Chapter 43 (Seorang Ibu)

1013 Kata
Rania sadar. Sekarang ia sudah menjadi seorang ibu. Ia setiap harinya mengurus anak anaknya yang masih kecil. Rania akhirnya tahu betapa repotnya menjadi seorang ibu. Ia harus bisa membagi waktunya dengan bijak. Membagi waktu antara mengurus kehidupan rumah tangga dan mengurus anaknya. Rania teringat kepada ibunya. Kenangan kenangan yang sudah lewat muncul kembali dibenaknya. Rania mengingat masa masanya dengan ibunya ketika kecil dulu. Ia ingat betul bagaimana orang tuanya memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Setelah memiliki anak, Rania paham bagaimana rasanya khawatir kepada anak ketika terjadi apa apa kepadanya. Rania teringat ketika ia kabur dari rumah. Pasti perasaan orang tuanya sangat khawatir. Bagaimana tidak, ia tidak mengetahui kabar anaknya. Ketika anaknya sakit saja rasa khawatir sudah mulai menyelimuti. Apalagi sampai tidak tahu kabar bagaimana keadaan anaknya yang tidak ia ketahui keberadaannya. Rania menjaga anak anaknya yang masih kecil ini dengan penuh kasih sayang. Ilham suaminya juga turut membatunya menjaga si kembar. Sulung bernama Fendi sedangkan bungsu bernama Ferdi. Mereka terlihat sangat mirip. Rania juga selalu menyamakan apa yang mereka kenakan. Baik itu dari baju celana atau pun kaos kaki. "Mas, Rania minta tolong ambilkan bubur di dapur mas, Ini si bungsu ngompol" Rania meminta tolong suaminya dengan sopan yang sedang duduk sambil menjaga si sulung. Ya si bungsu ini lebih lapar dari pada di sulung. Ia akan menangis jika lapar. Ketika ia tidak mau meminum asi itu tandanya ia menginginkan makanan lain. "Wah kebiasaan ini si bungsu, lagi di ganti popok aja tidak sabar mau makan ya dek" Ilham tersenyum melihat anak bungsunya itu. Ia segera mengendong sulung dan membawanya ke dapur untuk mengambil bubur dan alat makannya. "Tara ini dia . Jangan nangis ya ini makanan sudah datang" ucap Ilham kala sampai di kamar kembali. Tangannya yang menggendong sulung terlihat sangat repot. Bubur dan peralatan makan juga tampak di tangannya. "Terima kasih ayah" ucap Rania seolah yang mengucapkan adalah si bungsu. Rania segera mengambil bubur yang diberikan suaminya. Ia menyobek kemasannya dan menuangkan air yang memang selalu berada di kamar. Si bungsu segera melahap bubur yang diberikan ibunya. Dengan sabar Rania menyuapi anaknya yang masih kecil itu. Rasa bahagia dan kasih sayang sekali menyelip untuk anak anaknya saat kondisi bagaimana pun. "KRING KRING KRING!!" Suara ponsel Rania berdering. Si bungsu dan di sulung susah tertidur. Rania segera meraih ponselnya dan berharap notifikasi telefon itu segera berakhir. Asma. ternyata yang memanggil Rania adalah Asma. Rania segera mengangkatnya. "Assalamu'alaikum As.. bagaimana tumben telefon hehe" ucap Rania langsung setelah mengangkat ponselnya. "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh Kak Ran. Kak Asma ada berita bagus untuk Kaka" suaranya terdengar sangat antusias. "Ada kabar apa ini. Langsung sampaikan saja. Jangan bikin kakak penasaran." Rania tidak mau di buat berpikir kali ini. Ia langsung menanyakan maksud Asma memanggilnya secara tiba tiba. "Iya deh Asma langsung sampaikan kepada Kak Ran. Kak Ran, Asma Alhamdulillah dikasih momongan" "Alhamdulillah. Selamat ya As. Sebentar lagi anak Rania akan memiliki sodara ini hehe" Rania bahagia mendengar kabar yang baru Asma utarakan. "Iya kak. Asma juga bahagia sekali. Alhamdulillah Asma secepat ini di kasih" "Iya Alhamdulillah banget ya As. Jangan lupa buat jaga kandungan sama jaga kesehatannya ya. Hati hati hamil muda masih lemah. Jangan terlalu berat dulu mengerjakan pekerjaan" Rania menasihati sosok yang sudah hampir mirip adik nya itu. Asma memang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. "Iya kak. Asma pasti akan menjaganya" Asma menjawab nasehat dari Rania. "Iya sudah kak. Asma mau istirahat dulu ya hehe" "Yah ibu hamil muda sudah ngantuk aja jam segini" Rania berbicara sambil sedikit menggoda Asma. "Hehe .. Iya ini tidak tahu kenapa ngantuk Tidur dulu ya kak" Asma mengutarakan apa yang ingin ia utarakan. "Iya sudah kalau begitu. Hati hati ya. Assalamu'alaikum Asma" "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh Kak Ran" "TUT !" Sambungan ponsel sudah terputus di matikan oleh Asma setelah selesai menjawab salam dari Rania. Asma segera beranjak ke tempat tidur untuk memejamkan matanya. Tanpa waktu lama Asma sudah terlelap dalam tidur. Tampaknya ia begitu lelah menjalani hari. Di sisi lain Rania masih saja terduduk di samping bayi bayinya yang sudah tertidur dengan lelap. Ia terus mengamati wajah bayi mungilnya. Rania terus mengamati putra putranya. Tidak terasa rasa kantuk juga mulai menyerangnya. Rania menguap dan merasa kantuk. Akhirnya Rania memutuskan untuk tertidur juga. *** "ea ea ea ea " Suara tangisan si bungsu terdengar. Rania terbangun oleh suara tangisannya. Tidak lama kemudian si sulung pun ikut terbangun karena merasa terganggu oleh tangisan si bungsu. "ea ea ea ea ea " Rania harus memenangkan dua bayinya. Ternyata cukup repot juga yang Rania rasakan. "mas, mas" Rania mencoba untuk membangun suaminya. Tidak butuh waktu lama Ilham pun terbangun dari tidur. Ilham membantu Rania untuk memenangkan anak mereka yang terus menangis. Tangisannya semakin lama semakin kencang. Rania sedikit khawatir dengan keadaan mereka berdua. Rania mengganti popok si bungsu. Semoga saja ia menangis karena sudah merasa tidak nyaman dengan popok yang di pakainya. "Tenang ya nak, tenang.. cup cup cup jangan menangis terus" Rania berusaha untuk menenangkan buah hatinya. Bersyukur setelah Rania mengganti popoknya dan memberinya asi si bungsu berhenti menangis. Sementara si sulung masih di tenangkan oleh Ilham. Bungsu sudah tertidur kembali. Sulung masih saja menangis. Akhirnya Rania mencoba untuk menghentikan tangisan si sulung. Di tangan Rania si sulung berhenti menangis. Mungkin ia rindu akan sosok ibunya. Kini si sulung pun sudah terlelap juga dalam tidur. "Ternyata repot juga untuk menjaga anak ya Ran" Ilham mengucapkan apa yang ia rasakan. "Ya ternyata seperti inilah rasanya. Jadi inget mama. Banyak banget perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Pantas saja kebaikan anaknya ke orang tua tidak bisa membalas jasa jasanya." Rania berkata demikian sambil terus memandangi anak anaknya yang sudah tertidur lelap. Pikirannya membayangkan kalau sekarang ia sedang berada di posisi ibunya. Ia membayangkan saat ibunya menjaganya dulu. Mungkin sama seperti apa yang ia lakukan ke anak anaknya sekarang. "Iya Ran. benar sekali. Sungguh jasa orang tua itu luar biasa" Ilham sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya sudah sekarang tidur lagi. Masih malam ini kita masih perlu untuk istirahat" ucap ham kemudian kepada istrinya. "Iya mas. Rania juga masih merasa sangat ngantuk" jawab Rania sambil merebahkan tubuhnya kembali. Tidak butuh waktu lama, Rania sudah terlelap kembali dalam tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN