"Mah Ayuk berangkat udah siang" ucap Ferdi. Salah satu anak kembar Rania.
Yah waktu terus berjalan. Si kembar kini sudah memasuki kelas satu sekolah dasar. Waktu berjalan begitu cepat dan tanpa terasa.
"Iya sebentar nak" Rania masih memasukan nasi ke kotak bekal ke dua anaknya.
"Yuk" Rania mengajak anaknya. Bekal untuk mereka sudah selesai Rania kerjakan.
Ilham sudah menunggu mereka di mobil. Anak anak segera memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Sementara Rania masuk dan duduk di kursi depan. Kursi samping kemudi.
Rania melirik ke cermin. Melihat ke arah anak anaknya. Ia tidak menyangka. Ia dapat melewati semua ujian yang di berikan kepadanya. Sungguh semuanya memang berat. Namun akhirnya berbuah manis pada akhirnya.
Mobil terus berjalan. Berjalan dengan kecepatan stabil hingga sampai ke sekolah. Ilham dan Rania ikut keluar dari mobil melepas mereka masuk ke gerbang sekolah.
"Dah mama dah papa"
"Dah"
Mereka berdua segera masuk ke dalam gerbang dengan suka cita setelah mencium tangan orang tua mereka. Meraka sangat bersemangat untuk menjalani hari.
Rania bertemu dengan Asma. Asma mengantar anaknya ke taman kanak-kanak yang berada di sebelah sekolah dasar anak Rania.
Jarang sekali mereka bertemu sekarang. Mereka sama sama sibuk dengan urusan masing masing.
"Eh nganter Niken juga As" Rania menyapa Asma tak kala ia melihat Asma.
"Eh Kak Ran. Iya ini kak Rania. Jarang sekali kita bertemu ya hehe" Asma tersenyum.
"Iya As. Kita sudah sibuk masing masing. Eh kamu tau kabar Ning Nisa As?"
"Wah Asma sudah lama banget malah kak tidak bertemu dengan Ning Nisa. Kalau ngga salah terakhir dapat info Ning Asma kini tinggal di dekat pesantren Al Iman. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengajar di sana"
"Oalah. Iya Rania juga sudah lama banget tidak bertemu Ning Nisa."Jawab Rania kemudian.
"Ya sudah ya, Rania mau balik dulu." Rania buru buru hendak masuk ke mobil. Ia tahu suaminya akan segera berangkat ke restoran untuk memantau keadaan di sana.
"Iya sudah hati hati ya kak Ran. Sehat selalu kak" Asma tersenyum.
Rania masuk ke mobilnya. Mobil segera dikemudikan oleh Ilham untuk menuju ke restoran cabang terdekat. Seperti inilah pekerjaan Ilham. Memantau restoran satu ke satu yang lainnya. Terkadang juga ia harus melakukan rapat bulanan untuk setiap cabang restorannya.
"Mas, rencana hari ini mau ke berapa cabang?" tanya Rania sambil memainkan ponsel yang ada di tangannya. Sementara Ilham fokus menghadap ke depan. Fokus untuk melihat ke jalan.
"Rencananya hati ini ke tiga cabang Ran. Kamu kuat?" Ilham memastikan istrinya.Perjalanan antara restoran cabang yabg satu dengan cabang yabg lainnya lumayan memakan waktu. Sekitar satu jam dari cabang satu ke cabang berikutnya.
"Iya tidak mengapa mas. Masa Rania ngga kuat. Kan Rania hanya duduk di mobil. Tidak perlu mengemudi"
"Iya siapa tahu kalau kelelahan, mas memastikan saja" jawab suaminya sambil tersenyum namun masih tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Ngga lah mas"
***
"Cukup lelah juga ya mas" Rania sambil meminum jus di restorannya. Ia menikmati jus yang ada di hadapannya. Hari yang panas terasa sangat nikmat untuk meminumnya.
"Iya lumayan. Apalagi cuaca yang panas begini" Ilham melihat ke luar melalui jendela yang ada. Kebetulan sekali mereka terduduk di pinggir. Dekat kaca putih yang memagari restoran. Ya restoran mereka memang sengaja menggunakan kaca sebagai dindingnya.
"Ran, nanti kita habis ini jemput anak anak terus pergi ke rumah orang tua kamu gimana? rasanya sudah lama sekali kita tidak silaturahmi ke sana. Esok lusa kita tinggal pergi ke rumah orang tua mas di Jawa Timur."
"Boleh boleh mas. Rania juga sudah merasa rindu dengan mereka semua. Lama sekali rasanya tidak berjumpa dengan mereka mereka."
"Nanti kita beli oleh olehnya setelah jemput anak anak saja ya. Supaya mereka bisa ikut memilih apa yang mau dibeli."
"Iya mas" Rania kembali menikmati jus yang sudah hampir habis di minumnya itu.
"Sekarang?" Ilham mengajak Rania untuk kembali. Hari sudah semakin siang. Sebentar lagi pasti jam sekolah akan berakhir. Ilham tidak mau anak anaknya menunggu di jemput terlalu lama.
"Ayuk mas" Rania beranjak berdiri dengan membawa tanya. Ia segera melangkahkan kaki. Berjalan keluar menuju mobil untuk kembali ke sekolah menjemput anak anak mereka.
***
"Mah pah kok lama" Protes di Ferdi.
Rania dan Ilham telat menjemput mereka. Jam sekolah telah berakhir setengah jam yang lalu. Ternyata prediksi mereka untuk sampai di sekolah salah. Jalanan yang macet telah memperlambat perjalanan.
"Maaf ya nak tadi macet di jalanan."Rania meminta maaf sambil mengusap kepala anaknya itu.
"Lama mah kita nunggunya" masih saja terus protes.
"Iya sudah sudah papah juga minta maaf ya. Tadi jalanan rame banget"
Mereka terlihat cemberut. Memang setengah jam termasuk waktu yang lama untuk menunggu. Apalagi teman teman mereka sudah pulang semua di jemput keluarganya.
"Eh sebentar. papah punya kejutan untuk kalian. Hari ini papah sama mamah mau mengajak kamu ke rumah kakek dan nenek. Gimana gimana suka ngga?"
Seketika wajah mereka langsung ceria. Cemberutnya langsung pudar dan hilang tanpa tersisa.
"ye ye ye. kerumah kakek"
"Ayo mah pah buruan kerumah kakek. Udah ngga sabar"
Mereka langsung berlari ke mobil tanpa di instruksi. Rania dan Ilham menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak anaknya.
"Loh pah kok ke arah sini. Bukannya ke rumah kakek lewat arah sana?"
"Ya kita mau beli sesuatu dulu buat kakek" Ilham menjelaskan.
"Ye aku juga mau beli coklat"
Perjalanan mereka terasa sangat menyenangkan. Si Kembar selalu menceritakan suatu hal di jalan. Tingkah mereka yang lucu juga kerap kali membuat ayah dan ibunya tertawa.
***
"Assalamu'alaikum kakek"
"Assalamu'alaikum nenek"
"Assalamu'alaikum pah mah"
Suara si kembar sudah memenuhi halaman rumah kala mereka turun dari mobil. Sepertinya mereka memang sangat kangen dengan sosok nenek dan kakeknya.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh, eh cucu cucu kakek udah datang" Ayah Rania yang membukakan pintu.
Si Kembar langsung berlari ke arah kakeknya dan masuk dalam dekapannya.
"Sehat pah? mamah dimana?" Rania menanyakan keberadaan ibunya yang tidak terlihat.
"Itu mamah lagi ke warung sebentar. katanya beli garam habis"
"Oalah pantesan ngga kelihatan" ucap Rania.
Mereka semua segera masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian terdengar derap kaki. Ibu sudah balik dari warung.
"Loh rame banget tidak biasanya. Ada siapa ini pah? begitu masuk ibu Rania langsung mengutarakan kebingungannya.Tumben sekali rumahnya begitu ramai.
"Ini cucu cucu kita datang."
"Eh cucu nenek, sini"
Mereka segera mendekat ke neneknya dan mencium tangan neneknya itu.
"Duh sudah besar besar ya cucu nenek"
"Ran nginep di sini kan?" ibu bertanya kepada Rania sambil menuju ke dapur. Ibu memang hendak masak. Namun sempat tertunda karena kehabisan garam.
"Iya mah nginep kok. lusa kami tinggal nginep di rumah orang tua mas Ilham"
"Oalah iya sudah kalau begitu. Sabar ya mamah belum selesai masak"
"Haduh mah jangan repot repot. Ini tadi Rania juga beli lauk di jalan buat. Rania meletakan lauk yang ia beli di meja. Beberapa oleh oleh juga Rania letakan di meja dapur.
"Ngga repot. Orang tinggal masak. Sudah siap Ran. Gara gara garam habis jadi di tunda masaknya."
"Iya sudah Rania bantuin ya mah"
Rania dan Ibunya bercerita panjang lebar sambil memasak. Sementara Ilham berada di ruang depan dengan ayah mertuanya. Anak anak juga tampak di sana. Suasana rumah yang biasanya sepi kini berubah menjadi sangat ramai berkat kehadiran cucu cucunya.