"Gw minta maaf sama lu Van!"
Devan agak ternganga mendengar penuturan Lulu. Ia merasa ada penyesalan yang dalam disitu.
"Hei, kemaren kan udah minta maaf. Sekali aja cukup kok." bàlas Devan.
Lulu menggeleng, " Kemaren minta maaf karena udah nimpukin elu."
"Trus sekarang..?" tanya Devan penasaran.
Lulu menatap Devan sendu, ujung hidungnya mulai memerah pertanda sebentar lagi akan menangis.
"Heiii.. cerita dulu baru mewek. Gw gak bisa nenangin lu nanti kalau gak tau duduk permasalahannya." bujuk Devan yang tau gelagat Lulu. Walaupun pembawaannya tomboy, Lulu yang ia kenal cengeng abis.
"Sebelumnya gw minta maaf, karena udah nuduh lu macam-macam. Kenyataannya emang lu yang dikeroyok Tyo dan teman-temannya." lirih Lulu.
"It's oke Lu!" sahut Devan sambil tersenyum. Ia senang Lulu sudah gak salah paham lagi.
"Gw boleh tanya gak?" imbuh Lulu setelah sesaat mereka saling pandang.
"Tentu."
"Tempo hari, lu menghajar Faisal separah itu karena apa?"
Devan menghela napas. Ingin rasanya ia berkata 'Gw menghajar dia karena c3cunguk itu udah ngomong kurang ajar tentang Lu.'
Tapi ia gak mau Lulu terluka dan merus4k pertemanan mereka. Devan tau, c3cunguk itu ngomong sembarangan gitu cuma untuk memprovokasi dirinya.
"Van!" Lulu memecah lamunan Devan.
"Hmm, kenapa ya?" Devan pura-pura berpikir sambil mengusap dagu.
"Jangan banyak gaya dan ngarang-ngarang cerita!"
Devan tertawa hambar menutupi kegundahannya.
"Isshh... serius amat lu. Udah lewat ini, lupain ajalah.." Dengan mencubit kedua pipi Lulu gemas, berusaha ngeles.
'Mudah-mudahan orangnya murka dan bisa ganti topik.' Devan berdoa dalam hati.
Tapi Lulu malah bergeming. Tak menampik pipinya diuyel-uyel, gak pakai acara cerocos panjang pendek juga. Ia terus menatap Devan dengan serius, sampai-sampai Devan menjadi gugup dan merasa awkward. Pemuda itu menelan ludah gugup.
"Baiklah... Gw cerita." Devan akhirnya mengalah, gak sanggup ditatap lama-lama. Takutnya nanti gak sengaja kecium orangnya, berasa masih jadi pacar.
"Gw pulang main futsal, trus di jalan ketemu orang yang lagi ngedorong motor. Itukan jalanan gang, gak banyak yang lewat. Trus gw bantuin dorong dong dari belakang sampe ujung gang. Pas dia buka helm, mungkin mo bilang makasih, ee.. ternyata dia teman lu si kampr3t itu. Gw buka helm juga rencana mo ngisengin dia." Devan menghentikan omongannya, menunggu reaksi Lulu. Lulu terus menyimak dalam diam.
"Akhirnya dari iseng ledek-ledekan jadi cekcok beneran. Salah gw juga sih Lu, ngomongnya kelewatan. Gw masih aja ngegoda dia cemburu karena sebenarnya ada hati sama lu. Padahalnya kaya nya dia udah nahan-nahan hati banget, tapi mulut gw emang sedang dalam mode kurang ajar kemaren itu." Devan menghentikan ceritanya. Ia meraih gelas sirup dan meminumnya.
"Bukan karena dia nanyain kalau elu pernah 'nyicipin' gw makanya lu langsung main tonjok?" tanya Lulu dengan muka datar.
Devan langsung tersedak sirup. Ia terbatuk-batuk sampai mengeluarkan air mata.
" Uhukk.. Uhuk.. Uhuk!" Devan terbatuk sejadi-jadinya. Sirup yang ia teguk tadi rasanya masuk ke paru-paru.
Lulu menepuk-nepuk punggung Devan supaya batuknya segera berhenti. Matanya kembali berair, berusaha menahan tangis yang dari tadi ingin keluar.
Tak lama kemudian Lulu benar-benar terisak. Ia tertunduk berusaha menelan tangisannya. Devan yang sudah tidak terbatuk lagi langsung menyadarinya.
"Hei..." Ia buru-buru mencabut tissu dan memberikannya ke tangan Lulu.
Lulu tetap tak mau mengangkat kepala. Akhirnya nekat Devan menangkup kedua pipi Lulu, tidak peduli orangnya nanti bakal marah disentuh.
Lulu mengangkat muka, dan air mata sudah membanjiri pipinya. Tissu tadi serasa tidak berguna, karena dengan begitu saja Devan langsung menyeka air mata Lulu dengan kedua jempolnya. Devan menggigit bibir menahan gejolak hatinya. Itulah yang membuat ia tidak mau bercerita ke Lulu. Ia bisa saja sejak kemaren bercerita kalau si Faisal itu sudah ngomong sembarangan. Karena ia sangat menghindari gadis ini menangis. Devan selalu tidak tahan melihat air mata gadis ini. Rasanya ia lebih terluka kalau gadis ini menangis.
"Jangan dimasukkan ke hati, Ok? Lu tau kan dia bicara ngawur!" hibur Devan. Tangannya masih sibuk menghapus air mata Lulu.
Lulu menggeleng tidak setuju.
".. gw marah sama kalian berdua.. karena menjadikan gw objek pertengkaran receh kalian.. Tapi rasa marah ini gak seberapa dengan rasa sakit hati gw ketika gw gak sengaja mencuri dengar obrolan Jono dan Faisal. Faisal yang kenal gw dengan baik, bisa-bisanya ngomong seburuk itu tentang gw. Terlepas dia lagi emosi, tapi gw kan bukan cewek yang kaya gitu Van!" keluh Lulu disela isakannya.
Devan mengangguk cepat, menyetujui statement Lulu.
"Gw tau banget gimana lu menjaga diri di tengah pergaulan masa kini yang gila ini. Dan karena prinsip lu itulah gw juga menjaga lu sebaik yang gw bisa."
"Teman-teman lu pasti juga tau itu tanpa lu jelasin. Si kunyuk itu ngomong begitu cuma buat provokasi gw. Gw juga salah di situ Lu, maaf.."
"Gw.. maksudnya kami, harusnya gak bawa-bawa nama lu dalam pertikaian sesama lelaki. Harusnya gw ajak gelud di atas ring aja buat nuntasin kesal gw ke dia." lirih Devan. Ia menatap Lulu penuh penyesalan. Karena egonya dan Faisal, gadis ini menjadi terluka.
"Maafin gw Lu..." sambung Devan lagi
"Maaf..."
Digenggamnya tangan Lulu dengan setengah bergetar. Lulu hanya bisa terdiam, tidak ada perasaan kesal seperti biasanya ketika Devan mencoba kontak fisik dengannya. Lulu malah menepuk-nepuk telapak tangan Devan yang menggenggam sebelah tangannya. Entah kenapa hatinya menjadi lega setelah melepaskan uneg-unegnya di hadapan Devan, cowok yang bahkan beberapa saat lalu masih ia hindari.
" It's ok Van. Gw anggap dengan ini kita impas. Impas dengan timpukan kemaren." sahut Lulu. Senyum iseng samar mulai tercetak di bibirnya.
Devan mengerang. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, pura-pura ngambek.
"Siangnya kepala belakang gw bocor. Sorenya muka tampan gw yang bocor. Malang benar nasib bujang ini.." keluhnya sambil mencebik sedih.
" Untung stok nyawa masih ada tiga lagi. Kalau enggak, gw udah jadi mayat di jalanan sepi.." sambungnya lebay.
"Heleh.. Lebay amat! Biasanya lebih bonyok dari ini lu tetep idup tuh!" balas Lulu. Ia sudah mulai bisa tersenyum.
"Tapi batunya gede banget Lu! Segede bagong!" karang Devan sambil merentangkan tangannya membentuk bulatan yang besar.
Lulu langsung menggetok kepala Devan pakai remote TV.
"Kalau segede itu, lu udah jadi rempeyek dari kemaren! Lagian si Tyo yang rada cungkring itu juga gak bakal kuat ngangkatnya!"
Devan mengaduh cemberut, "Tusuk aja gw pakai pisau udah Lu! Dari kemaren puas kena timpuk mulu!"
Lulu terkikik.
"Siniin kepala belakang lu. Gw mo liat, seberapa bocornya." Ia berusaha membalikkan badan Devan membelakanginya.
"Pokoknya kemaren darahnya sampai seliter keluarnya!" terang Devan.
Rasanya Lulu gemas ingin menimpuk kepala mantannya ini sekali lagi. Kalau sampai seliter harusnya dia juga udah ada di IGD kek Faisal. 'Lebay amat nih manusia!'
"Ckck.. Van! Emang gede banget bocornya."
Lulu menyibak rambut Devan yang udah mulai gondrong. Memar keunguan segede p****t botol memang ada tak jauh dari tengkuknya.
"Tuh kan Lu..." tegas Devan.
Lulu mengangguk-angguk walaupun Devan gak bisa melihatnya.
"Untung lu gak amnesia Van!"
"Gak masalah sih amnesia, asal ingatan tentang lu gak ilang." racau Devan.
Lulu langsung menoyor kepala Devan gemas.
"Ini yang ngalir apaan dah?" Lulu belagak menyeka sesuatu di memar itu.
"Berdarah lagi Lu?" tanya Devan agak khawatir.
"Bukan... Ini kaya... cairan otak Van!" karang Lulu setengah terkikik.
"Yah... Otak lu yang gak seberapa makin kosong dong kalau cairannya bleber gini.." sambung Lulu sambil tertawa.
"Luluuu!!" Devan langsung berbalik dan memiting leher Lulu gemas.
Devan langsung menghujani jitakan pelan ke kepala Lulu. Si empunya kepala malah tetap tertawa renyah. Puas banget ngeledekin Devan.
"Eee... Adeen... ngapain main KDRT gini.." Bi Inah tergopoh-gopoh dari dapur sambil membawa sepiring bakwan. Ia berusaha melerai tuan mudanya yang ia sangka akan mengasari Lulu.
Sontak Devan dan Lulu langsung tersadar dari cengkramaan mereka. Mereka sama-sama membelalakkan mata ketika menyadari lengan Devan sudah di leher Lulu dan lengan Lulu di punggung Devan. Bahkan kepala Lulu sudah di d**a Devan.
Keduanya langsung menjauh membuat jarak, sambil celingukan canggung.
"Ah, Bibi... ganggu aja.. " sungut Devan.
"Kita gak lagi gelud kok bi, cuma lagi main jitak-jitakan."
Lulu langsung melempar bantal sofa ke muka Devan. Tepat mengenai orangnya.
Devan melirik sebal kena timpuk lagi. Lulu melengos, malu memandang Devan setelah ke gap bi Inah.
"Ya udah, bibi balik ke dapur lagi ajalah..." Bi Inah berlalu meninggalkan dua makhluk ini.
"Dasar anak muda..." gumamannya masih terdengar dari kejauhan.
Keadaan langsung menjadi awkward setelah bi Inah berlalu pergi. Devan menggaruk-garuk tengkuknya yang gak gatal. Lulu lebih parah lagi. Ia gak berani memandang Devan, dan malah sibuk pelototin foto keluarga Devan di dinding. Dan kembali salah tingkah ketika memandang potret Devan yang sedang tersenyum, padahal orang aslinya jelas-jelas tengah duduk di sampingnya.
Devan merutuki dirinya sendiri dalam hati.
'Ini yang dilabeli playboy cap kambing bandot? Ngadapin mantan aja grogi level max gini! Payah lu Van!'
"Ehemm.. Yang barusan sorry ya Lu.." ringis Devan gak enakan. Mood Lulu baru aja membaik, ia takut gadis itu bakal ngamuk lagi.
Lulu mengangguk dan tersenyum simpul.
"It's ok Van. Gw juga terbawa suasana.." balasnya.
"Tapi makasih ya."
Devan mengangkat alis kurang paham.
"Hati gw lega sekarang.."
Devan mengangguk senang, "Syukurlah Lu.."
"Satu lagi, atas semua hal yang udah lu lakukan ini, why?"
"Kenapa lu bisa semarah itu saat orang lain ngomong yang enggak-enggak tentang gw?" tanya Lulu
"Lu mau dengar jawaban apa Lu?" tanya Devan balik. Ia menatap Lulu dengan intens tanpa berkedip.
Lulu tiba-tiba menjadi gugup. 'Kenapa rasanya seperti mau ditembak?'
"Gak ada jawaban tertentu yang gw inginkan, gw cuma penasaran. Why?"
"Karena lu istimewa!"
Lulu ternganga dengan jawaban yang tak ia duga itu.
"Coz you are special! For me.." tegas Devan lagi.
Sontak jantung Lulu bertalu-talu. Entah kenapa, suatu sudut di hatinya berbunga-bunga tanpa bisa ia mengerti.
***