Part 8

1279 Kata
Dzaky pov Tok..tok..tok.. "Assalammualaikum abi" aku mengetuk pintu kamar mas Reyhan yg sekarang dijadikan ruang kerja dan perpustakaan. "Waalaikumsalam, masuk Zak" aku membuka pintu pelan saat kudengar suara dari dalam, kulihat abi sedang menutup buka yg sepertinya baru selesai dia baca, aku menghampirinya dan mencium tangannya. "Abi ada apa menyuruh Dzaky kesini malem malem" tanyaku. "Duduklah dulu, ada yg ingin abi bicarakan padamu" aku duduk di sofa yg ada didalam perpustakaan ini, aku duduk didepan abi, abi masih terlihat diam, begitupun aku. "Sebenarnya abi ingin menjodohkanmu" aku terdiam mendengarkan ucapan abi, tujuanku kesini juga akan bicara pada abi bahwa aku ingin menikah. "Dengan siapa?" kulihat abi ku tersenyum, bisakah aku berharap bahwa itu Nailah, selama ini aku slalu menuruti perintah abi dan umi, tak pernah sekalipun aku menolak jika itu sudah permintaan mereka, namun jika itu bukan Nailah, apakah aku harus menuruti itu, begitu banyak pertanyaan yg muncul di otakku. "Abi sudah menjodohkanmu dengan salah satu anak perempuan Daniel" "Om Daniel" kulihat abi ku mengangguk, aku sedikit tersenyum. "Kamu bersedia?" aku terdiam beberapa saat, bukankah anak perempuan om Daniel ada 2, dan yg mana yg akan dijodohkan padaku, meski Habibah lebih cantik dari Nailah, tapi hatiku sudah jatuh pada Nailah, mungkinkah. "Tapi anak perempuan om Daniel ada 2" "Kamu akan mengetahuinya nanti" "Memangnya kapan abi akan menikahkan Dzaky dengan anak om Daniel?" "Setelah umurnya 20 tahun" "Selama itu? Lalu kenapa abi harus mengatakan sekarang?" "Karna abi ingin kamu menjaga hatimu, abi tau begitu banyak santri wanita disini yg begitu menyukaimu, bahkan tidak sedikit yg mengharapkanmu" aku terdiam memikirkan kata kata abi, semua yg dikatakan abi benar. "Baik abi, inshaa Allah" aku tersenyum pada abi, tak ada alasanku menolak keinginan abi, mungkin pilihan abi adalah yg terbaik, meski aku tidak tau siapa yg akan dijodohkan padaku. "Alhamdulillah, apakah kamu bisa bersabar 5 tahun lagi?" "Inshaa Allah abi, semua Dzaky serahin pada Allah, karna hanya Allah yg akan mengaturnya" "Boleh abi bertanya sesuatu?" "Silahkan abi" "Apa yg membuatmu selalu menuruti perintah abi, bukankah abi slalu bilang bahwa kamu boleh melakukan apa yg kamu inginkah asalkan itu baik?" aku tersenyum tulus pada abi ku. "Karna Ridho orangtua adalah Ridho Allah, jadi tak ada alasan Dzaky untuk menolak perintah abi karna Dzaky yakin apa yg abi perintahkan adalah yg terbaik untuk Dzaky" kulihat abi tersenyum padaku. "Ehm, abi bolehkan Dzaky tanya sesuatu?" aku baru saja teringat sesuatu yg memang ingin aku tanyakan sejak aku datang tadi. "Silahkan" "Apakah tadi memang tidak ada santri laki laki yg bisa abi suruh untuk memanggil Dzaky?" "Ada, tadi abi ingin menyuruh Ilham memanggil kamu, tapi tiba tiba saja Nazwa memanggil abi dan dia yg meminta pada abi untuk dia saja yg memanggil kamu ditemani oleh Ratih" aku kembali mengingat perkataan Nazwa, ternyata dia berbohong, abi memang tidak mungkin menyuruh seorang santri wanita memasuki kawasan santri pria jika memang tidak dalam keadaan mendesak. "Ada apa Zak?" "Ehm tidak ada abi, sebaiknya Zaky balik ke asrama, karna sudah jam 10" "Hmm yasudah, hati hati" aku mencium tangan abi ku. "Assalamualaikum abi" "Waalaikumsalam" aku berjalan kearah pintu, aku membukanya pelan kemudian keluar dan menutup kembali pintu itu, aku berbalik. "Astaghfirullah" aku menoleh kesamping saat mendengar suara, kulihat Nailah dan dia mundur ke belakang, sepertinya dia hampir saja menabrakku. "Nailah" "Ehm maaf gus Dzaky, saya tidak lihat, hampir saja menabrak" "Ohh, begitu, saya juga minta maaf, saya juga tiba tiba keluarnya" kulihat dia sedikit mengangguk, dia juga terus menunduk. "Ehm maaf gus Dzaky, saya permisi dulu, assalamualaikum" "Waalaikumsalam" Nailah berjalan melewatiku dan berjalan menuju kamarnya, aku merasakan jantungku kembali berdetak begitu kencang. Nailah pov Aku berjalan cepat menuju kamarku, aku langsung masuk dan menutup pintu kamarku, aku berdiri dan terdiam dan menyender dipintu, aku merasakan jantungku berdetak begitu kencang setiap bertemu dengannya, aku pun tak tau perasaan apa ini, hingga tiba tiba kudengar pintu kamar mandi terbuka, kulihat Nazwa keluar dari sana, aku berjalan menuju tempat tidurku dengan tersenyum sedikit padanya, namun tak sekalipun dia membalas senyumku. Aku duduk dimeja belajarku, membuka buku dengan lembaran kosong, dan mulai menulisnya, aku sangat suka menulis sejak kecil, berbeda dengan kedua adik kembarku yg lebih suka membaca. Tok..tok..tok.. "Assalamualaikum" kudengar suara umi dari luar, saat aku menoleh kebelakang, kulihat Nazwa sudah membuka pintu. "Waalaikumsalam umi" "Nailah udah tidur?" aku berdiri dari tempat dudukku. "Belum umi" "Ikut umi sebentar bisa?" "Bisa umi" aku mengangguk dan berjalan kearah umi, kulihat Nazwa hanya diam. "Nazwa umi sama Nailah permisi dulu ya" ucap umi padanya, kulihat dia tersenyum pada umi. "Baik umi" "Ayo Nai" "Assalammualaikum Nazwa" ucapku. "Waalaikumsalam" aku melihatnya tersenyum sedikit padaku, aku berjalan mengikuti umi Aisyah. "Habibah telfon, katanya kangen sama kamu" "Ehm, maaf jika merepotkan umi" "Tidak apa apa, justru umi suka melihat adik kamu yg satu itu, meski sangat manja tapi dia juga begitu mandiri sama seperti kamu" aku tersenyum pada umi Aisyah. "Terima kasih umi" kulihat umi Aisyah tersenyum padaku. "Yasudah, umi tinggal dulu ya, dia sudah menunggu" "Baik umi" umi Aisyah pergi meninggalkanku, aku duduk dikursi yg tersedia didekat meja telefon itu. "Assalamualaikum" ucapku mengangkat telfon itu. "Waalaikumsalam kak Nai" kudengar suara ceria dibalik telfon itu yg membuatku tersenyum. "Ada apa telfon malem malem begini?" "Bibah rindu dengan kak Nai" "Sayangnya kak Nai tidak rindu dengan Bibah" "Yah baiklah, kak Nai pasti sudah banyak teman baru disana" aku tertawa mendengar suaranya yg sedikit ngambek. "Tak ada yg bisa menggantikan kamu disini, kak Nai juga sangat merindukan kamu, juga Habibi, bagaimana kabar kalian?" "Kak Nai slalu begitu, hmm, alhamdulillah Bibah baik, kak Habibi juga baik, kak Nai bagaimana?" "Alhamdulillah kak Nai juga baik" "Buku yg kak Nai beri sudah Bibah baca semua, sangat bagus isinya, kak Nai ga nulis buku lagi?" "Benarkah? Alhamdulillah, ini kak Nai juga sedang nulis" "Cerita tentang apa?" "Tentang Cinta pada Allah" "Subhanallah, ehm kak Nai, boleh Bibah cerita sesuatu?" "Sejak kapan kak Nai melarang kamu bercerita hmm?" "Iya sih, tapi kali ini beda, dan kak Nai harus janji tak akan menceritakannya pada siapapun" "Inshaa Allah kak Nai ga akan menceritakannya pada siapapun" "Ehm, Bibah suka sama seseorang pria" "Benarkah? Tapi kalian ga pacaran kan?" "Engga kak, Bibah baru liatnya sekali, jantung Bibah slalu berdetak kencang saat melihatnya" "Jangan jadikan perasaan mu menjadi zina" "Iya kak Nai, Bibah tau itu" "Hmm baiklah, boleh kak Nai tau siapa orang beruntung yg sudah membuat adik kakak sampai tak bisa tidur itu?" "Kak Naiiii" aku tertawa mendengarkan rengekan Bibah. "Yah baiklah, kak Nai hanya bercanda" "Ehm, pria itu juga sekarang sedang berada didekat kak Nai" "Maksud kamu? Kak Nai bahkan tidak dekat dengan pria mana pun" "Maksud Bibah, pria itu juga tinggal didekat kak Nai, dia..ehm dia adalah anak abi Rafi, gus Dzaky" Deg! Aku terdiam beberapa saat, tidak salahkah yg aku dengar ini, senyumku yg tadi mengembang sekarang bahkan menghilang, kami menyukai pria yg sama. "Kak Nai, kakak masih disana?" "Ehm, iya Bibah, kakak masih disini" "Bagaimana menurut kakak?" "Inshaa Allah, kakak senang dengan pilihanmu, kamu menyukai pria yg tepat" "Benarkah, ehm apakah dia sudah mempunyai seseorang yg dia suka disana kak?" "Sepertinya tidak ada" "Alhamdulillah" "Ehm, Bibah sebaiknya kamu istirahat, kak Nai tidak enak jika berlama lama menggunakan telefon" "Iya kak, maafkan Bibah" "Tidak apa, teruslah berserah diri pada Allah, inshaa Allah, Allah akan mendengarkan doa mu" "Amin, terima kasih kak Nai, kak Nai baik baik disana ya, assalamualaikum" "Kamu juga, titip salam untuk Habibi, waalaikumsalam" "Baik kak Nai" aku mengembalikan telefon itu ke tempatnya dengan pelan, jantungku terasa seperti teriris, apa yg harus aku lakukan, apakah aku harus berhenti menyebut namanya dalam doa ku, ya Allah apa yg harus aku lakukan. Aku merasakan air mataku menetes begitu saja, aku langsung mengusapnya dan berdiri pergi dari tempat itu menuju kamarku, hanya pada Allah satu satunya tempatku untuk mengadu. ♥♥♥♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN