Hari yang dinantikan Iona pun tiba, ia kini sudah berada di meja untuk mendaftar lomba. Iona menggunakan namanya sendiri dengan menuliskan riwayat jika ia masih baru dalam dunia memasak. Panitia yang ada di sana tersenyum miring melihat formulir milik Iona. Merasa jika wanita itu tidak akan berhasil masuk ke tahap menjadi peserta utama.
Akhirnya … Iona masuk ke dalam sebuah pusat perbelanjaan. Di sana, para peserta diberikan waktu selama sepuluh menit untuk memilih bahan yang akan digunakan. Syarat dalam babak penyisihan adalah tidak ada bahan yang terbuang saat penjurian.
Iona tersenyum, selama berlatih ia sangat minim membuang bahan makanan. Semua yang tersisa dari bahan itu akan selalu ia gunakan kembali dan menjadi hidangan lainnya. Untuk permulaan, para juri ingin mereka membuat menu sushi yang biasa dijual di restoran tempat Kudo bekerja.
Karena sudah sangat hafal dengan menu dalam restoran itu, Iona tentu dapat dengan mudah membuat makanan khas Jepang itu. Iona mulai mengambil beberapa bahan yang biasa di gunakan dalam membuat sushi. Iona juga ingat, jika dalam menu restoran tempat Kudo bekerja, selalu menambahkan rasa krispi dalam sushinya.
Iona mengambil daging ikan salmon, nori atau lembaran rumput laut yang biasa digunakan dalam membuat sushi, sayuran, dan tentunya beras untuk dijadikan nasi yang membungkus sushi itu. Mayonaise, dan saos lainnya juga Iona dapatkan di sana. Tentu semua yang akan diambil gratis karena menjadi fasilitas untuk perlombaan itu.
“Beruntung sekali aku bisa mengikuti lomba ini, semua bahan makanan yang disediakan sangat segar dan berkualitas,” gumam Iona.
Ia telah selesai dengan kegiatannya di dalam pusat perbelanjaan itu. Kini Iona berada di halaman depan pusat perbelanjaan, untuk melanjutkan kegiatannya memasak di sana. semua bahan yang sudah Iona ambil kini mulai ia eksekusi menjadi makanan yang diinginkan para juri.
Di saat Iona sedang memasak, seorang juri di sana mengumumkan sesuatu. Iona mendengarkan dengan sangat baik apa yang disampaikan oleh juri itu, hingga akhirnya setelah waktu yang ditentukan selesai, Iona berhasil menghidangkan sushi yang sama dengan menu di restoran Streetwish.
Iona menjadi peserta pertama yang dipanggil namanya. Karena ada seorang juri yang diam-diam mengamati apa yang Iona buat. Saat tudung saji dibuka, di sana terlihat jelas menu yang sushi seperti di restoran.
“Hmm, tidak hanya nama penyajiannya juga sama dengan yang ada di restoran Streetwish. Hei, Haru … apa kau membocorkan menu pada wanita ini?” goda seorang juri yang tidak lain pengamat makanan di kota Tokyo.
“Jangan bergurau, aku bahkan tidak mengenali wanita ini. cepat lakukan tugasmu, kita masih memiliki dua puluh peserta lainnya!” ujar seorang chef yang bernama Haru.
“Baiklah, aku akan memakan satu dari lima sushi yang kau hidangkan ini. Lalu … untuk keranjang sisa bahan, di sana hanya ada keranjang kosong. Kau yakin tidak membuang bahan makanan?” tanya Draco, pria yang memiliki subscriber mencapai 400k.
“Ya, aku menggunakan semua bahan makanan segar ke dalam menu sushi itu. Karena selama latihan, aku meminimalis untuk membuang bahan yang masih bisa digunakan,” jelas Iona.
“Hmm, bagus sekali. Baiklah … sushi ini enak dan rasanya juga sama dengan buatan Haru.”
Setelah itu Draco berjalan mundur dan digantikan chef utama sebagai pemilik menu itu.
“Kau sangat berani membuat menu milikku. Jika aku tidak menemukan celah, kau akan langsung masuk ke dalam babak selanjutnya.”
“Te-terima kasih atas kesempatan ini.”
Chef Haru mulai menggunakan sumpitnya untuk mengambil sushi yang ada di atas piring saji. Ia mengamati bentuk dan juga bobot dari sushi itu. Setelah memastikan semua, Haru mulai memasukkan satu potong sushi ke dalam mulutnya.
Tidak ada komentar, Haru berjalan mundur dan membicarakan dengan rekannya. Kini giliran juri terakhir yang tidak lain adalah seorang selebgram kuliner di Jepang. Seorang wanita bernama Yuka Kinoshita. Dia adalah seorang BJ atau broadcast jokey yang memiliki tubuh langsing. Meski porsi makan wanita ini sangat besar, tetapi ia tidak bisa gemuk seperti manusia pada umumnya.
“Kenapa hanya ada sedikit? Kau tahu siapa aku bukan?” tanya Yuka.
“Ya, kau sangat terkenal di dunia maya. Aku mengikuti setiap video yang kau update.”
“Wah, terima kasih.”
“Apa sushi ini bisa menjadikan aku sebagai peserta pertama yang lolos?” tanya Iona dengan berbisik.
“Hahaha, kau sangat percaya diri. Jika kau lolos, buatkan makanan dengan porsi besar untukku.”
“Tentu saja.”
Setelah penjurian selesai, tiga juri memutuskan ada lima belas orang yang lolos ke dalam babak selanjutnya. Termasuk Iona yang mendapatkan hak khusus. Babak selanjutnya akan dilakukan keesokan harinya, dan para peserta mendapatkan fasilitas menginap di hotel yang ada di atas restoran Streetwish.
Dalam satu kamar, ada tiga orang wanita. Iona bersama mereka yang melanjutkan perlombaan itu. Iona juga bertanya pada mereka mengenai perlombaan ini. Apa saja pengalaman mereka mengenai makanan, dan bagaimana mereka menciptakan suatu menu makanan yang menggugah selera makan seseorang.
Semua terjawab, dan Iona merasa sangat puas. Ia pun beristirahat lebih awal, karena tahu jika esok akan lebih berat dari babak penyisihan kali ini.
***
Keesokan harinya, Iona terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Ia segera membersihkan diri di dalam kamar mandi,lalu keluar dengan pakaian yang akan ia kenakan dalam perlombaan. Iona memiliki gaya seperti remaja, apalagi tubuh kecilnya itu membuat Iona terlihat sangat imut layaknya remaja lainnya.
Tetap saja, usia Iona sudah tidak lagi remaja, karena ia memiliki usia dua puluh lima tahun di tahun ini. semua orang berkumpul di restoran Streetwish untuk makan pagi bersama. Menu yang dihidangkan disana tidak sama dengan yang ada pada menu utama. Bahkan yang memasak bukanlah chef utama, melainnya helper dan asisten chef.
“Meski bukan chef utama, hidangan ini sangat lezat. Pantas saja restoran ini sangat ramai pengunjung,” gumam seorang peserta.
Iona melihat Kudo sedang berdiri di pintu dapur. Pria itu melambaikan tangan sembari memberikan semangat pada Iona. Dan setelah kegiatan pagi itu selesai, mereka segera menuju ke pusat perbelanjaan yang menjadi tempat utama lomba itu.
Setelah semua peserta siap, mereka mendengarkan apa yang akan dimasak hari ini. Dan sebuah tantangan yang mengejutkan membuat Iona tersenyum tipis.
“Baiklah, kalian harus memasak dengan bahan yang sudah kami siapkan. Dan semua ada di dlaam box yang sudah siap di atas meja kalian. Setiap orang akan memiliki bahan yang berbeda, jadi … makanan yang akan kalian buat juga berbeda. Ingat! Minimalis sampah bahan makanan segar.”
“Baik, chef.”
“Kalian bisa memulai kegiatan memasak ini mulai sekarang, dan waktu yang akan diberikan adalah selama sembilan puluh menit saja.”
Semua orang mulai bergerak termasuk Iona. Ia melihat ada bahan makanan untuk membuat onigiri. Hanya saja … ada beberapa bahan yang tidak seharusnya di gunakan dalam makanan itu, tetapi … Iona memiliki ide untuk menjadikannya bahan utama dalam membuat aneka onigiri. Iona mulai memasak nasi, sembari menunggu, ia membuat isian dari onigiri itu.
Beberapa peserta mengeluh karena bahan makanan yang mereka dapat tidak sesuai. Dan ada juga yang mengalami kecelakaan saat memasak, seperti jari yang teriris pisau, atau tangan yang tanpa sengaja menyentuh benda panas.
Melihat semua kejadian itu, tidak membuat Iona merasa terintimidasi. Ia terus melakukan kegiatan memasaknya dan menghidangkan yang terbaik untuk para juri.
Dan akhirnya waktu yang ditentukan telah selesai. Iona menghentikan kegiatannya dengan hidangan yang telah siap di atas piring saji.
“Akhirnya selesai juga.”