5. Go

1230 Kata
Kudo sedang menuju ke rumah sakit tempat Iona di rawat. Ia datang terlambat, dan merasa takut jika Iona akan marah padanya. Sampai di rumah sakit, Kudo tidak menemukan Iona di dalam kamar pasien. Tentu membuat Kudo khawatir, dan ia berlari menuju ke bagian informasi. Kudo bertanya mengenai keberadaan Iona yang tidak bisa ia temukan di sana. “Maaf, apa kau melihat pasien dari kamar itu? Hari ini ia bisa pulang, tetapi aku tidak dapat menemukannya di sana,” tanya Kudo. “Sakane Iona? Ia masih ada di rumah sakit ini, dan belum pulang. Jika tidak salah, ia sedang menunggu temannya datang menjemput.” “Itu aku,” jawab Kudo. “Ah, kau rupanya. Iona ada di lobby, sedang duduk bersama pasien bernama Aoyama.” “Baiklah, terima kasih.” Kudo segera bergegas menuju lobby rumah sakit, dan benar saja. Iona sedang duduk bersama seorang anak kecil laki-laki. Mereka tengah tertawa bersama sembari berbicara dan memakan camilan yang didapatkannya dari mesin camilan di rumah sakit. “Akhirnya aku bisa menemukanmu, maaf karena terlambat,” ujar Kudo. “Kau sudah datang,” ujar Iona. “Apa ia temanmu?” tanya anak kecil bernama Aoyama. “Ya, dia temanku. Dan aku harus pergi sekarang.” “Baiklah, sampai jumpa.” Kudo dan Iona kembali ke kamar untuk mengambil barang yang masih tertinggal di sana. Lalu, setelah semua siap untuk dibawa pergi. Ke duanya berjalan menuju ke bagian administrasi dan menyelesaikan pembayaran. “Maaf karena merepotkanmu,” ujar Iona. “Tidak masalah, kita kembali ke rumah sekarang.” Kudo sudah memanggil taksi untuk mengantarkan mereka sampai di apartemen. Namun, sebelum mereka masuk ke area apartemen, Kudo mengantarkan Iona terlebih dahulu ke kedai milik Nenek. Iona melihat Nenek pemilik kedai mulai kembali bekerja. Ia masuk dan menghampirinya. Awalnya, sang Nenek tersenyum dan menyambut Iona dengan baik, lalu cucu pemilik kedai itu datang dan mengacau. “Berani sekali kau datang ke sini!” ujar Kuroki. PLAK! “Kenapa kau sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua darimu?” omel Nenek. “Nenek, tidak masalah. Aku datang hanya untuk berpamitan padamu,” ujar Iona. “Apa? Kenapa? Apa semua ini karena cucuku?” tanya Nenek pemilik Kedai. “Tidak, aku harus beristirahat dulu dalam beberapa hari ini. Lalu … aku ingin mengikuti sebuah perlombaan memasak di pusat kota. kebetulan jurinya adalah chef di tempat Kudo bekerja,” jelas Iona. “Ah … begitu rupanya, kau memang anak yang berbakat. Aku berdoa agar kau bisa memenangkan perlombaan itu. Aku minta maaf untuk masalah cucuku, dia memang keterlaluan,” ujar Nenek. “Tidak masalah, aku baik-baik saja, Nenek.” Setelah selesai dengan urusannya di kedai ramen itu. Iona kembali melanjutkan perjalanannya kembali ke apartemen bersama Kudo. “Kau baik-baik saja?” tanya Kudo. “Ya, aku tidak apa-apa.” Sampai di dalam apartemen, Kudo membuat sambutan kecil untuk Iona. Ia mempersiapkannya sejak siang hari, karena hari ini Kudo meminta izin untuk pulang lebih awal. Iona cukup terkejut dan bahagia dengan sambutan dari Kudo. Di dalam apartemen itu, ruang tamu sudah terlihat ada hiasan ucapan selamat datang. Lalu di meja sudah tersedia hidangan yang dimasak oleh teman-teman Kudo di restoran. Mereka pun duduk bersama di sana,da nada sedikit ucapan selamat atas kesembuhan Iona dari Kudo. “Aku harap, kau selalu sehat, dan apa yang akan kau raih menghasilkan sesuatu yang sangat berguna untuk dirimu. Kau adalah sahabat terbaik, yang selalu aku jaga, dan sudah seperti keluarga. Aku senang bisa selalu melihat perkembangan bakat yang kau miliki.” “Kudo, terima kasih.” “Ayo kita makan! Aku sudah sangat lapar.” “Hahaha, baiklah. Ayo kita habiskan makanan ini.” Mereka pun melahap semua hidangan yang ada di sana. Makanan yang ada di sana meliputi sushi, bento, onigiri, dan beberapa camilan seperti ebi furai, ekkado, dan egg roll. “Makanan ini sangat lezat, aku sangat senang.” “Jika seperti itu, habiskan!” ujar Kudo. Sampai semua makanan itu masuk ke dalam perut keduanya. Iona membantu Kudo untuk merapikan ruang tamu. “Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan itu, aku akan membersihkannya sendiri. Sebaiknya kau beristirahat sekarang!” ujar Kudo dengan tegas. “Baiklah, jangan menyesal karena menolak bantuanku!” ucap Iona sembari membersihkan tangannya dan berjalan masuk ke dalam ruang tidurnya. Di dalam kamar tidur, Iona masih menatap brosur mengenai lomba yang ia simpan. Di sana tertulis jika yang akan dilombakan adalah makanan khas dari Negara Jepang. Tidak hanya itu, untuk makanan lain, mereka hanya memperbolekan hidangan menu Asia saja. “Aku sudah menguasai hidangan Jepang, kali ini … aku harus bisa membuat makanan dari Korea Selatan dan China,” gumam Iona. Ia meletakkan brosur itu dan meraih selimut untuk tidur. Keesokan paginya … Iona terbangun dari tidurnya, ia membuka pintu kamar dan melihat sudah ada makanan di atas meja yang ada di ruang tamu. Iona tidak melihat keberadaan Kudo, dan hanya menemukan secarik kertas bertuliskan kalimat pesan dari Kudo. “Ternyata ia sudah pergi, kenapa selalu memanjakan aku.” Iona segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, Iona mengenakan pakaian santai,duduk di ruang tamu lalu menikmati hidangan di sana. Sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Iona juga menatap layar ponselnya. Ia melihat beberapa menu yang akan dibuat uji coba. Selain itu, Iona juga mencatat semua bahan-bahan yang diperlukan untuk membuatnya. “Baiklah, semua sudah aku catat,” ujar Iona. Setelah selesai dengan kegiatan makannya, Iona membersihkan meja dan juga bagian dapur yang masih terlihat berantakan. Semua sudah selesai ia kerjakan, dan akhirnya Iona pergi keluar dari apartemen. Iona berjalan menuju ke minimarket yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen itu. Di sana, Iona membeli bahan-bahan yang tidak ada di apartemen. Ia akan memasak hidangan dari negeri gingseng , yang bernama kimchi dan juga jjangmyeon. Iona tertarik untuk membuatnya karena banyak sekali komentar yang mengatakan jika makanan itu sangat digemari banyak orang. “Baiklah, ini semua akan aku beli. Lalu … aku juga akan belanja untuk makan malam bersama Kudo,” ujar Iona sembari memasukkan bahan-bahan belanjaan ke dalam keranjang yang ia bawa. Iona segera kembali ke apartemen, ia akan langsung memasak makanan yang akan menjadi menu makan siangnya. Di dapur, Iona memotong beberapa bahan yang diperlukan. Ia juga melihat video yang menampilkan cara memasak makanan itu. “Ternyata tidak terlalu sulit. Baiklah, aku akan menyelesaikannya dengan segera.” Tangannya dengan ahli memotong dan juga mengupas. Setelah semua siap, ada beberapa bahan yang memerlukan penghalus untuk bumbu dasar makanan itu. Selain itu, Iona juga membuat saos sendiri agar lebih menarik. “Baiklah, aku akan mencampur bahan ini. Sepertinya, rasa yang dikatakan dalam video sudah terasa cukup.” Ponsel Iona berdering, bisa dipastikan jika Kudo adalah orang yang menghubungi dirinya saat ini. Iona menghentikan kegiatannya beberapa saat. Lalu ia menerima panggilan telepon itu. “Hai, ada apa?” tanya Iona. “Apa kau sudah mulai latihan? Aku sudah mengatakannya padamu untuk beristirahat terlebih dahulu.” “Hei, aku tahu. Kau tidak perlu cemas, karena aku sudah sangat sehat sekarang.” “Kau memang keras kepala! Baiklah, aku akan pulang terlambat, kau bisa makan malam terlebih dahulu, dan jangan menunggu.” “Baiklah, aku akan melakukan yang kau katakan.” Setelah sambungan telepon itu berakhir, Iona kembali melanjutkan kegiatannya hingga hidangan itu selesai ia letakkan di atas piring saji. Iona mencicipi masakan itu, ia merasa rasa yang dihasilkan tidak terlalu buruk. Apalagi Iona tidak terlalu suka dengan makanan yang memiliki tingkat kepedasan tinggi. “Lumayan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN