BAB 05

1501 Kata
Will menghadiri acara pernikahan George dan Helene di gereja sesuai jadwal. Sebenarnya dia hanya ingin memastikan kalau Veronica tidak membuat kekacauan. Dia tidak mau wanita itu berakhir di penjara karena tindakan konyol. Sejak memasuki gereja, dia terus mengamati setiap sudut tempat. Bukan hanya itu, dia sampai menyewa pengawal pribadi yang ditugaskan untuk memeriksa semua tempat, dan segera melapor jika melihat Veronica. Akan tetapi sejak acara pemberkatan selesai, tidak ada tanda-tanda kehadiran Veronica yang berniat membuat ulah. Hati Will lega sekaligus pedih. Di saat pria lainnya ditemani pasangan masing-masing, dia selalu berakhir sendirian. Semenjak berkencan dengan Veronica, wanita itu juga jarang sekali mau diajak ke acara penting. Tamu undangan kemudian bersorak dan menebarkan bunga saat sang pengantin baru itu keluar dari gereja. Suara kegembiraan sahut menyahut diiringi oleh letupan pistol kejutan yang menyemburkan potongan kertas warna. Acara lempar bunga juga di lakukan di depan gereja langsung. Orang yang menerima adalah wanita yang berdiri tepat di sebelah Will. Saking fokusnya memikirkan Veronica, pria itu tidak sadar kalau semua perhatian tertuju padanya. “Oh, berjodoh mungkin,” goda George saat melihat teman wanitanya itu dekat dengan Will. Ucapan tersebut ditanggapi heboh oleh teman-teman mereka. Iya, hampir tidak ada yang menyukai Veronica disini, dan ketidakhadiran wanita itu membuat suasana makin meriah. Merasa sedang dijodoh-jodohkan, Will lantas meninggalkan tempat tersebut— berjalan menuju ke halaman samping gereja. Dia lebih suka memandangi angsa yang sedang berenang di danau, ketimbang berkumpul dengan teman-temannya. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah suka ketika Veronica dianggap remeh. George meninggalkan pengantinnya, lalu berlari mengejar pria itu. Kemudian disusul oleh dua sahabat mereka, Peter dan Adam. Mereka berempat selalu kompak dalam keadaan apapun. Peter dan Adam memakai pakaian tuksedo putih pengiring pria yang selaras dengan pakaian George, berbeda dengan Will yang memakai jas hitam formal. Dia seharusnya juga diminta menjadi pengiring, tapi Veronica melarangnya dengan sebab tak jelas. Wanita ini jelas hanya ingin membuat hubungan merrka berempat renggang. “Kenapa kau ini?” tanya George khawatir melihat wajah gelisah Will sedari tadi, “ini pernikahanku dan kau terus memasang wajah seperti itu. Aku memaklumi kau yang pulang dahulu saat pesta lajangku, kau menolak jadi pengiringku, tapi sekarang kau bahkan tak bahagia di pernikahanku.” Will menoleh padanya. “Maaf, bukannya aku tidak bahagia, aku hanya—” “Veronica?” George menyela. Nada bicaranya menjadi dingin. “Kau bilang dia akan datang ke pernikahanku. Apa kubilang, dia takkan mau ikut serta dalam acara yang melibatkan kepentinganmu, Will. Kalau tidak ada untungnya, dia takkan kemari.” “Tidak benar. Dia hanya ... dia hanya sedikit sibuk—” “Sibuk?” George tertawa hambar. “Astaga, kau ini kembali remaja, ya? Dia gold digger, Will. Semua gold digger seperti ini, hanya saja Veronica-mu itu kelewatan.” Gold digger, wanita pengeruk harta para pria kaya. Veronica sudah sering dipanggil seperti itu oleh mereka bertiga. Tak salah memang, wanita itu sungguh-sungguh menguras harta Will. Adam mengangguk. “Kau lihat wanita yang mendapat buket bunga tadi, kurasa dia menyukaimu, Will, kenapa kau tak mau berkenalan dengannya?” “Oh, itu Blair, teman dekat istriku,” sahut George menyeringai, “ya dia sedang sendiri, jika kau memang suka wanita awal dua puluh tahunan, kau jelas akan suka padanya, Will.” Peter tergelak keras sembari menepuk bahu Will. “Atau kau suka kukenalkan pada penari bar yang selalu menggoda? Aku yakin kau akan punya malam yang menyenangkan jika dengannya. Percayalah, jangan cemberut hanya karena wanita penggila harta itu, kau tak kapok juga kehilangan setengah kekayaanmu karena dia? Dia jelas ingin mengeruk uangmu pelan-pelan.” “Bisakah kalian diam saja?” Will muak mendengar semua itu. Dia masih mempercayai bahwa jauh di dasar hati Veronica mungkin ada setitik cinta untuknya. “Aku mencintai Veronica, jadi percuma saja kalian mengatakan apapun.” “Rasanya seperti menghadapi remaja puber,” ucap Adam menghela napas panjang. “Banyak wanita cantik, kau malah memilih wanita gila itu.” “Adam!” sentak Will melototinya. “Jangan keterlaluan.” Di kejauhan, Veronica sedang berjalan santai mendekati mereka berempat. Dia memakai gaun ketat formal berwarna biru terang selutut. Setelah memikirkan masak-masak ucapan Will, dia mengurungkan niat untuk membunuh mereka semua. Dia ingin mencari tahu kebenaran ibunya dengan berkas yang dimiliki oleh Will. “Bisakah kalian berhenti memaksa kekasihku untuk berselingkuh?” sindirnya begitu berhenti di belakang mereka. Empat dari pria ini menoleh bersamaan. Orang yang paling terkejut akan kehadiran Veronica malah Will. Dia sedikit bahagia, sedikit gelisah, dan sedikit panik. “Veronica?” Dia memperhatikan gerak-gerik wanita itu, dompet dan tangannya, takut ada pistol yang disembunyikan. Veronica memahami sikap waspada Will. Dia pun berjalan menghampirinya, lalu mendongak agar bisa menatap wajah pria itu lebih dekat, kemudian membelai wajahnya dengan jemari lentiknya. Perlakuannya amat sangat lembut, sama persis ketika menggoda Will saat masih pertama kenal. “Will Sayang, aku datang untukmu, kenapa kau gelisah begini? Aku tak akan melakukan hal bodoh seperti bayanganmu. Santai saja.” Walaupun tahu ini hanya kepalsuan, tapi senyum tulus Will mengembang perlahan. Seperti biasa, dia tidak peduli walaupun ini hanya tipuan, asalkan dia bisa merasakan sentuhan hangat Veronica. Spontan dia menggenggam telapak tangan wanita itu, lalu berkata, “aku tahu kau pasti datang.” Tak tahan disentuh Will, Veronica menarik tangannya lagi. Setelah itu berbalik badan menatap George. Dia mengulurkan tangan seraya berkata, “selamat untuk pernikahanmu, Tuan Greene, maaf aku agak telat, banyak yang harus kukerjakan.” George menjabat tangan itu dengan tatapan masih dingin. “Seperti menguras kartu kredit dari Will?” “Apa masalahnya buatmu?” balas Veronica menarik tangannya seraya mendongaklan wajah dengan angkuh. Dia membalas itu dengan sindiran pula, “setidaknya Will-ku tidak pelit sepertimu. Pasti kasihan sekali istrimu mendapatkan suami perhitungan.” Wajah Adam dan Peter menegang. Mereka berdua sama geramnya dengan George. Setiap kali mereka bertatap muka selalu beradu mulut. Kini mereka sepakat saat tidak bersama Will, mereka memanggil Veronica dengan sebutan wanita reptil. Ketiganya selalu mencari cara agar membebaskan teman mereka ini dari cengkraman Veronica. “Setidaknya Helene-ku bukan Gold Digger,” hina George memasang wajah angkuh pula. “Astaga, semua wanita itu butuh uang untuk tetap tampil cantik, Mr. Greene, lihat aku—” Veronica memamerkan tubuh seksi dan wajah malaikatnya pada mereka bertiga. “Aku supermodel, dan untuk menjadi seperti ini dibutuhkan uang bukan cinta. Jadi jika kalian hanya modal cinta untuk wanita kalian, pasti mereka tak secantik aku 'kan?” Adam muak mendengarnya. Kalau saja wanita ini bukanlah kekasih Will, sudah lama dia akan membuatnya hancur. “Kau memang reptil.” Will menyela, “hentikan ini.” Veronica memandangnya dengan sorot mata manja yang penuh kepalsuan. “Oh, Sayang, biarkan saja, aku memang mengeruk uangmu, tapi kau memperbolehkannya 'kan? Aku hanya ingin tetap cantik, dan kau rela kehilangan banyak uang demi aku?” “Semua uangku milikmu, kau tak perlu membahas ini—” Will mengamati wanita itu dan ketiga temannya bergantian. “Jangan terus-terusan berdebat setiap kali bertemu.” Peter menuding Veronica. “Kekasihmu ini sudah kelewatan, Will, dia jelas-jelas tak tulus padamu, dan kau masih membelanya. Apa-apaan ucapan 'uangku milikmu' barusan itu? Apa kau tidak waras?” George menghela napas panjang ketika melirik Veronica. “Wanita ular ini mungkin penyihir voodoo, dan Will kita terkena guna-guna.” Veronica tertawa, lalu terus membuat situasi memanas dengan menyindir, “Oh, kita lihat, apa jangan-jangan kalian iri karena dibandingkan dengan kalian yang temannya, aku— kekasihnya yang selalu mendapatkan uang?” “Jaga ucapanmu, Jalang!” sentak Adam berniat menampar Veronica. Will spontan mendorong Adam sampai mundur beberapa langkah. Sikap protektifnya sudah seperti mendarahdaging terhadap Veronica. “Sudah cukup.” “Will?” Kemarahan membakar diri Will. Sebutan jalang barusan mengendap di kepalanya. Jika sebutan pengeruk harta mungkin bisa dia biarkan, tapi jika Jalang— mana bisa dia ampuni. Dengan tangan menuding wajah Adam, dia memperingatkan, “dan jika kau memanggil Veronica dengan sebutan Jalang lagi, aku akan menghajarmu!” Suasana menjadi tegang. Veronica menikmatinya, karena dia sudah terbakar api dendam. Semakin keempat orang ini saling berkelahi, semakin dia ingin tertawa. “Hanya Will-ku yang paling mengerti tentangku, kalian bertiga hanya pria pelit,” sindirnya. “Veronica.” Will meraih lengan Veronica. “Sudahlah jangan menyulut emosi lagi.” “Tapi ucapanku benar 'kan? Keempat dari kalian— kau yang paling lembut, penyayang dan setia, Will,” puji Veronica seraya mencolek dagu Will dengan genitnya. Dia berjalan ke samping pria itu, lalu berkata padanya, “daripada kita berada di acara membosankan ini, kau sudah janji akan mengantarkanku ke suatu tempat, bukan? Ayo kita pergi sekarang, Sayang.” “Iya sudah, ayo.” Will mengangguk paham. Dia mengajak wanita itu berjalan menjauh. “Yang benar saja, Will?” George tak percaya melihat sahabatnya pergi hanya karena diperintah wanita. “Kau mau melewatkan pestaku nanti?” Will tak mau menoleh, dan hanya berkata, “maaf, aku harus mengantarkan Veronica ke tempat lain.” Ketiga temannya pun kompak mengumpat. Mereka semakin ingin membunuh Veronica. Adam yang masih diluapi kemurkaan bergumam, “mungkin sebaiknya kita bunuh wanita gila itu, sebelum Will hancur. Dia sudah tidak waras.” Baik George dan Peter mengangguk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN