Setelah keluar dari ruang kerja Langit, Senja berjalan kembali menuju pantry. Disana ia bertemu dengan Arini, Ratih dan Bintang yang sedang mengobrol.
"Nah kebetulan ada orangnya langsung. Senja pus pus pus." panggil Ratih seperti memanggil kucing. Senja berjalan mendekati mereka. "Iya? Kenapa mbak?" tanya Senja
"Tadi ada apa sih? Kok rame? Ada pak Langit juga lagi. Gue jarang loh ngeliat pak Langit sampe marah kayak gitu." ujar Ratih.
"Masalah sepele sih mbak. Yah mungkin emang udah nasib saya kena omel ibu tadi." jawab Senja.
"Elo salah apa gimana?" tanya Ratih.
"Sebenarnya ibu tadi yang salah. Udahlah mbak, enggak usah dibahas lagi hehe. Sayanya juga enggak apa apa." ujar Senja.
"Jadi sebenarnya dia yang salah bukan lo?" tanya Ratih
"Iya mbak, dan pak Langit mencoba membela aku." jawab Senja.
"Elo kalo ada yang jahatin lagi panggil mbak. Biar mbak hajar tuh orang. Enggak tahu aje mbak ada keturunan Pitung. Mbak lipet lipet jadi risol entar." ujar Ratih langsung ditertawai oleh Bintang dan Arini.
"Dilipet lipet terus entar digoreng ya karat?" tanya Bintang.
"Tahu aje karat kalo dirumah paling ditakutin sama suaminya. Suaminya pasti takut burung perkututnya dipotong." ujar Arini langsung ditertawai oleh Bintang dan Senja.
"Haha repot kalo dipotong, enggak ada gantinya." tawa Bintang.
"Oh iya sekarang kita disuruh beres beres tuh sama karyawan. Bersihin lapangan dan masang bendera buat besok." ujar Ratih
"Besok mau ada apa mbak?" tanya Senja.
"Festival olahraga." jawab Arini.
"Dalam rangka?"
"Sunatan bintang" jawab Arini langsung ditertawai Ratih.
"Kurang asem lu. Abis entar burungnya." ujar Bintang.
"Itu acara tahunan sih. Acara olahraga gitu, ada lomba dan hadiahnya." ujar Ratih. Senja mengohkan perkataannya.
"Office girl juga ikut lomba itu?" tanya Senja.
"Iya dong jelas." ujar Ratih.
"Tahun lalu malahan office girl menang juara 1 lomba voli." ujar Arini.
"Wih hebat." ujar Senja.
"Kamu jago olahraga enggak? Ikut aja." ujar Arini.
"Gimana yah, aku bisa bulu tangkis sih." ujar Senja.
"Ada lomba bulu tangkis juga kok besok." balas Arini
"Gue juga suka bulu tangkis. Kita mix double aja mau enggak?" tanya Bintang.
Arini langsung menyela. "Apaan sih, ya enggak keburu lah. Belum latihannya. Kan besok acaranya." ujar Arini.
"Ya enggak apa apa. Cuman ngejajal aja, kalo enggak lolos ya enggak masalah." ujar Bintang
"Y-yaudah aku mau ikut." ujar Senja.
"Yaudah besok gue daftarin." ujar Bintang
"Iya."
Beberapa menit setelahnya, mereka pun akhirnya berada didepan lapangan bersemen yang sudah dipasang net.
Total ada dua lapangan yang dipakai untuk festival olahraga besok, yaitu lapangan didepan kantor dan disamping kantor. Saat ini mereka sedang berada di lapangan depan kantor.
Beberapa staff ada yang sedang memasang bendera kecil disekitar lapangan, beberapa office girl/boy ikut membantu mereka, menyusun kursi meja dan ada juga yang menyapu keliling lapangan.
Bintang mengambil selang dan langsung menyemprot lapangan. Ratih, Arini dan Senja baru saja mengambil serokan air dari gudang, mereka menghampiri Bintang di lapangan.
Ratih mulai mengeluarkan ponselnya dari saku dan setel lagu remix ampun bang jago. Ratih dan Arini pun bergoyang sambil menyerok air.
Bintang tiba tiba menyemprot Ratih hingga wanita berusia empat puluh lima tahun itu latah mengabsen nama ayam dan cucunya.
Arini juga ikut disemprot oleh Bintang hingga bajunya sedikit kebasahan. "Ah gosong, resek banget sih lu! Rasain nih!" Arini menyerok air ke arah Bintang hingga airnya muncrat ke mukanya
.
"Sial, lu Rin."
"Hahaha."
Bintang masih terus menyemprot mereka termasuk Senja. Bintang mengejar mereka bertiga dengan mengarahkan semprotan itu ke mereka, namun setelahnya selang itu direbut oleh Arini dan jadinya Bintang yang dikejar oleh mereka.
Sepanjang itu mereka terus tertawa, bermain semprotan air, kejar kejaran dan bermain serokan air.
Disaat yang sama Langit keluar dari kantornya bersama sekretarisnya yaitu Gandhi. Tepatnya mereka sedang menuju lapangan. "Besok lomba apa saja yang akan diadakan?" tanya Langit sembari terus berjalan.
"Mayoritas seperti tahun lalu pak, tapi ada beberapa lomba baru yang dimasukkan seperti bersepeda, lari estafet dan senam lantai." ujar Gandhi.
"Berapa banyak yang akan ikut dalam lomba besok?"
"Data yang baru terkumpul ada empat ratusan karyawan yang mendaftar lomba. Tapi ada kemungkinan akan lebih dari ini jika ditunggu sampai besok." ujar Gandhi.
Langit tiba tiba berhenti di dekat lapangan. Gandhi terheran melihat Langit yang tiba tiba berhenti. Kedua mata itu terus menatap lurus gadis yang sedang tertawa riang saat dikejar semprotan air oleh Bintang, gadis itu adalah Senja. Dia adalah gadis, yang saat ini semua pikirannya terbaca oleh Langit.
Ada kebahagiaan tersendiri yang hari ini aku rasakan disini. Memiliki teman yang lucu dan menarik, yang cukup dapat membuatku bahagia meskipun hidupku tidaklah semudah itu.
Jika diingat dari hari ketika aku dilahirkan, aku sudah memiliki kebahagiaanku tersendiri. Semua orang pun sama.
Tergantung dari mana kita mensyukurinya. Meskipun ada beberapa hal yang aku tidak terima dari hidup ini, tapi tak semestinya aku berhenti dari mengharapkan kebahagiaan yang akan datang di hari berikutnya.
Jika bisa, aku ingin selalu berpikiran positif seperti ini, menjauhkan diriku dari banyak prasangka buruk mengenai takdir.
Langit tersenyum, Gandhi yang melihat direkturnya tersenyum langsung heran. Ia pun melihat ke depan lapangan. Ternyata disana ada Bintang yang sedang kejar kejaran dengan Senja.
Selihat Gandhi, Langit tersenyum melihat Bintang. Itulah yang memicu kesalahpahaman bagi Gandhi, lelaki berkacamata itu mengira Langit menyukai Bintang. Ia langsung menaikkan kacamatanya yang turun seraya berpikir.
"Demi kerang ajaib, batang suka sama batang. Gue enggak nyangka ternyata pak Langit kayak gitu. Selama gue kerja jadi sekertarisnya gue baru tahu kalo pak Langit ternyata seorang gay! Gawat gawat, burung gue dalam bahaya nih, musti gua pakein helm SNI nanti. Ada dua kemungkinan yang membuat dia jadi gay, pertama dia punya trauma sama cewek dan kedua dia udah lelah sama yang namanya cewek. Benar benar di luar dugaan, pak Langit yang keren, ganteng dan sempurna itu memiliki masa lalu yang kelam. Saya turut sedih pak sama yang terjadi sama bapak. Tapi tolong jangan samakan saya dengan golongan bapak. Saya masih lurus pak burungnya eh pandangannya maksud saya. Enggak bengkok lagi sesat. Saya jadi ngeri kalo bapak dekat dekat saya. Takut disantok." ucap Gandhi dalam hati. Ia langsung berjalan mundur sepuluh langkah ke belakang.
Langit yang mendengar sekilas pikiran Gandhi langsung menoleh ke sampingnya. Tidak ada Gandhi disana, ternyata saat dilihat Gandhi sudah ada sepuluh meter dibelakang Langit.
"Kamu ngapain disana?!" tanya Langit heran.
"Lebih baik seperti ini pak. Anggap saja saya sedang mematuhi protokol kesehatan." ujar Gandhi, Langit terheran.
Senja yang sedang dikejar oleh Bintang tiba tiba terpeleset dan langsung ditangkap oleh Bintang. Mereka saling bertatapan lama saat itu.
Arini yang melihat mereka berdua dalam posisi seperti itu langsung cemberut. Ia cemburu.
Langit yang melihat mereka berdua seperti itu langsung merasa sebal. Ia pun bergegas pergi, kembali ke kantor. Ada perasaan aneh tersembunyi yang membuat Langit tidak nyaman ketika melihat Senja dan Bintang saling bertatapan seperti itu.
Tidak, Langit. Apa sebenarnya yang kamu pikirkan. Berhentilah berpikir banyak tentang gadis itu.
Gandhi yang melihat jelas alasan kenapa Langit tiba tiba balik ke kantor langsung mengejarnya. Ia tidak akan membiarkan bosnya ini memiliki trauma lagi.
"Pak, pak Langit tunggu." Lebih lebih jika Langit patah hati lalu berpaling mengincar dirinya. Tidak, ia masih suka dengan wanita. Ia tidak suka sama batang!
Langit berhenti.
"Pak, tolong jangan mengambil keputusan secara sepihak. Saya yakin bapak masih memiliki harapan." ujar Gandhi sok tahu.
"Hah?"
"Jatuh cinta adalah hal yang indah pak. Bapak bisa merasakan begitu banyak keindahan begitupun sebaliknya. Tapi masih banyak kemungkinan yang masih bisa terjadi. Hanya dengan melihat mereka berpelukan tidak harus membuat bapak patah hati. Sebelum janur kuning melengkung bapak harus bisa merebut dia kembali. Bapak harus memiliki keberanian itu." ujar Gandhi salah paham.
Langit terkejut mendengarnya yang berkata serius seperti itu, ia sepintas langsung terdiam. Mungkinkah benar perkataan Gandhi kalau ia sebenarnya menyukai Senja?