"Mau kemana kau?" Will menyambar lengan Veronica, melarangnya untuk lergi dari rumahnya. "Kita belum selesai bicara. Inilah sifat burukmu, kau terlalu emosional, setidaknya dengarkan aku dahulu."
Veronica menarik lengannya. "Berani sekali kau menyentuhku?" Dia berniat untuk segera pergi dan mengakhiri hidup George sebelum pernikahannya. "Aku ada urusan. Kau pikir aku akan membiarkan sahabatmu bahagia? Yang benar saja."
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Entahlah, menembaknya mungkin," sahut Veronica kembali menyentuh kenop pintu depan.
"Veronica jangan bertingkah bodoh."
"Kau bisa menghentikanku, bunuh aku dahulu- tapi aku tahu kau ini pengecut, kau yang paling mudah dipengaruhi dari pada yang lain, Will, kau mudah terbujuk rayuan, kau pikir aku mau hidup denganmu? Sekarang kau tahu segalanya, jadi tak ada gunanya aku disini."
Will menepis tangan Veronica dari kenop pintu itu, lalu menariknya paksa menuju ke arah ruang tamu. Dia ingin menjauhkan wanita itu dari luar. Wajahnya mendadak sangat serius, tegas dan ingin membuat semuanya jelas. "Sekarang bukan waktunya berdebat akan hal bodoh, oke."
"Aku tidak punya waktu bicara denganmu."
"Tapi, sayang sekali, Nona, ini waktunya bicara. Dengarkan aku dahulu."
"Diam." Veronica menarik tangannya dengan kasar. "DIAM SAJA."
"Apa kau sudah tidak waras! Kau mau membunuh George?" sentak Will yang agak jengkel dengan pemikiran pendek Veronica.
"Jujur saja, keempat dari kalian, yang paking meyakinkan p*******a ibuku adalah dia. Iya'kan? Katakan padaku."
"Itu tidak benar. Tidak ada pembunuhan, p*********n ataupun kejahatan lain. Kau salah paham, Veronica, kau masih ... sepuluh tahun 'kan? Aku dua puluh tahun, kau masih kecil dan aku yang paham apa yang terjadi. Tidak seperti gambaranmu, kau terpengaruh oleh opini negatif orang-orang. Sesuai penyidikan polisi, kami tidak melakukannya."
"Pembohong!"
"Untuk apa aku berbohong, Ya Tuhan, Veronica. Kau tidak mungkin berpikir aku sanggup melakukan hal keji seperti itu? Aku tidak mungkin melakukan itu."
"Kau pembohong! Aku sudah melakukan penyelidikan ... kau ..."
"Tidak benar!"
Veronica mengepalkan kedua tangannya. Dia sangat ingin menghujamkan pisau ke d**a telanjang Will, sangat teramat ingin sampai niat buruknya itu memancarkan aura negatif yang kuat. "Lalu kau sebut apa ibuku yang tewas mengenaskan itu? Bunuh diri?"
"Kau sangat salah paham, aku bersumpah padamu, ini sebenarnya ulah orang lain, pencuri, percayalah padaku, ini bukan mengada-ngada, ini faktanya. Aku bisa menunjukkan berkas dari kepolisian kalau kau tidak percaya. Waktu itu, kukira anak dari wanita itu sudah dititipkan, dan polisi sudah memberikan salinan berkas pada pihak keluarganya."
"Kau pikir aku bisa kau tipu?" Pundak Veronica gemetar, tidak kuat menahan amarah. "Kau ingin bilang kalau kesaksian orang-orang itu salah?"
Situasi semakin tegang.
Will memenangkan diri, lalu mengatakan hal yang lebih lembut. "Tidak salah, benar, waktu kami masuk, tapi semuanya sudah terjadi, ibumu sudah meninggal dunia. Kumohon percayalah, kenapa kau tidak mencari tahu bukti dari kamera pengawas jalan dan mencocokkannya dengan jeda kematian ibumu, semuanya berkaitan. Kami masuk saat ibumu sudah meninggal dunia. Kasus ini dilakukan ditutup polisi karena menyangkut keluarga kami. Orangtua kami memang menginginkan agar kasus cepat selesai. Aku tahu semuanya mungkin salah, kami membayar sejumlah uang sebagai kompensasi, itu semua untuk keluarga dari ibumu, jadi kukira kau juga ..."
"Apa kau bodoh? Aku dan ibuku tak punya keluarga. Lalu kemana uang kompensasimu? Setelah kalian membunuh ibuku, aku berakhir di panti asuhan, aku bahkan tak ingin mengingatnya lagi. Kau tahu kenapa aku memilih menjadi model? Lalu tahu kenapa aku ke pantai waktu itu? Well, karena kau, kau si pria p*******a paling t***l dari empat orang ini, yang masih belum memiliki pasangan. Aku dari awal sudah mempersiapkan diriku untuk merayuku, dan ternyata berhasil, aku menaklukkan mu, tapi nyatanya aku muak melihatmu."
"Kenapa kau seperti ini? Ini tidak adil, kau memiliki kesimpulan buta, setidaknya mintalah bantuan orang untuk menyelidiki ini, harusnya kau ke kantor polisi untuk meminta salinan berkas."
"Aku tidak percaya semua orang, kalian semua pembohong! Kalian membuat kematian ibuku tertutup, dan kau- serta deretan teman kaya mu ini, astaga, aku ingin sekali kalian mati."
"Kau ingin aku mati?"
"Iya."
"Kalau begitu bunuh saja aku terlebih dahulu."
Veronica lantas memalingkan wajah. Berbulan-bulan bersama Will membuat hatinya agak luluh, tapi yang saat ini mengganggu pikirannya adalah George. Kebenciannya pada Will tidak sebesar kebenciannya pada George. Entah mengapa, firasatnya mengatakan kalau pria itu yang paling andil dalam pembunuhan, mengingat sifatnya yang arogan dan jahat.
Will menangkup dagu Veronica, memaksanya untuk memandangnya. "Kenapa kau memalingkan wajahmu? Aku tahu kau sebenarnya percaya ucapanku. Aku tahu kau sebenarnya ragu kami pelakunya. Kau hanya tersesat dan bingung karena tidak tahu kemana harus melampiaskan amarahmu, aku paham."
"Kau tidak paham!" sentak Veronica seraya menepis tangan Will. "Sudah kubilang jangan menyentuhku!"
"Aku saja yang mati, daripada kau membunuh George dan mendapat masalah. Aku akan bunuh diri, dan menutupi semuanya. Kau bisa hidup tenang, tapi tolong jangan membuat dirimu dalam masalah."
"Jangan drama di depanku. Kau membuatku merinding karena bualanmu. Harusnya kau jadi aktor saja."
"Aku tidak membual," bantah Will meraih kedua tangan Veronica, "kau menutup hati dan akalmu karena terlalu marah, percayalah padaku, ini salah paham. Semua adalah ulah pencuri, kami terjebak masuk ke tempat itu, itulah kenapa saksi mungkin memberatkan kami, dan pada akhirnya kami bebas karena buktinya sudah ada- intinya kami ini saksi, bukan tersangka. Aku akan membantumu mencari pelaku utamanya, tapi tolonglah percayalah padaku- tolong jangan bertindak gegabah, aku tahu rasa kehilanganmu, aku tahu, tapi gunakan akal sehat."
Lagi-lagi, Veronica menarik tangannya, tidak tahan disentuh terlalu lama. "Aku tidak mau bicara denganmu."
"Akan kutunjukkan berkasnya, ikut aku ke rumah mendiang ibuku, aku menaruh berkas-berkas penting disana."
Veronica baru sadar, ternyata selama ini dia tidak menemukan apapun karena semua berkas ada di tempat lain. Untuk sesaat dia percaya pada ucapan Will. Dia tahu betul karakteristik pria ini, wajahnya meyakinkan. Ketika berbohong, biasanya tatapan matanya tidak setajam dan seserius itu.
"Percayalah padaku, ayo kita kesana setelah menghadiri pengucapan janji George dan Helene," kata Will meyakinkan, "semua hasil penyelidikan resmi ada disana. Jika kau tidak puas juga dan mengira itu rekayasa karena kami kaya dan membayar kepolisian, kau bisa memeriksa rekaman langsung kamera pengawas dan menyelidikinya secara mendetail, bandingkan waktu kematian ibumu dan kedatangan kami. Selain itu, aku akan membantumu melakukan apapun demi mengungkap identitas pencuri itu."
Veronica tertunduk.
Will bicara lagi, "aku tahu kami salah, orangtua kami salah, waktu itu kasusnya memang ditutup karena takut mempengaruhi nama keluarga, tapi jika kau ingin membukanya, aku akan mengurus semuanya untukmu."
"Jangan pikir aku percaya padamu begitu saja," kata Veronica meliriknya kembali. "Kau dan teman-temanmu sama-sama psikopat."
Wajah Will bertambah suram dan sendu. Kedua matanya telah basah oleh air kepedihan. Dia tidak menyangka peristiwa masa lalu itu akan diungkit di saat seperti ini. Dia juga tidak menyangka karena ternyata wanita yang dia cintai ini adalah anak dari wanita dahulu. "Sayang, tolong."
"Jangan panggil aku Sayang, kita sudah tidak ada hubungan lagi."
"Kenapa kau jadi tega sekali padaku begini?"
"Menurutmu aku tidur denganmu itu demi cinta? hah? Kau bilang tega? dari awal memang aku tidak merasa memiliki hubungan denganmu. sekali lagi kuucapkan, aku tidur denganmu hanya untuk mengetahui tato yang ada di tubuhmu ... yang sialnya teman-temanmu ternyata juga punya."
"Kalau begitu setidaknya, biarkan aku membantu sebagai teman."
"Tidak perlu." Veronica berbalik, lalu berjalan menuju pintu keluar. "Aku masih punya urusan yang harus kukerjakan."
"Tolong pikirkan ini dahulu, Veronica, jangan bertindak gegabah, percayalah padaku, aku bisa menunjukkan buktinya, dan sisanya terserah padamu ..." Will mengikutinya berjalan, tapi dia hanya tertegun saat Veronica keluar rumah dan membanting pintu.
Kecemasan mulai merajai dirinya. Dia buru-buru bersiap untuk pergi ke tempat mempelai pria. Ia harus memastikan kalau Veronica tidak melakukan hal bodoh.
***