Aurora turun dari taksi kemudian berlari ke rumahnya, gebang mewah dan tinggi yang setiap hari dilintasinya kini dalam posisi tertutup bahkan terpasang gembok. Di bagian tengahnya terpampang papan "RUMAH INI DI SITA."
Hanny pelayan setianya langsung menghampirinya.
"Apa-apaan ini? siapa yang melakukan ini?" teriak Aurora. "Siapa pelakunya Hanny?" tanyanya sambil menatap Hanny.
"Mereka memberikan kartu nama ini. Mereka mengatakan jika ingin menyelesaikan administrasi, Nona di minta datang ke alamat yang ada di kartu ini," terangnya.
"Menyelesaikan administrasi? apa yang mereka bicarakan? aku tidak meminjam uang pada siapapun. Aku tidak merasa memiliki sangkutan hutang apapun," sanggah Aurora dengan kening berkerut.
Tentu saja Aurora kebingungan karena tidak merasa memiliki hutang pada siapapun.
Aurora menghubungi Matthew karena dia yakin mantan kekasihnya itu tersangka utama yang menyebabkan masalah rumahnya. Matthew tidak menjawab panggilannya. Aurora pun tidak menyerah, dia menghubunginya beberapa kali walaupun hasilnya sama.
"Dasar b*jing*an!" umpatnya sambil mengibaskan tangannya yang memegang ponsel sebagai ungkapan kekesalannya. Dia tahu pelakunya pasti Matthew.
"Maaf Nona, berhubungan rumah ini di sita tidak mungkin kami bekerja menjadi pelayan Nona, dengan berat hati kami mengundurkan diri," ucap Hanny dibarengi anggukan kepala dan tatapan sedih keempat pelayan lainnya.
"Aku tidak tahu harus membayar uang pesangon kalian dengan apa karena seluruh uangku di ambil Matthew. Tapi, aku janji akan mentransfer gaji kalian setelah kondisi keuanganku stabil," ucap Aurora sambil menatap pelayan-pelayannya.
Ada secercah rasa bersalah dari manik matanya yang cantik.
"Nona tidak perlu membayar kami!" sanggah Hanny.
"Tapi-?"
"Kebaikan Nona selama ini membiayai putri saya hingga menyelesaikan pendidikannya bagi saya sudah cukup," ucap Hanny.
"Biaya operasi dan pengobatan yang Nona berikan untuk ibu saya sampai beliau sembuh total. Bagi saya pun itu sudah cukup," ucap pelayan lainnya.
"Tapi, tetap saja aku harus membayar uang pesangon kalian. Aku janji akan membayarnya setelah keuanganku stabil," sanggahnya teguh dalam pendirian.
Pelayan-pelayan itu terharu mendengar ucapan Aurora, anak majikannya itu selama mereka bekerja di kediaman Jordan Gwen sangat baik. Jika mereka mengalami masalah terutama membutuhkan uang saat mendesak. Aurora tidak pernah ragu membantu mereka.
Seluruh pelayannya berpamitan meninggalkan Aurora. Gadis itu berdiri tegak seorang diri sambil menatap rumahnya yang tak lagi bisa dia masuki.
Rintik hujan perlahan turun seolah memahami perasaan Aurora yang sedang dirundung kesialan. Aurora jatuh miskin dalam waktu sekejap. Dia hanya memiliki uang kompensasi sebesar 25 juta dari Matthew.
Aurora tidak bisa menghambur-hamburkan uangnya karena proses pengobatan ayahnya belum selesai meskipun seluruh biaya rumah sakit dijamin Matthew sesuai surat perjanjian. Dia belum memiliki pekerjaan setelah dipecat dari perusahaannya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan? jika aku menemui Matthew. B*jing*an itu akan menarik biaya operasi dan pengobatan ayahku," gumamnya dalam guyuran air hujan yang semakin deras.
Dia menatap kartu nama di tangannya, beruntung berbahan hologram jadi anti air. Aurora pun memutuskan pergi ke alamat yang ada di kartu nama itu.
Tetapi sebelumnya ke toko baju mengganti pakaiannya yang basah. Semua bajunya ada di dalam rumah yang sudah tersegel. Aurora tidak bisa membeli baju di butik langganannya. Uang 25 juta tidak akan cukup membeli satu stel karena pakaian yang dijual di sana berharga mahal.
Bukan hanya mahal saja alasannya, mulai sekarang Aurora harus hidup hemat.
Setelah berganti pakaian dengan menggunakan taksi. Aurora pergi ke kantor yang tertera di kartu nama. Dia memakai payung karena hujan belum reda berdiri di depan kantor jasa pinjaman. Kantor yang cukup besar, tapi Aurora baru mengetahui ada kantor itu.
Aurora memasuki kantor itu menghampiri bagian resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" sambut gadis resepsionis.
"Aku Aurora Gwen, aku datang ke sini dari seseorang yang memberikan kartu nama ini. Mereka ditugaskan menyita rumah ku," jawab Aurora sambil memperlihatkan kartu nama pemberian Hanny.
"Tunggu sebentar, Nona! saya cek dahulu," jawab gadis resepsionis itu kemudian mengecek seluruh kegiatan penyitaan pihak peminjam. "Di sini tertulis peminjam Tuan Jordan Gwen dengan alamat.... "
"Apa?!"
Aurora terkejut mendengar gadis resepsionis itu menyebut nama ayahnya.
"Dari data rumah yang di sita hari ini dengan nama panjang yang sama dengan Nona. Atas nama peminjam Tuan Jordan Gwen. Beliau menunggak selama 6 bulan," terangnya.
"Jadi yang kamu maksud, ayahku meminjam uang dari sini dengan jaminan rumah?" tanya Aurora masih tidak percaya dibalas anggukan kepala. "Berapa dan kapan ayahku meminjamnya?"
"Dari datanya sejak 3 tahun yang lalu. Tuan Jordan Gwen meminjam sebesar 4 milyar. Sisa tunggakan yang harus dilunasi 2 milyar lagi itu sudah termasuk bunganya," terangnya.
Aurora merasa kepalanya pusing dan ingin muntah karena syok mendengar informasi yang didapatnya itu. 2 milyar jumlah nominal fantastik yang tidak bisa dia dapatkan dalam waktu sekejap.
"Berapa lama waktu tenggangnya saya bisa menebus rumah yang dijadikan jaminan?"
"Dari keterangan di sini 6 bulan tapi waktu yang kami berikan tinggal 1 bulan lagi sebelum kami lelang," terangnya.
"Apa kalian sudah gila?! 2 milyar dalam waktu 1 bulan. Tubuhku saja tidak seharga itu," teriak Aurora sampai kebablasan menghargai tubuhnya.
Petugas keamanan yang bertugas menatap tajam Soraya.
"Maaf Nona, tapi keterangan di sini waktu tenggang pelunasan tinggal 1 bulan lagi sebelum kami lelang," balas gadis itu.
Soraya pun berjalan oleng meninggalkan meja resepsionis tanpa berucap sepatah katapun.
"Apa ayah meminjam uang yang aku pakai untuk menanam modal di perusahaan? sedangkan uang tersebut diambil Matthew. Pantas saja ayah memiliki uang banyak ternyata dari hasil pinjaman."
Aurora menahan tangisnya dengan langkahnya lunglai, keluar dari tempat itu. Tubuhnya terlihat sempoyongan kala angin luar menusuk dingin kulitnya, kali ini dia berjalan sempoyongan bukan karena mabuk tapi karena memikirkan cara mendapatkan uang sebanyak itu.
Setelah di luar, tubuhnya ambruk di lantai. Tangisan pun pecah begitu saja karena beban yang dia pikul kali ini sangat berat.
Aurora baru saja mengalami kehilangan pasangan yang membuangnya karena fitnah menyakitkan yang dilakukan saudari tirinya. Seluruh uangnya dicuri mantan kekasihnya ditambah ayahnya sakit. Kini rumahnya disita dengan nilai tebusan berjumlah fantastis.
Aurora menangis sekerasnya meskipun tangisannya tersapu suara hujan yang semakin deras. Sebuah mobil mewah melintas, seorang wanita cantik yang duduk di dalamnya melirik Aurora.
Setengah jam kemudian,
Setelah mencurahkan kesedihannya dan mengumpulkan kekuatan. Aurora berjalan tanpa tujuan. di sepanjang trotoar dengan tatapan kosong. Tangan kanannya menggenggam payung. Hujan masih deras tapi Aurora harus segera kembali ke Rumah Sakit karena jadwal operasi ayahnya akan dilakukan beberapa jam lagi.
Aurora menghentikan langkahnya setelah berada di halte bus, dia sudah menghabiskan banyak uang membeli baju juga naik taksi. Kendaraan terbaik yang harus dia gunakan ke rumah sakit yakni bus umum.
Aurora berdiri mematung menunggu bus datang.
"byur!"
Genangan air di depannya menciprat deras ke baju juga wajahnya karena mobil yang melintasinya melaju dengan cepat. Aurora tidak bergeming dia diam saja. Beberapa orang yang duduk di kursi halte heran melihat sikapnya.
Aurora sudah kehilangan kepekaannya, dia tidak peduli lagi dengan semua kesialan yang menyerangnya.
Netranya menatap ke arah mobil mewah yang berhenti di depannya. Seorang wanita cantik yang duduk di belakang kemudi menurunkan kaca mobilnya.
Seorang lelaki berperawakan kekar bertampang seperti bodyguard tapi sopirnya turun dari mobil memayunginya. Wanita itu menghampiri Aurora.
"Aku ingin berbicara denganmu, Aurora Gwen!" ucap wanita itu.
"K-kau siapa? kenapa mengetahui namaku padahal kita baru ketemu," jawab Aurora dengan mata membulat.
"Naiklah! aku akan memberitahumu," jawabnya.
Aurora melihat bus datang dan berhenti di belakang mobil mewah itu. Beberapa penumpang yang menunggu bersamanya langsung naik.
"Maaf, aku tidak bisa mengikuti permintaanmu karena tidak mengenalmu," jawab Aurora sambil berlari cepat ke arah bus.
Lelaki yang bersama wanita itu hendak mengejar Aurora tetapi wanita itu mengangkat tangannya. Bus pun melaju meninggalkan halte.
"Menarik," gumamnya sambil menatap bus yang menjauhinya. "Aku ingin tahu sejauh mana kau menolak ku saat kita bertemu lagi."
Wanita itu naik lagi ke mobil.
"Apa Tuan-mu sudah sampai?"
"Tuan dalam perjalanan pulang," jawabnya.
"Kita harus lebih dulu sampai! aku tidak ingin terlambat menyambut kedatangannya," pintanya dengan bibir tersenyum.
"Baik Nyonya," jawabnya sambil melajukan mobilnya.
Wanita itu melihat-lihat foto seorang gadis cantik, foto Aurora. Dia sudah mengetahui sosok Aurora dari berkas yang tergeletak di sampingnya.
"Aku memilihmu. Ketahuilah tidak ada gadis manapun yang bisa menolak keinginan ku," gumamnya sambil tersenyum dengan netra menatap foto Aurora.
BERSAMBUNG