9. Kyuu

1131 Kata
Karena hari ini tidak ada pertandingan, Iona memutuskan untuk berkeliling Tokyo. Seorang diri dengan membawa tas selempang kecil yang berisi ponsel dan dompet miliknya. Iona ingin berkunjung pada pusat penjual makanan dan yang menjadi tempat teramai untuk para turis. Iona sudah menghubungi Kudo untuk tidak menunggunya pulang. karena hari ini Iona akan berada di pusat kota seharian penuh. Sampai di depan sebuah stasiun kereta bawah tanah, Iona seperti melihat seseorang yang dikenal. Sayangnya, Iona tidak begitu mengingat orang tersebut, dan memilih mengacuhkannya. Menikmati perjalanan yang dilakukannya, Iona juga mencari beberapa bahan yang bisa digunakan dalam pertandingan esok. Karena kali ini akan menjadi babak penentuan siapa yang akan memenangkan pertandingan itu. “Ayo datang dan saksikan! Pertunjukkan memasak oleh seorang ahli dalam membuat makanan yang pedas dan juga sangat nikmat,” seru seorang pria sembari membagikan kertas kecil berisi kupon makan gratis. “Apa ini?” tanya Iona. “Ini adalah kupon makan gratis, koki di sana sedang memasak dan ia akan memberikan hasil masakannya secara gratis pada penerima kupon ini,” jelas pria itu. Iona tersenyum dan berjalan mendekat pada tempat yang ditunjukkan pria tadi. Di sana terlihat jelas jika seorang koki sedang memasak, dengan api yang membara pria itu membuat beberapa menu makanan yang siap dicicipi. “Maaf, kupon ini … aku ingin menukarkannya,” ujar Iona. Seorang wanita menerima kupon itu dan menggantinya dengan sepiring makanan. “Ini, selamat menikmati.” “Terima kasih.” Iona duduk sembari melihat koki itu memasak. Makanan yang dibuat memang tidak terlalu lezat, karena ada beberapa bumbu yang kurang. “Pantas saja sepi, ternyata dia tidak pandai dalam memasak,” gumam Iona. Iona sangat tidak tahan dengan pemandangan disekitarnya. Ia melihat ada banyak sekali pengunjung yang memilih meninggalkan tempat itu dan enggan untuk memakan makanan di sana. Akhirnya, Iona berdiri dan mendekati koki yang sedang memasak. “Tuan, kau sungguh mahir dalam teknik. Tetapi sayang … makanan ini tidak lezat sama sekali. Kau bisa lihat, ada banyak sekali orang yang pergi dari tempat ini karena rasanya tidak enak,” ujar Iona secara langsung. “Nona, kau ini siapa? Kenapa kau berani sekali mengatai aku dan masakan ini?” “Aku bukan siapa-siapa, tetapi aku bisa membuat makanan ini menjadi lezat.” Iona menyuruh pria itu menyingkir dari sana. Lalu ia mengenakan apron dan mulai memasak makanan di sana. Dari cara Iona memainkan pegangan penggorengan, dan cara Iona mengaduk masakan itu, tentu saja bisa dilihat dengan jelas jika Iona sangat mahir. Beberapa bumbu tambahan dimasukkan ke dalam makanan itu, dan Iona mulai kembali meracik bumbu yang akan digunakan sebagai saus. “Selesai! Siapapun kemarilah!” teriak Iona. Seorang pria datang dan berdiri di depan Iona. Mata Iona terbuka lebar saat tahu siapa pria yang ada di hadapannya itu. “Chef?” “Kau ingin pamer?” tanya Haru. “Tidak, aku hanya ingin membantu.” “Ikut denganku!” Haru menarik tangan Iona dan pergi dari sana. Entah kenapa Iona hanya menurut saja pada Haru. Padahal mereka tidak terlalu dekat. Sampai akhirnya Iona sadar jika Haru bukanlah siapa-siapa untuknya. “Lepaskan!” Haru menghentikan langkah kakinya dan menatap Iona. “Ada apa?” tanya Haru. “Kau! Kenapa kau menarik tanganku? Kau ini bukan siapa-siapa! Dan kenapa kau bisa ada di sekitar area ini? Bukankah aku juga tidak mengatakan pada siapapun jika aku sedang ingin berkeliling?” Haru terdiam dengan tangan berada di pinggang. Ia terus mendengarkan Iona berbicara, hingga akhrinya Haru meletakkan satu jari telunjuk tepat di bibir Iona. “Kau sudah selesai?” tanya Haru. Iona terdiam, jantungnya berdetak dengan cepat. “Nona!” teriak seorang koki yang bekerja di restoran kecil. “Ada apa?” tanya Haru. “Aku berterima kasih padamu. makanan yang kau buat sangat enak dan lezat. Apa aku bisa menjadikan dirimu sebagai kepala koki di sana?” Iona tertawa dengan kencang. “Tidak, maaf … aku ini hanya seorang gadis yang tidak tertarik bekerja di sana.” “Apa?” “Tuan, maafkan aku.” Iona berjalan menjauhi pria itu dengan Haru yang mengekor padanya. “Kenapa?” Iona menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik badan dan menatap tajam pada wajah tampan di depannya saat ini. “Kenapa kau masih mengikuti aku? Bukankah aku ingin melakukan semua sendiri!” ujar Iona. “Hmm, tetapi … aku ingin menemani dirimu. Apa kau keberatan?” “Ya, sebaiknya kau pergi dari hadapanku!” “Baiklah.” Haru melangkah pergi dari sana, ia tidak ingin mengganggu kesenangan Iona untuk saat ini. memilih untuk menjauh adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya. Akan tetapi, setelah kepergian Haru, Iona merasa seperti orang jahat. “Kenapa aku mengusir orang yang sangat baik?” gumam Iona. Baru saja Iona akan melangkah pergi dari sana, seorang pria berlari dan meraih tas selempang miliknya hingga Iona terjatuh. Pria itu berlari sangat kencang dan membuat Iona mengejarnya. “Tunggu! Itu tas milikku! Hei!” teriak Iona sembari berlari dengan napas tersengal. Sampai di sebuah jalan kecil. Iona baru saja tersadar jika pria itu sedang memancingnya untuk pergi kesana. Iona melihat pria itu berdiri di ujung jalan dan memamerkan tas dengan melemparnya ke atas. “Hei, berikan tas itu!” ujar Iona. “Hmm, kau mau ini?” Tas itu dilempar ke atas hingga melewati Iona. Dan sialnya di belakang Iona sudah ada seorang pria lainnya. “Si-siapa kau?” tanya Iona. Langkah kaki Iona terlihat berat, tidak ada jalan lain untuk dirinya pergi. Pria yang menghalangi jalan keluar mendorong Iona untuk mendekati pria lainnya. “Apa yang kalian lakukan? Berikan tas itu padaku!” tegas Iona. “Hahahahaha.” Iona semakin takut dengan posisinya saat ini. Apalagi kini ia berada di sudut jalan itu. beberapa kali Iona menelan ludahnya dengan kasar. Sampai seorang pria memojokkan tubuh Iona dan hampir saja mencium bibirnya. Namun, dengan cepat Iona memukul pria itu. “Akh!” “Sial!” Baru saja Iona mendapatkan satu langkah untuk menjauhi mereka, akan tetapi tangannya ditarik dan tubuhnya terjatuh hingga ada luka di tangan dan kaki. “Kalian ini siapa?” tanya Iona dengan suara lirih. Kedua pria itu tidak menghiraukan Iona, mereka tetap membuka tas miliknya dan mengeluarkan isi di dalam tas itu. “Hanya ini uangnya,” ujar seorang pria. “Hmm, aku kira kau memiliki banyak uang. Baiklah jika memang hanya ini.” “Bagaimana?” tanya pria lainnya. “Kita berikan saja dia pada Nyonya Ming. Pasti dia akan membayar mahal,” sahut pria lainnya. Satu pria menarik tangan Iona, dan melihat pakain Iona robek. Bagian dalam tubuh Iona terlihat sedikit, membuat mereka gelap mata. “Tunggu, kita nikmati dulu apa yang ada di depan kita.” “A-apa!” Mereka menarik tubuh Iona hingga berdiri, pakaian Iona mereka robek hingga hanya menyisakan dalaman saja. “Tidak! Tolong aku!” teriak Iona. BRAK! Seseorang datang dan menendang satu pria hingga terbentur tong sampah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN