Bagi buta mereka sudah bersiap. Rania kini tampil kembali dengan mengenakan pakaian syar’i dan menggunakan hijab. Awalnya Rania menolak untuk menggunakan pakaian seperti itu kembali. Rasanya lebih enak menggunakan pakaian yang beberapa tahun terakhir ini selalu ia kenakan. Rasa gerah dan panas pun sangat terasa. Padahal sebelumnya Rania sudah pernah mengenakan pakaian seperti itu.
Nisa mengucapkan banyak terima kasih ke Viera karena sudah mau menampung Rania dan membantunya menemukan Rania. Nisa bersyukur, dengan bantuan Viera juga yang ikut mencari Rania, kini Rania berada di sisinya.
Rania pun tidak kalah meminta maaf kepada Viera. Ia sadar banyak sekali kesalahan yang pernah ia lakukan kepadanya. Dengan sedikit ceramah dari Nisa kini Rania semakin tenang jiwanya.
Penerbangan di jadwalkan dua jam lagi. Mereka segera bergegas dan meninggalkan Viera seorang diri di rumahnya. Ia tidak ikut mengantar ke bandara. Perpisahannya cukup berada di rumahnya. Hal ini bukan karena ia tidak ingin, namun Nisa melarangnya dengan keras. Lagi pula ia seorang wanita. Jika ia ikut mengantar, Nisa justru akan mengkhawatirkannya.
Tidak butuh waktu lama. Rania dan Nisa sudah berada di Bandara. Penerbangan hanya kurang lima belas menit. Rania dan Nisa pun sudah siap untuk melakukan perjalanan jauh.
Ditempat berbeda, kini Bass masih tidak gentar mencari Rania. Bagaimana pun juga ia harus mendapatkan Rania. Rania adalah aset berharga baginya, ia tidak sanggup untuk hidup dalam kekurangan kembali. Bagaimana pun juga ia harus mendapatkannya bagaimana pun caranya.
Beribu jejak sudah ia buat. Namun Bass tak kunjung juga menemukan Rania atau tanda tanda keberadaannya. Pria semalam yang ia sudah hafal sudah sering berada satu tempat dengannya di hiburan malam pun tidak juga ia temukan batang hidungnya. Bass mulai emosi. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia sebodoh itu mempercayai orang di sekitarnya.
Di tengah kebingungan ia tanpa sengaja melihat Cassy yang tengah berjalan dengan Mycel. Ya Bass tahu siapa mereka. Rania pernah membicarakan mereka. Dan sekali waktu Rania pernah menunjukan orangnya ketiak mereka jalan bersama tidak sengaja bertemu dengan keduanya.
Bass merasa ini kesempatan emas. Bass beranggapan mereka mengetahui keberadaan Rania. Bagaimana pun juga Rania pernah menjadi orang yang dekat dengan mereka. Walau akhirnya Rania yang harus mau menerima hal pahit pada akhirnya.
“Stop! Cass liat Rania?” Cassy yang tiba tiba merasa namanya dipanggil pun langsung menoleh.
“Siapa anda ? ngapain juga gue ngurusin hidup Rania” Cassy menjawabnya sedikit acuh. Ya seperti inilah Cassy. Suka seali membuat lawan bicaranya naik darah.
“Sial!” ucap Bass yang mendapati Cassy langsung berjalan menjauh darinya. Benar memang. Mana pun ia mengetahui keberadaan Rania sementara ia tahu jika Cassy sangat membenci Rania. Ia tahu dari cerita cerita Rania yang selalu mengatakan jika Cassy tidak pernah tulus membantunya. Bass putus asa. Sepertinya ia memang tidak akan pernah bisa bertemu dengan Rania kembali.
Mau tidak mau jalan satu satunya ia harus menemukan pria itu. Namun ia memang tidak pernah tau di mana pria itu biasanya selain berada di bangunan besar dan kotor itu. Kini Bass yang tengah frustasi memilih untuk menghilangkan stress nya dengan memasuki Bar dan memesan beberapa botol bir.
***
Akhirnya sampai juga di bandara. merasa lega dan sangat antusias. Rasanya lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di negara kelahirannya. Sungguh sebenarnya Rania tidak pernah ingin pergi dari negaranya ini. Namun emosinya yang tidak bisa ia tahan berhasil mengusirnya dari bumi pertiwi. Rasa kecewa kepada kedua orang tuanya sangat besar. Bahkan rasa itu masih terus menyelimuti hati Rania.
Mereka segera mencari kereta untuk menuju ke Jawa Timur. Ya tidak ada jalan lain selain menggunakan kereta. Dengan tidak beruntungnya mereka kehabisan tiket pesawat. Kalaupun menggunakan transportasi selain kereta itu akan memakan waktu yang lebih lama. Ya tak lain tujuan mereka adalah untuk menemui Asma. Sebelumnya Nisa menawarkan Rania untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Namun Rania menolak mentah mentah. Sepertinya amarahnya masih meledak jika ada yang membahas keluarganya. Kecewa yang teramat kecewa. Itulah penyebabnya. Nisa pun tidak bisa memaksakan Rania begitu saja. Rania selalu mengalihkan pembicaraan jika Nisa membahas mengenai keluarganya. Akhirnya Nisa mengalah. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk bertemu dengan orang taunya. Luka dihatinya sepertinya masih terbuka sangat lebar.
Perjalanan menuju ke Rumah Asma pun tidak begitu jauh. Rania pun terlihat menikmati pesona lingkungan dari balik kaca kereta. Nisa yang disampingnya melihat dengan lega. Nisa tahu kenyataan apa yang akan ia dapatkan nantinya. Nisa merasa iba. Semoga saja dengan bertemu Asma ingatan Rania akan segera membaik dan mengingat semuanya yang pernah terjadi dalam hidupnya.
***
Tok Tok Tok !!!
“Assalamu’alaikum” ucap Nisa sambil mengetuk kediaman Rumah Asma.
Tak beberapa lama terdengar orang membuka gagang pintu.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah...”
“Ya Allah ning Nisa..” lanjut wanita paruh baya ketika ia mendapati yang berkunjung ke rumahnya adalah putri dari Kyai Ibrahim. Abah pengasuh pondok Al Iman yang pernah menjadi tempat Asma menuntut ilmu agama.
Nisa menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Nisa mencium punggung tangan wanita itu. Namun wanita itu menolak dan sebaliknya ia justru berusaha untuk mencium punggung tangan Nisa. Hal ini merupakan hal yang aneh bagi Rania. Bagaimana mungkin seorang ibu ibu yang jelas jelas sudah lebih tua dari Nisa menolak tangannya untuk di cium. Sedangkan ia malah berusaha untuk mencium tangan dari Nisa. Penyambutannya pun terasa sangat hangat. Hampir tidak pernah Rania merasakan hal seperti ini.
Bukan hanya sampai di situ. Rania di buat terkejut lagi. Ia mengira ketika ia bersalaman dengan wanita tersebut, wanita tersebut akan melakukan hal yang sama. Sama seperti yang ia lakukan kepada Nisa. Namun dugaannya salah. Wanita itu tidak menolak tangannya untuk mencium. Bahkan tangannya pun tidak di cium oleh wanita itu. Sungguh Rania sedikit kebingungan dengan apa yang barusan terjadi.
“Ayo masuk masuk” wanita itu yang sepertinya ibu dari Asma segera mempersilahkan mereka masuk.
“Ibu apa Salmanya ada bu?” tanya Nisa dengan sopan ketika wanita itu kembali dari dapur. Ia membawa minuman dan beberapa piring kue basah untuk di sungguhkan ke tamunya itu. Ya orang tua Salma di Indonesia juga menjalankan bisnis yang sama. Berjualan kue kue tradisional.
Bukannya mereka hendak bertemu Asma? Kenapa Nisa malah mencari Salma? Ya tidak lain mereka adalah orang yang sama. Di lingkungan rumahnya Asma biasa di panggil Salma. Nama lengkapnya adalah Asmania Salma Ningrum. Sungguh nama yang terdengar begitu indah.
“Oh ada di dalam, sebentar saya panggil terlebih dahulu. Eh ngomong ngomong adik manis ini namanya siapa?” pandangannya saja tiba tiba tertuju pada Rania. Wanita di samping Nisa yang berbalut gamis dengan jilbab birunya.
“Saya Rania bu”
Mendengar nama itu, wanita itu tidak kuasa menahan air matanya. Air matanya perlahan mulai membasahi pipinya dan kini bertambah deras. Ya Rania. Nama itu mengingatkannya pada sosok Ahmad. Sosok anaknya yang sudah pergi dan tidak mungkin kembali.
Melihat yang terjadi pada wanita tersebut, Rania merasa bingung. Apakah ia telah berbuat salah? Pernyaannya itu segera terjawab. Nisa memberi tahu bahwa wanita itu adalah ibu kandung dari Ahmad dan Asma.
‘Ahmad ? bukankah ia sosok yang Rania cari selama ini?’ ucap Rania dalam batinnya.
Wanita itu mendekat. Rania bingung apa yang harus ia lakukan. Ia merasa gugup dan salah tingkah. Mukanya memerah. Wanita itu memeluk Rania. Rania pun balik memeluknya. Rania ikut menangis. Sepertinya naluri mereka saling terhubung. Ibunya Ahmad yang tidak lain merupakan ibunya Nisa tidak menyinggung masalah Ahmad. Ia hanya memeluk Rania. Ia enggan untuk membahasnya kembali. Itu akan membuat ia tambah bersedih dan menambah kesedihan pada Rania. Dan disini ternyata Ibunya Ahmad tidak mengetahui kalau Rania tidak mengingat kejadian yang di alami Ahmad terakhir kali. Bahkan Rania pun sampai sekarang masih tidak mengingat kalau Ahmad sebenarnya sudah tiada.
Tak lama Asma datang. Wanita itu melepaskan pelukannya pada Rania. Ibunya Asma masuk ke dalam dan meninggalkan mereka. Membiarkan anaknya mengobrol dengan teman temannya.