1. Cinderella Story

1486 Kata
Taeri tahu hidup itu tidak seperti dongeng, sesuatu yang mustahil akan datang dan membuat segalanya menjadi kelewat manis mengalahkan glukosa dalam kadar tinggi. Masalah akhir bahagia atau buruk, itu tergantung perspektif. Kadang dia sendiri bingung ketika membaca sebuah cerita dengan komentar berlawanan yang mengebu mengemukakan bahwa hidup tak seindah itu atau itu hanya sekadar cerita dan kenyataannya tidak akan seperti itu. Pertannyaannya adalah—apakah menurut mereka hidup itu harus selalu menderita tanpa akhir bahagia? Tentang kebahagiaan itu sendiri, Taeri dulu sering menekan diri dan tenggelam dalam ekspektasi sendiri. Menyakitkan jika tak sesuai apa yang dia angankan. Kerap pula pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan dengan tolak ukur kebahagiaan yang begitu abu-abu 'menunggu sukses'. Awalnya ia juga begitu, terpaku pada sebuah target kesuksesan yang entah berada pada titik mana. Terpuruk ketika melihat orang lebih hebat sementara dia terlalu stagnan bahkan perlahan hancur. Nyaris membuat depresi sampai menemukan jawaban ketika terdiam sambil menulis sebuah draft cerita yang tidak pernah dia rampungkan. Berhenti meraih dengan pegangan kata 'sampai sukses' tapi tidak pernah menghargai 'achievement diri sendiri'. Karena sejujurnya ia sendiri bingung sampai mana tahapan sukses tersebut. Nyaris terpuruk karena tak memiliki mimpi yang tinggi sampai pada akhirnya dia mengerti bahwa setiap harinya berhasil melalui keadaa itu sudah cukup. Lalu beralih pada kata sukses, sampai mana tolak ukurnya? Sampai ia merasa bahagia. Lalu bagaimana ia bahagia? Sederhana, bahkan ketika dia menulis atau membeli barang-barang untuk dirinya sendiri. Maka sejak itu ia merasa lebih mudah bahagia dan mencintai diri sendiri. Hari ini salah satu kebahagiaan datang pada dirinya karena berkesempatan bekerja di sebuah perusahaan ternama—bahkan bisa di bilang terbesar. Korea sekarang sedang dikuasai ekonominya oleh satu perusahaan yang mencakup berbagai industry yaitu Bangtan group yang diisi beberapa perusahaan dengan saham sangat besar. Salah satu Kim co. Inc dari tiga Kim yang ada memberikan surat panggilan interview untuknya. Perlu diketahui bahwa bisa dipanggil untuk tes wawancara adalah sebuah hal luar biasa. Taeri sendiri bingung kenapa cv nya bisa lolos seleksi. Bukan karena buruk , tapi rasanya tak ada yang menarik apalagi mengingat orang-orang lebih hebat darinya tentu ikut melamar. Tak begitu memikirkan hal tersebut walaupun sebenarnya Taeri setengah mati gugup dan seujujurnya kepercayaan dirinya seperti sedang berada di sisi terbawah ketika memasuki gedung tersebut. Dari atas sampai bawah semua terlihat begitu professional dan megah. Interior yang menurutnya seperti kantor yang ada di masa depan. Belum lagi kantor tersebut memiliki tanah yang berhektar-hektar seakan memiliki kota sendiri. Masuk ke dalamnya harus menaiki bis dan memutar melewati beberapa anak gedung yang menangani hal-hal tertentu. Rasanya mungkin beberapa tahun kemudian akan ada negara bernama Bangtan. Jadi anggap saja dirinya ada di negri dongeng. Terima kasih untuk dewi fortuna yang sedang berpihak kepadanya. Kalau bicara tentang negri dongeng, Taeri teringat sekitar tiga bulan lalu di mana alkohol menenggelamkan dirinya pada surga dunia. Pergulatan penuh gairah tanpa memikirkan apapapun kecuali memeta seakan tak ada hari esok. Dan bangun dalam keadaan pusing, nyaris pingsan ketika menyadari penuh siapa pria yang barusan saja pergi meninggalkan hotel. Sayang sekali ini bukan tipikal film di mana sang gadis tak mengenal si pria sementara semua orang kenal jelas. Bahkan Taeri sendiri suka bingung dengan tipikal cerita seperti itu sambil bertanya-tanya memangnya di mana sang gadis dalam cerita tinggal? Luar angkasa? Dalam batu? Lucu melihat hanya si gadis yang satu-satunya tak mengenal sang pria. Taeri kenal jelas siapa pria di sampingnya terutama ketika internet dan social media menguasai di era seperti ini.  Jeon Jungoo, salah satu dari pemilik Bangtan group dengan saham cukup besar. Ahli waris perusahaan Jeon. Saat itu adalah penentuan untuk dirinya apa yang harus ia lakukan ke depannya. Ada tiga pilihan, pertama mendekati Jungoo yang tentunya berharap ke tahap berikut yang pasti suatu kemustahilan. Jungoo itu memiliki segalanya, Taeri hanya sebagian kecil yang terbang bersama debu dilupakan. Lagipula tentu orang seperti Jungoo berhak mendapatkan yang lebih baik daripada sekadar kucing dan berang-berang yang disatukan seperti dirinya. Iya, tidak jelas bentuknya. Maka pilihan kedua adalah mengancam Jungoo perihal dirinya yang tidur bersama. Kemudian mengeruk uang sebanyak-banyaknya sampai kaya. Tapi rasanya sebelum itu terjadi, Taeri sudah dijebloskan ke kantor polisi. Jelas-jelas ini keinginan ia juga. Kecuali tidak ada consent sama sekali. Ketiga melupakan begitu saja. Anggap tak pernah terjadi dan menikmati uang dengan jumlah cukup dari Jeon Jungoo yang membuat mata melotot. Bahkan dia bisa membali sebuah apartement dari uang itu. Rasanya kalau dia bekerja butuh waktu lama sekali mengumpulkan. Mungkin menunggu dirinya tua dulu. Maka ini sangat beruntung dan mencari masalah dengan Jeon Jungoo adalah pilihan yang sangat buruk. Ia cukup menikmati hasil tanpa perlu mengusik. Jungoo pasti tak mau terkena skandal murahan yang melibatkan wanita teman one night standnya. "Nona Kim Taeri," panggil salah seorang wanita ke ruangan di mana aku dan beberapa pelamar lainnya duduk. Taeri menoleh dan menghentikan kegiatan meremas-remas tangan karena gugup. Langsung berdiri dan mengangkat satu tangan sambil membungkuk sedikit—sekilas. "Ya, saya?" Si wanita terdiam sebentar memerhatikannya, ada sedikit keraguan dalam tatapan yang sama sekali dirinya tak mengerti. 'Apa dia salah memanggil orang? Apa keberadaanku di sini sebuah kesalahan?' Tanya Taeri dalam hati dengan panik. Takut sekali semua kebahagiannya hari ini hancur. "Tolong ikut saya," ujar sang wanita itu lagi sekalipun wajahnya masih terlihat ragu. Tak punya pilihan lain, Taeri mengikuti ke luar ruangan. Orang-orang di ruangan itu pasti sedang tertawa bahagia karena kehilangan salah satu pesaing. Mungkin juga sedang tertawa terbahak-bahak dalam hati. Rasanya Taeri ingin menendang pot besar di sisi pintu keluar ruangan tersebut. --- Kenyataannya Taeri tidak ditendang begitu saja keluar. Bukan juga dipersilahkan keluar dari sana dengan baik-baik. Ia bahkan menaiki lift ke tempat yang cukup tinggi. Perlu menerka-nerka ke lantai berapa dirinya. Bukan lagi wanita yang memanggilnya tadi yang mengantar, melainkan seorang wanita dengan tinggi luar biasa, rambut blondie nyaris putih s**u dengan proporsi tubuh sempurna memakai setelan kerja berwarna biru muda—pas sekali dengan perawakannya. Rambut indah panjang itu dikuncir begitu rapih hingga tak ada yang terjuntai. Seperti seorang model dan pramugari disatukan. Ia bis amenebak bahwa wanita itu bukan orang Korea terlebih karena mata biru alaminya. Lift terbuka memperlihatkan sebuah ruangan besar yang tidak seperti ruangan lainnya. Ruangan tersebut hanya ada satu ruangan bukan banyak meja dengan beberapa karyawan pada umumnya. Taeri benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Gugup membayangkan apa yang terjadi. "Sebenarnya ke mana kita dan untuk apa?" Tanya Taeri membuka suara dengan sedikit nada tinggi karena merasa bingung. Dia benci hal itu. Persaan dan keadaan tak mengetahui apa-apa. "Ruangan Tuan Kim Jinseok." Mendengar itu Taeri melongo total. Bibirnya bergetar—butuh beberapa saat untuk benar-benar mengeluarkan kata. "K-kim Jinseok? Maksudmu K-kim Jinseok pemilik perusahaan K-kim? Salah satu pemiliki B-bangtan group tenpat aku berada sekarang?" Pertanyaan yang retoris sekali. Tapi mendapatkan sebuah anggukan untuk kepuasan. Damned! For God Sake! "Untuk apa? Bukankah aku ke sini untuk interview? Maksudku apa semua pelamar akan bertemu langsung dengan beliau?" pekik Taeri pelan kelewat kaget, antusias, bingung dan takut secara bersamaan. Si wanita dengan begitu elegannya menggeleng. Taeri bersumpah wanita itu terlihat begitu indah. Mungkin salah satu syarat berada di perusahaan itu terutama di sekitar Kim Jinseok, harus sangat cantik. Lalu untuk apa dia di sini? "Tentu tidak. Tuan Kim Jinseok tidak punya waktu untuk itu. Dia tak pernah mengurusi hal tersebut. Datang ke kantorpun hanya jika ada hal penting." "Lalu untuk apa aku di sini?" "Maaf, saya hanya diminta untuk membawa anda ke ruangan Tuan Kim, selebihnya saya tidak tahu. Saya hanya mengikuti yang dia intruksikan." How Profesional. Dia benar-benar seperti kehilangan akal tiba-tiba karena hal ini terlebih ketika tiba di depan pintu. Sang wanita mengetuk dan pintu kayu coklat mengkilap yang begitu lebar itu terbuka sendiri. "Silahkan masuk, Tuan Kim sudah menunggu." Taeri berkerut bingung. Bertemu Kim Jinseok tentu sebuah keuntungan, ia bisa meminta berfoto bersama atau menjual foto beserta tanda tangan yang akan dia minta tadi. Taruhan banyak yang menginginkan—membeli dengan harga tinggi. Kim Jinseok dan teman-temannya itu cukup banyak fans-nya. Siapa yang tidak terpukau dengan wajah tampan, cerdas, kaya raya dan berperilaku baik. Masih dengan tanda Tanya besar, Taeri masuk karena seluruh dirinya butuh jawaban atas apa yang akan terjadi. Apa alasannya dia berada di sana. Salahkan rasa penasaran dan kelakuan nekat Kim Taeri. Tapi tentu semua yang dia lakukan selalu penuh perhitungan, siap dengan konsekuensi, begitu juga hal ini. "Kau sudah datang rupanya." suara itu terdengar merdu sekali terlebih keluar dari bibir merah tebal dengan bentuk begitu indah. Wajah kelewat tampan yang memandang langsung ke mata. Taeri nyaris limbung oleh pesona ketampanan Kim Jinseok. Luar biasa lebih dari yang ada di tv ataupun majalah. Hal itu membuat Taeri tergagap sulit untuk memeberi respon. "A-ah ya. Ehm—sebenarnya a-ada apa saya dipanggil ke sini?" Jinseok tersenyum begitu lembut. Terima kasih untuk dewi fortuna yang telah membawa Taeri dalam keadaan seperti ini. "Ada yang mau bertemu denganmu," ujar Jinseok. Kening Taeri bekerut. Jinseok mengarahkan melalui lirikannya di mana sudah ada seorang pria berdiri dekat rak buku. Perlahan berbalik dengan satu tangan di kantung celana dengan setelan jas. Taeri membeku seketika. "Akhirnya aku menemukanmu." Itu Jeon Jungoo. []   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN