Rencana gagal

1062 Kata
Langit berjalan keluar dari ruang kerjanya, saat diluar ia bertemu dengan trio S. Ia tak sengaja mendengar suara hati trio S. "Kesempatan nih, gue bakal diem diem ngambil jaket dari gudang." ucap Soni dalam hati, sambil mata terus melirik ke arah Langit. "Gue kasih tahu Susanto dan Sandi ah. Supaya nanti kita kerjasama ngambil jaket diam diam." ucap Soni dalam hati. Lalu ia pun berbisik pada Susanto dan Sandi. Mereka saling mengangguk dan tersenyum menyeringai setelahnya. Langit mulai merasa curiga, ia langsung berjalan menuju mereka. Trio S tampak senang, Langit sudah mulai masuk ke dalam jebakannya. Trio S diam diam tersenyum licik dan berpura pura bersikap tidak tahu. Mereka terus mengobrol disela itu. Langit terus berjalan menuju mereka tiba tiba Gandhi muncul menghalangi jalannya. "Pak, sebentar lagi di pukul 11.00 ada meeting dengan klien dari perusahaan Lion group." ujar Gandhi. Langit terus menatap ke arah trio S yang sudah berjalan pergi menuju gudang. Gandhi melihat Langit yang terus memandang ke arah seberang, ia pun melambai lambai tangannya ke depan wajah Langit. "Pak, saya disini. Halo? Bapak dengar saya?" tanya Gandhi. "Iya. Nanti ya. Saya mau kesana dulu." ujar Langit langsung bergegas pergi meninggalkannya. Gandhi terheran. Trio S sudah tidak terkejar lagi, namun Langit yakin tujuan mereka tidak lain adalah gudang. Langit segera mendekati pintu menuju gudang. Saat baru mau masuk ke dalam pintu, ia sudah melihat Bintang, Ratih, Arini dan trio S berkumpul disana. Ia tidak jadi masuk dan berdiri dibalik dinding gudang. Ia menangkap suara pikiran mereka. "Pasti beberapa detik lagi pak Langit akan kesini. Muehehehe." batin Ratih "Gue enggak nyangka pak Langit bener bener bisa baca pikiran." ucap Bintang dalam hati. "Gue sebenarnya enggak percaya pak Langit bisa baca pikiran. Aneh aja gitu, jaman sekarang." ucap Arini dalam hati. Langit langsung terdiam mematung dengan perasaan tak percaya. Jadi mereka tahu tentang kemampuannya dalam membaca pikiran? Ini tidak boleh terjadi, ia harus segera pergi sekarang juga. Ia pun berjalan cepat, menjauh dari gudang itu. Ia mulai masuk ke dalam lift, tiba tiba Senja ikut masuk ke dalam lift. "Selamat siang pak." Senja nyengir kuda menyapanya. Langit balik tersenyum canggung. Pintu lift belum tertutup. Langit segera menekan tombol untuk menutup pintu lift. "Lantai 13 pak." ujar Senja dalam hati. Langit baru akan menekan lantai 13, ia langsung cepat cepat menoleh ke arah Senja. Gadis itu terlihat senang, Langit hampir masuk jebakannya. Langit cepat cepat menurunkan tangannya dan berbicara pada Senja. "Kamu mau ke lantai berapa? Kok malah senyum?" tanya Langit heran. "E-eh iya pak. Maaf, lantai 13 pak." ujar Senja. "Oh yaudah kamu duluan." ujar Langit sambil menekan tombol 13. "Makasih pak." ucap Senja. Mereka saling berdiaman sepanjang itu. Pak Langit, saya punya tebak tebakan. Tahu enggak apa perbedaan bapak sama upil? Kalo upil suka nemplok di tembok, kalo bapak suka nemplok di hati saya. Mohon maaf mau tanya, rumah bapak dimana ya. Saya mau ngirim paket berisi satu ton cinta pak. Pak, kalo telur ayam kan bisa dihitung jumlahnya tapi kalo cinta saya ke bapak enggak bisa terhitung pak. Setinggi langit dan seluas samudra. Pak, kalo malam saya suka keinget deh sama rencana saya di masa depan, termasuk rencana saya ingin menikahi bapak. Langit tetap terdiam, seperti tak mendengar apa apa. Senja manyun, ia mulai bertanya dalam diri, apakah kemampuan membaca pikiran Langit itu hanya gosip belaka? Ia merasa heran. Tapi masih belum menyerah. Pak, mau ikut kuliah tujuh menit bareng saya enggak pak? Ikut ya? Jadi sekarang pembahasannya adalah tentang definisi kentut pak. Jadi gini, kentut adalah gas alam yang hobinya nyelip nyelip di ujung vantat pak. Jenis kentut ada tiga, yaitu kentut dengan irama, kentut tanpa irama dan kentut tanpa suara. Cara membuat kentut menjadi berirama adalah dengan cara beri tekanan didalam perut agar muncul dorongan yang kuat untuk membuat variasi suara kentut. Kalo mau kentutnya seperti suara suling, bapak tinggal menaik turunkan tekanan di perut bapak. Untuk kentut tanpa irama dan tanpa suara ada beberapa persamaan. Salah satunya adalah kita tidak diperkenankan memberi tekanan di perut yang terlalu kencang. Ada sih tekanan, tapi hanya sedikit. Soalnya kalo enggak ada tekanan sama sekali, kentutnya tidak akan keluar. Langit masih terdiam, seolah tidak mendengar apapun. Senja kembali manyun. Apakah rencananya gagal? Atau pria ini memang tidak bisa membaca pikiran? Lift terbuka, ternyata sudah sampai di lantai 13. Senja pun keluar meninggalkan Langit sendirian. Senja sudah pergi. Langit tertawa puas disana. "Hahahaha definisi apaan sih, segala kentut dibahas. Hahaha." Bahkan Langit tertawa sampai memegang perutnya saking gelinya. Di saat yang sama Senja mendadak mendapat telepon dari Ratih. Suara Ratih terdengar dari seberang. "Gimana? Berhasil?" tanya Ratih. "Enggak berhasil, kayaknya dia emang enggak bisa baca pikiran deh mbak." ujar Senja. "Iya, gue juga ngiranya begitu. Kayaknya dia emang enggak bisa baca pikiran." ujar Ratih. "Rencana mbak enggak berhasil juga" tanya Senja penasaran. "Iya, gagal." jawab Ratih. "Kayaknya kita udahin aja deh mbak, penyelidikannya." ujar Senja. "Iya Sen, gue juga mau beg---" Tiba tiba muncul telepon w******p dari "Tiang jemuran" "Kenapa nih si tiang nelepon?" gumam Senja, ia pun menerima teleponnya. "Kenapeh?" tanya Senja malas "Gue sekarang ada di perusahaan Langit corporation!" ujar Hana langsung membulatkan mata Senja. "Hah?" "Lu dimana? Gue di lantai satu nih mau meeting sama bos lu. Gimana bos lu? Ganteng enggak? Doain gue ya, supaya bisa ngegaet bos lu." ujar Hana. "Dih, pede banget kakak. Asal kakak tahu, pak Langit itu paling anti sama orang gak jelas kayak kakak." "Eh, gue mau meeting nih. Doain gue ya, nanti gue telepon lagi. Love you emmuah." ucap Hana langsung menutup teleponnya. "Apaan sih. Enggak jelas." gerutu Senja. Di saat yang bersamaan di ruang meeting, Hana dan para staff dari perusahaan Lion group maupun dari perusahaan Langit corporation saling duduk berlingkar di kursi masing masing. Langit dan Gandhi mulai masuk ke dalam ruangan meeting. Teman perempuan Hana berbisik padanya. "Tuh liat Han, cowok gue. CEO Langit, siapa sih yang enggak kenal dia." ujar teman perempuannya narsis. Hana tersenyum mendengarnya. Hana mengibaskan rambutnya agar lebih terlihat menggoda dan tersenyum manis pada Langit yang saat itu menatapnya. Meski hanya sekilas, sebelum akhirnya ia duduk. "Oh, jadi dia Langit yang terkenal itu. Beruntung banget si Senja ngeliatin dia tiap hari. Apa gue pindah aja ya ke perusahaan ini? Ganteng banget sih." ucap Hana dalam hati, ia terlihat kagum memandangnya. Langit mendengar suara hatinya itu dan memandang Hana seraya berpikir. "Jadi dia kakaknya Senja. Apa Senja tahu ya dia ada disini?" tanya Langit dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN