Chapter 46 (Kebakaran)
“Mah, sudah sampai belum? Apa masih jauh?” protes Ferdi. Tampak dari kaca ia mengusap usap matanya. Matanya masih saja terpejam.
“Belum nak. Istirahat saja dulu. Sebentar lagi juga sampai” Rania menjelaskan dengan menoleh ke belakang.
“Yah. Masih lama ya mah?” sambung Ferdi dengan masih menutup matanya. Terlihat rasanya berat sekali untuk membuka mata.
“Sebentar lagi kok. Sudah tidur saja dulu. Nanti mamah bangunin kalau sudah sampai” dengan tenang Rania menjelaskan dengan perlahan. Berharap si bungsu kembali tertidur dan tidak selalu melempar pertanyaan.
“Iya jangan bohong ya mah” ucapnya lagi. Berbeda dengan si bungsu, si sulung masih saja tertidur dengan lelap.
“Iya, tidak akan bohong”
Terlihat dari spion Ferdi kembali terlelap. Pandangan Rania fokus lagi ke depan. Melihat jalanan yang di penuhi kendaraan yang sedikit menyebabkan laju kendaraan pelan.
Rania menoleh ke samping untuk memastikan keadaan suaminya. Jangan sampai hal yang tadi terjadi akan terjadi lagi. Tampak Ilham lebih fokus mengemudi dari pada ketika awal tadi melakukan perjalanan.
“Mas tidak kita istirahat saja dulu?” Rania mencoba menanyakan lagi kepada suaminya. Berharap jawabannya akan berbeda. Jujur saja Rania sudah ingin beristirahat di luar sembari menikmati makanan. Rasanya ia sudah tidak kuat jika berlama lama terus duduk.
“Tanggung Ran, Sebentar lagi juga sampai”
“Iya sudah. Kalau sudah cape jangan di paksakan ya”
“Iya Ran..”
Rania kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan. Berharap bisa mengurangi kelelahannya melakukan perjalanan jauh. Tak terasa sebentar lagi akan sampai di rumah mertuanya. Gang akses menuju rumah orang tua suaminya sudah terlihat. Jaraknya tidak jauh dari gang itu. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit dengan menggunakan mobil.
Rania sedikit merasa lega. Akhirnya sebentar lagi akan sampai dan ia bisa beristirahat dengan menghirup udara yang jauh dari polusi kendaraan.
“Air, air, buruan ambil airnya”
“Cepetan”
“Sini sini”
Suaranya terdengar sangat ricuh. Rania bingung apa yang sedang terjadi. Rania melihat ke langit. Tampak asap berwarna abu abu yang sangat pekat. Sepertinya arahnya dari sebuah rumah.
Ilham juga menyangka kalau sedang terjadi kebakaran di depan sana. Arahnya satu arah dengan arah berjalannya. Ilham terus menebak nebak di mana kebakaran itu. Ilham menduga itu berasal dari sebuah pabrik produksi kain. Dengar dengar dari dulu pabrik itu sering sekali terjadi masalah kelistrikan. Sering juga Ilham mendengar dari pekerja di sana bilang jika pabrik tempatnya bekerja sering mati listrik atau ada masalah kelistrikan sehingga karyawan di pulangkan lebih awal.
“Pak pak kalau boleh tau ada apa ya pak di depan?” Ilham menghentikan mobilnya dengan cara menepi dan membuka sedikit jendelanya untuk bertanya kepada warga.
“Oh ini sedang ada kebakaran rumah di depan” bapak itu langsung terburu buru pergi tak kala selesai menjawab pertanyaan dari Ilham.
Seribu pertanyaan muncul tiba tiba di benak Ilham. Bukan pabrik yang kebakaran namun sebuah rumah. Ilham langsung penasaran. Tetangganya yang mana yang menerima musibah ini.
Ilham memajukan mobilnya lagi. Orang orang semakin tampak ramai di depan. Terpaksa ia harus menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di pinggir jalan.
Rania juga terlihat begitu panik. Ia membangunkan anak anaknya yang masih tertidur dengan pulas. Mereka berjalan menuju depan. Menuju ke arah orang tua Ilham. Arahnya sama dengan arah orang yang berkerumunan itu. Mereka semakin mendekat hingga terlihat bangunan yang terbakar.
‘DEG!’
Ilham kaget bukan main. Bagiamana tidak. Rumah orang tuanya lah yang terbakar. Ilham langsung lemas bukan main. Hampir saja ia jatuh pingsan. Orang orang yang berada di dekatnya langsung sigap menerima tubuh Ilham.
Rania tidak kalah paniknya. Rania menangis. Ia terus menjaga emosinya dan menjaga anak anaknya. Terlihat juga anak anaknya panik melihat ayahnya yang tidak berdaya.
***
“Di mana ibu bapak?” suara Ilham terdengar sangat lemas. Ia masih menutup matanya. Ilham berada di rumah tetangga orang tuanya. Ia jatuh pingsan. Pikirannya sangat kacau. Bukan saja memikirkan rumah yang terbakar. Ilham juga memikirkan kondisi orang tuanya yang belum ia ketahui.
“Mas minum dulu” Rania menyodorkan segelas air kepada suaminya. Ia memberi minum suaminya dengan sangat hati hati. Dengan bantuan sedotan sedikit demi sedikit air masuk ke kerongkongan Ilham.
“Ibu bapak dimana?” Ilham menanyakan keberadaan orang tuanya kembali. Tampak sekali ia sangat khawatir kepada mereka berdua.
“Ibu bapak masih di tempat tetangga yang lain mas. Mas tenangkan diri dulu” Rania terpaksa berbohong. Sebenarnya ia belum mengetahui kabar mertuanya dan di mana keberadaan mereka.
“Mas tenangkan diri dulu” Rania mencoba untuk menenangkan kembali.
“Mereka baik baik saja kan Ran?” kekhawatiran Ilham masih saja menyelimuti tanpa kurang sedikit pun.
“Iya mereka baik baik saja” Rania tersenyum tipis. Berharap dengan senyuman itu suaminya yang tengah khawatir itu akan segera tenang.
“Antarkan aku ke mereka” Ilham memohon.
Rania bingung apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tega dengan suaminya. Namun di sisi lain ia juga tidak mengetahui di mana keberadaan ayah dan ibu Ilham dan kondisinya.
“Iya mas tenangkan diri dulu. Anak anak juga masih menangis melihat mas yang terbaring tidak berdaya” Rania memelas dan melihat ke anak anaknya yang masih tercucuran air mata.
“Ayah tidak apa apa kan?” Fendi bertanya dengan menahan tangis. Suaranya terdengar sangat berat untuk di keluarkan. Suaranya tidak begitu jelas karena bercampur dengan tangisannya.
Ilham melihat ke anak anaknya perlahan. Ia merasa sangat tidak tega dengan anaknya yang masih menangis. Mungkin saja anak anaknya sudah menangis sedari ia tidak tersadarkan diri.
“Iya ayah baik baik saja” Ilham menarik nafas. Ia meminta air kembali kepada Rania. Dengan sigap Rania segera memberikannya dan membantunya untuk meminum melalui sedotan.
“Sudah nak jangan menangis terus” Rania mencoba membujuk anak kembarnya untuk menghentikan tangisannya. Terlihat sekali matanya sudah sembab. Air matanya terlihat sudah mengering. Hanya tersisa isak tangis yang terus terdengar.
“Sudah sudah. Ayah tidak apa apa kok. Ayah baik baik saja. Ayah juga sudah sadarkan” Rania terus berusaha untuk menenangkannya.
“Iya mah. Ayah tidak apa apa kan?” Fendi si sulung menanyakan kembali kepada ibunya. Sementara Ferdi si bungsu terus memegangi tangan ayahnya.
“Iya ayah baik baik saja” Ilham menjawab ternyataan si sulung.
Ilham mencoba untuk bangkit dari berbaring. Ia ingin beranjak untuk menemui orang tuanya. Rania mencoba untuk mencegahnya.
“Jangan di paksa mas.” Rania khawatir melihat suaminya yang mencoba untuk duduk.
“Tidak. Mas sudah kuat kok” dengan perlahan Ilham mengambil posisi duduk.
“Ran antarkan aku ke orang tuaku” Ilham memegang tangan Rania dan berusaha untuk bangkit dan berdiri. Rania sigap memegangi suaminya. Rania bingung. Ia harus membawa suaminya ke mana. Keberadaan mertuanya saja ia belum tau keberadaannya. Tidak mungkin juga Rania mengatakan kalau ia belum mengetahui keberadaan dan kondisinya. Ia takut keadaan suaminya akan kembali terpuruk dan kembali jatuh pingsan. Rania mulai mencari cara.