Ibu terlihat sangat tidak nyaman. Di tambah bu Yuli yang melihatnya dengan sedikit tatapan tidak senang. Entah apa yang ada di benaknya hingga ia melihat ke ibu mertua Rania dengan tatapan yang demikian. Rania terus mengamati ekspresi ibu mertuanya. Terlihat sekali kalau beliau semakin tidak nyaman.
“Bu sudahlah jangan hiraukan dia bu.”
Rania berbisik kepada ibu mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Rania menyadari ketidaknyamanan ibu mertuanya. Terbesit rasa tidak tega di hati Rania.
Ibu hanya mengangguk. Sebenarnya dalam hatinya ingin sekali ia membalas tatapan sadis tetangga anaknya itu. Namun ia berusaha menahannya. Itu bukan hal yang baik. Di tambah ia bukan asli warga daerah situ. Bisa jadi nantinya akan menimbulkan masalah baru. Malas sekali rasanya jika hal ini sampai terjadi.
“Sudah lah nak ayo kita pulang” ibu mengajak Rania pulang kala acara sudah selesai. Rania menurut kepada ibu. Acara pengajian rutinan ini memang menjadi salah satu ajang warga sekitar untuk saling berkumpul dan bersosialisasi. Saling bertemu di tengah kesibukan yang setiap hari mereka hadapi.
Rania mengangguk. Tanda bahwa ia setuju dengan permintaan ibu mertuanya. Sebenarnya ia merasa tidak enak jika pulang terlalu awal sementara yang lain belum beranjak pulang. Namun demi ibu mertua. Rania sangat kasihan melihatnya.
“Ran, apa penampilan ibu ada yang aneh?” ibu terlihat bingung dan mulai mengamati dirinya sendiri. Ia merasa penampilannya tidak ada yang salah. Tapi kenapa salah satu ibu di pengajian melihat ke arahnya dengan tatapan yang tidak wajar? Bukankah ia belum pernah bertemu dengannya?" kala berjalan ibu mertua bilang demikian. Sepertinya berbagai pertanyaan terlewat di benaknya. Rasa penasaran juga, apa yang salah dengannya penampilannya.
“Tidak bu. Penampilan ibu tidak ada yang aneh. Sudah bu lupakan. Memang sudah terbiasa seperti ini bu. Bukan hanya pada ibu saja. Terhadap orang baru sering kali seperti ini bu. Rania juga tidak paham kenapa. Tapi sudahlah bu lupakan saja. Memang wataknya seperti itu” Rania terus mencoba untuk menenangkan ibu mertuanya yang semakin terlihat serba salah. Takut baik dari penampilannya atau lainnya mengganggu orang lain atau tanpa sadar ia telah berbuat salah.
"Benarkan Ran? kok tatapannya sepeti itu ya?" Masih saja rasa penasaran menyelimutinya.
"Sudahlah bu lupakan. mereka memang seperti itu" Rania berharap kali ini ibu mertuanya lega dan melupakan kejadian tadi.
"Iya lah ibu juga pusing apa yang salah dengan ibu. Ibu juga mikirnya ngga ada yang salah dengan penampilan ibu." Masih saja terlihat ibu melihat ke penampilan dirinya.
"Memang ibu tidak ada yang salah bu. Emang kadang tetangga Rania usil Bu. lupakan saja bu" Rania terus berjalan menuju rumah berdampingan dengan ibu mertuanya.
"Iya nak" Kini ibu mertua Rani juga tampak sedikit cuek dengan masalah tadi. Ia melupakan kejadian tadi yang tidak ia ketahui sebabnya.
****
"Bu ayamnya satu kilo, tambah tahu dua bungkus, sama bawang merahnya sepuluh ribu"
"Ini saja Bu?"
"Iya Bu itu saja"
Ibu mertua Rania belanja di tukang sayur dengan kemauannya sendiri. Bahkan Rania tidak tahu kalau ibu mertuanya keluar rumah. Rania sedang sibuk mengoperasikan mesin cuci. mencuci pakaian yang sudah mulai menggunung.
"Eh sepertinya saya baru melihat ibu di sini. Penghuni baru ya Bu?" ibu penjual sayur itu melontarkan pertanyaan sambil menyiapkan pesanannya.
"Tidak bu, saya bukan warga sini. Saya lagi tinggal di rumah anak saya. Pak Ilham suami Bu Rani"
"Oalah Bu Rania, ia saya paham" ibu penjual sayur itu mengangguk angguk. tanda paham dengan nama yang disebut ibu mertua.
"Oalah ibu mertuanya Rania. Eh yang kemarin di pengajian itu ya Bu?" terlihat mengingat ingat sesuatu. Ekspresinya begitu serius.
"Iya Bu" ibu mertua menjawab dengan senyum.
Ibu mertua sadar. Ternyata orang itu adalah orang yang kemarin melihatnya dengan sadis. Iya ibu mertua paham benar dengan wajahnya.
Bu Yati namanya. salah satu tetangga Rania yang sedikit tidak suka dengan orang baru. Bu Yati juga sadar wanita asing di depannya ini adalah wanita kemarin yang ada di pengajian. wanita yang selalu ia tatap.
Mereka sama sama sedang berbelanja sayur. tampak juga ada beberapa ibu ibu di sana yang sama sama tengah memilih sayur untuk mereka beli dan mereka masak. Sayur untuk sarapan mengganjal perut menyambut hari yang panjang.
Ibu mertua masih sedikit merasa kesal dengan kejadian kemarin. Ia masih penasaran dengan alasan Bu Yuli yang terus menatapnya. Dengan berani ia mencoba untuk membuka mulut untuk menanyakannya.
"Eh maaf Bu, kemarin apa ada yang salah dengan penampilanku ya Bu? sepertinya ibu kemarin selalu menatapku dengan aneh"
"Oh tidak ada yang salah sama sekali Bu. Cuma aku heran saja dengan ibu. Bu Rania penampilan nya rapi kok bisa dapat menantu yang penampilannya asal pakai baju. Tidak memperhatikan penampilannya" Bu Yuli berbicara dengan entengnya. Ia berbicara sangat lancar dan tidak terbesit rasa tidak enak sedikitpun.
Deg!!
.Ibu mertua merasa kaget. Ia tidak menyangka penampilannya yang seadanya akan di nilai orang demikian. Ingin sekali rasanya ia marah. Namun ia berusaha untuk menahannya. Hatinya semakin tidak bisa di kendalikan. Hatinya mulai kesal.
"Maaf ya Bu, saya penampilan seperti ini juga tidak minta baju ke ibu. Tidak minta uang ke ibu. Kalau ibu mampu kenapa nda belikan saya baju supaya ibu puas memandang saya" Ibu mertua tidak bisa mengendalikan dirinya. Lidahnya menuntunnya untuk berkata demikian.
"Jadi ibu pikir saya ngga mampu?"
"Ya kamu sendiri yang bisa mengukur" jawab Ibu mertua.
Bu Yuli juga tidak kalah emosi. ia melempari ibu mertua dengan sayur mayur yang ada di depannya. Ibu mertua segera pergi dengan membawa belanjaannya yang sudah ia bayar. Ia mempercepat langkahnya supaya segera hilang dari hadapan wanita itu. Sungguh ibu mertua kesal dengan Bu Yuli yang ikut campur dengan urusannya.
Bu Yuli tidak kalah kesalnya. Baru kali ini ada orang seperti itu. Orang yang berhasil memancing emosinya. Emosinya Bu Yuli terus naik. Namun apa daya ibu mertua Rania sudah tidak ada di hadapannya.
sebenarnya banyak juga warga yang kurang menyukai Bu Yuli. namun mereka diam. bungkam dan memilih untuk menutup mulut. Enggan berbicara dan menimbulkan masalah. Tetangga sudah paham benar dengan sifat yang di miliki Bu Yuli. Berbeda dengan ibu mertua Rania yang baru bertemu dengannya.
ibu mertua berpikir ketika ia berbicara untuk mendapat keterangan dan memecah kebingungannya akan mendapat jawaban. Tidak akan menimbulkan masalah. Namun dugaannya salah. Pertanyaannya justru membuat masalah baru dan berhasil membangkitkan emosi Bu Yuli yang terkenal di lingkungan sekitar. Terkenal dengan sifatnya yang kurang baik.