Chapter 12 ( Nasihat Ummi Halimah )

2801 Kata
Sudah lebih dari satu bulan Rania menuntut ilmu di pesantren Al Iman. Satu bulan sudah Rania lewati dengan baik. Rania termasuk anak yang pandai dalam mengatur waktu diri. Ia juga sangat dikenal santriwati yang sangat rajin beribadah. Dahulu yang Rania sholat subuh harus di bangunkan Nisa, kini ia terbiasa membangunkan teman temannya menjelang subuh. Ini ia lakukakan dengan isitiatif sendiri. Siang ini Nisa menemuinya. Ia mengajak Rania untuk ke kamarnya yang tidak lain berada di rumah pengurus pondok. Rania pun menyanggupinya. Selain sebagai teman dekatnya, Nisa adalah Ning di pondok Al -Iman. Semua santri menghormatinya layaknya menghormati ummi dan abbah serta asatid lainnya. Pondok Al -Iman memiliki asatid assatidah yang lumayan banyak. Pengajarnya pun memiliki tanggung jawab masing masing. Mereka juga memiliki jadwal sebagai mana santri. Bedanya jadwal mereka untuk mengajar. Untuk kegiatan madrasah, santri Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Santri Mahasiswa memiliki jadwal sendiri sendiri. Masing masing bagian memiliki madrasah sendiri yang mana terdapat 3 madrasah yang luas. Sedangkan untuk kegiatan seperti hadroh dan sholawat rutinan di adakan bersama seluruh santri di masjid. Masjid inilah tempat bertemunya seluruh santri. Sedangkan kegiatan tiap tingkatan santri di adakan di masing masing madrasah. Kini Rania pun sudah berada di kamar Nisa. Rasa tidak enak menyelimuti kalbunya. Ia merasa tidak enak memasuki kamar Ning. Bagaimana lagi, ini Ning Nisa yang mengajaknya. Disini Ning Nisa tenyata berbicara serius. Rania pun sedikit bingung untuk merespon mengingat luka di hatinya tidak kunjung hilang juga. “Rania.. Aku mau ngobrol nih” “Iya mulai aja, hehe” Rania tersenyum. “Em maaf sebelumnya, sampai sekarang apa kamu belum mau menemui orang tuamu? mengingat kamu sudah lama sekali tidak bertemu dengannya” “Bagaimana ya Ning, aku juga bingung harus bagaimana. Terkadang ingatan waktu itu membuatku marah kepada mereka ” “Rania anak baik, kamu ngga boleh seperti itu. Setidaknya temuilah mereka. Pasti mereka sudah merindukanmu” “Aku juga tidak tahu apa mereka merindukanku atau tidak. Hingga kini pun aku tidak pernah mendapat kabar dari mereka” “Bukankah kamu yang mengganti nomormu? Sosial media kamu juga di hapus kan, bagimana mereka bisa menghubungimu” “Nanti deh Ning, aku akan mencari mereka kalau aku sudah siap” “Kapan nunggu kamu siap? Mereka orang tua kamu. Bagaimana pun juga mereka yang melahirkanmu. Tolonglah jangan egois karena itu. Rania anak yang pintar dan sudah besar” Ucapan Ning Nisa membuka pikiran Rania. Benar juga apa yang Ning katakan. Bagaimana pun juga mereka telah merawat Rania sedari kecil. Ia kini juga sudah tumbuh dewasa. Bukan usianya lagi untuk tidak bisa mengatur emosi.Rania sangat merasa bersalah pada orang tuanya. Jujur ia juga sangat merindukan mereka. Namun rasa gengsi yang ada dalam dirinya lebih besar sehingga ia enggan untuk mengakui dan menemui mereka. Rania menahan tangisnya dari Ning Nisa. Ia menahannya karena tangisannya tidak mau dilihat oleh orang lain. *** Kamis sore. Kini jadwalnya Rania untuk mengikuti kajian sore bersama Ummi Halimah. Sebuah buku dan pena sudah berada di tangan Rania. Ia duduk dengan khidmat dengan mengenakan mukena. Memang jadwal kajiannya sebelas sholat ashar. Sehingga semua santri pun mempersiapkan alat tulis mereka sebelum berangkat ke masjid untuk sholat. Kajian pun diawali dengan sholawat bersama dan doa bersama. Ntah disengaja atau tanpa sengaja, kini topik yang di bahas Ummi mengenai berbakti kepada orang tua. Rania yang tadi siang sudah memberinya pengertian agar ia bersifat dewasa dan memintanya untuk menemui orang tuanya pun tambah merasa bersalah. Ia merasa sangat durhaka pergi menghilang meninggalkan orang tua tanpa kabar tidak sebentar. Bukan lagi hitungan minggu atau hitungan bulan. Melainkan sudah hitungan tahun. Kabar orang tuanya pun kini ia tidak mengetahui. Hal ini menambah rasa bersalahnya. “Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara yaitu ; Sedakah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya (HR Muslim)” Diriwayatkan Bukhari, dari Abu Bakar, Rasulullah Saw. Bertanya ke[ada para sahabatnya “Maukah aku memberitahumu tentang dosa terbesar? ” mereka menjawab “ Ya Rasulullah” kemudian Rasulullah bersabda “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua” Mendengar ceramah ceramah dari Ummi Halimah Rania pun tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya yang sudah di sembunyikan sebelumya. Hatinya sungguh tergetar. Rania menyadari betapa durhakanya ia. Air matanya mengalir membasahi pipi hingga menimbulkan beberapa santriwati yang berada di dekatnya meliriknya. Beruntung Rania duduk dibagian belakang sehingga tangisannya tidak dilihat oleh Ummi Halimah. *** Hari hari terus berjalan. Rania masih terus saja memikirkan kesalahannya kepada orang tua. Nanti malam akan ada acara tasyakuran di pondok. Hari ini adalah hari sibuk untuk keluarga besar pondok. Mereka semua mempersiapkan acara untuk nanti malam yang turut mengundang pengasuh pengasuh pondok lain. Berbagai hidangan pun tengah di masak di dapur yang letaknya berada di belakang dhalem (rumah pengasuh pondok) dan tergabung langsung temboknya. Rania diminta Nisa untuk menemaninya pergi ke pasar sebentar. Ada sesuatu yang harus ia beli di toko dekat pasar. Nisa tidak enak hati jika ia menyuruh santri untuk pergi ke sana. Seperti itulah karakter Nisa, mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain. Rania merasa ibu melihat ibu ibu yang terduduk di bawah d depan toko. Didepannya terdapat kaleng yang sengaja ia letakan untuk menerima uluran baik dari orang orang yang melewatinya. Penampilannya pun lusuh. Baju yang dipakainya terlihat sudah usang dang terdapat beberapa tambalan di sana. Rania yang melihat pun tidak bisa menahan rasa belas kasihnya. Ia mengeluarkan sedikit uang yang ia bawa. Sosok wanita itu juga mengantarkan Rania pada ibunya. Rania tidak akan tega jika ibunya kini berada di posisinya. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat Rania yang telah lama tidak berjumpa dengannya. “Ran? Ayo pulang..” ucap Ning Nisa yang menyadari Rania menatap ke arah toko. *** Di saat acara ceramah pun yang di bahas tidak lain mengenai orang tua. Hal ini membuat rasa bersalah Rania semakin menggebu. Ia sangat ingin segera menemui orang tuanya. Ia ingin bersimpuh sujud meminta maaf. Rasa bersalahnya terus menghantuinya. “Ran, mau kemana ??” ucap salah seorang santriwati ketika melihat Rania hendak beranjak pergi dari majelis. Rania hanya menunjuk keluar. Ia terus menunduk untuk menyembunyikan mukanya. Tangannya menutup mulutnya dengan kerudung. Ning Nisa melirik menyadari Rania yang beranjak pergi. Ning Nisa mengerti apa yang ia rasakan. Ning Nisa pun menyusulnya. “Hey kenapa Rania?” ucap Ning Nisa yang mendapati Rania sudah menangis di atas bantal. Air matanya sudah sampai membasahi bantal yang ia kenakan. Seperti tertangkap basah, Rania tidak bisa mengelak. Ia menyambar Ning Nisa dan memelukknya erat. Ning Nisa yang menyadari sahabatnya itu sedang tidak baik baik saja menyambut pelukannya. “Kenapa, ceritalah..” Sambil tersendu-sendu Rania menceritakan apa yang ia rasakan. Rania juga mengungkapkan jika ia sangat merindukan orang tuanya. Kesalahan pada orang tuanya beberapa tahun yang lalu membuatnya merasa sangat berdosa. Kini ia benar benar ingin menemui orang tuanya. *** Pagi pagi buta Rania telah bersiap untuk menuju ke stasiun. Kereta sudah ia dapatkan. Ning Nisa yang memesannya semalam melalui aplikasi Kai Access. Rania diantar Ning Nisa dengan mobil abahnya. Sebelum beranjak ke stasiun, Rania berkunjung dulu ke ndalem untuk meminta izin dari Ummi Halimah. Potongan potongan nasehat yang Ummi Halimah sematkan di antara tutur katanya akan Rania pegang. Kereta membawanya pergi meninggalkan Jawa Timur dan mendekati Jakarta. Ibu kota negara di mana tempat ia dilahirkan. Disanalah juga ia menghabiskan waktu kecilnya bersama keluarganya. Melalui kaca jendela kaca kereta, Rania terus memikirkan orang tuanya yang sudah lama tidak ia temui. Rania sampai juga menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Ia langsung menuju ke rumahnya. Bangunan itu masih terlihat kokoh dari kejauhan. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada Rumahnya. Rania mengetuk pintu. Rania tidak sabar untuk memeluk orang tuanya. “Maaf siapa ya?” “Saya Rania bu, anak dari pemilik rumah ini” sambil menahan kebahagiaannya yang kian memuncak. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang tuanya. “Mohon maaf non, majikan saya anaknya masih kecil. Non ini sebenarnya siapa?” Mendapati jawaban seperti itu Rania bingung. Anaknya masih kecil? Bukankah ia adalah anak satu satunya? apakah ibunya menikah lagi dan ini anaknya? Rania dipenuhi kebingungan. “Benar kan ini kediaman Ibu Vinda dan Pak Agus?” “Eh sepertinya non salah alamat. Bukan ini kediaman ibu Melinda” “Iya sudah terima kasih banyak bu, maaf mengganggu waktunya, mari...” Rania pun pergi meninggalkan rumah masa kecilnya itu. Ia sudah membayangkan akan memeluk orang tuanya dan meminta maaf. Nasib Rania tidak beruntung. Kini ia harus mencari kedua orang tuanya yang kini entah berada di mana. *** Rania tidak menyerah begitu saja. Ia harus menemukan orang tuanya. Rania sangat sangat merindukan mereka. Usahanya tidak menyerah sampai di sini. Ia memutuskan untuk menginap di penginapan yang ia tahu sebelumnya. Jarak penginapan itu tidak begitu jauh dari rumah Rania waktu kecil. Ia hanya bisa menyewa tempat sederhana mengingat tabungan uangnya yang semakin menipis. Mungkin uangnya tidak lama lagi akan habis. Ia harus bisa menekan pengeluaran sebesar mungkin. Pencarian dilakukan di keesokan harinya. Rania sudah mendaftar tujuan kemana saja ia akan pergi. Pertama ia akan pergi ke kantor ayahnya bekerja dahulu. Semoga saja sosoknya masih berada di sana. Dengan menggunakan ojek online ia telah memasuki bangunan yang menjadi tempat kerjanya kala itu. Semoga saja hingga kini pun ia masih berada di sana. “Permisi Mba...” “Iya ada yang bisa di bantu?” resepsionis menyambut kedatangan Rania. “Maaf apa saya bisa bertemu dengan Pak Agus?” “Maaf pak Agus yang mana ya mba? Soalnya disini ada dua orang yang bernama bapak Agus” “Oh begitu, Pak Agus yang bekerja di bagian keuangan mba” “Oalah Pak Agus, mohon maaf mba beliau sudah tidak bekerja di sini mba” Patah sudah hati Rania. Tujuan utamanya tidak menjawab keberadaan orang tuanya. Mau tidak mau ia harus menuju ke tujuan ke dua. “Ee.. Kalau boleh tau sekarang beliau kerja di mana ya atau berada di mana, siapa tahu mba mengetahuinya” “Aduh mohon maaf mba saya malah tidak mengetahui kabar beliau sama sekali setelah keluar dari sini.” “Oh begitu, ya sudah mba. Eh kapan terakhir kali mba melihat beliau atau mendengar kabar mengenai beliau?” Rania masih mencoba menggali informasi. Siapa tahu dia mendapat petunjuk. “Maaf mba, saya sama sekali tidak mengetahui kabar beliau. Terakhir ketemu ya waktu itu mba, Hari terakhir ia ke kantor” “Baik mba terima kasih banyak ya mba atas bantuannya” “Baik kak terima kasih kembali” ucap resepsionis dengan sopan sebelum Rania pergi dari hadapannya. Tujuan Rania selanjutnya adalah kantor tempat kerja ibunya. Rania berharap sangat ibunya masih mencari penghasilan di sana. Ia ingin sekali bertemu dengan sosoknya dan meminta maaf dengan segala kesadarannya. *** Dengan menggunakan ojek online kembali ia sudah berdiri di depan kantor ibunya. Ibunya adalah seorang sekretaris yang pekerjaannya selalu sibuk. Jadwalnya memang benar benar padat hingga waktunya sangat sedikit sekali untuk bersantai. Rania langsung menanyakan kepada bagian resepsionis. Tidak mungkin juga ia langsung menerobos masuk ke dalam dan masuk ke ruangan ibunya, walaupun dulu ia sering ke sana. Bagaimana pun juga Rania sudah lama sekali tidak kesana. Banyak juga orang orang yang lalu lalang yang tidak ia pahami. Sepertinya mereka pekerja baru. “Permisi apa ibu Vinda masih bekerja disini?” “Dia di sekretaris” lanjut Rania “Sebentar saya cek daftar staff dulu, soalnya saya tidak hafal semuanya” sang resepsionis terlihat mencari nama yang Rania cari. Hal ini wajar. Mana mungkin resepsionis mengetahui semua nama yang bekerja di sini mengingat kantor ini cukup besar. Kantor ini terdiri dari beberapa lantai dan bangunannya juga luas. Di kantor ini memiliki banyak divisi. Ya begitulah kantor pemasaran internasional. “Mohon maaf beliau sudah tidak bekerja di sini. Namun memang ia pernah bekerja disini. Kalau dari rekaman sistem ia berhenti kerja sudah satu tahun yang lalu” “Apa kantor ini mengetahui informasi di mana ia kerja sekarang? Atau masih ada alamat kediamannya?” “Untuk sekarang ia kerja di mana kami tidak tahu. Tapi sepertinya ada alamat yang bisa dicoba untuk di datangi. Sebelumnya mohon maaf anda siapa dan ada perlu apa dengan beliau?” “Walaupun beliau bukan pegawai kami lagi namun kami tetap berkewajiban untuk menjaga data beliau.” lanjut resepsionis. “Saya anak beliau mba, dan sudah tidak tahun lebih saya di luar negeri dan hilang kontak dengan orang tua saya.” “Apa ada bukti yang menunjukan kalau anda benar benar anak dari ibu Vanda?” “Sebentar.” Rania membuka tas selempangnya. Ia menjunjukkan ktp nya dan ia menunjukkan scan kartu keluarga yang berada pada file dokumen ponsel. Dengan usahanya Rania, sang resepsionis segera menuliskan alamat yang dapat Rania kunjungi. *** Rania membaca alamat yang sudah di pegangnya itu. Rania mengecek alamat itu dengan menggunakan google maps. Jaraknya tidak terlalu jauh. Ini membuat Rania sedikit tersenyum. Semoja saja benar itu tempat tinggal ibunya. Sesegera mungkin ia menuju ke alamat tersebut. Rania berhenti di depan gerbang sebuah rumah. Rumah dan gerbang itu tampak sederhana. Pagarnya tidak begitu tinggi dan sudah sedikit berkarat. Rania melihat lagi alamat yang tercatat di kertas. Rumah ini benar terletak di alamat yang sama dan memiliki nomor rumah yang sama dengan yang tercantum dalam kertas. Gerbang tidak terkunci dan sedikit membuka. Rania melangkah maju melewati gerbang dan mengetuk pintu. TOK TOK TOK !!! “Permisi...” “Misi...” Masih tidak ada jawaban. Rania mencoba melihat ke sekeliling. Jendelanya tertutup semua dengan gorden. “Misi...” Hening. Masih tidak ada respon juga. Mungkin penghuninya sedang tidak ada di rumah. Jam juga masih menunjukkan jam kerja. Rania sebenarnya tidak begitu yakin kalau yang tinggal di tempat ini adalah ibunya. Ibunya adalah orang yang sangat pemilih. Namun Rania juga tidak mengetahui apa yang sudah terjadi belakangan ini. Rania harus tetap mengetahui siapa gerangan yang tinggal di sana. Rumah itu menghadap ke jalan raya. Kalau di lihat lihat beberapa rumah di sampingnya juga memiliki potongan rumah yang sama. Sepertinya ini rumah kontrakan. Tidak ada juga orang yang lalu lalang di sekitar sini. Tidak ada yang bisa ia tanya. Rania memutuskan untuk mencari mushola atau masjid terdekat. Ia akan beristirahat sementara sambil menunggu jam kerja selesai. Rania memanfaatkan diri untuk beribadah sembari berdoa. Huh Akhirnya Ashar telah usai. Rania bersiap memakai kaos kakinya kembali dan berjalan menuju ke rumah itu lagi. Semoga saja penghuni rumah sudah pulang *** Gerbang sudah terbuka lebih lebar sedikit. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya terbuka sedikit. Sebuah motor pun terpakir di depan rumah. Rania sedikit lega. Sepertinya harapan bertemu dengan ibunya akan segera menjadi kenyataan. “Permisi...” TOK TOK TOK !!! “Permisi...” “Sebentar!” sedikit teriakan nyaring terdengar dari dalam. Sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu yang benar benar tidak dapat di tinggal. Rania menunggu dengan sabar. Setidaknya ia lega. Rumah ini sudah ada pemiliknya di dalam. KREK !! Pintu terbuka. Ia mendapati seorang perempuan. Mukanya tampak lelah. “Si...” ucapannya terhenti sejenak. Ia menatap Rania dan kata katanya terpotong. “Rania ? Benar ini Rania anak mamah?” “Mamah...” Rania menangis tidak dapat membendung air matanya sebagai tanda bahagia. Sungguh Rania merasa lega. Akhirnya ia dapat bertemu dengan ibunya kembali. Ternyata telah terjadi sesuatu selama kepergiannya ke luar negeri. Rania tidak pernah membayangkan jika kehidupan ibunya berubah drastis. Sosok ibunya yang dulu sangat memikirkan penampilan dan perawatan, sepertinya sekarang berbeda. Pakaian pakaian mewah pun sudah berganti menjadi daster layaknya ibu rumah tangga. Mukanya yang mulus kini mulai bersarang beberapa kerutan di sana. Air mata Rania terus mengalir drastis. Ia memeluk dengan erat ibunya. Ibunya pun melakukan hal yang sama. Ia terharu dan tidak pernah menyangka ia akan kembali bertemu dengan anak semata wayannya. Tanda tanda kembalinya Rania tidak pernah ia dapati. Hari harinya selalu dipenuhi dengan harapan Rania kembali. Sampai ia lelah dengan harapan itu. Bahkan ia sudah mengikhlaskan dan beranggapan anaknya telah tiada. “Rania, kemana saja kamu selama ini nak.. Mamah terus mencarimu.. mamah benar benar minta maaf” suaranya terdengar terisak isak. Bahkan beberapa kalimat terdengar kurang jelas. “Mah Rania minta maaf sudah pergi dari mamah. Rania minta maaf,” tangisan Rania bertambah serasa. Ia berusaha melepas pelukan ibunya yang memeluknya dengan kuat. Ia hendak mencium kaki wanita yang sudah sangat berjasa baginya namun ia meninggalkannya. Ibu Vinda menahannya dengan kuat. Ia sudah memaafkan semua kesalahan putrinya ini. Ia juga merasa ia juga sudah egois dan salah bertindak. Ia memaklumi usia Rania kala itu yang belum bisa berpikir dengan dewasa dan masih di kendalikan dengan emosi. Ia juga sadar, ia yang lebih tua darinya juga tidak dapat mengontrol emosinya. Pertemuan antar Rania dan ibunya ini sangat menyentuh. Di mana orang tua dan anak yang sudah sekian tahun tanpa komunikasi dan bertemu kembali dengan masing masing mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Sungguh membuat hati trenyuh orang yang melihatnya. Ibu Vinda membawa anaknya masuk ke dalam rumah. Mereka saling melepas rindu. Kebahagiaan mereka seakan hadir kembali setelah merasakan kehilangan begitu lama. Rindu yang tidak tersampaikan dan hanya menimbulkan penyesalan mengingat penyebab awal hadirnya permasalahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN