Rania tidak mendapati ibu mertuanya. Rania merasa gelisah dan bingung. Rania segera menuju kamar. semoga saja ibu mertua sedang tiduran di kamar.
kamar ibu mertua juga kosong. Rania mengecek ke kamar mandi. Kamar mandi juga kosong. Tidak ada orang di dalamnya.
Rania segera ke ruang depan. bertanya kepada ayah mertua yang sedang santai duduk di depan sambil melihat tanaman di halaman.
"Yah, ayah lihat ibu?" berharap ayahnya tau di mana keberadaan ibu.
"Ibu ngga pamit ke Rania?" ayah mertua keheranan melihat Rania mencari istrinya.
"Tidak pak, emangnya ibu kemana? Rania cari cari tidak ketemu juga"
"Ibu Tadi pamit ke bapak kau ke depan. katanya mau beli sayur"
"Haduh ibu ibu, kenapa tidak bilang ke Rania. Biar Rania saja yang beli sayur"
Huh Rania lega. Akhirnya ia dapat titik terang dimana keberadaan ibu mertua.
Rania segara beranjak keluar. Berjalan dengan terburu buru untuk menyusul ibu mertua yang tengah membeli sayur.
Beruntung di tengah jalan Rania mendapati ibu mertua berjalan ke arahnya. Ia sudah membawa sebuah kresek dengan belanjaannya.
"Ibu!"
Ibu melihat ke arah Rania. Rania sedikit berlari ke arah ibu. Rania segera meminta kresek yang ada di tangannya.
"Ibu kenapa tidak bilang kalau mau keluar. Biar Rania saja yang beli sayur." Rania sangat khawatir dengan keadaan ibu mertua
"Tidak apa nak. Ibu hanya pengin jalan jalan saja sekitar sini. Eh malah ibu ketemu sama Mak lampir kemarin yang liatin ibu terus"
"Bu Yuli maksud ibu?" Rania penasaran.
"Iya itu" ekspresinya tidak senang.
"Terus ngga terjadi apa apa sama ibu kan?"
"Ngga. Hanya itu. Mak lampir lempar lempar sayur ke ibu. Ya udah ibu tinggal pergi saja"
Rania langsung berubah khawatir. menyapu semua badan mertuanya. Khawatir kalau terdapat luka.
"Ibu tidak apa kan? Apa ada yang luka?" Rania terus saja mengamati.
"Tidak ada sudah ayo balik ke rumah"
"Kenapa ibu ngga bilang Rania kalau mau keluar. Biar Rania temeni ibu. Bilang aja kalau ibu bosan" Rania merasa sangat bersalah karena tidak paham dengan apa yang di inginkan oleh ibu mertuanya. Ia juga merasa tidak enak karena ibunya yang berbelanja sayur.
"Sudah lah lupakan. ayo segera balik ke rumah. Ibu males kalau ketemu Mak lampir lagi"
Ibu berjalan dengan buru buru. Menghindari Bu Yuli. ia takut jika bertemu dengannya kembali akan menimbulkan keributan yang lain.
Rania membuntuti ibu mertuanya dengan langkah yang tergesa gesa juga. Ia khawatir kalau ibu mertuanya mendapat masalah kembali.
****
Hari terus berjalan. Ibu mertua Rania atau ibunya Ilham kini makin tidak betah berada di kota Jakarta yang sangat panas dan penuh dengan kendaraan yang seperti tidak ada hentinya.
Warga sekitar pun tidak kunjung akrab juga. Ibu semakin tidak nyaman. Rasa tidak nyaman ini juga sepertinya di rasakan oleh ayah. Namun yang dirasakan ayah berbeda. Jika ibu karena tetangga sedangkan ayah karena kegiatannya sangat terbatas. Waktu berlalu terasa begitu lambat. Rasanya lama sekali untuk menjalani hari karena tidak ada kegiatan pasti yang dikerjakan.
Berkali kali Ilham menawarkan ayahnya untuk ikut menuju cabang cabang restoran. Namun ayah menolak. Ia sudah tidak suka bepergian. Badannya terasa cepat sekali cape. Beda dengan yang dulu. Bepergian dengan mengenakan kendaraan seakan keharusan untuknya. Ia akan merasa sangat bosan jika tidak bepergian.
“Yah, Ibu kangen kampung halaman” ibu mengeluh kepada bapak tak kala mereka sama sama sedang terduduk di depan televisi.
“Sama bu, Bapak juga sama. Jakarta rasanya membosankan” ayah membalas dengan keluh kesah juga.
“Rasanya kangen sekali dengan kampung halaman dan isinya”
“Iya sudah yah. Bagaimana kalau kita besok pulang saja ke Jawa Timur? Ibu tidak betah di sini. Orang orangnya tidak ramah seperti di kampung halaman. Ibu bosan pak” panjang lebar ibu menjelaskan.
“Iya sudah kalau begitu. Kita pulang saja besok. Nanti bapak bilang ke Ilham”
“Iya pak”
Mereka melanjutkan kembali menonton acara televisi yang sedang berlangsung. Rania sibuk di dapur, sementara si kembar Ferdi dan Fendi terlihat sedang bermain sepak bola di halaman depan rumah.
"Yah, Bu, ini camilannya sudah matang" Rania meletakan sepiring pisang goreng di meja.
"Wah menantu kita sangat perhatian ya Bu, sayang sekali kita ngga betah di Jakarta. andai saja rumah kalian di daerah lain, pasti kami betah buat nginep lama lama" ucap ayah. ia langsung mengambil potongan pisang goreng dan melahapnya.
"Iya yah. andai saja bukan di Jakarta. Pasti kita tidak pulang besok ya pak" Ibu mertua berbicara tidak sadar. Rencananya Mereka akan menyembunyikan dari Rania dan Ilham kalau mereka akan segera kembali ke Jawa Timur esok hari.
"Loh ayah sama ibu mau kembali ke Jawa Timur besok? kenapa cepat sekali? ayah sama ibu kurang suka sama perlakuan Rania ya? atau Rania ada salah sama ayah dan ibu?"Rania langsung merasa khawatir bercampur rasa bersalah. Ia kembali mengingat ingat semua perlakuan kepada mereka.
"Bukan bukan. Bukan seperti itu. Bukan Rania yang bikin kami ngga betah. Ibu kurang suka dengan tetangga yang ikut campur. Apalagi karena kejadian dengan Bu Yuli. Ibu ngga mau lagi itu terjadi"
Rania menarik nafas. Rania paham benar dengan perasaan ibu. Ia juga paham watak dari Bu Yuli yang demikian.
"Apa ibu sudah bilang ke mas Ilham kalau ibu ingin kembali ke Jawa Timur besok?"
"Belum. bapak juga belum cerita ke Ilham. niatnya kami mau diam diam. eh malah ibu keceplosan" ucap ayah mertua yang tiba tiba masuk dalam obrolan. Sementara ibu masih membungkam mulutnya dengan tangan. Ibu juga melirik ke ayah.
"Bilang ke mas Ilham kalau ayah sama ibu pengin balik ke Jawa Timur. Biar nanti mas Ilham antar. Sebenarnya Rania berharap ayah sama ibu masih lama di sini. Jadi Si Kembar tidak kesepian ada kakek neneknya"
"Yah gimana lagi Ran. ibu sudah ngga betah di sini" kini ibu membuka mulutnya kembali. Penyesalannya karena keceplosan sepertinya sudah hilang dan berlalu.
"Ya giamana lagi kalau memang demikian. Rania ngga bisa memaksa kehendak ibu dan ayah. Tapi bilang ke mas Ilham ya. Biar nanti di antar." Rania terus berusaha supaya orang tua suaminya bilang dulu ke anaknya. Mas Ilham pasti sangat khawatir jika orang tuanya kembali ke Jawa Timur tanpa pamit dengannya.
"Iya nanti malah ayah bakal ngomong ke Ilham kok Ran"
"Iya yah. Rania sebenarnya masih suka ayah sama ibu tinggal di sini. kenapa tidak di sini saja" Rania tampak sedih. Ibu yang melihatnya menjadi tidak tega.
"Jangan seperti itu nak. kalau seperti itu ibu juga berat. tapi bagaimana lagi. Aktivitas ibu sama ayah kurang nyaman"
"Iya Bu Rania paham Pa yang di rasakan ibu" Rania tersenyum ke ibu mertua. Ibu mertua juga senyum ke Rania.