Adzan berkumandang. Nisa sudah siap dengan mukenanya yang terpasang. Berbeda sekali dengan Rania. Ia masih tertidur dengan malasnya. Ya beginilah sosok Nisa. Belum adzan pun ia sudah bersiap untuk solat subuh di masjid. Ia bangun pagi untuk mengerjakan sholat di sepertiga malam terakhir di kamarnya. Baru setelah adzan subuh berkumandang ia akan pergi ke masjid pesantren untuk melaksanakan solat subuh berjamaah. Nisa ini sudah benar benar menggambarkan sosok santriwati yang sebenarnya.
“Rania, bangun ayok kita sholat subuh ke masjid” Nisa mencoba membangunkan Rania.
Rania yang masih kantuk berusaha membuka matanya. Apalah daya dinginnya pagi membuat Rania merasa sangat berat sekali untuk beranjak bangun. Apalagi harus berurusan dengan air.
“Rania, buruan nanti telat loh.. hayuk bangun...”
Rania akhirnya mengalah. Ia perlahan membuka matanya yang sedari tadi masih tetap terpejam walaupun sebelumya ia sudah mendengarkan Nisa membangunkannya. Bagiamana pun juga kini ia di lingkungan pesantren. Apalagi dia menginap di rumah pengasuh pondok pesantren. Mau tidak mau ia harus dapat beradaptasi sesegera mungkin.
“Buruan ambil air wudlu, Aku tunggu di depan kamar ya...” ucap Nisa seraya melangkah keluar kamar. Hal ini bermaksud supaya Rania tidak terlalu berlama lama dalam kemalasan karena ia menunggunya.
Rania sudah bersiap dengan mukenanya. Ia melihat ke cermin. Terpantulah wajahnya yang cantik. Ia bahkan tersenyum kepada dirinya sendiri yang kini mengenakan mukena putih dengan bermotif bunga.
“Ayuk Nisa..”
Mereka berjalan beriringan menuju masjid. Pemandangan baru bagi Rania. Pagi buta seperti ini ternyata lingkungan pesantren sangatlah ramai. Mereka berbondong bondong berjalan menuju masjid. Wajah mereka tampak ceria dan memancarkan kecantikan masing masing. Iya Nisa membawa Rania untuk berjamaah bersama yang mana jalan yang mereka lewati untuk ke masjid khusus untuk perempuan. Sedangkan untuk laki laki melalui jalan yang berbeda menuju masjid. Bagian sholat laki laki dan perempuan pun terpisah dengan akses masuk yang berbeda. Hal ini yang menyebabkan mereka tidak bertemu berbeda jenis.
Sampai masjid pun Rania mendapati beberapa santriwati yang tengah mengaji membaca Al-Qur’an. Ada juga yang sedang memegang tasbih. Dan ada yang sedang melaksanakan sholat sunah. Mereka tampak khusu dengan aktifitasnya masing masing.
Ternyata dunia pesantren begitu berbeda dengan dunia luar. Pagi pagi buta pun mereka sudah menjalankan berbagai ibadah. mereka saling berlomba lomba dalam berbuat kebaikan termasuk di dalamnya beribadah kepada Allah. Berbeda dengan dunia luar. Pagi pagi seperti ini kebanyakan orang masih tertidur pulas dengan selimut tebalnya. Hal ini lah yang biasa Rania lakukan dalam hidup.
Selesai sholat pun ternyata mereka tidak langsung kembali ke kamar masing masing. Mereka doa bersama. Rania yang baru mengalami ini pun merasa antusias. Keimanannya terasa semakin naik. Benar kata orang. Lingkungan itu akan mempengaruhi suatu induvidu. Dan kini Rania merasakan itu.
Dugaan Rania ternyata salah lagi. Ia mengira setelah doa bersama itu kegiatan di masjid telah usai. Ternyata tidak demikian. Masih ada kulaih ba’da subuh. Kegiatan kajian keagamaan yang di laksanakan setelah subuh ini membahas tentang kehidupan sehari hari. Bagaimana ia harus bertindak dan berbuat dalam hidup.
Baru setelah kajian selesai mereka kembali ke kamarnya masing masing. Kata Nisa kegiatan mereka tinggal bersekolah dan berkuliah. Ya pondok pesantren Al Iman adalah pondok pesantren putra putri yang menerima santri putra dan santri putri untuk usia dari Sekolah menengah Pertama sampai dengan usia universitas. Bahkan ada juga santri yang sudah selesai berkuliah dan bekerja namun mereka tetap melanjutkan pendidikan agama di pesantren ini. Untuk Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas berada di lingkungan pesantren. Terletak satu atap dengan pesantren. Sementara untuk mahasiswa mereka belajar di universitas sekitar pondok pesantren.
***
“Rania, bagaimana rasanya hidup di pesantren ?” Nisa bertanya dengan senyum senyum sembari mereka berjalan kembali ke kamar.
“Ya gimana ya.. kamu sendiri bagaimana ?” Rania balik bertanya dengan tersenyum.
“Ya kaya gini... nyaman si.. Aku suka kehidupan pesantren”
“Jawabanku, kurang lebih sama seperti apa yang kamu rasakan, walau ya ya..”
“Walau apa ?” Nisa menengok ke arah Rania. Ia sedikit penasaran apa yang mau wanita itu katakan.
“Kepo ini ya, walau ya aku masih sedikit kesulitan buat beradaptasi. Semuanya hal baru bagiku. Namun aku menikmatinya”
“Itu wajar untuk orang yang baru menginjak kaki di pesantren” jawab Nisa dengan puas.
“Nanti kamu akan mendapat banyak ilmu di sini..”
***
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rania cukup menikmati hari pertamanya sebagai santriwati di sini. Santriwati di pesantren ini juga murah hati dan baik baik. Dengan cepat ia sudah berkenalan dengan beberapa santri putri di pesantren ini.
Kegiatan kegiatan seharian ini juga telah Rania rasakan. Hari ini adalah pengalaman perdana Rania menjadi santriwati.
Kini kegiatan pesantren telah usai. Saatnya para santri untuk melakukan kegiatan pribadinya dan beristirahat. Itu yang di katakan Nisa. Tapi Rania tidak tau secara langsung apa yang mereka lakukan karena Rania berada di rumah pengasuh pondok. Bukan berada di gedung pesantren. Terbesit keinginan Rania untuk tinggal di gedung pesantren. Ia penasaran bagaimana kehidupan di sana. Bagaimana rasanya tidur di kobong ( kamar, istilah di pesantren). Rania juga penasaran bagaimana cara mereka membagi waktu.
Dengan sedikit ragu dan di dorong oleh rasa penasaran yang begitu dalam, akhirnya Rania memberanikan diri berbicara ke pada Nisa. Ia sangat ingin merasakan sebagai santri yang benar benar santri. Tanpa di istimewakan dan waktunya di bebaskan.
“Nis..”
“Iya.. ” jawab Nisa sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya. Rania tidak tau pasti apa yang Nisa kerjakan.
“Nis, aku ingin tinggal di pesantren”
“Eh, Serius??” Nisa langsung menghadap kearahnya. Ekspresinya terlihat sedikit kaget.
“Serius Nis..” jawab Rania dengan senyum.
“Kamu yakin ingin tinggal di pesantren?”
“Yakin Nis, aku nyaman di sini. Aku ingin belajar agama lebih dalam lagi Nis.”
“Alhamduliilah ya allah” Nisa beranjak dan mendekat ke Rania. Ia langsung memeluknya. Nisa merasa bahagia dengan apa yang Rania ucapkan. Nisa tidak pernah menduga jika Rania ingin tetap be;ajar di pesantren dan ia ingin mendalami ilmu agama. Nisa bersyukur dan terharu mendengarnya.
“Makasih banyak ya Nis, sudah mengenalkan kehidupan yang tenteram”
“Sama sama Rania. Aku bangga padamu Rania. Akhirnya tanpa diminta kamu ingini memperdalam ilmu agama. ”
“Nis, aku boleh tinggal di gedung pesantren ngga?”
“Aku ingin merasakan menjadi seorang santri yang benar benar santri. Aku menginginkan kegiatan seperti mereka yang berada di gedung santri putri”
“Kenapa tidak tinggal disini saja bersamaku? Aku malah senang jika ada temannya”
“Aku ingin di gedung santri Nis, aku merasa sedikit kurang nyaman ketika santri putri menghormatiku seperti menghoramatimu. Aku ingin menjadi santri seperti yang lainnya”
“Tidak perlu mempermasalahkan itu,”
“Tidak Nis, aku menginginkan menjadi santri biasa..”
“Iya udah kalau mau kamu seperti itu. Biar nanti malam aku obrolin dulu dengan ummi ya..”
“Iya Nisa, makasih banyak. Eh Ning Nisa”
“Hust! Ngga boleh seperti itu” ucap Nisa sambil tersenyum geram ke arah Rania.
“Sudah seharusnya aku memanggil kamu Ning” Rania juga menjawab disertai dengan senyum. Dan mereka tertawa bersama.
***
Keinginan Rania untuk menjadi santri biasa ternyata diterima baik oleh ummi Halimah. Ia mengizinkan keinginan Rania. Mendengar hal tersebut dari Nisa, Rania senang bukan main. Ia akan menjadi santriwati. Sesuatu yang sangat ia inginkan akhir akhir ini walau dulu ia merendahkan. Kini Rania sadar, kenapa beberapa dari temannya dahulu sering membicarakan mengenai pondok pesantren dengan antusias. Ternyata seperti ini rasanya. Pantas saja mereka tidak bosan untuk berbagi pengalaman berada di penjara suci.
Nisa berniat mengajak Rania berkeliling di gedung pesantren. Gedung pertama yang mereka kunjungi adalah gedung anak anak Sekolah Menengah Pertama. Ketika mereka sampai di sana, bangunan tampak sepi. Hal ini karena mereka sedang belajar di MTS Al- Iman. Salah satu lembaga pendidikan setara dengan SMP yang berada di bawah naungan pesantren Al-Iman.
Nisa meminta izin kepada pengurus untuk masuk ke dalam. Pengurus di sini adalah mereka yang dengan sukarela mengabdikan diri untuk pesantren. Mengajukan diri untuk ikut membantu santri santri di pesantren sesuai dengan kemampuan mereka. Ada banyak juga abdi dalem di pesantren ini. Hati mereka sungguh mulia. Tidak mengharapkan dunia dan membantu dakwah kyai. Ada juga Abdi dalem yang bertugas untuk memasak, ke pasar, mencuci kotak bekal santri SMP dan SMA. Sedangkan untuk anak kuliah mereka di beri kewenangan untuk memasak sendiri.
Rania melihat kagum kepada mereka yang dengan suka rela menjadi pengurus kamar. Mengurusi dan memegang tanggung jawab besar untuk membantu santri santri MTS. Pengurus kamar inilah yang menjadi ibu bagi mereka. Ia sabar mendengarkan keluh kesah dari santri santri di kamarnya. Tak jarang juga mereka harus menenangkan santri yang menangis. Mereka harus mengatasi anak anak yang manja, anak anak yang sebelumnya sudah terbiasa hidup mewah. Sungguh ini sesuatu yang sangat tidak mudah.
Nisa tidak mengajak Rania untuk melihat kamar santri SMA. Hal ini karena mereka sengan melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Berbeda dengan santri SMP, untuk santri SMA ini mereka tidak memiliki pengurus kamar seperti pada santri SMP.
Nisa berlanjut mengajak Rania menuju pondok Mahasiswa. Suasana disini pun berbeda dengan yang sebelumnya yang tampak sepi. Terdapat beberapa orang di kobong. Hal ini karena mereka sedang tidak ada jadwal kuliah. Nisa pun mengajak Rania untuk memasuki beberapa kobong dan mengobrol dengan mereka.
Tidak lupa juga Nisa membawa Rania menuju kamar para Abdi dalem. Abdi dalem ini adalah mereka yang di pesantren yang berorientasi untuk membantu operasional pondok. Jumlah mereka lumayan banyak, dan memiliki kewajiban masing masing. Pembagian tugas ini supaya mereka tetap dapat mendapatkan ilmu. Ada beberapa kebijakan juga yang wajib mereka jalani seperti santri lainnya. Sholat berjamaa’ah, dan mengikuti kajian sesuai dengan jadwal mereka.
Rania mengutarakan kepada Nisa ingin mencoba menjadi santri yang berada di pondok santri mahasiswa. Namun ia ingin ikut membantu abdi dalem ketika jadwal untuk santri tidak ada, yang tidak lain adalah siang hari. Ketika santri lainnya sedang belajar di kampus ia ingin menggunakan tenaganya untuk berkontribusi pada pesantren. Dengan begini, Rania dapat menuntut ilmu seperti santri mahasiswa dan dapat mengabdikan diri.
Nisa pun menyetujui apa yang diminta Rania. Namun Nisa juga mengatakan kepada Rania jika ia ingin kembali tinggal di kamarnya, kamarnya selalu terbuka lebar untuk Rania.
***
Kini Rania baru tiba di salah satu kobong santri putri mahasiswa yang nantinya akan menjadi tempat untuknya tidur. Di samping Rania terdapat Nisa. Satu kamarnya terdapat sepuluh anak. Lemari lemari plastik di tata rapi pada pinggir kamar. Kasur telihat tertumpuk rapi di sudut yang lain. Hari masih siang. Ketika malam tiba, baru kasur kasur tersebut akan di tata untuk tidur. Rania disambut hangat oleh mereka yang sudah berada lama di kobong tersebut. Jika di hitung hitung terdapat 4 santriwati yang berada di sana. Sedangkan lima lainnya masih berada di kampus.
Yang namanya anak pesantren, mereka memiliki pengetahuan yang baik. Ilmu yang mereka pelajari pun secara tidak langsung membahas tentang ke sosialisasi juga. Bagaimana cara untuk hidup bersama orang lain. Ya mereka memiliki kesadaran yang tinggi. Mereka pun menerima Rania menjadi teman satu kobongnya. Rania dengan cepat ia bisa beradaptasi dengan teman temannya, hal ini karena ia dahulu sudah terbiasa untuk berorganisasi ketika sekolah. Di lihat sekilas usia mereka tidak jauh berbeda. Mungkin jika Rania waktu itu mengambil kuliah ia sedang menempuh semester yang sama.