Chapter 47 (Mertua)

1104 Kata
Rania merasa bingung. Bagaimana ia akan membawa Mas Ilham suaminya ke orang taunya sementara ia tidak mengetahui di mana keberadaan dan bagaimana keadaannya. Rania harus segera mencari tahu di mana keberadaan mereka. “Ran, antar mas ke orang tua mas” Ilham mengulangi lagi keinginannya pada Rania. “Sebentar ya mas. Rania ke belakang dulu” Rania mencoba untuk mengulur waktu. Ia akan memanfaatkan untuk mencari tahu keberadaan mertuanya itu. Rania segera menanyakan kepada siapa pun yang ia temui. “Pak, maaf apa bapak tahu di mana sekarang pemilik rumah yang terbakar itu?” Rania asal bertanya kepada orang. Ia tidak paham siapa yang ia tanyai itu. Mungkin saja orang tersebut adalah warga sekitar. Namun Rania belum paham dengan tetangga tetangga mertuanya karena jarang berada di sana. “Haduh maaf bu, saya tidak tahu di mana mereka sekarang. Dari awal saya membantu memadamkan api tidak melihat mereka sekali pun. Maaf sekali ya” “Oh iya. Tidak apa apa pak. Terima kasih banyak ya” ucap Rania sambil menarik nafas. “Sama sama bu” orang tersebut langsung pergi meninggalkan Rania. Sepertinya ia akan membantu membersihkan di sekitar rumah yang sudah hangus terbakar di lalap jago merah itu. Rania segera mencari target lain untuk di tanyai. Rania segera bertanya epada orang yang di jumpainya. “Maaf pak, mau tanya untuk pemilik rumah yang terbakar sekarang ada di mana dan bagaimana keadaannya ya pak?” Rania merasa lebih deg degan untuk menanyakan pertanyaan yang sama kedua kalinya kepada orang yang berbeda. Rania takut jawabannya akan membuatnya merasa khawatir kepada mereka. Terlebih suaminya yang masih sangat lemas. “Oh itu. Mereka berada di rumah pak kyai bu” orang itu menunjuk ke sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat kejadian dan tempatnya berdiri. Tampak sebuah rumah berada di sebuah masjid. “Untuk keadaannya bagaimana ya pak? Apa mereka baik baik saja?” Rania terus menggali informasi untuk membuat hatinya bertaya taya. Berharap mereka tidak kenapa napa sehingga ia membawa suaminya ke mereka dengan perasaan sedikit lega. “Untuk kondisinya sekarang saya belum tahu bu. Kalau yang saya lihat terakhir kali mereka masih tidak tersadarkan diri.” mendengar hal tersebut Rania menarik nafas panjang. “Iya sudah bu, saya mau bantu bantu lagi ya” orang itu berpamitan sama Rania. “iya pak. Terima kasih banyak ya buat bantuannya” “Sama sama bu” orang itu segera pergi dari hadapan Rania. Begitu juga dengan Rania. Rania segera menuju tempat di mana suaminya berada. Tampak terlihat suaminya tidak sabar menunggu kedatangannya. “Ran kok lama” Ilham menanyakan alasannya yang begitu lama pergi meninggalkannya. “Maaf ya mas Rania kelamaan” Rania memilih untuk tidak menjawabnya. Rania memilih menjawab pertanyaannya dengan jawaban lain. Tanpa memberikan alasannya. “Ran. Antar mas ke tempat bapak dan ibu berada” Ilham mengutarakan keinginannya yang sama kembali. Ia terlihat sangat khawatir dengan kondisi orang tuanya. “Iya mas ayuk Rania antar” Ranai membantu suaminya untuk bangkit dan berdiri. Dengan perlahan dan dibantu oleh Rania Ilham mulai berjalan. Ilham mengikuti arah Rania yang berada di sampingnya. “Hati hati mas” ucap Rania. Tampak sekali pada kacamata Rania kalau suaminya ini masih sangat lemas. Berjalannya masih terlihat sempoyongan. Masih perlu bantuan seseorang untuk membantunya berjalan. *** Ilham sampai di tempat orang tuanya berada dengan bantuan Rania. Tampak ayahnya terbaring tidak tersadarkan diri di sofa panjang ruang tamu. Sementara ibunya terbaring di kasur lantai depan televisi. Keduanya tampak tidak tersadarkan diri. Ilham mendekati keberadaan ayahnya terlebih dahulu. Ilham membantunya untuk berjalan. Sementara anak anaknya berada di belakang mereka. “Pak..” Ilham mencoba memanggil ayahnya dengan sedikit menepuk nepuk pipinya. Berharap usahanya akan segera menyadarkan ayahnya yang masih saja belum siuman drai pinsan. Tidak ada respon yang di terima oleh Ilham. Kini ia mencoba mendekatkan minyak kayu putih ke dekat hidung ayahnya. Ia sangat berharap aromanya yang menyengat itu akan segera membuat ayahnya tersadar. “Pak..” Ilham mencoba untuk memanggilnya kembali. Masih sama seperti sebelumnya. Masih tidak ada respon yang ia dapatkan. Ilham merasa sedih. Kini ia meminta Rannia untuk membawanya menuju ke arah ibunya. Tampak juga ibunya belum tersadarkan diri. “Ibu..ibu..” Ilham mencoba untuk menyadarkannnya. Ia mengoleskan minyak kayu putih pada dahi ibunya. Ia juga mengusapkan beberapa tetes minyak kayu putih di bawah lubang hidungnya. Hingga kini ibunya juga belum tersadarkan diri. Ilham mencoba untuk melihat ke sekeliling tubuh ibunya. Bersyukur tidak ada luka yang mendarat di sana. Ilham berharap orang tuanya segera siuman. Ilham terduduk dengan lemas di samping ibunya sambil memijit mijit kepala ibunya dengan menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih. Ia juga meminta Ranai untuk membuatkan teh hangat kembali setelah Ilham menyentuh gelas yang ternyata airnya sudah dingin itu. Tidak lama kemudian Rania kembali. Ia membawa dua buah gelas berisi teh hangat yang akan diberikan untuk minum mertuanya. Semoga saja dengan teh hangat ini akan segera menyadarkan mereka. Ilham mulai mencoba memberi minum ke ibunya dengan bantuan sendok setelah ibunya tampak sedikit tersadar. Namun ibunya belum membuka mata. Terlihat sepertinya masih sangat berat untuk membuka matanya dengan penuh. “Bu. Ini di minum” ucap Ilham sambil memberikannya minum dengan perlahan. Sedikit demi sedikit air teh hangat itu berhasil memasuki rongga mulut ibunya dan menuju ke kerongkongan. “Ham kamu di sini?” suaranya masih terdengar sangat pelan dan lemas. Volumenya sangat kecil. Ilham langsung menyaut untuk menjawab pertanyaan ibunya yang masih lemah itu. “Iya bu Ilham di sini. Ibu istirahat dulu. Mau minum lagi?” Ilham menawarkan pada ibunya. Ibunya langsung menggelengkan kepalanya kala di tanya oleh anak satu satunya itu. “Ham, bapak di mana?” terlihat ibu mencoba untuk melihat sekeliling dengan matanya yang masih berusaha ia buka dengan lebar. “Sudah bapak baik baik saja. Bapak di sofa depan bu” Ilham menenangkan ibunya. Ibunya terus saja mencari suaminya. Sepertinya ibu juga khawatir dengan suaminya itu. “Sudah bu sudah. Bapak baik baik saja alhamdulillah” Ilham tersenyum untuk memenangkan hati ibunya. Dari sofa depan juga sudah terdengar kalau ayahnya Ilham kini tengah siuman. I tadi di jaga oleh seorang tetangga yang duduk tidak jauh dari tempatnya berbaring. “Sudah ya ibu istirahat. Bapak juga sudah tersadarkan diri. Nanti bapak juga kesini menemui ibu” Ibunya Ilham tampak mulai meneteskan air mata. Mungkin saja ingatannya mengenai musibah yang menimpanya beberapa waktu lalu kembali terlintas melewati pikirannya. “Sudah ibu jangan menangis dulu. Tenangkan pikiran ibu, sudah berbaring saja bu jangan duduk dulu” Ilham langsung mencegah ibunya yang terlihat akan mencoba untuk bangkit dari tidurannya. Karena kondisinya yang masih begitu lemah, mau tidak mau ibunya menurut. Ilham membantunya untuk mengusap air matanya yang masih saja berhasil keluar dari netra ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN