7. Nana

1212 Kata
Penjurian dilakukan dengan sangat ketat, Iona berpikir mungkin ia tidak akan bisa memenangkan perlombaan itu. Bukan karena kemampuannya yang diragukan, tetapi persaingan sangat ketat dan mungkin ada yang akan berlaku curang. Ya … Iona bisa melihat pada babak kali ini, seorang dengan hasil yang masih ada di bawah Iona bisa memenangkannya. Merasa tidak puas, Iona memberanikan diri untuk naik banding. Ia ingin mencicipi makanan dari peserta itu dan membandingkannya dengan makanan miliknya. Siapa sangka permintaan itu langsung di tolak oleh seorang juri yang memberikan hasil. Iona bersikeras untuk tetap membandingkan makanan miliknya dengan peserta itu. Hingga akhirnya kepala chef yang tidak hadir pada penjurian harus di hubungi karena permintaan Iona. Ya, mereka menghubungi chef Haru untuk memastikan permintaan itu dikabulkan. “Sementara ini hentikan pertandingan sampai aku datang! Pertemuan hari ini sangat mendadak, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja,” ujar Haru di telepon. “Baiklah, kami akan menghentikannya untuk beberapa saat.” Setelah sambungan telepon yang dilakukan, akhirnya mereka menghentikan pertandingan untuk sementara hingga Haru datang. Seorang peserta menghampiri Iona, ia merasa jika Iona terlalu berlebihan dan tidak bisa menerima kekalahan. “Hei, sudahlah! Pertandingan ini akan semakin lama. Kau sungguh menghambat semua orang!” ujarnya dengan tegas. “Aku tidak peduli! Jika kau merasa keberatan, kau juga bisa mengajukan protes pada mereka,” sahut Iona. Tidak semua orang menentang keinginan Iona, ada seorang pria yang mendukung Iona untuk tetap menunggu hasil dari juri yang bernama Haru. Setelah beberapa jam pertandingan itu dihentikan, akhirnya Haru datang dengan tergesa-gesa. Ia sedang mengenakan jas berwarna hitam, melangkah mendekati para juri yang menggantikannya. Haru memutuskan untuk menguji ulang ke duanya dan menentukan siapa yang berhak memenangkan pertandingan hari ini. Iona kembali menunjukkan keahliannya, ia membuat makanan sebelumnya dan menghidangkan di atas piring saji. Iona memberikan makanan itu di hadapan Haru. Satu suapan masuk ke dalam mulut chef yang terkenal dengan ketegasannya dalam penilaian makanan itu. Haru merasakan ke dua makanan yang sudah dibuat peserta. “Kalian tunggu di sana, aku akan segera memutuskan siapa yang layak untuk memenangkannya,” ujar Haru. Pria itu kembali ke belakang panggung juri. Ia menemui seorang juri  yang sudah menggantikannya pada hari ini. Haru menemukan sebuah kecurangan di sana, ternyata juri itu memiliki hubungan dengan peserta. “Kau ingin membuat karirku hancur hanya karena perlombaan ini? Apa kau sangat tidak memikirkan masa depan dari restoran yang sudah lama aku pimpin!” omel Haru pada juri itu. “Maafkan aku, Haru.” “Jika maaf bisa dengan mudah menyelesaikan masalah, tidak aka nada hukum di Negara ini!” ujar Haru kesal. Akhirnya setelah berbicara dengan beberapa juri lainnya, Haru keluar dan menemui dua peserta yang sudah menunggu di sana. Haru dengan tegas mengumumkan bahwa Iona lah yang menjadi pemenang hari ini. Iona mendapatkan beberapa keuntungan untuk melanjutkan hari esok, sedangkan peserta yang sudah bekerja sama dengan juri lain, kini harus didiskualifikasi dari lomba. Iona terlihat sangat senang, ia juga memiliki waktu untuk bisa bertemu dengan Kudo di area hotel tempatnya dikarantina. Iona mengungkapkan perasaan bahagia karena ia bisa sampai di tahap itu. “Selamat! Kau memang pantas mendapatkannya, Iona!” seru Kudo. “Kau tahu … aku sangat bahagia, sampai aku mengira semua ini hanya mimpi saja,” ujar Iona. Kudo memberikan sebuah gelang tali sebagai jimat untuk Iona. Kudo tidak ingin Iona patah semangat untuk meraih impiannya. Ia selalu memberikan dukungan pada Iona dalam segala hal. Pertemuan itu diketahui oleh Haru. Kebetulan hari ini ia masih berada di sekitar hotel untuk memeriksa bahan makanan esok. Haru mendekati Iona dan mengatakan,”kau penuh semangat, aku harap kau bisa bertahan hingga akhir, Nona.” Mendengar perkataan yang mengandung semangat itu, Iona tersenyum pada Haru. Setelah pertemuan dengan Kudo, Iona kembali ke dalam kamar karantina. Ia mulai naik ke atas ranjang, dan memutuskan untuk tidur lebih awal malam ini. *** Pagi ini, Iona merasa indera penciumannya terganggu. Karena lelah dengan pertandingan memasak, ia sampai melupakan kesehatannya sendiri. Beberapa kali Iona terlihat bersin dan hidungnya nampak memerah. Ia masih memaksakan diri untuk mengikuti pertandingan hari ini dengan mengenakan masker yang menutup bagian hidung dan mulutnya. “Kenapa kau mengenakan itu?” tanya Haru. “Maaf, Chef. Aku sedang sakit.” “Kenapa kau tidak beristirahat dengan benar? Bukankah kau sendiri yang menginginkan kemenangan di sini?” omel Haru pada Iona. “Aku akan berusaha untuk bisa lanjut pada babak akhir,” ujar Iona dengan tegas. Haru berjalan menjauhi Iona, dan duduk di kursi juri. Perlombaan hari ini di mulai dengan semangat para peserta yang masih bertahan di sana. Hari ini, Iona mendapatkan keuntungan.  Ia bisa memasak sesuka hatinya dan menentukan menu masakan untuk peserta lainnya. “Apa yang ingin kau buat hari ini?” tanya seorang pemandu acara. “Aku ingin memasak sesuatu yang panas, seperti penyajian yang menggunakan hot plate,” jelas Iona. Akhirnya pertandingan di mulai, Iona mengambil daging dan beberapa sayuran dari pantry. Tidak lupa juga cara penyajian yang sudah dikatakan sebelumnya, sebuah plate yang akan di masak dengan api membara, dan masih tetap panas saat di sajikan. “Iona, apa yang ingin kau buat?” tanya seorang juri yang datang ke meja Iona. “Makanan dengan penyajian menggunakan hot plate, Chef,” ungkap Iona. “Baiklah, aku tidak sabar dengan makanan yang akan kau buat. Aku harap kau bisa memenangkannya lagi.” “Terima kasih.” Iona sangat senang karena mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Ia pun menyelesaikan kegiatan itu dalam lima puluh menit, dari  waktu enam puluh menit yang di berikan.  Para juri menghentikan pertandingan karena salah satu dari mereka telah selesai memasak. Akhirnya mereka di berikan waktu untuk menghidangkan makanan di atas piring saji selama lima menit terakhir. Iona adalah peserta pertama yang harus maju untuk dinilai rasa makanannya. Sedangkan para peserta lainnya harus menunggu. Haru adalah juri penguji pertama yang akan mencicipi makanan itu. Iona menjelaskan apa saja yang ada di atas plate panas itu. “Baiklah, kau memang tidak bisa ditebak. Aku kira kau hanya akan memasak steak di sini. Ternyata aku salah, kau memasak hidangan dari Asia dan memberikan cita rasa yang luar biasa,” puji Haru. “Terima kasih, Chef,” jawab Iona. Pertandingan berjalan begitu tegang, karena ada dua peserta yang dipulangkan. Mereka menghidangkan makanan yang belum siap untuk di makan sehingga membuat beberapa chef marah dan melempar piring saji itu. Tidak lama setelah acara di sana selesai, Iona pun tumbang. Ia dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan Kudo sebagai sahabatnya datang untuk memastikan kondisi Iona di sana. Akan tetapi, Haru sudah duduk di samping brankar dan menjaga Iona. “Chef … aku kira, Iona seorang diri di sini. Maaf aku tidak tahu,” ujar Kudo. “Tidak masalah, apa kau temannya? Jaga dia, karena aka nada pertandingan lagi jika dia ingin menang.” Haru beranjak dari posisinya, berjalan keluar dari kamar pasien dan meninggalkan Iona bersama Kudo di sana. Kudo memastikan kondisi Iona dengan memanggil seorang dokter. “Ia hanya sedang kelelahan saja, dan juga sedang flu. Mungkin udara dingin yang membuatnya bisa jatuh sakit,” ujar dokter. “Apa ia masih bisa melanjutkan pertandingan?” tanya Kudo. “Kita akan melihat perkembangan kesehatannya. Jika ia membaik, aku yakin pasti ada kesempatan untuk melanjutkan kegiatan itu.” Setelah itu, Kudo duduk di samping Iona. Ia menatap wajah pucat Iona dengan rasa penyesalan, kenapa bukan dia yang ada saat sedang dibutuhkan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN