar tidak bersikap arogan," jawabnya dengan kedua rahang mengeras.
"Apa kamu akan menuntutnya?"
"Tentu saja, aku akan membuatnya merasakan dinginnya tidur di balik jeruji besi," balasnya sambil tersenyum jahat.