Chapter 48 (Menolong Mertua)

1114 Kata
Rumah habis terbakar. Dinding dindingnya pun banyak yang hancur. Tidak ada yang tersisa. Semuanya terbakar bersama rumahnya yang kini tampak sudah tidak lengkap itu. Rania berada di samping suaminya yang tampak sedang menenangkan ibunya yang tengah menghadap ke rumahnya yang sudah terbakar. Sementara ayahnya terduduk pada sebuah kayu tidak jauh drai rumahnya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Rumah yang sudah hancur terbakar bersama perabot perabotnya tidak mungkin kembali lagi menjadi utuh. Hanya rasa ikhlas yang bisa membuat hati sedikit lega. Tidak ada yang dapat di salahkan atas kejadian ini. Gas yang tiba tiba meledak menjadi pemicu kebakaran ini. Tidak diketahui sebabnya kenapa tabung gas di dapur bisa meledak. Tidak ada yang tahu pasti kronologinya. Hanya dentuman keras dari gas yang meledak dan tidak lama disusul dengan api yang mulai membakar dan dengan cepat semakin besar. Untung saja tidak memakan nyawa. Ayah Ilham tengah berada di rumah tetangga sementara ibunya tengah berada di luar rumah melihat tanaman di depan rumahnya yang awalnya tersusun rapi dan kini sudah hangus di makan api. Tampak sekali raut sedih mereka. Tempat mereka untuk tinggal sudah tidak dapat mereka tempati lagi. Semua pakaian dan harta bendanya juga tidak apa yang tersisa satu pun kecuali pakaian yang mereka kenakan. “Sudah lah bu. Tidak apa ini ujian kita. Sudah bu sudah” Ilham coba menenangkan ibunya yang tampak mulai meneteskan air mata. “iya nak. Bismillah ibu ikhlas” terlihat ibu sambil mengusap air matanya yang semakin deras mengalir. Pastilah rasa sedih akan selalu ada. Kehilangan tempat tinggal adalah sesuatu yang besar. “Sudah bu. Sabar” ayah Ilham terlihat lebih bijak. Mungkin ia sudah bisa menerima semua kejadian ini. Memang ayah Ilham terkenal sebagai orang yang sangat sabar dan menerima. Ia yakin apa pun kehendak yang maha kuasa itu yang terbaik. Semua pasti ada hikmah dan manfaatnya di semua kejadian yang terjadi. “Bu bagaimana kalau kalian tinggal di rumah kami saja. Iya kan Ran?” Ilham mencoba menawarkan kepada orang tuanya. Ia juga memastikan kembali kepada Rania jika memang istrinya benar benar tidak keberatan. Walaupun Ilham tahu Rania pasti akan menerima keputusannya dengan senang hati. Ia sudah paham betul dengan watak istrinya itu. “Nanti malah merepotkan kalian” ibu langsung berucap. Terbesit rasa tidak enak di hatinya. “Loh tidak bu. Tidak merepotkan sama sekali. Rumah kami masih ada beberapa kamar yang kosong juga bu” Rania langsung berucap. Ia mengusahakan supaya mertuanya yang menerima bantuan dari suaminya. “Iya nek. Di rumah kita aja dulu nek. Kan nanti aku jadi ada temannya” Ferdi juga tidak kalah antusiasnya. Ia suka jika di rumahnya banyak orang. Ferdi suka akan keramaian. “Bagaimana pak? Bapak mau ikut ke rumah mereka?” Ibu menanyakan pada suaminya yang masih terduduk pada sebuah kayu. Tampak juga kesedihan terlukis di wajahnya. “Terserah ibu saja. Kalau memang benar tidak merepotkan kalian bapak mau tinggal di rumah mereka dulu. Dari pada di tempat tetangga malah lebih tidak enak” “Alhamdulillah” akhirnya tawaran dari Ilham di terima oleh orang tuanya. Kebetulan sekali mobil mereka muat untuk di tumpangi enam orang. Besok hari mereka akan segera kembali ke Jakarta. Kembali ke rumah bersama dengan orang tua Ilham. *** Pagi pagi buta. Ilham sudah mengecek mobilnya. Semuanya aman. Perjalanan ke Jakarta dapat di lakukan. Rania masih bersiap. Begitu juga dengan orang tuanya dan anak anaknya. “Eh pak hati hati ya di sana. Semoga segera di ganti dengan rezeki yang lain pak” ucap pak kyai pada bapak ketika akan berpamitan. Beruntung ada pak kyai yang dengan senangnya menawarkan rumahnya untuk beristirahat semalam. Mereka semua semalam beristirahat di rumah pak kyai untuk melepaskan penat. “Iya pak kyai. Terima kasih banyak buat semua bantuannya dan hati baik pak kyai kepada kami. Makasih banyak pak. Pamit dulu ya pak” Bapak terus berterima kasih pada pak kyai yang dengan suka rela menawarkan rumahnya untuk beristirahat. Ibu juga tampak bersama bu nyai. Tampaknya mereka tengah terlibat dalam obrolan. “Hati hati ya” ucap pak kyai sambil melihat ke arah mobil. Sebentar lagi mobil akan Ilham kendalikan. “iya pak kyai” jawab bapak dari dalam mobil sambil mengangkat tangannya. Perlahan mobil mulai meninggalkan kampung halaman orang tua Ilham. Ilham berharap, orang tuanya tidak terlarut larut dalam kesedihan karena kejadian ini. Dalam hati Ilham juga ingin membangunkan rumah diam diam untuk orang tuanya. Sebenarnya dengan beberapa cabang restoran milik ayahnya, tidak butuh waktu lama orang tuanya dapat segera mendapatkan rumah baru. Namun ayahnya menolak jika menjual restorannya. Itu adalah sumber penghasilan mereka. Jika menunggu omzet dari restoran mungkin menunggu waktu dua hingga tiga bulan untuk dapat membeli rumah baru atau membangun rumah kembali. “Ibu mau makan?” tawar Rania pada ibu mertuanya. Kebetulan tadi mereka berhenti untuk membeli beberapa bungkus camilan dan nasi kotak untuk jaga jaga jika lapar di tengah perjalanan dan jalanan macet. “Tidak nak. Ibu masih kenyang. Ibu mau minum saja” Rania segera mengambilkan minum untuk mertuanya. Rania yang sudah lapar kembali kini menyantap makanannya yang sudah dari tadi ada di pangkuannya. Perjalanan balik ke Jakarta cukup memakan waktu. Bahkan perjalanannya lebih lama dari pada mereka berangkat karena lebih banyak berhenti untuk istirahat. “Ran. Makasih banyak ya sudah mau membantu ibu” ibu tiba tiba berucap demikian. Hal ini membuat Rania sedikit tidak enak kepada ibu. “Sudah bu tidak perlu berterima kasih. Sudah wajibnya kita untuk membantu ibu dan bapak” Rania menjawab dengan tersenyum. “Maaf ya kalau merepotkan” “Ibu, Tidak. Tidak merepotkan sama sekali. Sudah sudah. Harusnya Rania yang berterima kasih pada ibu dan bapak yang sudah membesarkan Mas Ilham dengan baik dan memberi restu kepada kami” Rania tersenyum kembali. Sungguh menjadi istri dari seorang suami seperti Ilham adalah sesuatu anugerah yang sangat besar. Rania tidak henti hentinya untuk bersyukur. “Perjalanan masih cukup jauh. Kalau ibu cape, tidur saja dulu bu. Nanti ketika sampai Rania bangunkan” Rania menawari mertuanya untuk tidur. Sangat terlihat di wajahnya ia sudah sangat lelah. Ibu mertuanya ini memang jarang sekali untuk melakukan perjalanan jauh. “Iya Ran. Ibu mau coba istirahat dulu ya” tampak ia mulai mengambil posisi duduk yang nyaman untuk memejamkan mata. Rania melihat ke wajah mertuanya dengan penuh hormat. Terbayang betapa cape nya ia memberbesarkan anak. Rania juga teringat pada sosok ibunya sendiri. Sosok ibu yang selalu khawatir dengan keadaan anaknya. Sosok ibu yang selalu mengutamakan anaknya dari pada dirinya dalam setiap hal. Terima kasih ibuku. Terima kasih mertuaku. Tanpa seorang ibu, anak tidak akan bisa apa apa. Dan anak akan selalu membutuhkan sosok ibu selama hidupnya. Kasih sayang seorang ibu sungguh besar dan tak terhingga. Jadilah selalu berbuat baik pada ibu. Salah satu sosok yang siap cape demi anak anaknya selain ayah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN