Chapter 49 (Tetangga Usil)

1021 Kata
“Bener ibu sama bapak di kamar ini?” Ibu masih tidak percaya kala Rania antar ke sebuah kamar di lantai satu bagian depan. Kamarnya tampak luas. Mungkin seperti kamar para pejabat. Lebar seperti lapangan bola. “Bener ibu” Rania tersenyum untuk meyakinkan ibu mertuanya. “Ini terlalu luas dan mewah buat ibu nak” netranya masih terus menyapu ke sisi ruangan. Ia mencoba untuk memperhatikan detail demi detail isi ruangan tersebut. Tampak luas dan indah. Beberapa ornamen tampak menghiasi sisi ruangan. Beberapa corak kaligrafi juga terdapat di salah satu sisi. “Tidak bu. Tidak sama sekali” Rania mempersilahkan ibu mertuanya untuk masuk ke dalam. Rania juga masuk sedikit ke kamar. Ibu mulai berjalan masuk. Perlahan demi perlahan. Terlihat sekali ia sedikit ragu. Rania meyakinkan ibu mertuanya kembali. “sudah bu masuk saja, istirahat” Rania berucap sambil meletakan beberapa camilan di meja kamar. “Iya nak. Terima kasih banyak nak. Ibu istirahat ya nak” ibu berjalan untuk naik ke atas ranjang. Rania mengangguk kemudian keluar kamar dan menutup pintu. Rania berjalan ke depan. Memastikan ayah mertua dan suaminya yang berada di ruang tamu. Bapak masih mengobrol dengan Ilham di ruang depan. Terlihat sekali obrolan mereka sangat menarik baik untuk bapak maupun Ilham. Rania hanya mendengar sedikit obrolan kala mengantar kopi dan beberapa snack dalam toples. Rania kemudian beranjak menuju kamar untuk istirahat. "Bapak tidak istirahat sekarang?" Rania khawatir ayah mertuanya juga butuh tidur. Perjalanan jauh pastilah sangat melelahkan. "Nanti nak. Ayah belum pengin tidur" terlihat ayah mertua masih sangat segar. berbeda dengan ibu yang terlihat begitu kelelahan. "Iya sudah kalau begitu. Rania masuk dulu ya yah. Nanti kalau ngantuk minta antar mas Ilham buat ke kamar ya yah" "Iya nak. Nanti kalau ayah ngantuk pasti langsung bilang ke mas Ilham. Ayah masih pengin duduk dulu" Rania masuk ke dalam. Melihat apakah ada pekerjaan yang harus ia lakukan. Rania menuju dapur dan membuka kulkas. Mengecek bahan makanan dan persediaan makanan. Bersyukur masih banyak bahan bersarang di sana. Rania juga membuka lemari dindingnya. Melihat stok makanan instan. Rania bersyukur. Makanan Instan juga masih banyak bersarang di sana. “Assalamu’aialkum” salam dari depan terdengar. Ilham yang mendengar segera keluar untuk menemui pemilik suara itu. “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” ucap Ilham sambil beranjak mendekat pintu yang memang sedari tadi tidak di tutup. Tampak sosok perempuan dengan jilbab berdiri di sana. Bu Yati ibu kompleks yang bertugas untuk menarik arisan ibu ibu kompleks datang. “Sebentar ya bu saya panggil istri saya dulu” Ilham langsung beranjak ke kamar untuk memanggil istrinya. Sementara bapak tadi hanya menoleh ketika bu Yati datang. Kini bapak sudah kembali menyimak acara televisi yang tengah berlangsung. Tidak lama kemudian Rania datang. Rania sudah menyiapkan uang pas untuk bayar arisan. "Eh tumben Bu, awal narik arisannya." Rania menyerahkan sejumlah uang untuk membayar arisan. "Iya Bu, mumpung lagi Nggak sibuk Bu, kalau nda sekarang ya nanti malah mager. malah ngurus pekerjaan rumah yang lain. apalagi kalau tiduran malah nanti ngga jadi narik Bu" jawab Bu Yati dengan suara khasnya disertai dengan ketawa kecilnya. "Iya Bu, emang semua pekerjaan harus di selesaikan ya Bu" Rania merespon sambil melihat Bu Yati mencatat namanya. "Eh Bu tumben banget rumahnya rame. Ada siapa?" Rasa penasaran Bu Yati mulai menjadi jadi. Ya Bu Yati memang terkenal suka mengurusi kepentingan orang lain. Ia selalu penasaran dengan apa yang di lakukan tetangganya dan sedikit ikut campur. Itu kata orang orang. "Oh ini Bu, mertua saya lagi di sini" Rania menjawab dengan santai. Ia memberi tau Bu Yati apa adanya. Memang benar yang dirumahnya adalah mertuanya. Namun Rania tidak memberi tahu apa alasannya mertuanya sekarang berada di rumahnya. "Oalah. Pantesan rumah ini terdengar rame. Sudah lama Bu mereka di sini?" bukan Bu Yati namanya kalau hanya bertanya satu kali. Setiap pertanyaan yang terlontar dari mulutnya pasti akan di ikuti pertanyaan lain. Mustahil baginya hanya bertanya satu kali. "Belum Bu. Katanya kangen cucu cucu nya. Anak anak ku juga senang sekali kakek dan neneknya ada di sini. Mereka malah seneng banget Bu" Rania antusias menjawabnya. "Niatnya mereka berapa hari disini?" ekspresinya terlihat tidak senang. " Alhamdulillah Bu , In Syaa Allah beberapa hari di sini. Mungkin bisa 1 bulanan" "Kok malah Alhamdulillah. Kalau aku mah sudah minta suamiku buat nyuruh mereka cepet balik. satu bulan lama sekali. Kalau aku bisa bisa malah tidak betah di rumah" Mendengar perkataan Bu Yati Rania menoleh ke belakang. Berharap ayah mertuanya dan Mas ham tidak mendengar. Rania takut mereka tersinggung. "Maaf Bu ngga boleh ngomong seperti itu. bagaimana pun juga mertua juga orang tua suami Bu, orang tua yang sudah melahirkan sosok yang kita cintai. Harus di anggap seperti orang tau sendiri dan harus di hormati." "Hm Bu Rania di kasih tau malah Ya sudah lah aku mau narik ke yang lain." "Iya Bu" Bu Yati melirik ke dalam. Seperti melihat ke arah mertua Rania yang sedang menonton televisi. Kemudian beranjak pergi. Rania menutup pintu. Berjalan masuk dan memastikan kedua orang lelaki yang tengah duduk berdampingan. Rania lega. Sepertinya mereka memang tidak mendengar ucapan Bu Yati. Andai saja salah satu dari mereka mendengar percakapan tadi, mungkin Rania akan merasa sangat tidak enak hati ke pada mereka. Rania berjalan masuk. Berniat untuk beristirahat. Membiarkan Mereka mengobrol dan saling bercerita bersama. Rania ingat. Air panas sudah hampir habis. Ia berjalan ke dapur untuk memanaskan air. Menyiapkan air panas untuk berjaga jaga apabila suami dan ayah mertuanya menginginkan untuk meminum kopi kembali. "Mas, Rania nitip kompor ya mas. Rania mau ke kamar dulu istirahat" "Iya Ran. Nanti mas matikan kompor kalau pancinya udah bunyi, makasih ya " "Iya mas. Jangan lupa nanti ayah tawarin kopi lagi. Kalau mau nambah camilan ada di lemari bawah mas" "Iya siap. Ya udah sana istirahat." "Iya mas. Rania juga terima kasih. Maaf ya Rania istirahat dulu mas" "Iya" Mereka melanjutkan obrolan mereka kembali. Sementara Rania berjalan masuk. Menuju Kamar tidur untuk merekatkan badan. Melepas penat setelah melakukan aktivitas. Rania menutup pintu, Naik ke ranjang dan menyalakan kipas. Berusaha untuk memejamkan mata. Tidak lama kemudian Rania tertidur dengan nyenyak. Sepertinya Rania lumayan lelah hari ini. Tidak butuh waktu lama Rania sudah pulas dalam tidurnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN