"Mah,kita pamit dulu mau ke rumah orang tua Mas Ilham ya" ucap Rania begitu ia selesai mencium punggung tangan ibunya.
"Iya sudah hati hati kalau begitu" ibunya hanya bisa pasrah. Bagaimana pun juga Rania pergi dengan suaminya. Imamnya sekarang, pemimpin rumah tangganya. Letak surganya sudah berada padanya.
"Pamit ya mah pah" Ilham mencium tangan ke dua mertuanya itu.
"Kakek nenek, Ferdi pergi dulu ya"
"Besok kalau ke sini lagi aku mau menangkap ikan di sungai"
Anak anak Rania dan Ilham sudah mulai tidak tenang. Mereka masih betah untuk tinggal di rumah kakek dan neneknya itu. Namun mereka juga harus ikut orang tuanya menuju kakek neneknya lagi di tempat yang berbeda. Ya kakek dan nenek dari jalur ayah.
"Pah masih lama perjalan nah?" tanya Ferdi yang sudah mulai terlihat gelisah dalam duduknya. Hal ini lantas mengingat perjalanan yang cukup jauh.
"Iya masih. Sekarang tidur saja dulu. Jangan di tunggu. Bakalan lama kalau di tunggu"
"Iya benar kata papah. Tidur saja dulu"
Tidak ada pilihan lain. Mereka akhirnya menurut. Perjalanan hang jauh selain membuat badan mereka lelah ternyata berhasil membuat mereka terjebak dalam rasa kantuk.
"Mas kita mau lewat jalan mana? jalan raya saja ?" Rania memulai obrolan dengan suaminya. Rasa kantuk juga sebenarnya sudah berhasil membuat Rania terjebak dalam rasa kantuk. Namun Rania masih bisa menahannya. Ia berusaha untuk terus membuka matanya dan berjaga.
Ilham fokus menyetir. Sementara Rania mencoba menyalakan audio mobil. Berharap alunan musik bisa menghilangkan penat karena perjalanan jauh. Tidak lama kemudian Rania sudah terlelap dalam tidur.
Ilham tetap fokus menyetir. Matanya sudah sedikit lengket meminta untuk di pejamkan. Ilham masih terus saja melanjutkan perjalanan. Dalam benaknya sebentar lagi akan sampai tujuan. Akan memakan banyak waktu lebih banyak lagi jika mengambil waktu untuk istirahat. Terlihat dari kaca spion dalam mobil, anak anaknya tertidur sangat pulas.
‘BRUK’
Ilham langsung menekan rem. Berharap mobilnya dalam langsung berhenti. Sebuah gerobak di depan sudah terjatuh. Terlihat beberapa botol berserakan. Gerobak seorang penjual jamu tumbang setelah mengenai bagian mobil depan Ilham. Syukurlah mobilnya dapat langsung berhenti. Untung saja remnya masih berfungsi dengan baik. Bapak pendorong gerobak sudah tersungkur di jalan. Ia tampak berdiri perlahan.
Ilham panik. Ia segera membuka pintu mobilnya dan keluar memastikan keadaan bapak itu.
“Maaf pak, apa ada yang lauk? Pak saya antar ke rumah sakit” suara Ilham terdengar panik. Ilham memeriksa seluruh badan bapak itu. Berharap tidak ada luka serius yang bersarang di sana.
“Tidak tidak nak. Bapak tidak apa apa” lelaki itu meyakinkan Ilham jika tidak terjadi apa apa kepadanya.
Orang orang di sekitar yang melihat kejadian tadi langsung membantu mengangkat gerobak dan membawanya ke tepi jalan. Beberapa orang juga tampak memungut pecahan botol yang masih berserakan.
“Maaf banget pak, maaf saya tidak melihat bapak menyebrang. Sadar sadar bapak sudah berada di depan saya.”
“Tidak nak, Bapak juga salah menyebrang jalan tidak lihat lihat”
“Tidak pak. Ini salah saya. Tadi saya juga sempat mengantuk” Ilham terus menyalahkan kalau kejadian ini adalah murni kesalahannya. Ia juga memaksakan diri untuk ter menyetir padahal badannya sudah perlu untuk istirahat.
“Sudah nak sudah. Tidak apa. Alhamdulillah bapak juga tidak kenapa napa. Alhamdulillah bapak sehat” Bapak itu meyakinkan Ilham jika tidak terjadi apa apa pada dirinya.
“Maaf banget ya pak. Biar nanti saya bantu untuk membenarkan gerobaknya” Ilham sambil melihat ke gerobak seberang jalan. Tampak rusak di beberapa bagiannya. Untung saja ia tidak telah untuk menarik rem. Coba saja kalau ia telat satu detik saja. Tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan bapak ini.
“Sudah lah nak tidak mengapa”
“Tidak tidak pak. Izinkan saya untuk mengganti kerugian ini. Bagaimana pun juga saya ikut salah di sini”
Bapak itu akhirnya mengangguk. Ilham segera memberikan beberapa lembar uang merah ke pada bapak itu.
“Nak ini terlalu banyak. Sudah lebih ini nak. Terlalu banyak nak” Bapak itu terus berusaha untuk mengembalikan uang yang ada di tangannya pada Ilham. Ia merasa itu sudah berlebihan. Terlalu banyak nominalnya. Padahal kerusakannya tidak seberapa.
“Sudah sudah pak. Saya ikhlas. Saya juga masih ada. Itu buat bapak semuanya.”
“Terima kasih banyak ya nak. Bapak terima ya, semoga rezekinya selalu di lancarkan”
“Aamiin, terima kasih banyak ya pak. Semoga bapak juga sehat sehat selalu. Saya pamit ya pak” Ilham menyalami bapak tersebut. Ilham lega. Untung saja ia sedang tidak menyetir dengan kecepatan tinggi. Mengemudi sambil menahan kantuk memang sangat membahayakan.
***
Rania merasa bingung dengan apa yang terjadi. Ia membuka matanya, mobil sudah terparkir dan tidak ada suaminya di kursi kemudi. Ada apakah ini? Rania terus bertanya tanya. Rania juga merasa kaget. Rania menengok ke belakang. Anak anaknya masih tertidur dengan pulas. Rania sedikit lega. Namun Rania masih tetap saja khawatir tidak mendapati suaminya di kursi kemudi.
Di depan juga tampak ramai. Banyak orang bergerombol. Apakah terjadi sesuatu? Apa mas Ilham terlibat dalam masalah ini sehingga ia keluar dari mobil?
Rania panik. Rania memutuskan untuk keluar dari mobil dan mencari tahu kebingungannya itu.
Ilham berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalam mobil . Melihat mengurungkan niatnya untuk turun.
“Mas apa yang terjadi?” dengan penuh penasaran Rania menanyakan kepada suaminya itu.
“Tidak. Semuanya sudah beres. Alhamdulillah” keringan membasahi wajah Ilham. Rania tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Mana mungkin tidak terjadi apa apa hingga mobil terparkir di tepi dan ia tampak sangat kelelahan. Terekam juga raut panik di sana.
“Kenapa mas? Jangan bikin Rania terus bertanya tanya..” Rania masih saja penasaran. Ia terus mencoba untuk menggali informasi.
“Tidak. Tadi ada gerobak jamu yang lewat. Mas ngantuk bapaknya juga sepertinya kurang memperhatikan jalan. Untung mas nyetir tidak dalam kecepatan tinggi. Mas berhasil menarik rem tepat waktu. Alhamdulillah bapaknya tidak kenapa napa. Gerobak dan beberapa peralatan dagang bapaknya yang rusak.”
“Ya allah mas. Kan Rania udah bilang jangan di paksaain. Cape istirahat dulu jangan dipaksa buat mengemudi” Raut Rania tampak panik.
“Iya iya Ran.” Ilham sudah duduk di kursi kemudi dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
“Yakin mau lanjut perjalanan lagi?” Rania memastikan suaminya. Baru saja terhenti karena insiden. Rania tidak mau terjadi apa apa kembali. Kondisi kesehatan suaminya juga sangat ia perhatikan.
“Iya. Sudah tadi lumayan lama berhenti. Bismillah” Ilham mulai menjalankan mobilnya. Rania diam. Kali ini ia menurut dengan keputusan Ilham.