Randi
Braaakkk
Suara hantaman mobil yang melaju kencang dan menabrak pohon saat tengah malam.
Keadaan sangat sunyi karna itu di kawasan yang memang sedikit jauh dari kawasan penduduk.
" ssshhh aaakkkhh." setelah beberapa jam akhir nya laki laki yang mengemudi kan mobil itu pun sadar.
Saat ini ia sudah ada di rumah sakit setelah ada pengendara lain yang melintas dan membawa nya ke rumah sakit.
" kamu sudah sadar sayang?" ucap eva ibunda randi.
Laki laki itu bernama randi.
Laki laki yang ber usia matang tiga puluh dua tahun yang saat sebelum kecelakaan itu terjadi dia ada di sebuah resepsi pernikahan nya.
Namun sayang, wanita yang randi cintai pergi meninggal kan randi di hari pernikahan mereka.
Randi yang terpukul dan tak menyangka calon mempelai wanita meninggal kan nya di hari istimewa nya pun memilih pergi dari tempat itu dan dengan sadar randi mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Namun na'as ada kucing yang tiba tiba melintas. Randi menghindari kucing tersebut namun randi justru oleng dan menabrak pohon besar di pinggir jalan.
" aku di mana mah?" tanya randi lemah karana merasakan sakit pada kaki nya yang teramat sangat.
" kamu di rumah sakit sayang." ucap sang mama dengan suara serak dan sedih melihat keadaan anak nya.
Kriieeeettt.. Suara pintu di buka. Dan masuk lah dokter yang menangani randi.
" maaf bu, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?" ucap sang dokter pada eva.
Eva hanya mengangguk meng iya kan.
" sayang, mamah keluar sebentar ya. Kamu istirahat aja dulu jangan banyak gerak ya." pamit eva pada randi.
Eva mengusap lengan anak nya dengan perasaan yang campur aduk.
" begini bu eva. Keadaan kaki randi seperti nya mengkhawatir kan. Ada kemungkinan randi akan lumpuh sementara saat ia sudah pulih nanti. Kita belum bisa memastikan penyebab pasti nya. Dan randi harus menjalani terapi setelah pasca oprasi di lutut nya."
Dokter memberi tau keadaan kaki randi pada eva ibu nya.
Eva hanya menangis mendengar penjelasan dari dokter yang menangani randi.
" apa anak ku masih bisa berjalan lagi dok? " tanya eva dengan masih tersedu sedu.
" kita akan berusaha semampu yang kita bisa untuk pasien bu."
*****
Di tempat lain. Zee zee gadis cantik dan periang tengah bermain dengan kucing putih milik nya.
" sayang kamu gak kuliah? " tanya karin ibu zee zee.
" enggak bu. Hari ini zee zee gak ngampus. Zee zee nanti mau ke luar ya bu. Mau nonton sama temen."
" jangan bilang kamu mau pergi sama berandal itu." dengus karin yang tak suka dengan teman anak nya.
" ibu gak boleh gitu. Dia kan pacar aku."
" pacar itu jemput nya di rumah bukan di pekarangan tetangga. " jawab agus papa zee zee yang tiba tiba muncul.
" papa yang bikin reno gak mau ke rumah. Coba kalo papa gak galak pasti reno mau jemput zee zee ke rumah. " protes zee zee pada sang papa.
" kamu itu anak perempuan papa. Kalo papa gak galak terus siapa yang bisa jagain kamu? Sedang kan kamu aja gak ada takut takut nya sama papa meskipun papa galak. "
" akh papa nyebelin. Ibu juga gak pernah belain zee zee. " zee zee manyun namun masih terus bermain dengan kucing gembul milik nya.
" kalo kamu salah gimana ibu mau belain kamu? Lagian reno itu suka mabuk mabuk kan. Suka ganti ganti cewek. Playboy. Ngapa kamu suka sama cowok kayak gitu?. Mending cari tuh yang udah kerja. Mapan. Jadi bisa menjamin hidup kamu. Kita ini bukan orang kaya zee. Kalo mau gak bisa cari laki laki bener ya paling tidak yang tidak menyusah kan. " ucap sang ibu tak kalah sewot yang melihat anak nya mulai protes.
" ibu nih matre. " gumam zee zee. Namun ibu nya masih bisa mendengar.
" ibu gak matre. Tapi kalo kamu punya pasangan yang paling tidak mapan itu kita sebagai orang tua akan merasa tenang. kalo tiba tiba kita meninggal jadi gak khawatir dengan kehidupan kamu di dunia ini. "
" ibu nih ngomong nya mulai ngawur. Apa an si. Kok jadi bahas meninggal segala. " zee zee tak suka mendengar ucapan ibu nya yang membahas kematian.
" umur gaka ada yang tau zee. Dengar kan orang tua. Kamu anak perempuan satu satu nya. Papa gak bisa jamin umur papa dan ibu bisa panjang dan bisa selalu jagain kamu. Kau boleh berteman dengan siapa pun. Tapi cari lah pasangan yang tidak menyusah kan kamu kelak. " ucap sang papa.
Agus yang saat itu hendak berangkat bekerja pun akhir nya bergegas pergi .
****
Beberapa bulan kemudian.
Randi duduk di kursi roda di taman belakang rumah.
Keseharian randi setelah kecelakaan itu nampak berjalan biasa.
Randi tetap datang ke perusahaan meski menggunakan kursi roda.
Namun randi berubah menjadi pria yang dingin dan tak mudah di sentuh.
Randi yang dulu periang kini tak lagi menampil kan senyuman nya pada orang lain.
Hanya dengan mama nya randi masih bisa sedikit tersenyum. Meski kadang eva harus bertingkah konyol dulu di depan sang anak supaya anak nya mau tersenyim kembali.
" keluar dari ruangan ku" teriak randi marah pada sang sekertaris.