Habibi pov
Aku dan Bibah sudah berada di pesantren, namun kami terpisah karena santri laki laki dan perempuan dipisah, tapi dalam belajar, kami masih bisa bertemu sesekali.
"Assalamualaikum" aku menoleh kesamping, kulihat seorang santri laki laki menyapaku.
"Waalaikumsalam" aku tersenyum, dia duduk disampingku, saat ini kami berada di mesjid pesantren.
"Saya Akbar, salam kenal, kamu baru masuk juga ?" tanyanya menyodorkan tangannya didepanku, aku membalas jabatan tangannya.
"Saya Habibi" ucapku tersenyum, kulihat dia juga tersenyum, dia begitu tampan, kulitnya putih, seperti orang Chines.
"Tak perlu memperhatikanku seperti itu, aku tau aku sedikit berbeda" dia tersenyum padaku.
"Maaf, kamu seperti orang Chines, apa kamu mualaf?" tanyaku padanya.
"Bukan saya, tapi ibu saya, ibu saya Chines, dia menjadi mualaf saat mengenal ayah saya"
"Subhanallah, ayah saya juga seorang mualaf saat mengenal ibu saya"
"Subhanallah sepertinya Allah juga mempertemukan kita dengan ijinnya" aku tersenyum padanya, kami melanjutkan obrolan kami hingga kemudian semua santri masuk ke dalam mesjid untuk pengajian.
"Sepertinya kita bisa menjadi sahabat yg baik" ucapnya tersenyum padaku.
"Bukankah sesama muslim adalah saudara?" ucapku padanya, dan kulihat dia tersenyum mengangguk.
Nailah pov
Aku sedang berjalan menuju ke mesjid, karna pagi ini akan ada pengajian dan juga arahan untuk santri baru.
"Assalamualaikum, Nailah" aku berhenti sejenak mendengarkan suara itu, aku berbalik ke belakang dan dengan cepat aku menunduk.
"Waalaikumsalam gus Dzaky" kulihat dia menghampiriku dengan temannya.
"Ehm, ini saya mau ngasih kartu perpustakaan, siapa tau kamu ingin meminjam buku, semua santri sudah mengambilnya kemarin, cuma kamu yg belum" aku melihat tangannya menyodorkan sebuah kartu aku mengambilnya.
"Terima kasih gus"
"Sama sama, ehm kamu mau ke mesjid" aku mengangguk.
"Yasudah, saya permisi, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" aku melihatnya berbalik dan meninggalkanku, pelan pelan aku menegakkan kepalaku menatap kedepan, dan saat itu juga aku melihat wajahnya menoleh kebelakang melihatku dengan tersenyum, tak terasa aku pun ikut tersenyum, kurasakan jantungku berdetak begitu kencang, aku langsung berbalik dan berjalan kembali menuju kearah mesjid.
"Assalamualaikum" ucapku pelan saat memasuki mesjid, kudengar seseorang menjawab salamku, aku tersenyum dan mengangguk padanya, aku duduk disampingnya yg sedang membaca al Qur'an kecil, aku pun mengeluarkan al Qur'an ku dari dalam tas dan mulai membacanya.
Dzaky pov
Aku kembali ke perpustakaan setelah memberanikan diri untuk menemui Nailah, memberikan kartu perpustakaan yg sebenarnya harus dia sendiri yg mengambilnya sama seperti santri yg lain, tapi entah kenapa hatiku berkata aku harus memberikannya, dan hasilnya begitu manis, saat aku menoleh kebelakang kulihat wajahnya menatapku dan tersenyum sama sepertiku.
"Kalau suka khitbah aja langsung, jangan sampai menjadi zina fikiran" aku langsung menoleh kearah Daffa yg berada disampingku.
"Maksudmu?" tanyaku pura pura tidak mengerti ucapannya.
"Jangan pura pura bodoh Dzaky, kita sama sama seorang guru dan sudah bertahun tahun kita bersama, apalagi yg aku tidak tau tentangmu, seorang pria sholeh yg begitu cuek dengan wanita dan tiba tiba saja senyum senyum sendiri setelah melihat seorang Nailah sampai rela mengantarkan kartu perpustakaan yg sebenarnya harus dia yg mengambil sendiri" aku menggaruk garuk kepalaku yg tidak gatal dan merutuki kebodohanku sendiri.
"Hmm, kamu tau kan dia masih 15 tahun, ga mungkin lah aku nikahi dia, dia juga ga mungkin nerima aku"
"Kamu tau pada umur berapa Aisyah dinikahi oleh Rasulullah?" aku mengangguk padanya.
"Masih sangat muda" ucapku pelan.
"Lalu? Apa yg kau ragukan, kau hanya menikahinya dan setelah dia lulus dari sini kalian bisa tinggal bersama, ingatlah, syetan akan terus menggoda kita disaat saat seperti yg kamu rasakan saat ini" aku mengangguk pelan.
"Terima kasih Daf" ucapku tersenyum padanya.
***
Aku mulai memikirkan apa yg dikatakan Daffa pagi tadi, apa yg harus aku lakukan, haruskah aku mengkhitbahnya sekarang, apakah abi akan setuju, lalu bagaimana dengan orangtuanya, apakah mereka rela melepas anaknya untuk menikah diusia yg baru 15 tahun.
"Astaghfirullah" ucapku pelan.
"Masih mikirin itu?" kulihat Daffa berjalan kearahku dan duduk disebelahku, aku hanya diam.
"Istikharah, minta petunjuk Allah, serahin semuanya kepada Nya, inshaa Allah kau tak akan kecewa"
"Terima kasih Daffa, kau benar" aku mengusap wajahku pelan.
Nazwa pov
Aku mendengarkan percakapan antara mas Dzaky dan Daffa, sepertinya mas Dzaky sedang ada masalah, apakah begitu berat masalahnya sampai mas Daffa harus menyuruhnya beristikharah.
"Nazwa kamu ga apa apa?" aku tersentak ketika Ratih menepuk pundakku pelan.
"Aku ga apa apa Rat" aku tersenyum sedikit padanya, aku berjalan kearah mas Dzaky.
"Assalammualaiku mas" kulihat mas Dzaky dan Daffa melihat kearah ku.
"Waalaikumsalam, Nazwa, Ratih, ada apa?"
"Abi menyuruh saya memanggil mas Dzaky, katanya ada perlu penting" ucapku.
"Tumben abi nyuruh kamu, biasanya abi slalu nyuruh santri laki laki"
"Mungkin tadi abi tidak liat santri laki laki mas"
"Hmm, baiklah sebentar lagi aku akan kesana, kamu boleh pulang duluan"
"Baik mas Dzaky, mari mas Daffa, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" aku dan Ratih pergi dari rumah yg ditinggali mas Dzaky dan juga mas Daffa, mereka tinggal dirumah yg berdekatan dengan kamar santri laki laki agar mereka juga bisa memantau para santri.
Aku sendiri tinggal dirumah orangtuanya yg berdekatan dengan kamar para santri wanita, keluargaku cukup mengenal abi Rafi dan itu juga yg menyebabkan aku bisa tinggal dirumahnya, dan Nailah, aku masih bertanya apakah keluarganya juga dekat dengan abi Rafi sehingga dia juga bisa tinggal dirumahnya.
"Nazwa, kamu tau ga kalo gus Dzaky akan menikah?"
"APA?!!!" aku sedikit berteriak dan berhenti berjalan.
"Nazwa ga perlu teriak segala, nanti ada yg denger" kulihat Ratih menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kamu bilang mas Dzaky akan menikah? Dengan siapa?" kulihat Ratih mengangkat kedua bahunya.
"Kamu ga tau tapi kamu bilang mas Dzaky akan menikah, hati hati dengan ucapanmu Ratih" aku sedikit marah padanya dan berjalan kembali.
"Bukan begitu Nazwa, tadi pagi sewaktu aku di perpustakaan saat akan meminjam buku, aku mendengarkan percakapan gus Dzaky dan gus Daffa, aku ga tau awalnya mereka bicara apa karna aku mendengar saat gus Dzaky berkata bahwa dia tak bisa menikahi wanita itu karna umurnya masih 15 tahun, terus mas Daffa berkata bahwa Aisyah pun dinikahi oleh Rasulullah pada saat usianya yg masih sangat muda dan tinggal dengan Rasulullah diusianya yg 19 tahun, jadi tak ada masalah agar semua perasaannya tak akan jadi zina" aku mencerna semua perkataan Ratih, benarkah, siapa wanita itu.
"Benarkah, lalu?"
"Ya setelah itu gus Dzaky cuma bilang makasih pada gus Daffa, menurut kamu siapa wanita itu, apakah santri baru disini juga?" aku berfikir sejenak, itukah yg membuat mas Daffa menyuruh mas Dzaky beristikharah, apakah percakapan mereka tadi ada hubungannya dengan kata kata Ratih.
"Mungkinkah itu aku Nazwa?" aku menoleh kearah Ratih yg kulihat sedang tersenyum senyum sendiri.
"Jangan berkhayal" aku berjalan lebih cepat dan meninggalkannya, karna kami juga sudah berada di depan kamar kamar para santri wanita, mungkin dia juga akan masuk ke kamarnya.
Aku berjalan pelan saat aku sudah tak melihat Ratih lagi, apakah benar mas Dzaky akan menikah, tapi dengan siapa, wanita yg umurnya masih 15 tahun, mungkinkah aku atau yg lain.
Tiba tiba saja fikiranku tertuju pada Nailah, apakah dia, sejak aku disini dan mendengar sifat mas Dzaky dari beberapa santri disini, mas Dzaky begitu cuek pada wanita, bahkan jika menjawab salam saja dengan menunduk, dan saat Nailah datang kemarin aku langsung mendengar dia akan menikah.
♥♥♥♥♥♥♥