Menghiburmu

1079 Kata
Teman perempuan Hana berbisik pada Hana. "Kok lu diliatin gitu sih." bisik temannya. Hana merasa bangga dengan kecantikannya. Ia merasa kecantikannya itu sanggup membuat Langit terpana hingga membuatnya terus dipandang Langit sejak lama. Meeting berlangsung lama dengan beberapa penawaran kerjasama dari perusahaan Lion group. Langit menyetujui penawaran tersebut dan menginginkan produknya dapat digabungkan dengan produk mereka. "Dengan cara menjual produk A lalu berhadiah 1pcs produk B. Bagaimana?" tanya Langit. "Saya setuju dengan ide tersebut pak. Gimana Han?" tanya teman Hana. "Saya juga setuju." ucap Hana. "Dan bagaimana jika kita adakan buy 2 get 1 produk B?" tanya Hana. "Itu juga ide yang bagus." ujar Langit langsung disenyumi oleh Hana. Meeting berdurasi sekitar 1 jam, lalu setelahnya mereka pun bubar kecuali Hana, temannya dan Langit yang masih berbenah laptopnya. Langit yang baru akan pergi langsung dicegat oleh teman perempuan Hana. "Pak, tunggu." ucapnya. Langit menatap mereka sambil bertanya tanya. "Ide bapak tadi bagus pak, saya salut." ucap teman Hana. "Oh, iya terima kasih." ujar Langit. "Pak, saya boleh minta nomor.." belum selesai bicara temannya itu langsung dibekap oleh Hana. "Maaf pak, tolong abaikan orang ini ya. Lagi kumat penyakitnya." ucap Hana merasa tidak enak. Langit tersenyum lalu langsung pergi membawa laptopnya. "Elu nih kenapa sih?" ketus Hana. "Ih habisnya gue enggak tahan, dia gemoy banget bo." ucap temannya. "Ya tahanlah, Lo mau dia tiba tiba putus kontrak sama perusahaan kita gegara masalah minta nomer barusan?" tanya Hana kesal. "Iya sih. Sori sori." ucap temannya menyesal. Saat keluar dari ruang meeting bersama temannya, Hana melihat Senja disana dengan tatapan curiga. "Oh my sister!" Hana memeluk Senja tiba tiba, Senja yang dipeluk langsung melepasnya cepat cepat. "Kutu rambutnya pindah deh." ucap Senja. "Enak aja, gue enggak kutuan! Ada juga elo.yang keramasan seminggu sekali." gerutu Hana balik menyerang. Teman Hana berbisik. "Itu adik Lo Han? Kok dia bisa ada disini sih? Dia kerja?" tanya teman Hana. "Iya dia kerja disini, sebagai OG." ucap Hana dengan sedikit penekanan di kata OG. Senja tersungging, ia meniup poninya. Lagi lagi kakaknya bertingkah seperti itu. "Oh office girl. Bukannya adek Lo ini lulusan SMK ya? Kenapa mau jadi office girl?" tanya temannya. "Karena kurang beruntung, ya adikku?" sindir Hana culas. Senja merasa jengkel namun mencoba ditahan. "Teruntuk kakakku yang LULUSAN KULIAHAN DI UNIV TERNAMA DAN LEBIH BERUNTUNG. Saya sebagai adik yang lebih kurang beruntung ini, merasa anda tidak ada gunanya berada disini lama lama. Karena adikmu yang kurang beruntung ini tidak suka anda berlama lama!" ujar Senja kesal. Bintang yang berdiri tak jauh dari sana mendengar percakapan mereka. Ia nampak respek dengan Senja. Bukankah kakaknya itu terlihat kelewatan? "Senja, Senja... Apa perlu gue jabarin satu persatu hal yang bisa gue lakuin dan gak bisa Lo lakuin? Hmm?" tanya Hana. "Enggak perlu. Karena aku enggak perduli!" tegas Senja langsung berlalu pergi meninggalkannya. "Ngambek terus, dites dikit aja ngambek." pekik Hana merasa puas telah menyakiti adiknya itu. Senja merasa sebal, ia berjalan cepat melewati banyak staff hingga sampai bertabrakan dengan Arini. Senja meminta maaf padanya dan langsung pergi. Arini terheran, lebih heran lagi saat melihat Bintang tampak mengikuti Senja. Ada apa ini? Kenapa ia merasa sangat penasaran dengan yang terjadi dengan mereka? Arini pun mengikuti Bintang. Sejak kecil dia selalu mendapatkan dukungan dari ibu dan ayah. Itulah alasan kenapa ia sering meremehkan kemampuanku. Karena ia merasa dibela dan didukung. Aku terbiasa dengan ini, tapi lama kelamaan aku merasa sesak juga. Dia mengatakan hal yang terus mengikis pertahananku, dia membuatku selalu jatuh ketika diri ini memanjat keluar dari tebing yang ia julangkan. Dia selalu berhasil membuatku terjebak dan terisak. Kapan rasanya aku bisa keluar dari semua tekanan ini? Mereka terus kejar kejaran, hingga akhirnya Senja bertabrakan keras dengan dengan seorang manajer wanita hingga gelas berisi kopinya jatuh dan pecah. "KAMU NIH YA! KALO JALAN PAKAI MATA!" ketus wanita itu melotot. Senja gentar. "M-maaf Bu. Ini biar saya bersihkan." ucap Senja langsung memungut pecahan gelasnya dan mengumpulkannya. Namun tiba tiba ia meringis kesakitan, pecahan gelasnya menusuk tangannya hingga berdarah. "Aw." "Tuh kan enggak bener banget sih kamu! Makanya hati hati!" ketus wanita itu. Bintang langsung mendekati Senja dan memungut pecahan belingnya. "Biar gue aja Sen. Lo ke belakang aja. Ini biar gue yang urus." ucap Bintang. Senja pun mundur ke belakang. Arini melihat mereka dari kejauhan, Bintang menolong Senja. Kenapa mendadak Bintang jadi perhatian begitu dengan Senja? Bukankah awalnya mereka tidak terlalu dekat? Beberapa menit kemudian Senja ditatap lama oleh Bintang. Senja yang dilihat seperti itu langsung bertanya. "Kenapa?" tanya Senja. Bintang menggandeng tangan Senja dan membawanya masuk ke dalam pantry. "Ijinkan gue buat ngehibur Lo sekarang." ucap Bintang langsung membuat Senja terkejut. Bintang mengeluarkan koin dari saku celananya, ia hadapkan tangan yang menggenggam koin itu didepan wajah Senja, Senja menaikkan sebelah alisnya ketika memandang seksama kepalan tangan itu. Tiba tiba muncul setangkai bunga mawar dari genggaman tangannya seiring koin itu menghilang. Lelaki itu memberikan Senja bunga mawar merah tersebut sembari tersenyum. Senja balik tersenyum. "Nyolong dari mana kamu bunga ini? Ngambil dari pot ya?" seloroh Senja. Bintang tertawa. "Nangisnya enggak jadi kan?" sindir Bintang langsung dilengosi oleh Senja. "Lo harus bangga sama diri Lo, meskipun ada beberapa orang yang meremehkan kemampuan Lo. Enggak menutup kemungkinan mereka benar dalam segala hal. Gue yakin ada hal yang bisa Lo lakuin dan gak bisa dia lakuin." ucap Bintang langsung membuat mata Senja berkaca kaca. Senja tersenyum lirih. "Iya, makasih ya." ucap Senja. Perkataan yang memotivasi itu bahkan keluar dari mulut orang yang baru kukenal dan bukan siapa siapaku. Kata kata yang sangat aku ingin dengar dari mulut keluargaku sejak lama. Ini benar benar menyesakkan. Dibalik dinding Arini berdiri terpaku. Ia termenung melihat kedekatan Senja dan Bintang. Sakit, kenapa rasanya sakit sekali melihat mereka begitu dekat? Dilain tempat Richard berjalan keluar menuju parkiran, ia mendadak teringat dengan perkataan Langit tadi pagi. Disaat saya tahu anda berselingkuh melalui kemampuan saya dalam membaca pikiran, anda menganggap saya monster! Dan sekarang anda berniat untuk bertingkah menjadi ayah yang baik? Apakah anda bisa saya percaya? Telah sejak lama saya menganggap anda tidak ada. Jadi jangan pernah ungkit lagi hubungan diantara kita yang sudah hancur! Richard merasa sedih, hal apakah yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya dimasa lalu? Richard tiba tiba merasa pening kepalanya dan dadanya terasa sesak. Jantungnya kumat lagi. Tidak, jangan sekarang. Ia tidak kuat. Richard pun pingsan di jalanan. Hana yang baru menjalankan motornya langsung tersontak melihat Richard tergeletak di jalanan. Ia segera turun dari motornya dan berlari mendekati Richard. "Ya ampun. Pak bangun pak..pak!" Hana coba membangunkan Richard namun pria itu tak kunjung bangun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN