Haru tiba-tiba saja datang menjenguk Iona yang sedang berada di rumah sakit. Haru terlihat membawa satu buket berisi buah dan makanan. Ia meletakkan semua itu di atas nakas, dan duduk di samping ranjang.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Haru.
“Sudah lebih baik.”
“Perlombaan akan kembali dilakukan esok, hari ini kau bisa beristirahat dengan tenang,” ujar Haru.
“Tuan, terima kasih. Tetapi … kenapa pertandingan dibatalkan untuk hari ini?”
“Ada kesalahan teknis, sebuah tabung mengalami kebocoran dan mengakibatkan kebakaran,” jelas Haru.
“Begitu rupanya.”
“Kau … berteman dengan Kudo, bukan?”
“Ya, dia adalah sahabat, dan sudah seperti kakak untukku.”
“Baiklah, aku hanya ingin mengatakanitu saja, makanlah buah dan makanan yang aku bawa. Kau pasti akan semakin membaik setelah ini,” ujar Haru sembari mengacak rambut Iona.
Iona terdiam dan cukup terkejut dengan perilaku manis dari chef itu. Iona melihat beberapa makanan yang dibawa oleh Haru, dan dengan tersenyum … Iona memakan satu persatu hidangan itu hingga habis tidak tersisa.
“Dia sangat baik,” gumam Iona.
Selama Kudo bekerja, Iona hanya sendirian di dalam kamar itu. Tidak ada yang bisa dilakukan selain melihat saluran televisi dan berbaring dengan memejamkan mata. Sampai akhirnya semua itu berakhir, dan Iona melihat seseorang masuk ke dalam kamar itu.
“Hi, maaf aku terlambat datang,” ujar Kudo sembari membawa balon dan makanan.
“Apa ini? kau kira aku anak kecil?” ujar Iona dengan tertawa.
“Ya, kau ini memang adik kecil yang perlu benda seperti ini.”
“Terima kasih, kata dokter aku bisa pulang malam ini, apa kau bisa membantu aku untuk menuju ke bagian administrasi?” ujar Iona.
“Tentu, aku akan segera melakukannya,” jawab Kudo sembari meletakkan semua barang bawaannya.
Kudo terlihat mengeryitkan dahinya, ia melihat ada bingkisan buah-buahan dan bekas bungkusan makanan di atas nakas. Belum sempat bertanya, Iona memberi tahu jika Haru datang ke kamar itu saat Kudo sudah berangkat ke restoran.
Kudo berjalan menuju bagian administrasi, dan akan membayar tagihan rumah sakit untuk Iona.
“Berapa biaya untuk pasien bernama Sakane Iona?”
“Sakane Iona sudah lunas, seseorang sudah membayar tadi pagi,” ujar perawat di sana.
“Apa? Tapi aku baru saja datang, dan Iona tidak memiliki keluarga lain selain aku.”
“Sepertinya pria bertubuh tinggi dan mengenakan jas hitam yang datang membayar kemari,” jelas perawat itu lagi.
“Baiklah, terima kasih, aku akan membawa pulang pasien itu.”
“Baik, ini nota pembayarannya. Kata pria itu, jangan dikembalikan.”
Kudo mengangguk mengerti, ia kembali ke dalam kamar Iona dan melihat seorang perawat membantu Iona melepaskan alat infus yang masih melekat di tangannya. Setelah itu, semua barang Iona juga dibereskan dan mereka bisa kembali ke apartemen milik Kudo.
“Bukankah aku seharusnya kembali ke karantina?” tanya Iona.
“Bukankah kau sudah didiskualifikasi karena tidak mengikuti pertandingan hari ini?”
“Tidak, Chef Haru mengatakan jika aku bisa mengikuti pertandingan esok,” jawab Iona.
“Baiklah aku akan mencoba menghubungi dia.”
Kudo meraih ponselnya dari saku celana. Lalu, sambungan telepon itu terhubung.
“Chef, apa peserta bernama Sakane Iona masih bisa mengikuti pertandingan esok?” tanya Kudo.
“Ya, apa dia sudah keluar dari rumah sakit? Jika sudah, antarkan kembali ke hotel untuk mengikuti karantina.”
“Baik, Chef.”
Kudo kembali meraih tas milik Iona dan mengantarkannya sampai di hotel. Di sana sudah ada Haru yang menyambut mereka dengan tersenyum.
“Kudo, cukup sampai di sini. Aku akan mengantarkan Iona ke dalam,” ujar Haru meraih tas Iona.
“Tidak apa, aku akan masuk sendiri,” ujar Iona.
“Tidak, kemarikan barangmu. Kudo, kau bisa pergi sekarang.”
“Baik.”
Iona pun masuk ke dalam hotel bersama Haru. Dan mereka menuju ke kamar Iona sebelumnya. Haru meletakkan tas milik Iona di sudut kamar, lalu berpamitan padanya.
“Baiklah, aku harus pergi. Kau bisa beristirahat setelah ini,” ujar Haru.
“Tuan, terima kasih.”
“Berjuanglah hingga kau tidak bisa lagi melakukan perjuangan lebih dari ini.”
“Siap, Chef!”
Haru tersenyum, pria itu melangkah ke luar dari kamar Iona dan kembali ke restoran.
Iona menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia baru saja teringat jika perlombaan esok masih belum memiliki persiapan. Iona bangkit dari posisinya dan mengambil pena juga kertas. Ia menulis beberapa nama makanan yang akan dihidangkan esok, itu jika bahan yang sudah dibayangkan memang ada untuk esok.
“Baiklah, aku akan menggunakan ini semua.”
***
Pagi ini, Iona sudah bersiap untuk melakukan pertandingan yang akan menentukan posisi tiga besar. Iona sudah mengenakan pakaian kemeja hitam. Dengan celana jeans, dan rambut yang diikat kebelakang.
Iona berjalan keluar dari kamar, lalu ia melihat ada peserta lain yang menyapanya. Iona hanya tersenyum karena ia tidak terlalu dekat dengan peserta lainnya.
“Baiklah, hari ini aku akan mengucapkan selamat datang untuk Iona. Semoga kau bisa mengikuti pertandingan hari ini dengan lancar,” ujar pembawa acara.
Iona tersenyum dan ia membungkukan tubuhnya sekilas.
Di meja juri, sudah duduk Haru dan dua chef terkenal lainnya. Semakin bersemangat, Iona melihat ada bahan makanan yang sudah ada dalam daftar bayangannya semalam.
“Karena kita semua tinggal di Jepang, para juri memberikan tantangan untuk pembuatan ramen dengan kuah yang paling lezat,” jelas pembawa acara.
Iona tersenyum penuh kemenangan, tentu ia sudah tidak asing lagi dengan makanan itu karena sebelumnya sudah pernah membuat kuah ramen di kedai nenek.
Iona mulai memasak setelah ada tanda dari pembawa acara di sana. Tidak hanya Iona, para peserta lainnya juga sedang berusaha untuk bisa menjadi unggul.
Waktu terus berjalan, Iona terlihat sudah setengah dari perjalanan. Semua bahan yang ia butuhkan benar-benar sangat lengkap di sana. kuah itu terlihat bening dan kental dengan warna merah yang sangat menggoda. Iona memberikan topping daging dan juga telur mata sapi. Tidak hanya itu, ada beberapa topping yang tidak biasa di sana. dan hanya Iona yang menggunakan topping itu.
Setelah selesai dengan masakannya, Iona kini menunggu giliran untuk menghadapi juri. Sampai akhirnya nama Iona dipanggil oleh Haru. Iona membawa hidangan itu dan mempersilakan para juri untuk menilai.
“Hmm, kuahnya sangat gurih dan tidak membuat bosan.”
“Kematangan mie yang sempurna untuk semangkuk ramen. Dan topping apa ini? tidak seperti peserta lainnya, aku merasa sedang makan di sebuah kedai dengan resep turun temurun.”
Komentar para juri sangat menentukan untuk Iona, ia tidak menyangka jika hidangan kali ini masih membuat mereka memuji bakat yang ada dalam diri Iona.
Setelah selesai mendapatkan penilaian, Iona kembali ke balik meja nya. Mereka menunggu pengumuman yang akan diberikan oleh para juri. Jantung iona terasa berdetak cukup kencang, ia sangat takut jika tidak bisa lolos pada babak ini. Karena hampir semua peserta memasak dengan baik ramen yang menjadi ciri khas dari makanan yang ada di Jepang.
Dan akhirnya, para juri kembali dengan membawa nama-nama yang akan melanjutkan pertandingan selanjutnya. Haru menjadi juri yang akan mengumumkan siapa saja peserta itu.
Satu langkah maju, Haru memanggil dua nama peserta untuk maju sebagai peserta yang lolos. Sedangkan nama terakhir membuat Haru tersenyum lebar dengan menatap ke arah Iona.
“Iona, selamat.”
Senyum lebar kini terlihat di wajah Iona. Hampir saja ia berteriak karena senang. Akhirnya, Iona bergabung dengan ke tiga peserta yang akan maju ke babak selanjutnya. Dan untuk pertandingan penentuan akan dilakukan pada lusa.