Chapter 10 (Antara Makam dan Pesantren)

1137 Kata
Mata Asma terlihat sembab. Sepertinya semalam ia telah menghabiskan waktu untuk menangis. Matanya yang memberi tahu tanpa Asma minta. Ekspresi mukanya juga kini berbeda. Wajahnya layu dan semu. Ibarat bunga yang sudah di petik dan dibiarkan di terik matahari. Tidak terpancar sedikitpun cahaya terang di sana. Nisa yang lebih lama dekat dengan Asma menceritakan tentang apa yang di alami Rania selama di Amerika. Nisa juga menceritakan mengenai hilangnya sebagian memorinya. Salah satunya ia melupakan seperti apa sosok Ahmad dan wafatnya Ahmad. Ingatan Rania hanya sampai rencana ia yang akan menikah dengan Ahmad. Hal ini membuat Asma syok. Asma memaklumi apa yang di alami Rania. Bagaimana pun juga itu di luar kendali Rania. Dan bahkan Rania tidak menginginkan hal itu terjadi padanya. Asma mencoba mendekat pada Rania. Berharap memori Rania masih mengenalinya. Bersyukur Rania masih mengenalinya dengan baik. Asma menceritakan mengenai Ahmad dan kenangannya bersama Rania. Semua yang Asma ceritakan ternyata tetap saja tidak bisa mengingatkannya pada kejadian terakhirnya. Tidak ada cara lain. Asma memutuskan untuk ke makam. Ia akan membawa Rania ke makam Ahmad. Berharap ia dapat mengingat kejadian terakhir waktu itu. Melihat sebuah nama yang tertulis di batu nisan Rania tak menyangka. Ia tetap tidak bisa mempercayai kalau Ahmad sudah tiada. Namun itulah kenyataannya. Asma membawanya kembali ke rumah dan menunjukkan semua foto foto Ahmad. Perlahan dengan beruntungnya memori memori Rania mengenai Ahmad semakin muncul. Satu persatu kenangannya kembali melintas di pikirannya. Hingga ia benar benar mengingat kejadian terakhir waktu itu. Ya Rania mengingat kejadian di pesawat dan Bandara. Tangisan Rania kembali meledak. Nisa dan Asma berusaha untuk menenangkannya. Berharap kesedihan Rania tidak membuatnya jatuh sakit kembali. Rania pun tidak kuasa menghadapi kenyataan. Nisa dan Asma harus selalu memantau Rania. Bersyukur Rania tidak sampai hilang kesadaran kembali walaupun ia tetap harus di bawa ke rumah sakit. Tiga hari sudah Rania di rawat di rumah sakit. Kini ia sudah membaik dan sedang mengalami proses penyembuhan. Rania sudah boleh dibawa pulang. Nisa selalu setia menemani Rania selama ia sakit. Beberapa kali juga Asma turut menemani Nisa. Rania sudah di izinkan pulang. Nisa memutuskan untuk membawanya ke rumahnya. Ini pilihan yang harus ia ambil. Rania masih menolak untuk pulang kerumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Nisa menurutinya. Dan Nisa akan berusaha membuat Rania bertemu dengan keluarganya. Rania merasa kasihan dengan orang tuanya. Pastilah mereka sangat merindukan anak satu satunya. *** Beberapa orang lalu lalang. Semua menggunakan pakaian yang sopan. Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang tidak menggunakan jilbab. Pakaiannya pun tidak ketat. Pakaian yang mereka kenakan tertutup dengan sempurna. Ya Rania sudah menghadapi bangunan yang tidak terlalu besar namun tidak juga kecil. Banyak sekali perempuan di sana. Terpampang juga tulisan Pesantren Al Iman pada pintu masuknya. Baru kali ini Rania mengerti adanya dunia pesantren. Sejak kecil ia tidak pernah dikenalkan ada tempat seperti ini oleh orang tuanya. Orang tuanya selalu mengajaknya untuk berlibur. Bahkan belajar Al Qur’an pun berakhir ketika Rania menginjak Sekolah Menengah Pertama. “Assalamu’alaikum Ummi Abi...” ucap Nisa sambil mengetuk sebuah pintu Rumah. Rumah itu tampak besar. Terlihat anggun dan memenangkan walaupun jauh dari kata mewah. Sepertinya ini Rumah Nisa, Rania bertanya tanya dalam diri. “Wa’alaikum salam.. Ya Allah putri ummi sudah kembali..” wajahnya terlihat sangat bahagia mendapati Nisa berada di depan pintu. Rania yang di sambut hangat mengecup tangan dengan penuh arti. Mereka kemudian berpelukan. Terlihat sangat menyejukkan dan hangat. Rania yang hanya melihatnya saja merasa hangat. Ingatan kepada keluarganya kembali muncul. Kapan terakhir kali ia di perlakukan seperti itu? kalau tidak salah sepertinya ketika ia Sekolah Menengah Pertama. Ketika menginjak Sekolah Menengah Atas orang tuanya sudah saling sibuk masing masing. Sama sama mengejar karir, karir dan karir hingga mereka melupakan yang namanya menikmati hidup, bahkan perhatian ke Rania pun seakan tidak ada. Mereka sama sama menjadi sangat ambisi dengan harta hingga muncul masalah baru. Ah ingatan itu sungguh melukai perasaannya. Beruntung sekali menjadi Nisa. Di besarkan di keluarga yang harmonis dan penuh dengan kasih sayang. Ternyata benar, uang bukanlah sumber utama kebahagiaan hidup. Buktinya ia dan keluarganya yang harta tidak menjadi masalah justru kehidupannya tidak tenang. Selalu mengejar dunia. Berbeda dengan keluarga Nisa, keluarga yang jauh dari kata mewah namun sangat terasa kehangatannya. “Eh ini Rania ya? Nisa sudah cerita banyak loh mengenai masuk..” sapa ummi Halimah yang tidak lain adalah ibunda dari Nisa dan bu Nyai di pesantren Al Iman. Wajahnya terlihat sangat sejuk dan menyenangkan. “Iya ummi,” Rania menyambutnya dan menyodorkan tangannya. Ia mencium tangan Ummi Halimah dengan penuh penghayatan. Rania merasakan kehangatan ketika berada dekat dengan beliau. “Nisa, buruan ajak tamunya, ajak dia istirahat, kasihan loh dia baru sembuh” kata katanya terdengar sangat lembut, Ia juga melempar senyum ke pada Rania. Rania membalasnya dengan senyuman. Rasa bahagia selalu terselip ketika ia di beri senyuman oleh Ummi Halimah. Sungguh kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. “Nggih ummi...” Nisa terdengar sangat sopan. Tidak mengherankan jika selama kenal dengan Nisa, Rania selalu merasa di hargai. Bahkan dari perilakunya selalu baik. Tidak pernah menjengkelkannya dan bahkan Nisa sering sekali memberikan bantuan kepadanya. “Jangan lupa juga Rania di kasih suguhan,ummi mau ke madrasah dulu” “nggih mi..” “Rania.. maaf ya umi tinggal dulu ya...” “Iya ummi, maaf mi kalau malah Rania disini jadi merepotkan ” ucap Rania sambil sedikit merasa tidak enak. “Jangan mikir gitu, anggap saja di rumah sendiri” sambil mengusap pundak Rania. “Makasih banyak umii” Rania merasa terharu ketika Ummi Halimah mengusap pundaknya. Sungguh hangat sentuhannya. Ia merasakan kasih sayang yang di berikan Ummi Halimah kepadanya. Rania di ajak Nisa ke kamarnya. Kamarnya tidak terlalu luas. Namun terlihat begitu rapi. Barang barang tertata dengan teratur. Beberapa tulisan arab juga berada di sana. Tidak tahu tulisan apa itu. Rania hanya mengetahuinya kalau itu tulisan arab. Sangat susah untuk ia baca. Mencoba berkali kali pun ia tetap gagal. Rania merasa lelah dan letih. Mungkin karena ia sedang masa pemulihan sembuh. Memang sangat wajar jika ia mengalami kelelahan mengingat ia yang baru keluar dari rumah sakit. Terdengar suara suara orang membaca Al-Qur’an. Suaranya tidak terlalu jelas namun sepertinya suara beberapa orang sedang mengaji. Mungkin suara itu berasal dari masjid yang Rania lihat ketika awal memasuki pesantren. Lingkungan ini menjadi lingkungan baru bagi Rania. Dulu Rania anti dengan hal hal yang berbau keagamaan seperti menggunakan pakaian yang menutup aurat. Bahkan ketika ada teman yang membahas masalah pesantren pun Rania menganggap Rendah, dan selalu menghiarukannya. Rania benar benar hanya islam KTP waktu itu. Tidak mengangka ia kini justru menginjakkan kaki di pesantren. Rania menikmati juga suasana pesantren yang terasa menentramkan jiwanya. Sungguh kuasa Allah Swt. tidak dapat di duga dan Allah Swt. dapat memberi hidayah kepada hambanya tanpa di duga dari mana arahnya dan bagaimana jalannya. Bahkan Rania tidak sadar terlelap ketika ia sedang mendengarkan bacaan bacaan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN