BAB 4-DIBALIK TOPENG SANG KEKASIH

1155 Kata
Dua hari berlalu, Matthew bukannya merasa bersalah kepergok selingkuh malah menuntut Aurora atas penganiayaan. Aurora berdiri dibalik jeruji besi dengan baju yang dia kenakan dari dua hari lalu. Jangan tanya bagaimana penampilannya. Aurora tidak menghubungi siapapun termasuk Stella. Dia tidak ingin membebaninya, Aurora pun tidak menghubungi pengacara pribadinya karena tahu akan memihak Matthew. Untuk menggunakan pengacara baru dia tidak memiliki uang. Di atas nasibnya yang buruk harus merasakan dinginnya lantai di balik jeruji besi, dia tidak menangis juga menyesal. Baginya Matthew bukan lelaki yang pantas dia tangisi. Beruntung dia mengetahui wajah aslinya sebelum menikah dengannya. Seorang petugas wanita menghampirinya. "Ada yang ingin bertemu dengan Nona," ucapnya. "Mari saya antar ke ruangan berkunjung tamu!" Aurora tidak menjawabnya karena dia tahu siapa tamu yang ingin menemuinya. Siapa lagi jika bukan Matthew karena hanya dia yang tahu keberadaannya di sana. Aurora pun mengikuti petugas itu dan masuk ke salah satu ruangan. Di dalam sana Matthew duduk santai dengan salah satu kaki bertumpu. Wajahnya masih memar dan bengkak buah tangan Aurora atas penghianatannya Matthew tersenyum menyebalkan seolah puas melihat kondisi Aurora yang menyedihkan. Berbeda dengan Aurora yang menatapnya sinis. Matthew pun berdiri tegak kemudian merapikan jasnya, lelaki itu didampingi seorang pengacara. Pengacara pribadi mereka. "Aku tidak ingin bertemu dengannya," tolak Aurora sambil memutar tubuhnya. "Apa kamu tidak tahu bagaimana kondisi ayahmu sekarang? dia sudah sadar tetapi menanyakan keberadaan mu. Apa aku harus memberitahu putrinya sekarang berada..." ucap Matthew menghentikan niat Aurora tapi terkesan ancaman. Aurora mengeratkan kedua rahangnya karena gemas dan kesal. Dia memutar balik tubuhnya lagi kemudian menatap Matthew penuh kebencian. "Apa yang kamu inginkan dariku?" potongnya sambil menatapnya tajam. "Duduk dengan manis, Aurora Gwen! mari kita berbicara dengan santai!" balas Matthew sambil mempersilakannya duduk di kursi yang berada di depannya. Aurora pun duduk di kursi sambil memangku kedua tangan. "Apa tidurmu nyenyak sayang? kamu terlihat berbeda sekali tapi wajahmu masih terlihat cantik..." ucapnya lagi sambil menatap Aurora terkesan mencibirnya. "Katakan dengan cepat! apa tujuanmu ke sini?" potong Aurora dengan nada sinis. "Kamu masih seperti Aurora cantikku yang ku kenal, tidak sabaran," cibirnya lagi sambil memberi isyarat mata pada pengacaranya. Pengacara itu menyodorkan sebuah berkas. Aurora pun membacanya. Wajah Aurora langsung memerah setelah membacanya. "Apa kau berniat merampokku?" dengan mata membulat. "Aku hanya ingin menyelamatkan posisiku di perusahaan," balas Matthew. "Dasar br*ngs*k!" umpat Aurora sambil menggebrak meja. "Inilah yang membuatku ingin putus darimu. Kau selalu bersikap kasar dan arogan. Kapan saja bisa membuatku terbunuh," ungkapnya. "Aku menyesal kenapa tidak membunuhmu dari dulu," balas Aurora sambil menatapnya tajam. Matthew menelan air liurnya sendiri, dia sedikit ketakutan dengan ucapan Aurora. "Lebih baik anda segera memutuskan menyetujui perjanjian ini dengan imbalan yang tertera di dalam berkas atau mendekam lebih lama lagi di sini dan Nona tidak akan mendapatkan kesempatan melihat Tuan Jordan..." ucap Lois pengacara Matthew. "Aku janji akan membalas kejahatan kalian!" balas Aurora memotong ucapan pengacara itu. Lois sang pengacara melirik Matthew, mereka berdua sangat tahu bagaimana karakter Aurora. Dia tidak mudah ditindas tapi jika berhubungan dengan ayahnya. Aurora akan luluh. "Jika Nona tidak bersedia tidak apa-apa, saya sebagai pengacara hanya ingin memberi Nona kemudahan. Nona bisa membayangkan bagaimana buruknya kesehatan Tuan Jordan setelah mengetahui putrinya mendekam di balik jeruji besi," ucapnya lagi sambil tersenyum menyebalkan di mata Aurora. Satu jam kemudian, Aurora berjalan lunglai menyusuri lorong rumah sakit. Dia menyetujui perjanjian yang diajukan Matthew. Aurora tidak akan datang lagi ke perusahaan dengan alasan apapun apalagi menganggu Matthew Satu hal yang sangat memukul Aurora di dalam surat itu Matthew memintanya menyerahkan semua aset yang dimilikinya di perusahaan pada Matthew. Aurora mendapatkan jaminan ayahnya mendapatkan perawatan yang layak hingga proses operasinya dan pengobatannya selesai. Aurora pun mendapatkan uang kompensasi sebesar 25 juta, hanya 0,0 sekian persen dari saham yang diambil Matthew. Aurora berhenti di depan ruang ICU dimana sang ayah terbaring lemah dalam kondisi masih kritis. "Aku janji akan membalas kejahatanmu, Matthew. Nikmati kemenanganmu hari ini! selagi kau bisa menikmatinya!" Aurora ingin sekali menangis sekerasnya. Saat ini dia jatuh ke jurang yang sangat dalam. Adiknya sendiri membantu lelaki sialan itu menusuknya dari belakangan. Aurora tidak melihat batang hidungnya setelah ayahnya masuk ke rumah sakit. Crystal bukan malu tapi takut. Dia todak memiliki nyali yang besar menghadapi Aurora tapi mampu menyerangnya dari belakang seperti yang sudah terjadi malam tadi. "Bodoh, aku memang gadis bodoh. Padahal selama ini Crystal selalu berulah tapi aku tidak pernah berpikir dia akan bertindak sejauh ini," gumamnya. "Ayah, maafkan aku!" ucapnya sambil menatap sedih sang ayah. Air matanya mengalir tak terelakkan di kedua pipinya. Di dunia ini dia hanya memiliki ayahnya saja. Dia tidak beruntung karena memiliki ibu yang lebih memilih bersama kekasihnya ketimbang putri dan suaminya. "Apa mungkin ini sebuah karma dari perbuatan wanita itu? tapi kenapa harus aku yang menanggungnya," gumamnya lagi. Aurora mendapatkan panggilan dari salah satu pelayannya. "Gawat Nona, gawat!" "Gawat kenapa Hanny?" "Beberapa orang datang menyegel rumah Nona," ucap pelayannya. "Apa?!" jerit kecilnya dengan mata membulat. Aurora menatap ke arah beberapa perawat yang langsung menatapnya karena sudah menimbulkan suara yang menganggu ketenangan pasien. Aurora pun memilih keluar dari area ICU. Dia mengikuti langkahnya tanpa tujuan yang terpenting tidak berada di sekitar area pasien. "Mereka mengatakan Nona harus segera keluar dari rumah karena bukan lagi rumah Nona. Saya juga tidak mengerti yang mereka bicarakan," terangnya. Aurora mengingat surat perjanjian yang di tanda tangani tadi. Di sana tidak tertera pengalihan aset rumahnya. "Ya Tuhan, masalah apa lagi ini?" gumamnya. Aurora pun menaruh ponselnya ke saku bajunya. Dia memutar tubuhnya berniat pergi dari taman hendak pulang ke rumah. Tamparan keras menghantam pipinya, akhir-akhir ini dia sering mendapatkannya. "Ke mana saja kau dua hari ini gadis nakal! apa kau tidak mengkhawatirkan kondisi ayahmu hah!" bentaknya dengan kedua mata membulat. Miami bahkan hendak menampar lagi tapi Aurora menangkisnya. "Cukup! cukup ibu!" teriak Aurora. "Aku tidak di rumah sakit karena perbuatan putri kesayanganmu." "Kau tak berhenti menyalahkan Crystal di atas kesalahanmu, Aurora!" tepisnya sambil menarik tangannya. "Apa ibu tidak memperhatikan baju dan penampilanku? apa ibu tidak ingin tahu selama dua hari ini aku di mana?" "Aku tidak peduli kau di mana, aku hanya tidak suka kau menghilang begitu saja saat ayahmu dalam kondisi kritis," tepisnya. "Aku mendekam di penjara selama dua hari ini ibu karena menghajar Matthew dan Crystal yang sedang main gila di kantornya. Apa sekarang ibu puas sudah mengetahuinya," ungkapnya membuat Miami membulatkan matanya. "Apa?! tidak mungkin Crystal..." "Crystal yang sudah menjebaknya hingga pernikahanku dengan Matthew batal, Crystal juga yang membantu Matthew mengambil semua milikku hingga kini kita jatuh miskin," ucap Aurora lagi. "Itu tidak mungkin, kau berbohong Aurora," balas Miami sambil menggelengkan kepalanya. "Jika ibu tidak mempercayai ucapanku. Tanyakan pada putri kesayangan mu," balas Aurora. "(Ah) seingat ku semenjak ayah dibawa ke rumah sakit Crystal tidak menampakkan diri. Satu hal lagi beberapa orang mengusir kita dari rumah, jika Crystal menyayangi ibu. Dia akan membantu ibu setidaknya membantuku mengatasi rumah kita yang sedang dalam masalah," ucapnya lagi sambil berlalu meninggalkan Miami yang berdiri membeku karena syok. "Ya Tuhan, kenapa masalah datang silih berganti tak berhenti menyerang ku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN