Chapter 52 (Ibu Minta Mudik)

1021 Kata
"Ham ibu benar benar sudah tidak betah di sini. Ibu kurang suka dengan tetangga kamu yang selalu ikut campur "ucap ibu sambil menonton televisi. Ilham berada di kursi di sebelah ibu . Rania yang berada tidak jauh dari situ hanya mengamati. "Ibu yang sabar. Memang mereka itu seperti itu Bu, ibu cuek saja. Nanti lama lama mereka juga akan cape Bu. Awal Ilham disini dulu seperti itu. Tapi lama lama nanti tidak seperti itu lagi kok Bu. Mereka banyak yang kurang suka orang baru" "Yah gimana ya nak. Mereka seakan ngga suka sama ibu" suaranya terdengar sedikit berat. "Ibu di dalam rumah saja kalau gitu. Tidak usah ikut Rania keluar beli sayur. Tidak usah keluar keluar buat jalan jalan" Ilham menyampaikan pendapatnya. Ilham memang kerap kali mendapati ibu ikut membeli sayur dengan istrinya. "Haduh kalau dirumah terus juga ibu bosen nak" Ilham bingung apa yang harus di lakukan. Bagaimana ia bisa membuat ibu kandungnya nyaman untuk tinggal dirumah. Rania pun demikian. ia bingung apa yang harus dilakukan. "Terus ibu mau tinggal dimana kalau balik ke Jawa Timur?" Ibu diam sejenak. Kali ini ia tidak langsung menjawab. Sepertinya ada pikiran mengganjal yang bersarang di kepalanya. "Tidak tahu nak. Tapi ibu kurang sreg kalau berada di sini, ibu tidak suka lingkungannya" ibu terus bersikeras ingin pergi dari rumah anaknya. "Ibu masih bisa tahan kan tinggal sama Ilham di sini?" Ibu terdiam. sepertinya ibu kembali berpikir. "Ibu betah tinggal sama anak ibu sama menantu ibu dan cucu cucu ibu. Tapi ibu ngga suka sama tetangga yang sellau ikut campur. ibu mau ke Jawa Timur Saja. Tinggal di tanah kelahiran ibu" "Iya sudah kalau begitu. Sabar dulu ya Bu, beberapa hari lagi lah di sini temani cucu cucu ibu" Rania memohon pada ibu mertuanya. Terlihat sekali kalau Rania sangat ingin ibunya tinggal di rumahnya lebih lama lagi. "Kalau ibu balik ke Jawa Timur juga di sana mau ikut siapa. Di sinilah dulu Bu, biar ada Ilham sama Rania yang menjaga ibu sama bapak" Ilham juga mencoba untuk membujuk ibunya. Ibu Ilham tampak berpikir. Mencoba memutuskan apa yang akan ia pilih. Apakah ia akan tetap meminta untuk mudik ke Jawa Timur, atau tetap tinggal di rumah anaknya untuk beberapa waktu lagi. "Iya sudah lah ibu coba paksa untuk tinggal di sini lebih lama" "Alhamdulillah" ucap Rania. Rania tidak menyangka kalau ibu mertuanya akan tetap tinggal dirumahnya. "Alhamdulillah nah seperti itu dong Bu supaya Ilham ngga khawatir memikirkan Ibu sama Bapak di sana" Ilham lega. Rasa khawatir terhadap orang tuanya kini hilanglah sudah. "Iya iya. mau ibu coba dulu. Tapi jangan paksa ibu ya jika nanti ibu tetap tidak betah" Ibu mulai berbicara kembali mengungkapkan apa yang ada pada hatinya. "Iya Bu, Rania sama mas Ilham tidak akan memaksa kehendak ibu kok. Tapi di coba dulu. Rania yakin ibu akan betah tinggal di sini." Ibu hanya merespon dengan senyuman. Sebenernya ia sendiri ragu untuk tinggal lebih lama di rumah anaknya. Lingkungan yang sangat berbeda membuatnya harus beradaptasi. Di tambah dengan tetangga tetangganya yang tidak mengenakan baginya. Sangat berbeda dengan tempat dimana ia tinggal. *** Malam telah tiba. Rania menyiapkan hidangan makan malam. Semua sudah terduduk di meja makan dengan rapi. Saat makan malam di mulai. "Wah banyak sekali masakannya" ucap ayah mertua melihat meja yang penuh dengan hidangan. "Kebetulan pa hari ini masih banyak bahan makanan di kulkas. Sayang kalau tidak dimasak sekarang pasti akan layu. Besok sudah harus beli bahan makanan lagi" ucap Rania singkat sambil mengambilkan nasi untuk suaminya dan anak anaknya. Sementara untuk ayah dan ibunya sudah tersaji. Tinggal menambahkan sayur dan lauk pauk sesuai dengan keinginan mereka. "Beruntung sekali ya pak anak kita. Pasti betah kalau makan selalu di masakin enak seperti ini." Ibu mertua tersenyum ke arah suaminya. "Ayah dan ibu juga beruntung punya menantu yang baik kaya Rania kan?" kini giliran Ilham yang mencoba untuk menggoda orang tuanya. Rania tidak asal diam. Kini ia juga ikut membuka mulutnya. "Bukan hanya ayah ibu dan mas Ilham yang beruntung. Rania juga merasa sangat beruntung memiliki suami seorang mas Ilham dan mertua yang baik kaya ibu dan bapak yang mau menganggap Rania sebagai anaknya sendiri'' Semua terkuat bahagia di meja makan. Tidak ada beban yang tergambar dari masing masing orang yang berada di sana. "Eh Ferdi juga bangga punya keluarga seperti ini" "Fandi juga Fandi juga" Anak anak tidak mau kalah dengan obrolan seru yang di lakukan oleh orang tuanya dan kakek neneknya. Semua tertawa melihat tingkah anak anak kembar tersebut. "Iya iya sudah sudah. Sekarang tinggal di makan ya, ngga enak loh nanti kalau keburu dingin" Rania berusaha untuk menghentikan obrolan. Sesuap demi sesuap hidangan mulai mereka makan. Rasanya sangat lezat sekali. Rania memang pandai dalam hal kuliner. Masakannya patut di acungi jempol. Bahkan rasanya tidak jauh dengan rasa yang berada di restoran restoran dan hotel bintang lima. Malam terasa begitu hangat. Suasana keluarga Rania sangatlah harmonis. Sangat jarang sekali Rania dan Ilham saling adu mulut. Bahkan sepertinya malah tidak pernah sama sekali. Malam semakin larut. Kini saatnya mereka untuk beristirahat. *** "Mas, gimana ya nanti kalau ibu tetep ngga betah, Rania tidak tega kalau ibu sama bapak balik ke Jawa Timur. Nanti mereka mau tinggal dimana," Rania memberanikan diri untuk berbicara ketakutannya pada suaminya. Rania adalah menantu yang sangat menyayangi mertuanya selayaknya orang tua kandungnya sendiri. "Mas juga khawatir Ran. Mas paham karakter mama. Gimana nanti kalau minta mudik lagi. Sedangkan di sana tidak ada tempat tinggal." Ilham tampak berpikir. Entah apa yang tengah ia pikirkan dalam kepalanya itu. "Mas atau bagaimana kita bangunkan rumah saja untuk mereka diam diam. Omzet dari restoran lumayan banyak kan mas, pasti cukup buat membuatkan ibu bapak rumah" Rania memberi tahu idenya yang tiba tiba muncul. Memang benar penjualan dari makanan di restoran sangatlah lebih dari cukup. Bahkan tiap bulan mereka dapat menabung. "Benar juga kamu Ran kok mas ngga kepikiran sampai situ ya, nanti mas coba hubungi rekan mas yang di Jawa timur ya untuk membangunkan rumah bapak ibu. Kebetulan ada teman mas yang arsitektur di sana" "Alhamdulillah mas kalau begitu nanti ini akan mempermudahkan niat kita" "Iya Ran bismillah. Sudah lah malam sudah semakin larut. Kita bahas besok lagi. Sekarang waktunya istirahat" "Iya mas"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN