Kebaikan mas ganteng

1110 Kata
Langit masih merasa kesal perihal ayahnya tadi, tiba tiba ia melihat Senja berjalan dari lobby. Ia pun inisiatif mengikuti gadis itu. Mungkin mood buruknya bisa perlahan terkikis dengan mendengar suara pikirannya yang gaje. Langit mengikuti di belakangnya tanpa disadari oleh Senja. Langit arfian William, ia merasa dunianya sangat gelap, sejak kecil Langit terbiasa dengan perkataan buruk orang lain seputar dirinya termasuk ayahnya. Itu kenapa ia selalu menganggap dunia ini suram. Entah di sekolah, di rumah, di luar. Ia telah banyak menjelajahi pikiran orang lain dan sejauh yang ia lihat hasilnya sama. Telah sejak lama ia sangat ingin keluar dari ketertekanan ini hingga suatu ketika ia bertemu dengan Senja. Gadis aneh dan berisik isi pikirannya, yang saat ia buka tirai ketertarikan pertama muncul tirai lainnya. Heran. Kenapa bisa seperti ini. Padahal dia super berisik isi pikirannya. Langit mulai terbiasa dengan suara hatinya yang terus berdendang di telinga, hingga suatu masa ia disadarkan bahwa tak ada suara yang ingin ia dengar selain suara hati Senja. Semenjak saat itu, saya lebih sering fokus mendengar suara hatinya, tidak ada yang saya dengar kecuali suara pikirannya. Dia telah mengubah dunia saya yang semula hitam oleh pikiran jahat orang, menjadi berwarna. Senja terlihat bingung, ia sedang memikirkan sesuatu hal. Langit yang berjalan mengikutinya ikut berhenti melihatnya berhenti. Aku lupa, tadi karat nyuruh aku apa ya? Buat teh lima, kopi berapa tadi? Lima apa empat ya? Hwaa aku lupa. Ayo Senja berpikir, ingat benar benar. Coba kita semedi bentar, tutup kedua mata kamu lalu pikirkan... Senja menutup kedua matanya sembari berdiri. Tak lama ia langsung membuka matanya dan lemas, ia mengeluh. "Aku lupa." Hwaa gimana ini. Balik lagi apa ya? Balik lagi deh. Ah tapi enggak keburu, nanti aku diomelin gimana? Agh Senja kamu gimana sih. Langit tersenyum. Diam diam ia berdiri sepuluh meter di belakang Senja, mendengar celotehannya yang berisik di dalam kepala. Eh atau aku buat lima aja apa ya? Nanti kalau lebih sisanya diminum. Agh, tapi aku takut diomelin. Gimana kalau nanti karat tahu aku lupa? Dia pasti akan mencak mencak. Tahu aja sekarang kan dia lagi dapet. Kemarahan wanita yang lagi dapet bahkan bisa membelah bulan! Hwaa aku enggak mau dibelah, aku bukan semangka! Ah bodoh amatlah, bikin lebih aja. Senja pun berlari menuju pantry, Langit menunggu tak jauh dari pantry. Beberapa saat setelahnya Senja sudah keluar dari pantry dengan membawa beberapa gelas kopi dan teh dengan meja beroda. Senja mendorong meja itu menuju lobby. Langit mengikuti Senja yang terus mendorong meja itu hingga ia melihat banyak tamu yang sedang berkumpul di lobby. Ternyata itu adalah tamu perusahaan. Senja memberikan mereka beberapa gelas kopi dan teh itu. Ratih yang saat itu juga berada disana menyediakan makanan, menghitung kembali jumlah teh dan kopinya. "Loh kok kopi ada lima? Kan tadi gue bilang empat Senja." tegur Ratih. Duh gimana ini... tuh kan kelebihan. Senja siap siap, kamu akan dibelah! "Jangan bilang Lo lupa yang gue omongin tadi? Makanya denger--" baru akan mengomel ia langsung dipotong oleh Langit. "Itu buat saya. Saya sengaja bilang ke gadis ini untuk membuatkan kopi lima. Kenapa memangnya?" ujar Langit yang tiba tiba muncul dibelakangnya. "O-oh gitu ya pak. Enggak apa apa pak. Tapi perasaan bapak enggak suka kopi deh. Maaf ya pak." ujar Ratih. Senja mengerjap ngerjap. Disela yang ia bingung dengan situasi ini, ia merasa benar benar merasa dibela. Tapi kenapa Langit berbohong? Apakah ia berniat menyelamatkannya dari omelan Ratih? Lelaki ini baik sekali. Pak Langit, kenapa bapak selalu membela saya disaat saya membutuhkan? Jangan jangan bapak Superman lagi pak? Bapak enggak pakai k****t merah didepan kan? Kenapa bapak selalu mengerti dengan kesulitan yang terjadi pada saya? Seperti malaikat saja pak. Bapak datang untuk menjadi sayap pelindung saya. Tapi enggak pakai sayap ayam kan pak? Ternyata benar kata orang orang. Bapak, direktur yang sangat pengertian dibanding direktur manapun. Mimpi apa ya aku bisa punya suami kayak mas ganteng yang bersihnya luar dalem, kayak pakai vanish. Mas ganteng, aku udah kebelet mau nikahin kamu mas. Kayak diujung tanduk. Kita kan sama sama single, gimana kalo kita nikah? Hmm? Aku sudah siap menempuh bahtera rumah tangga bersama kamu. Menjadi ibu dari anak kamu dan menjadi belahan jiwa kamu. Langit berbincang dengan para tamu itu dan ikut duduk bergabung dengan mereka. Ia terlihat sangat akrab dengan tamunya tersebut. Senja senyam senyum sendiri, meskipun pada akhirnya ia disuruh membantu Ratih menghidangkan kue ke piring. Di pantry trio S sedang mengobrol dengan Arini dan Bintang. "Gue heran loh sama pak Langit. Dia itu kayak punya kemampuan baca pikiran tau gak sih?" ujar Sandi. "Masa sih?" tanya Arini. "Nih ya, kemarin kan gue mencoba ngumpetin sepatu Susanto. Pas festival kan heboh tuh si Susanto yang mau main tapi enggak ada sepatu. Terus pak Langit ngasih tahu ke Sandi kalo sepatunya gue umpetin di loker. Terus dia bilang gini "Jangan memikirkan hal macam macam, jadilah teman yang baik." "Gitu loh aneh kan?" tanya Sandi. "Iya ya. Aneh banget." ujar Arini. "Lu lagi segala ngumpetin sepatu gue. Mikir macem macem lagi." ujar Susanto. "Iya maaf, gue mikir Lo percuma aja ikut lomba itu. Soalnya yang ikut lombanya banyak." ujar Sandi. "Gue emang udah yakin dari dulu sih dia bisa baca pikiran, soalnya dia pengertian banget ke karyawannya. Kayak ngebaca gitu, apa yang kita inginkan." ujar Bintang curiga. "Kok bisa ya direktur kita punya kemampuan hebat kayak gitu? Gue jadi penisirin." ujar Arini. Tiba tiba muncul Ratih dan Senja masuk ke dalam pantry. "Ini kenapa dah, pada ngumpul kebo begini? Makanin rumput ya lo?" tanya Ratih. "Setdah kebo mah ada di kandang ka." jawab Susanto "Kita lagi curiga pak Langit bisa baca pikiran orang." ujar Sandi. "Hah? Baca pikiran? Ada ada aja lu pada. Mana mungkin jaman millenium gini ada hal kayak gitu." ujar Ratih tidak percaya. "Pasti ada karat, dia kemarin ngebaca pikiran gue. Katanya jangan berpikiran macem macem. Itu artinya kan dia tahu apa yang gue pikirin." ujar Sandi. "Masa sih?" tanya Ratih bambang eh bimbang "Beneran." Senja yang juga merasakan keanehan ini ikut bersuara. "Aku juga merasa kayak gitu. Udah berkali kali aku merasa dia bisa baca pikiran aku. Saat aku memikirkan hal hal aneh sama dia juga aku dibilang jangan mikir yang aneh aneh. Terus saat aku mikirin banyak hal, dia kayak tahu gitu apa yang aku bicarakan di hati." jelas Senja panjang. "Apa mungkin alasan kenapa dia begitu perhatian sama karyawannya adalah karena dia bisa baca pikiran kita? Hal yang kita inginkan dibaca sama dia?" tanya Ratih curiga. "Nah iya itu, mungkin kayak gitu." ujar Bintang. "Gue ada ide, gimana kalo kita ngelakuin hal ini..." Ratih membisiki mereka, menceritakan banyak hal terkait rencana mereka selanjutnya. Senja, trio S, Bintang dan Arini mendengar Ratih dan mengangguk. Mereka tersenyum setelahnya, seolah memiliki rencana yang bagus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN