Festival olahraga

1247 Kata
"Ini baru bangun tidur hehe" "Oh, sama. Saya juga habis bangun tidur barusan. " "Oh." Hening beberapa saat. Senja terlihat tak lagi mengetik. Mereka tak saling berbalas chat dalam beberapa menit. Langit mencari topik lain, hal apalagi yang akan ia tanyakan ya? Langit mendapat ide, ia mulai mengetik. "Tinggal dimana?" tanya Langit "Di rumah." balas Senja. "Kirain di kandang." balas Langit tertawa "Wkwk, kan udah bilang aku bukan ayam" balas Senja. "Kamu dan ayam ada persamaannya." balas Langit. "Apa persamaannya?" tanya Senja "Sama sama makan nasi." "Haha. Kamu juga makan nasi, berarti kamu juga ayam" "Lebih mirip kamu." "Mana ada ayam secantik saya ?" "Ada, ayamnya lagi senyum sekarang." "Kok tahu sih aku lagi senyum? Kamu baca pikiranku ya?" "Enggak sih, saya bisanya baca pikiran orang yang berada dekat dengan saya." "Kamu beneran bisa baca pikiran? Wah hebat." Langit mendiamkannya, ia mendadak teringat dengan kilasan saat ia masih kecil, ketika ayahnya memukul dan membanting tubuhnya hingga jatuh ke lantai, hanya karena ia tahu anak lelaki satu satunya itu bisa membaca pikiran. Kejadian menyakitkan di hari itu, sialnya masih terus teringat dikepalanya. Jika dibandingkan dengan respon ayahnya dan teman temannya yang tidak terima dengan kemampuannya itu, Senja berbeda. Dia malah menganggap itu adalah hal yang hebat. Dasar gadis aneh. Langit tersadar. "Iya, terima kasih. Kamu gadis pertama yang mengatakan seperti itu." balasnya "Gadis pertama? Wah aku senang." Langit tersenyum. Senja kembali membalas. "Kamu pasti memiliki banyak teman ya dan disukai banyak orang. Kamu bisa membaca pikiran mereka dan mengerti apa yang mereka mau." ujar Senja di chat. "Tidak juga." balas Langit. "Kenapa? " "Banyak orang yang tidak menyukai saya, termasuk ayah saya." "Oh maaf, aku enggak bermaksud." "Enggak apa apa, membaca pikiran tidak selamanya menyenangkan. Ada beberapa hal yang terdengar menyakitkan ketika kita dengar." "Kamu yang sabar ya, kamu pasti sekarang lagi sedih." "Enggak kok, saya baik baik saja." "Kamu hebat." ujar Senja "Hebat kenapa?" tanya Langit "Kamu bisa menahan semua ini dengan tetap menjalani hidupmu seperti biasa. Kamu orang yang hebat." "Makasih. Kamu orang yang baik." "Hehe kamu orang kedua yang mengatakan aku orang baik. Aku terharu." ujar Senja. Langit tersenyum, ia melihat jam dindingnya. Sudah pukul satu malam. "Kamu enggak tidur? Besok kamu kerja?" tanya Langit. "Iya kerja." "Selamat malam, have a nice dream." "Have a nice dream too." Langit mengunci ponselnya dan taruh ke atas dipannya. Ia mulai menutup kedua matanya seraya tersenyum, entah kenapa ia merasa sangat senang. Esok paginya suasana di lapangan depan terlihat ramai dan dihiasi bendera kecil. Banyak kursi penonton sudah diduduki oleh banyak orang, khusus CEO duduk di sofa yang sudah disediakan di depan. Perlombaan yang pertama dimulai dari olahraga bola voli putri. Antara divisi Marketing dan Office girl. Masing masing kelompok terdiri dari enam orang. Mereka saling berdiri, berpencar dengan teman lainnya. Ratih bersiap melakukan servis ke arah lawan. Bola voli sudah ada di tangan. Ia mulai menarik nafas lalu menghembuskannya. Tampak pihak dari tim marketing sudah mengambil ancang-ancang menanti bola. Arini terlihat berteriak memberi semangat "Go Karat go Karat go!" Berkali kali Arini memberi yel yel dari kursi penonton, Senja yang duduk disampingnya langsung ikut ikutan memberi semangat pada tim Ratih. "Go Karat go Karat go!" Bintang bersama teman teman OBnya sedang duduk di kursi penonton tepat di belakang Senja dan Arini. "Kita tebak tebakan mau gak bro?" tanya Bintang pada Sandi, Soni dan Susanto, 3S (Trio sotong) yang ada disampingnya "Ah ogah, elu tebakannya aneh aneh. Masa nebak warna beha si Karat sih. Ya mana kita tahu." ujar Soni "Emang kita suaminya." ujar Sandi "Mending amat, suaminya aja enggak pernah dikasih tahu warna behanya apaan. Bisa bisa digaplok." ujar Susanto "Ya enggak. Ini lain, pokoknya beda. Kita tebak tebakan kata apa yang akan Karat ucapin kalo jatuh nanti." ujar Bintang "Ini lagi. Yaudah terserah Lo." ujar Soni Arini yang mendengar sekilas pembicaraan mereka merasa tertarik. Ia pun menoleh ke belakang, ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. "Gue ikut dong. Kayaknya seru." ujar Arini, Senja ikut menoleh ke belakang. "Oke, sekarang sebut nama apa yang bakal disebut sama karat selama dilapangan." "Burung perkutut suaminya!" pekik Arini sambil menunjuk tangan. "Oke, yang lain?" tanya Bintang "Gue sama kayak jawaban Arin." ujar Susanto. "Monyong." ujar Sandi "Robert Pattinson suami gue." ujar Soni "Cucok banget sih Lo." ujar Bintang mengira dirinya b*****g. "Enak aje, lu kira gue apaan! Dia kan emang sering latah kayak gitu." "Terus Senja?" tanya Bintang. "Aku ayam." jawab Senja. "Oke, semua nama udah dibooking. Siapa yang menang nanti dapet sepuluh ribu dari gue." ujar Bintang. "Gue kira sepuluh juta hahaha." tawa Soni. "Tekor gue." ujar Bintang. Beberapa saat kemudian permainan bola voli pun dimulai, permainan dibuka dengan berbagai pukulan dari tim marketing, kemudian pengembalian dari pertahanan tim office girl kemudian serang balik dari tim office girl. Bola tak bisa terbendung dan masuk ke area tim pemasaran. Skor pertama di raih tim office girl. Arini, Senja, Bintang dan trio sotong berteriak memberi semangat. Langit yang terduduk didepan bersama sekretarisnya melihat keseruan antara juara bertahan tim office girl dengan tim marketing. Ia juga mendengar suara Senja dibelakang sana yang memberi semangat pada tim office girl. Ia bahkan bisa mendengar suara pikiran Senja yang sangat menginginkan jika tim office girl menang. Entah sejak kapan ia jadi begitu perduli dengan gadis itu. Langit, kau pasti sudah terhipnotis olehnya, dan tidak bisakah ia sedikit saja berpaling dari gadis itu? Jawabannya sulit. Ia selalu mendengar suara itu, yang seolah seperti bercerita didalam pikirannya. Enak banget sih sekarang, enggak kerja tapi tetap dibayar. Sering sering aja begini. Lucu banget deh si Bintang, tebak tebakan apa yang mau dilatahin sama mbak Ratih. Aku nyebut ayam. Aku nyebut asal aja, orang enggak tahu. Tapi menang enggak ya? Lumayan kan sepuluh ribu bisa buat beli mie ayam. Oh iya nanti jam dua aku main bulu tangkis sama bintang, duh aku gerogi. Bisa enggak ya? Aku kan jarang main bulu tangkis lagi semenjak keluar SMA. Seru banget sih pertandingannya, aku harap tim voli office girl menang. Mbak Ratih hebat banget sih, tapi kapan kesandungnya ya dia, nungguin dia latah lama banget haha Itu adalah segelintir ucapan pikiran yang terdengar oleh Langit, hingga terlalu fokus dengan suara pikirannya membuat Gandhi yang berbicara disampingnya terabaikan. "Pak... pak... pak Langit!" ucap Gandhi, Langit tersadar. "Iya, kenapa?" tanya Langit. "Pak presdir sudah sampai di bandara. Apakah bapak akan menjemputnya?" tanya Gandhi. "Tidak, saya tidak akan menjemputnya. Jika beliau bertanya katakan saja, saya sibuk mengurus lomba." ujar Langit. "Baik pak." Bintang, trio S, Arini dan Senja terlihat seru menonton pertandingan voli. Skor saat ini tipis, tim office girl hampir dipepet oleh tim marketing. Arini terlihat tegang saat menonton. "Plis dong menang, jangan sampai disusul sama tim marketing." ucap Arini. Senja juga terlihat tegang disana, disaat semua yang menonton tegang, Ratih tiba tiba tersandung saat hendak mengejar bola. Bintang langsung memekik. "HYAA INI DIA!" Dalam adegan yang diperlambat Ratih yang hampir terjatuh langsung mengucap latahnya. "Kon--" "IYA!!" Arini penuh harap "Ci!" "Hah?" "Konser, konslet eh konsultasi, ayam." Senja langsung senang ketika Ratih menyebut ayam di akhir kalimatnya. "Yay!" Bintang langsung dengan bangga mengangkat tangan Senja. "Pemenangnya adalah Senja! Beri tepuk tangan semua." ucap Bintang. Arini dan trio sotong bertepuk tangan.. Bintang langsung memberikan uang sepuluh ribu pada Senja. "Nih buat Lo, gunain dengan baik ya Sen." ujar Bintang. "Iya hehe ya Allah aku menang. Makasih ya Bin." Senja senang. Langit melihat ke belakang, ia melihat Bintang dan Senja saling tertawa. Ia merasa tidak nyaman dengan ini. Entah kenapa ia tidak menginginkan pemandangan itu diterima oleh matanya. Ia kembali melihat ke depan dengan wajah tidak terima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN