Chapter 53 (Kejutan)

1003 Kata
"Iya sudah mau bagaimana lagi kalau ini kehendak ibu" Rania akhirnya menyerah. Sebenarnya ia sangat sedih ibu kembali ke Jawa Timur sementara belum ada tempat tinggal. Ilham tidak jauh berbeda dengan Rania. Ia terus berusaha membujuk ibu supaya mau tetap berada di rumahnya. Tapi apa boleh buat. Ibu merasa tidak nyaman. "Besok ya Bu Ilham Anter ibu sama bapak" Ilham menawarkan diri untuk mengantarkan mereka. "Bagaimana pak pakai mobil, atau kereta saja?" "Kereta saja Bu, biar lebih cepet sampainya" jawab bapak sembari meminum kopi panas di tangannya. "Iya nak. Kereta saja biar cepet sampainya" sepertinya memang bapak juga sudah tidak betah di sini. Memang Jakarta panas. "Iya sudah Bu, besok ya mudiknya. Besok Ilham antar ke stasiun" "Kenapa ngga sekarang saja?" Ibu sepertinya sudah sangat tidak sabar. "Kasihan itu loh cucu cucu ibu masih kangen" Ilham melirik ke arah anak anaknya yang tumben sekali menonton acara televisi. Kali ini mereka tambah menyimak dengan seksama di samping bapak yang masih meminum kopi hangatnya. "Iya sudah lah kalau seperti itu. Apa boleh buat demi cucu cucu kesayangan ibu" Ibu melemparkan senyum. Terlihat sekali senyumnya sangat natural. "Nah seperti itu dong. Menantu ibu ini juga pasti nanti bakal keinget ibu. Bakal rindu ibu." Rania langsung memeluk ibu mertuanya yang sudah ia anggap menjadi ibu sendiri juga. *** Pagi pagi buta. Ibu dan ayah tampak sudah selesai beberes. Rania segera mengambil air wudlu untuk sholat. Rasa kantuknya seketika hilang. Jatuh bersama air yang mengenai tubuhnya. Rania segera mengerjakan sholat subuh. Rania beranjak ke dapur. Menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Ayah ibunya juga kini akan mudik. Kembali ke daerah asalnya di Jawa Timur. "Ran" "Iya iya Bu?" Rania terkejut. Ibu mertuanya kini sudah berada di dekatnya. "Kamu mau masak apa?" ibu bertanya. Kini ibu mengambil bawang merah. Ia ikut mengupasnya. "Rania mau masak ayam balado Bu, buat sarapan kita bareng bareng" Rania menjawabnya dengan lembut. "Sudahlah bu, ibu duduk saja" Rania merasa kasihan dengan ibu mertuanya itu. "Eh sudah ngga papa. Ibu cape hanya duduk. Lagi pula ibu juga tidak setiap hari membantu kamu. Besok ibu juga sudah di Jawa Timur kan?" "Iya sudah kalau begitu. Tapi kalau ibu cape segera Istirahat ya bu." "Iya kamu yang tenang saja. Hanya bantu masak masa akan kecapaian" Tidak beberapa lama kemudian hidangan sudah siap. Segera Rania memanggil suaminya dan yang lainnya untuk bersarapan bersama sebelum mereka pergi ke stasiun. "Makan yang banyak ya Bu, pak" Rania mulai mengambilkan nasi. "Iya tentu saja. Apalagi masakan menantu ibu kan enak, bakalan kangen ini" goda ibu pada Rania. "Masih kalah jauh sama masakan ibu. Jangan seperti itu lah Bu, Rania jadi malu" ucap Rania. Ibu mertua memang sengaja menyanjung menantunya itu. Memang benar makanan Rania itu sungguh enak, sesuai dengan selera lidahnya. *** "Ati ati ya pak Bu," Ilham bersalaman dengan kedua orang tuanya yang akan segera kembali ke Jawa Timur. Ilham sebenarnya masih khawatir. Dimana mereka akan tinggal. Namun bagaiman lagi, ayah dan ibu tetap saja menolak untuk tinggal dirumahnya lebih lama. Menurut pemaparan mereka, mereka akan tinggal sementara di rumah kerabat mereka sambil mencari kontrakan rumah sembari menunggu rumahnya jadi kembali. "Iya. Kamu juga jaga diri ya di sini. Ngga usah khawatir sama ayah dan ibu. Di sana solidaritasnya sangat tinggi. Mereka tidak akan tutup mata dengan orang yang kesusahan. Lagi pula ayah sama ibu sudah izin buat tinggal sebentar dirumah pakde kamu." "Iya sudah. Bismillah kabarin Ilham kalau ada apa apa. Kalau mau ke sini lagi bilang. Biar Ilham nanti jemput" "Iya sudah lah sudah. Kereta sebentar lagi akan datang. Ayah sama ibu masuk dulu ya" "Iya. Ati ati ya" Mereka kemudian masuk ke stasiun. Chek in tiket kemudian masuk ke dalam. Ilham dan Rania serta anak anak melihat kepergian mereka. Rasanya masih ingin tinggal dengan mereka lebih lama lagi. Tapi apa daya. Mereka juga tidak betah dan kangen dengan rumah halaman walaupun rumahnya sudah hancur terbakar. Rania dan Ilham kemudian mulai berjalan keluar. Kembali ke mobil mereka untuk kembali ke rumah. *** "Loh ada warga baru pak dikampung kita?" Tampak rumah berdiri kokoh di samping bekas rumahnya yang terbakar. Mungkin saja ada warga baru yang pindah ke sini. "Bapak juga tidak tahu. Padahal kita tidak lama banget ya Bu di Jakarta. Sudah punya tetangga baru" jawab bapak. "Iya pak. Cepat sekali." Bapak dan ibu berjalan. Hendak menuju ke rumah sodaranya yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalnya yang dulu. "Eh pak Bu sudah pulang" Pak kyai terkejut kala mendapati mereka kedua warganya itu sudah kembali ke kampung halaman. "Alhamdulillah ini pak, rasanya kangen sekali dengan kampung halaman. Makanya ngga mau lama lama di Jakarta. Di sana panas" ucap bapak. "Eh pak. Ini ada tetangga baru? dari mana?" bapak begitu penasaran. "Mana ada tetangga baru pak. Itu rumah bapak sama ibu." pak kyai Mai menjelaskan. "Loh, gimana pak kyai maksudnya?" bapak masih merasa kebingungan. "Itu bantuan dari warga sekita dan bantuan dari orang orang yang dermawan" "Bener ini ?" bapak masih tidak percaya. "Iya benar. Alhamdulillah ada rezeki. Banyak sekali yang membantu bapak, masuklah" "Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah" Bapak dan ibu senang tidak terkira. Tidak terbayangkan sama sekali di Jawa Timur kini mereka sudah memiliki rumah. Benar benar Warga sekitar memiliki ras iba yang sangat tinggi. Mereka juga sangat menyukai kegiatan sosial. "Haduh malah jadi merepotkan ya ini. Niatnya saya mau ke rumah sodara saya buat sementara waktu" Pak kyai tersenyum. Pak kyai juga merasa senang. Akhirnya tetangga terdekatnya itu sudah memiliki rumah kembali. "Ya tidak sama sekali. Ini kerelaan mereka untuk membagi hartanya. Tidak ada yang terpaksa sama sekali. Sudahlah kalian masuk. Tapi maaf apa adanya. Kayaknya di dalam baru ada kasur saja. Perabot lainnya belum bisa bantu" "Sudahlah pak. Ini juga kami tidak menyangka. Kami sangat bersyukur. Alhamdulillah warga di sini sangat baik. Semoga amal mereka di ganti dengan yang lebih baik dan berkah ya Pak kyai" ucap ayah dengan penuh rasa terima kasih. Ia masih terharu dengan hal ini. "Iya sudah masuk lah. Pasti cape perjalanan jauh. Silahkan istirahat." "Haduh sekali lagi terima kasih banyak ya pak kyai atas bantuannya. Saya sungguh tidak menyangka" "Iya sama sama pak"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN